BUKAN SEKEDAR DIKSI

BUKAN SEKEDAR DIKSI
Menu Makanan


__ADS_3

"Raffa! Raff!" teriakan dari seseorang.


Raffa yang mendengar teriakan itu, menghentikan kegiatan menyenderkan bahunya dari kasur. Bahkan pikirannya yang sedang mengingat kejadian beberapa jam sebelumnya pun buyar.


Pikiran itu hilang karena seseorang di balik pintu kamarnya memanggil dirinya. Panggilan itu berasal dari ayah nya berteriak dengan suara yang cukup lantang.


Teriakan dari ayahnya sedikit mengganggu dirinya. Untuk menghentikan teriakan tersebut Raffa terpaksa membuka pintu kamarnya. Namun bukan ayahnya yang dia liat melainkan seorang wanita yang cukup tua dan berumur.


Raffa akhirnya mengerti mungkin beberapa kali pembantunya mengetuk pintu kamarnya namun tak ada jawaban sehingga ayahnya yang memang sudah kembali dari ruang kerjanya, terlihat duduk di ruang keluarga seperti yang terakhir kali di liatnya. Buku seperti majalah dipegang orangtuanya. Raffa pun kurang tau jelas apa yang sebenarnya di pegang ayahnya, apakah memang benar majlah atau hanya koran mingguan yang di bacanya.


"Pendengaran kamu bermasalah hah?" bentak Burhan yang menatap tajam Raffa dari kejauhan.


Rafa terhentak namun tidak ada takut-takutnya malah balik menatap wajah ayahnya yang kemudian memalingkannya pada pembantunya.


"Kenapa Bii?" tanya Raffa.


"Dasar anak yang selalu merepotkan. Jika kamu tidak punya tujuan hidup. Tolong jangan menghambat dan menghalangi pekerjaan orang lain." Memotong ucapan pembantunya.


Tatapan sinis dari Burhan kembali mengarah ke Raffa. Raffa sangat jelas paham sifat ayahnya. Dia sangat menjunjung tinggi tentang kedisiplinan waktu. Raffa tidak masalah dengan prinsip ayahnya. Namun entahlah. Sebab Apapun yang dilakukan dirinya selalu salah di mata kedua orang tuanya.


"Aduh maaf Den. Gara-gara bibi, Aden kena marah sama Tuan."ucap Bi Inah.

__ADS_1


"Harusnya nanti saja, bibi bawa pakaian kering ini." Menunjukan pakaian yang sudah disusun rapih.


"Aden habis jatuh di mana? Ga pake helm ya?" ucap Bi Inah.


Raffa hanya tersenyum ke arah pembantunya itu. Raffa tak habis pikir kenapa pembantunya baru menyadari luka di wajahnya saat akan keluar dari kamarnya. Apakah tadi saat di depan pintu kamar wanita tua itu tidak melihat nya.


"Cuma ini aja den? Oh iya den mana jacketnya. Bukan nya kemarin Aden minta bibi nyuci jaket?" cerocos bi Inah melihat-liat pakaian kotor yang di bawanya.


"Anu Bi. Kayanya kemarin ketinggalan di rumah teman." alibi Raffa


"Temen, Oh Mas Nico? Eh bukanya jaket itu tadi juga Aden pake yah." jawab pembantunya kebingungan.


Rafa hanya bingung harus menjawab pertanyaan apa lagi kepada pembantunya. Rafa tidak keberatan ataupun merasa risih atas pertanyaan dari pembantunya, yang selalu mengenakan daster itu. Hanya saja untuk pertanyaan kali ini, Dia memilih berbohong kepada pembantunya. Sejujurnya itu adalah kebohongan pertama yang dia ucapkan kepada pembantunya.


Demi mengurangi kebohongan yang akan terjadi selanjutnya, Raffa pun mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan pada pembantunya menu apa yang akan dimasaknya malam nanti.


Pembantu itu hanya tersenyum dan tertawa pelan, karena masakan yang dia bikin baru saja iya selesaikan. Bahkan belum disentuh oleh orang-orang di rumah yang cukup besar itu. Akan tetapi anak laki-laki di depannya sudah menanyakan tentang menu makan malam. Namun pembantu tersebut tetap menjawab pertanyaan dari seseorang di depannya.


Melihat pembantunya yang pergi meninggalkan kamarnya dengan menggendong cucian di tangannya. Raffa pun ikut pergi meninggalkan kamarnya untuk menuju kamar mandi. Walaupun sejujurnya Raffa tidak meninggalkan kamarnya, karena kenyataannya kamar mandi tersebut menyatu dengan kamarnya yang cukup besar 2 kali besarnya dari kamar Yuma atau bahkan lebih dari itu.


Sementara di rumah yang berwarna kuning cerah. Terdapat pohon bunga mawar yang menghiasi rumahnya. Pekarangan rumah nya tidak terdapat rumput-rumput yang sengaja ditanam seperti milik rumah Raffa melainkan dipenuhi dengan kerikil-kerikil. Bahkan saat ada angin yang cukup besar datang bisa saja menerbangkan sebagian batu kecil dan membuat terasnya sedikit kotor.

__ADS_1


Di ruang tamu yang terdapat meja untuk menaruh gelas ataupun toples makanan posisi sedikit digeser dan di pindahkan untuk sementara waktu ke pojok dinding


Berbeda dengan di rumah Raffa, karena saat Yuma akan makan bersama keluarganya pasti akan memindahkan meja yang tingginya hampir selutut itu. Dia melakukan itu untuk menaruh menu makan yang disiapkan ibunya.


Menu makanan di rumah yuma cukup sederhana. Dua telur dadar yang dipotong-potong menjadi beberapa bagian, tahu dan tempe yang telah digoreng renyah dan secuil sambel sebagai pelengkapnya.


Yiruma pun membantu ibunya, dengan cara mengisi, beberapa botol gelas yang sudah tersedia di depannya dengan teh hangat yang bahkan batang dan daun tea tersebut terlihat di botol itu.


Kegiatan ibunya terhenti karena pertanyaan dari Yuma yang menanyakan keberadaan adiknya yang tidak dia liat.


"Dek..." teriak Yuma yang membuat ibunya menutup kuping.


...****************...


...HALO GUYS TERIMAKASIH SEBELUMNYA YANG MASIH MAU MEMBACA...


...TANPA KALIAN SADARI KALIAN TERMASUK ORANG YANG SETIA. SETIA MENUNGGU DAN MENYAKSIKAN KISAH INI SAMPAI BERTEMU ENDING YANG ENTAH BAGAIMANA....


...SAMPAI JUMPA DI PART Selanjutnya ...


...Love...

__ADS_1


...#Minceeeeee 📞...


__ADS_2