
Jakarta Juli 2013
"Ibu... Anna lulus.." ujar gadis itu sambil berlari mengejar wanita yang kini sedang berdiri di ambang pintu rumah mungil di salah satu sudut kota Jakarta.
"Ibu, tidak biasanya ibu menyambut ku sampai ke pintu." batin gadis itu. Namun karena euforia kelulusan membuatnya mengabaikan keraguan yang sempat terbersit di hatinya. Annasya, begitu gadis itu dinamai, berlari kearah ibunya. Dan langsung memeluk sang ibu erat-erat.
"Ibu.. Anna lulus. Anna lulus." sorak Annasya gembira.
"Bapak pasti senang kan bu? Bapak mana Bu?" tanya sang anak pada Ibunya.
Wanita paruh baya yang sudah melepaskan pelukan putrinya itu hanya terpaku, diam tanpa kata. Bibirnya bergetar, lalu air mata nya mengalir membasahi pipi. Dia menangis tanpa suara.
"Tidak bu, jangan menangis. Ada apa Bu? Dimana bapak? Ibu? Ibu?"
"Anna... Anna... Annasya..." sebuah suara dan tangan yang mengguncang tubuhnya menyadarkan Anna.
"Anna mimpi bu." jawab gadis itu sambil mengangkat kepalanya.
"Ibu kenapa?" Gadis itu bertanya pada ibunya yang kini hanya terdiam. Tiba-tiba ruang tunggu rumah sakit yang tadi berisik terasa hening dan kosong. Annasya merasa ada yang salah.
"Ibu, ibu jangan diam. Ada apa? Ada apa Bu? Bapak? Bapak bagaimana operasinya lancar kan bu?" tanya gadis itu frustasi.
"Bapak... bapak sudah pergi nak." ujar wanita itu dengan suara bergetar.
Annasya menangis dan meratap sejadi-jadinya, dia bahkan meraung hebat. Namun sebanyak apapun air mata yang mengalir tak akan pernah cukup untuk membawa sang bapak kembali.
\\*
Annasya menatap nanar gudukan tanah merah yang kini ada dihadapannya. Di sana, di bawah sana terbujur kaku tubuh pria yang sangat dicintainya. Bapak, Ayah, Papa, Papi, Daddy, sosok cinta pertama setiap putri kecilnya. Dan kini cinta pertama Anna menghilang, pergi tanpa ucapan selamat tinggal.
"Anna, pergilah ke korea." ujar Ibu memecah kesunyian di sekeliling tanah merah itu.
"Buat apa Bu?"
"Itu pesan terakhir bapak. Dia tahu Anna memenangkan beasiswa di sana. Bapak berpesan, apapun yang terjadi Anna harus mengejar cita-citamu nak."
"Tapi Bu..." tanya Anna gusar sambil mer*mas tanah merah dalam genggamannya.
"Anna sayang Bapak kan nak?" tanya Ibu dengan suara bergetar.
"Iya bu."
"Pergilah."
Akhirnya di atas tanah merah ini, dia memutuskan untuk mengejar mimpi sampai setinggi langit. Anna ingin menjadi seseorang yang hebat buat Bapak. Walau dunia mereka kini berbeda, namun darah yang mengalir di tubuhnya sama dengan milik cinta pertamanya itu. Artinya Bapak tetap disini dengan Anna.
__ADS_1
\\*
Bandara internasional kota Seoul Agustus 2013
Anna melangkah sedikit ragu-ragu sambil menoleh ke kiri dan ke kanan. Tempat ini sungguh sangat asing bagi gadis itu.
"Ibu..." Anna berbisik karena khawatir.
"Jangan takut. Kalau Anna tidak tahu bertanya saja, selama ada orang di sana dan selama Anna tidak berniat jahat, pasti akan ada yang menolong." pesan ibu terngiang di telingannya.
Anna bergerak pelan dan dengan ragu-ragu mendekati seseorang. Namun tiba-tiba sepasang matanya menangkap sebuah karton bertuliskan "Annasya Lionita."
"Itu namaku" pekik gadis itu dalam hati sambil bergegas ke arah tadi.
"Hallo, menunggu Annasya?" bertanya dengan hati-hati dengan menggunakan bahasa inggris.
"en... an... eh..." Gadis yang memegang kertas bertuliskan namanya terlihat ragu-ragu.
"Apa bahasa inggris ku seburuk itu? Padahal kan aku sudah les, nilai IELTS ku juga sangat memuaskan." Anna kembali bergumam sambil menggaruk kepala yang tidak terasa gatal.
