
"Setidaknya kamu melamarku dengan cara yang romantis, jangan diatas ranjang." gumam Tania sebelum terlelap karena kelelahan.
Gadis itu lalu jatuh ke alam mimpi, karena kelelahan bermain sepanjang hari bersama tunangannya Mark.
Sejak Tania terlelap, pria yang terbaring di sampingnya sibuk menatap langit-langit kamar. Seolah mencari sesuatu yang hilang dan bersembunyi di sana.
"Aku harus bagaimana?" lirih, pria itu bergumam dalam hati sebelum akhirnya ikut bergabung dengan alam mimpinya.
\\*
Jakarta, 2020 (saat ini).
Cuaca yang terik dan panas tidak menyurutkan aktifitas manusia di sepanjang jalanan kota. Hal itu jelas terbukti dari betapa macetnya jalan raya. Jakarta memang selalu begini, berhasil membuat masyarakatnya menggerutu tidak sabaran karena macet.
Berbeda dengan seorang gadis yang duduk tenang di dalam sebuah taksi online yang sejak beberapa menit belum bergeser walau hanya satu inci dari posisi beberapa menit lalu. Angel, gadis itu fokus pada layar komputernya, seolah kemacetan ini adalah hal ternyaman untuk mengerjakan pekerjaannya. Sementara sang supir, ikut menikmati kemacetan ini sejak menyadari bahwa penumpang yang kini menyewa jasanya tidak terlalu diburu waktu.
Tiba-tiba hening di dalam taksi terusik oleh bunyi ponsel sang penyewa.
"Hallo," Angel menjawab panggilan itu dengan wajah datar.
....
"Gue lagi kerja Jack."
....
"Dimana? Apartment?" mengernyit saat mendengar pria itu kini sudah tiba di kediamannya.
....
"No body in there. Gue nggak dirumah, ya wajarlah nggak ada bukain pintu buat loe."
....
"Gue masih di taksi online."
....
"Apaan sih loe? bukannya dari tadi gue bilang gue lagi kerja?"
....
"No...no...no... Nggak perlu nyusul gue kamana-mana. Mending loe pulang sekarang."
....
"Iya, gue masih lama. Jangan nunggu!" titah sang gadis.
....
"Bye Jack." ujarnya sebelum memutuskan sambungan telepon dengan pria di sebrang sana.
"Ganggu aja deh. Untung kan tadi gue inisiatif buat kerja di taksi. Coba aja gue masih di rumah, bisa bete seharian gue ngadepin tuh anak." Angel mengomel panjang lebar tanpa perduli dengan sang sopir yang sedang sibuk dengan jalanan di hadapannya.
Menghindari sahabatnya sendiri memang terdengar aneh, namun begitulah Angel. Sejak Jack hanya mengejarnya dengan iming-iming romantisme, gadis manis ini mulai merasa tidak nyaman. Dan demi menghindari Jack, ini bukan pertama kalinya dia memilih menyewa Taksi online. Berkali-kali angel melakukannya.
Kenapa harus taksi online? Tentu saja karena Jakarta rawan macet, yang berarti dia akan berlama-lama di jalan. Bahkan Angle tidak segan-segan langsung memilih rute jalur yang paling macet saat menentukan titik antar nya. Dan sebelum sang sopir berniat mengambil jalan alternatif, Angle sudah mewanti-wanti mereka sebelum taksi mulai melaju.
"Pak, jangan pakai jalan alternatif."
"Tapi neng, jam segini lagi macet-macetnya."
__ADS_1
"Saya bayar 100 ribu per jam. Bapak pasti terganggu buat narik kan kalau kita lewat jalur macet dan orderan ini selesainya lama?"
"Betul neng."
"Kalau begitu, kita lewat jalur biasa dan saya bayar 150.000 perjam untuk kerugian bapak karena macet." Angel menaikkan penawaran nya.
"Tenang aja pak, itu di luar bayaran di aplikasi. Sejenis tip." gadis itu menambahkan.
Tak ingin melepas rejeki, biasanya para supir akan menyetujui permintaan dan penawaran Angle.
Kenapa gadis itu tidak memilih cafe atau tempat bersantai lainnya? Karena Angel tidak ingin berbohong jika Jack menelepon untuk mencari keberadaannya. Dengan begitu ide taksi online ini sungguh sangat menyelamatkan Angel dari Jack sang pengejar cinta.
\\*
Seorang gadis sedang berlarian di dalam kamarnya, mencoba menemukan pakaian yang dirasa cocok untuk membalut penampilannya hari ini.
Hari ini berbeda dengan hari-hari lainnya. Jika pada hari lain Angel sibuk bekerja dengan gadget di dalam taksi online, hari ini gadis itu harus mengunjungi salah satu stasiun tv swasta. Sudah setahun penuh Angle di kontrak oleh perusahaan itu sebagai pembuat konten di salah satu acara mereka. Hal yang mengharuskan Angel menghadiri stasiun TV Dua kali seminggu. Dan tentu saja, hal ini juga berarti kesempatan temu untuk Jack.
