BUKAN SEKEDAR DIKSI

BUKAN SEKEDAR DIKSI
Larangan


__ADS_3

Membaca komentar di platform online membuat yuma mengambil buku yang penuh dengan coretan di meja sebelahnya. Dia pun membaca ulang, mencoret dan sedikit menambah sesuatu disana, seperti nya dia sedang membuat outline atau garis besar dari cerita yang ingin dia lanjutkan.


Saat yuma mencoba untuk mengetiknya di ponsel, yuma malah memikirkan perkataan teman-temannya, apa memang dirinya tidak bisa menulis dengan baik? Dia sedikit ragu beberapa kali menghapus tulisan yang bahkan baru di ketik hanya beberapa kata. Namun mengingat perkataan Indah temannya yang mengatakan setiap menulis mempunyai style menulis tersendiri itu membuat yuma tersenyum tak menyangka temannya membacanya.


Menurutnya pandangan Yuma menulis bisa menjadi tempat menuangkan ekspresi. Bahkan bisa menjadi temannya untuk bercerita mengingat dirinya yang sedikit minder.


Aku mulai mengetikkan sesuatu kembali disana, lewat audio teks agar lebih memudahkan ku menulis, namun sungguh sayang lagi-lagi aku mengalami write block, aku bingung harus melakukan apa pada tulisan ku. Baru ku sadari ternyata menulis novel atau menulis karya fiksi itu tidak semudah kenyataannya, tidak modal halu seperti yang di bicarakan orang-orang.


Semakin aku memikirkan ide tulisan, itu malah menjadikan pikiranku kacau karena tidak memunculkan ide apapun, sehingga pada akhirnya aku memutuskan untuk melihat-lihat sosial mediaku. Tanganku berhenti menscroling ketika melihat foto Raffa di salah satu akun yang jelas aku kenal. Akun itu milik Ann gadis yang cukup dikenal di sekolahnya bahkan liatlah temen sekelasnya pun ada disana. Yuma baru menyadari ternyata memang benar Dimas cukup dekat dengan mereka bukan SKSD seperti yang di pikirannya.


Melihat foto itu membuat ku mengklik akun Raffa, mengingat aku belum berterimakasih dan meminta maaf. Dengan perasaan yang penuh keraguan, akhirnya aku mengirimkan pesan kepadanya walaupun harus mengetik dan menghapusnya beberapa kali.


...Raffa Fidai...


^^^Maaf dan terimakasih...^^^

__ADS_1


^^^(Pesan sudah terkirim )^^^


Yuma memainkan jarinya membolak-balik ponselnya seperti sedang menunggu notifikasi dari seseorang. Namun notifikasi itu tidak datang-datang. Saat yuma memutuskan keluar dari kamarnya, malah mendapat notifnya sehingga dia pun berlari dan mengambil ponselnya namun ternyata itu hanya notifikasi dari aplikasi yang meminta di upgrade. Yuma pun terlihat mengekspresikan wajah kecewanya namun sebuah notifikasi baru membuatnya ternganga. Pasalnya bukan notifnya balasan yang di terima, melainkan sebuah notifikasi pemberitahuan seseorang telah mengikutinya.


^^^🔔Raffa Fidai telah mengikutimu...^^^


*


*


Melihat notifikasi itu Raffa hanya tersenyum kecil. Namun panggilan dari Mamanya mengagetkan Raffa yang membuatnya tidak sengaja mengklik tombol follow sehingga mengikuti gadis itu.


"Raf, pesan dari siapa membuatmu tersenyum seperti itu." goda mamanya dengan nada bercanda


"Hah." Raffa mendelikan alis berpura-pura tidak mengerti akan perkataan mamanya

__ADS_1


"Iyo loh den, bibi juga liat Aden senyum tadi. Pasti pesan dari pacarnya ya." tuduh bi Inah membawa cemilan sejenis kripik ke meja mama.


"Apa iya gue tersenyum." ucap Raffa, pasalnya dia tidak menyadari apakah benar bahwa dirinya tersenyum.


Raffa mencoba mengalihkan perhatian dengan cara memainkan sebuah game mobile di ponselnya. Baru saja iya melakukan penyerangan kepada lawan namun dibentak oleh papa nya yang melihat dirinya hanya fokus kepada game.


"Mau jadi apa kamu ini. Belajar yang bener Raffa." bentak Burhan dari arah belakang.


"Mau kemana lagi kamu?" teriak Burhan kembali


"Bukannya tadi nyuruh belajar." ucap Raffa dan lengos menaiki tangga.


"Udah lah pah, lagian ini minggu. Lagi pula masih sore gini." bela Dahlia yang masih sedikit terdengar Raffa.


"Itu lebih baik dari pada melihat dia bermain game terus." tegas Burhan menghentikan langkah Raffa di anak tangga terakhir.

__ADS_1


"Pah." potong Dahlia menengahi


__ADS_2