
Aku menyukai hidupku yang sekarang. Kekasih yang cantik, karir cemerlang, dan keluarga yang bahagia. Kekuasaan adalah hal terbaik yang ditawarkan hidup padaku.
Contohnya saja saat ketidakadilan menimpa sahabatku Mickey dan istrinya Joelin, dengan kekuasaan aku bisa membantu mereka.
Perkenalkan namaku Mark Thomson. Aku tidak punya nama Korea, entah kenapa kedua orangtua tidak memberiku nama itu, padahal ibuku asli dari negara yang kaya akan KPOP ini.
Ayahku bekerja di salah satu perusahan terbesar di negeri ini, sebagai sekertaris utama CEO selama 25 tahun. Sejak kecil aku tak kekurangan apa pun. Orangtuaku melimpahkan begitu banyak kasih sayang padaku.
Walau ayahku sangat sibuk dengan pekerjaannya, namun keluarga kami sangat harmonis. Ayah sering mengajakku dan ibu berlibur. Juga Tania, anak dari bos ayahku. Gadis korea yang sangat jarang memakai nama korea nya. Gadis Korea yang sejak kecil ku kenal sebagai pecinta semua hal berbau Amerika.
Tania kecil lebih muda 3 tahun dibanding denganku. Dia sangat menggemaskan, tipikal adik kecil yang diinginkan semua orang. Termasuk aku. Masa kecilku sangat indah dan tentu saja dipenuhi oleh cinta kedua orang tuaku.
Setelah menyelesaikan study master, aku harus mengisi posisi sebagai CEO di perusahaan tempat ayahku dulu bekerja, karena Tania belum menyelesaikan study nya. Jadi mau tak mau aku harus menerima posisi ini. Sementara ayah dan bosnya memilih cuti dan menikmati hari tua mereka.
Sebenarnya aku memilih jurusan science karena impianku adalah menjadi ilmuwan. Namun sejak mendengar bahwa mencari kerja tidak mudah, dan karena tidak tega pada ayahku, lebih lagi pada Tania, akhirnya kuputuskan untuk menerima posisi ini.
Ternyata ada baiknya juga aku memiliki kekuasaan seperti sekarang. Uang memang bisa menyelesaikan segalanya. Tentang Tania, gadis itu tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik. Masa kecil kami yang indah akhirnya mengikat kami lebih dalam.
Tania adalah cinta pertamaku. Maksudku, pacar pertamaku dan sekarang sudah sah menjadi tunangan ku. Tentang bagaimana kami jadian, tentu saja Tania yang hebat itu dengan beraninya menyatakan perasaannya padaku saat aku duduk di tingkat akhir SMA. Bayangkan saja berapa mudanya kami saat itu. Gadisku itu sungguh manis saat mengucapkan perasaannya. Tania kemudian menjadi duniaku, menjadi impianku.
\*
Aku memandang langit yang mulai di tutup oleh awan mendung. Dengan banyak hal berkecambuk dalam hatiku. Jakarta yang bising tidak terdengar dari tempat ini. Tentu saja karena aku sedang berada di atap salah satu gedung tinggi di kota ini.
"Angel." kudengar seseorang memanggil namaku. Tepatnya nama panggung ku. Yah, begitulah aku seorang publik figur yang dikenal lewat flatform youtub* dan sosial media lainnya.
Aku menoleh ke arah sumber suara, seorang pria tengah berdiri menatapku. Dia Jack, sahabatku sejak masa kuliah.
"Ada apa?" tanyaku malas.
"Ayolah An.. Apa susahnya menerima ku sebagai manegermu? atau staff cameramen juga boleh." ujarnya memohon.
"Aku tidak bisa, ya tidak bisa Jack." ujarku santai.
"Kenapa? apa karena aku menyatakan perasaanku padamu?"
"Menurutmu?"
"Ayoklah An, aku hanya ingin dekat denganmu."
"Lihatlah, motivasimu saja sudah tidak benar, bagaimana aku bisa percaya bahwa kamu akan bekerja dengan propesional?"
"Tolonglah, kau sudah menolah perasaanku. Setidaknya jangan serta merta menolak permohonan kerja ku juga Anas..."
"Jangan sebut nama itu." ucapku setengah berteriak.
"Sorry An.... Sorry.." ujarnya sungguh-sungguh.
"Pergilah Jack. Aku memaafkanmu. Tapi aku sedang ingin sendirian sekarang." jawabku pelan sambil memandang langit berusaha mengendalikan perasaanku.
__ADS_1
"Baiklah." kudengar langkah kakinya semakin menjauh.