\\*
"Apa kabar?" tanya pria yang duduk berhadapan dengan Angel. Jangan lupakan ekspresinya yang sangat antusias saat ini.
"stttt... pelankan suaramu Jack."
"Kita kan sedang di kantin. Santai saja."
"Bagaimanapun di sini banyak orang. Bersikap dewasalah sedikit."
.....
Keduanya terdiam sejenak dan sibuk menikmati minuman masing-masing. Menu yang di sediakan kantin stasiun TV ini memang memiliki cita rasa yang bagus.
"Bagaiamana pekerjaan loe?" Angel bertanya mengusir keheningan diantara mereka berdua.
"Jangan pura-pula lupa An.. loe udah nolak perasaan dan juga lamaran kerja gue.
"Astaga Jack, berhenti membicarakan hal itu. Bukannya loe bisa cari pekerjaan lain?"
"Tapi kan gue ingin bekerja sama loe."
"Tidak. Sekali tidak tetap tidak Jack. Loe bisa bekerja di perusahaan milik keluarga loe sendiri kan? Sampai kapan mau bermain-main terus?"
"Gue sedang cuti."
"Cuti apaan?" Bertanya kesal menyadari kata cuti yang Jack maksud adalah resign dari posisi nya di kantor dan berjuang untuk bekerja padanya.
"Dasar gila ya loe." Bergumam pelan mengingat kebenaran dibalik kata cuti Jack.
"Tenanglah, lagipula papa nggak akan bangkrut kok kalau gue nggak kerja di perusahaan nya."
"Astaga Jack... Jack.. Gue nggak habis pikir sama loe."
"Jadi gimana? Gue diterima nggak."
"Nggak Jack."
"Tapi An..."
__ADS_1
"Nggak ada tapi-tapian. Lagipula minggu depan gue akan pergi."
"Loe mau kemana?"
"Korea Jack."
"Ngapain lagi An?"
"Gue ada kerjaan di sana."
"Dari pihak TV atau buat konten pribadi loe?"
"Ada urusan lain Jack. Masalah konten mah jalan aja."
"Urusan apa sih An?"
....
Angel tidak menjawab pertanyaan Jack karena tidak ingin pria ini terlalu mencampuri kehidupan pribadinya.
"Jangan-jangan, tanpa gue tahu loe ini CEO sebuah perusahaan yang lagi menyamar jadi orang biasa ya?"
"Ngaco... Loe kenal gue sejak kapan? Bukannya sejak zaman Siti Nurbaya?" Angel bertanya dengan tampang serius.
"Siti Nurbaya apanya? Ketuaan mah, kalau zamannya Siti Nurbaya. Gue kenal loe baru juga sejak zaman dinosaurus terancam punah."
"Loe benar. Sorry gue lupa." jawab Angle sebelum tawa mereka pecah mengisi kantin itu.
Keduanya masih tertawa walau beberapa pasang mata melirik mereka, seolah ingin tahu hal apa yang sedang ditertawakan oleh Angel dan Jack.
\\*
Korea, 2020 (saat ini).
Mark melangkah perlahan meninggalkan ruangan rapat. Di susul oleh sekretaris nya yang cantik dan sangat seksi. Nona Kim, demikian orang-orang mengenalnya.
"Tuan ingin makan siang di luar?" tanya sang sekretaris sambil mengimbangi langkah Mark.
Mark berhenti sejenak terlihat seperti sedang berpikir.
"Apa jadwal saya selanjutnya?" tanyanya kemudian.
"Pertemuan di kantor cabang TV XS pada pukul 16.00 untuk membahas proyek kuliner internasional tuan, selain itu tidak ada janji penting lainnya."
"Saya akan makan di kantor. Tolong jangan biarkan seseorang mengganggu setelah jam makan siang." ujar Mark mengingat beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini.
"Siap tuan." menunduk sopan.
Mark kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan CEO di gedung ini. Sementara sang sekretaris hanya mengekor dengan langkah tergesa di belakang bosnya.
\\*
Mark sudah menyelesaikan acara makan siangnya. Sang sekretaris juga sudah merapikan ruangan tuannya kembali. Di kursi kerjanya dengan gerakan lambat Mark menarik salah satu laci mencoba menemukan sebuah pena. Namun tiba-tiba pandangan pria itu tertuju pada sebuah foto yang sudah lama tidak dilihatnya. Rasa nyeri kini menyergap, menghampiri dada pria itu.
to be continued..
Author POV
__ADS_1
Gimana nih ceritanya? Ngebosenin kah? Apakah kalian masih tertarik tentang Mark? Tulis jawaban dan pendapat kalian di kolom komentar ya.