"Kamu menunggu Annasya?" tanyanya kemudian dengan bahasa Korea yang belepotan. Yah, dia juga sempat les bahasa Korea selama tiga tahun terakhir.
"Saya menunggu Annasya." jawabnya antusias.
"Aku... aku Annasya."
"Oh, bahasa koreamu sangat parah." jawabnya kemudian sambil menarik tangan Anna dari sana.
Rara berasal dari jurusan yang berbeda dengan Anna, dia kini sudah di tahun kedua. Rara hanya membantu penjemputan Anna sebagai salah satu program kerja ikatan mahasiswa dikampus. Annasya akan belajar di jurusan Bioteknologi, dan tentu saja tinggal di asrama, dia tidak punya cukup dana untuk menyewa apartemen di luar kampus, kalian harus tahu ibunya hanyalah seorang guru PNS di SMP. Gajinya tak akan cukup jika harus mendanai hidup anak gadis itu selama di sini, belum lagi menutupi biaya pinjaman untuk pengobatan Bapaknya.
Suatu hari, Anna ingin menemukan cara paling ampuh untuk menyembuhkan kanker hati. Penyakit yang sudah memisahkan nya dengan cinta pertamanya. Itulah alasan mengapa Anna memilih jurusan ini.
"Hai, aku Eve." seseorang membuka pintu kamar yang sudah dihuni oleh Anna dan tunggu dulu, dia menggunakan bahasa Indonesia kan?
"Kamu dari Indonesia?" tanya Anna antusias sambil berjalan menuju pintu.
"Ya. Kamu juga?" pekik gadis berambut ikal itu tak kalah antusias.
"Iya."
Seperti dua orang yang bertemu teman lama, begitulah mereka berpelukan sambil melompat kesana kemari. Keduanya ternyata sama-sama bersyukur bisa bertemu dengan orang dari negara yang sama di sini.
\\*
"Anna, asalmu darimana?" tanya Eve, mereka baru saja selesai merapikan kamar dan mandi. Sekarang keduanya tengah bersantai di atas ranjang masing-masing.
__ADS_1
"Gue.."
"Jakarta." potong Eve.
"Kok loe tahu?" tanya Anna penasaran.
"Tuh pakai bahasa Loe-Gue." jawab Eve santai.
Posisi tempat tidur mereka bertingkat, Eve yang menempati lantai atas karena dia yang tiba paling akhir di kamar ini.
"Eve dari mana?" tanya Anna antusias.
"Saya dari Bali."
"Wah... Bali itu keren ya?" tanya Anna lagi.
"Anna belum pernah kembali?"
"Belum."
"Kalau liburan ikut Eve ya." tawar gadis itu sambil menjulurkan kepalanya dari atas mengintip Anna.
"Okay."
"Kamu jurusan apa Ann?"
"Bioteknologi, kamu sendiri?"
"Aku ambil jurusan fisika. eh ternyata kita sama-sama dari science. Senangnya."
"Iya, gue juga senang. Eh btw, boleh pakai loe-gue?" tanya Anna serius.
"Boleh dong. Di Bali juga banyak orang yang sudah pakai Loe-Gue."
.......
Kamar kembali hening, sepertinya kedua gadis belia itu sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Ann..." panggil Eve memecah keheningan.
"Iya Ve?"
"Loe masih peraw*n?" tanya Eve dengan santai nya.
"Masih." jawab Anna.
"Wah? Kok bisa? Seriusan loe?" Eve bertanya antusias, sangkin antusiasnya dia kini gadis itu sudah turun dan tidur di sebelah Anna.
"Iyalah, masa ia gue becanda Ve. Loe sendiri?"
"Gue udah jebol, pas kelas dua SMA." jawab Eve santai.
__ADS_1
Anna hanya membisu. Dia tidak terlalu terkejut dengan kalimat Eve, karena dia sadar banyak temannya yang juga memiliki kondisi yang sama. Berbeda dengan mereka, Anna memiliki prinsip bahwa menjaga mahkotanya sangat penting. Dia ingin suaminya kelak mendapatkan Annasya sebagai gadis yang tidak ternoda, namun bukan berarti Anna memandang rendah teman-temannya yang sudah having sex before marriage, sekalipun norma agama dan budaya melarang perbuatan itu, tetap saja pelakunya manusia yang harus kita kasihi. Yang salah tindakannya, bukan orangnya, begitulah prinsip yang selama ini dipegang oleh Annasya.
Kedua gadis itu saling berdiam diri. Anna dan Eve sibuk dengan pikiran masing-masing.