"Siapapun, kumohon berhentilah menyebut nama itu." minta ku dalam hati sambil terus memandangi langit yang perlahan mulai meneteskan rintik hujan.
Cuaca sekarang betul-betul mendukung perasaanku. Kenangan-kenangan itu kembali berputar dalam kepalaku.
"Aku mencintaimu maaf."
.....
"Jangan pulang... Tidak, pulanglah, bahagia lah dengan hidupmu..."
......
"Aku tak bisa membayangkan hari saat kau tak di sini."
......
"Seperti ada lubang yang menganga lebar di sini, di hatiku."
......
"Aku mencintaimu, maaf...."
......
Aku mengacak rambutku frustasi. Kenangan, iya kenangan tentangnya adalah semua hal yang ingin kulupakan. Aku tak ingin mengingatnya walau sedikitpun.
Kupeluk lutut ku sambil menangis keras di bawah hujan.
"Tuhan, biarkan aku di sambar petir agar semua ini berakhir." aku berteriak kepada langit.
Sayangnya hujan sore ini sangat tenang, tanpa petir, kilat maupun angin. Seolah langit sedang bersedih, sama seperti perasaanku sekarang.
"Setidaknya aku tidak sendirian, aku akan membalas semua perbuatannya, dia...." ujarku dalam hati sambil tersenyum penuh arti.
Aku melangkah kembali kedalam gedung dengan tubuh yang sudah sepenuhnya basah kuyup. Aku hanya perlu kembali ke apartement, membersihkan diri dan menikmati hidup yang berharga ini.
Kalian harus ingat, panggil aku Angel, sama seperti semua orang kini mengenalku.
\*
Lebih dari tiga bulan lalu, saat Joelin sedang menghilang.
* (Baca kisahnya di Cerita Manis di Musim Semi, Trouvaille).*
Mark duduk di meja kerjanya yang bertuliskan CEO. Setelah mematikan ponselnya, pria itu tersenyum penuh arti. Akhirnya ada cara untuk menghilangkan Jee Na dari hidup Mickey dan Joelin.
Mark mengetukkan jarinaya secara berirama pada permukaan meja. Tiba-tiba interkom diruangannya menyala.
__ADS_1
"Ya?" tanya Mark.
"Tuan, nona Tania ingin bertemu." jawab sang sekertaris dari seberang.
"Suruh dia masuk." jawab Mark.
Selang beberapa menit, sosok cantik itu membuka pintu ruangan Mark.
"Baby.." serunya setengah berlari ke arah Mark.
"Hei.. bukankah kamu baru tiba dari London? kenapa langsung kemari?" tanya Mark lembut.
"Aku sangat merindukanmu." jawab Tania manja sambil memeluk Mark yang kini sudah berdiri di hadapannya.
Sebuah kecupan lembut dan rakus lalu mendarat di bibir Mark. Tania masih sama seperti satu setengah tahun lalu. Begitu liar dan agressif.
"Ada apa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu lagi?" tanya Mark setelah melepaskan pagutan diantara mereka.
"Aku tidak suka dengan sekretarismu." ujar Tania.
"Kenapa sayang? Apa dia memarahimu? mengganggu mu? membuatmu kesal?"
"Dia terlalu seksi Mark. Aku tak mau dia menggodamu." jawab Tania sambil menghempaskan pantatnya di sofa yang ada diruangan itu.
"Dia tidak begitu." jawab Mark sabar sambil duduk di sisi gadis itu.
"Tapi aku tidak percaya padanya." rengek Tania lagi.
"Kau bisa percaya padaku kan sayang?" tanya Mark sambil menarik gadis itu kedalam pelukannya.
Tania menghela nafas panjang.
"Mark, aku lelah. Lebih baik aku pulang dan segera beristirahat." ujar Tania sambil melepaskan pelukan Mark kasar.
Gadis itu langsung bangkit berdiri dan dengan gerakan cepat meraih tas nya dari meja.
"Aku tidak mau melihatnya lain kali." ujar Tania sambil melangkah keluar dari pintu ruangan Mark.
Mark duduk di sofa dengan wajah frustasi. Ada nasihat lama yang berbunyi, "rasa percaya itu, sekalinya retak nyaris mustahil untuk direkatkan kembali."
Entah mengapa, kini dia mengerti arti kalimat itu.
**Author POV
Hi...hi..hi... semua..
Selamat datang di kisah hidup Mark dan cintanya.
Semoga kalian suka ya.
Silahkan tinggalkan like, komen dan vote sebanyak-banyaknya sebagai amunisi semangat untuk author.
thanks
__ADS_1
-best**-