
Kedua gadis itu saling berdiam diri. Anna dan Eve sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Loe pernah pacaran?" tanya Eve kembali memecah keheningan.
"Pernah."
"Jadi kalau lagi kencan, loe ngapain aja Anna?"
"Yah, nonton, ke mall, main Timezone, makan ice cream, ke toko buku.."
"Astaga Anna, loe bisa ngerjain semua itu sama teman cewe. Kalau lagi berkencan itu ya harusnya loe manfaatin waktu buat menikmati sesuatu yang lebih menarik."
"Kamu ada-ada aja deh Ve..." Mereka berdua lalu tertawa bersama. Tali persahabatan kini mulai saling terjalin rapi.
\*\*\*
Indonesia, Jakarta 2020 (3 bulan lalu)
"Selamat pagi Angel." Angel yang sedang memandangi layar ponselnya sambil menatap sarapan di salah satu Cafe di pusat kota kini memutar bola matanya karena merasa bad mood.
Yah, pria tampan yang kini sedang duduk di hadapannya berhasil membuatnya bad mood.
"Loe nggak ada kerjaan?" tanya Angel sambil mengunyah makanannya pelan.
"Lah, kan loe nolak gue. Gue ajak pacaran, loe tolak. Gue minta jadikan gue manager atau cameraman, loe tolak juga."
"Gua lagi belum butuh manager maupun cameramen." jawab Angel santai.
"Gimana sih An loe ngerjain semuanya sendiri? Loe bukan robot kan An?"
"Gue manusia beg*..."
"Yakin?"
"Loe perlu bukti?"
"Iya, dong. Kencan bareng gue yok. Gue mau buktiin apa loe manusia atau bukan."
"Astaga, apa hubungannya?"
"Ya kita ngelakuin sesuatu dong pastinya saat kencan."
"Ngimpi loe?" ledek Angel sambil meneguk sisa-sisa susu yang menjadi menu sarapan pagi nya.
"Gue usaha nih. Duluan ya. Bye mr.pengangguran." Ledek Angle sambil berlalu meninggalkan Jack.
Pria itu hanya bisa mengacak rambutnya frustasi. Dia bingung mengapa semakin sulit menaklukan hati sahabatnya ini. Sedangkan dia sudah bersahabat dengan Angel sejak zaman SMA. Jangan tanya bagaimana mereka bisa jadi sahabat, tentu saja karena terpaksa. Mereka dipaksa duduk semeja oleh wali kelas. Dan seperti takdir setiap tahun mereka selalu dipasangkan jadi teman sebangku.
Jack selalu menjadi teman curhat Angel, begitupula sebaliknya. Gadis itu akan dengan sukarela mendengarkan keluh kesah Jack. Mereka berbagi cerita tentang rumah, impian dan cerita cinta. Hingga suatu hari Angel menangis sesenggukan di pelukan Jack, mengaku bahwa kekasihnya memutuskannya karena alasan yang sangat sepele.
__ADS_1
Sejak hari itu diam-diam Jack mengagumi Angle. Jarang ada gadis yang berprinsip seperti teman sebangkunya itu. Jack mengenyahkan kenangan masa lalu dari kepalanya dan bergegas mengejar Angle.
Yah, mengejar gadis itu sudah menjadi agenda utamanya sejak tahun 2013, Dave tidak ingin kehilangan Angel lagi. Bagaimana kalau gadis itu mendadak terbang ke negara lain lagi? Jack tak akan membiarkan itu sampai terjadi lagi di masa depan.
\*\*\*
Seoul, Korea 2020 (3 bulan yang lalu).
"Good morning baby." Tania mengecup kening Mark yang kini masih berbaring di sebelahnya.
"Morning." ujar Mark dengan suara serak.
"Boleh lagi?" tanya Tania tanpa malu sambil menggerakkan tangannya di atas kulit dada Mark.
"Hmmm... kamu makin nakal ya." ujar Mark dengan suara tertahan.
Dengan gerakan cepat pria itu langsung mengubah posisinya berada di atas Tania. Tubuh mereka yang hanya dibalut selimut kini saling bergesekan di beberapa sisi. Mark mendaratkan ciuman di bibir Tania, dan perlahan beralih ke leher jenjang gadis itu. Setelah malam yang panjang, mereka bergulat kembali, saling melepaskan hasrat yang terpendam.
\*\*\*
"Kita akan kemana baby?" Tania menanyakan isi kepalanya sambil mengeringkan rambut.
"Rahasia."
"Nggak usah sok romantis deh kamu." protes Tania pada tunangannya yang baru saja melontarkan kata "rahasia" itu.
Tania tersipu malu mengingat percintaan panas mereka sejak tadi malam.
"Baby, jangan lupa minum obat." ujar Mark kemudian.
"Tenang baby, aku sudah pakai yang implan sekarang." jawab Tania santai.
Yah bagaimanapun di usianya yang masih belum memasuki pertengahan 20 ini, dia belum siap menjadi seorang ibu, sementara sex adalah kebutuhan bukan? Mau tak mau dia harus cari aman, terlebih lagi dia tidak ingin tunangannya memuaskan hasrat di luar sana. Cukuplah satu kenangan buruk di masa lalu mereka kubur bersama-sama.
"Sejak kapan?" tanya Jack penasaran.
"Masih baru, sebelum aku liburan ke London sebulan yang lalu."
"Baby, apa yang kamu lakukan di London?"
"Yang pasti bukan selingkuh, apa kamu lupa aku pergi dengan siapa? Orangtuaku dan orangtuamu Mark. Mana mungkin aku sempat macam-macam?"
"Jadi kamu berniat macam-macam?" tanya Mark sambil mencubit gemas pipi Tania.
"Sama sekali tidak. Meskipun rasanya dengan begitu kita akan impas, tetap saja aku tidak tertarik."
"Bukan tidak tertarik, tapi mungkin belum tertarik." ujar Mark lirih.
"Mark? Apa maksudmu? apa kau setidak percaya itu padamu?"
__ADS_1
"Baby, bukan begitu maksudku."
"Lalu apa? Tadi katamu hanya belum tertarik. Apa kau pikir aku akan serendah itu?" Tania berteriak karena emosi.
"Baby, maaf ya. Aku tidak bermaksud begitu. Jadi kamu mau kemana hari ini?" Tanya Mark mencoba mengalihkan keadaan..
"Terserah. Aku tak ingin bicara denganmu. Keluar dari kamarku sekarang juga." usir Tania.
Mark menatap Tania dengan tatapan penuh arti. Bukan begini hubungan yang dia mau, tapi semua kesalahannya. Dialah yang memulai keretakan ini. Bagaimanapun Mark harus menanggung semua ini. Ini hukuman baginya.
"Baby, maaf." Mark kini melangkah mendekati Tania yang baru selesai mengeringkan rambutnya.
Dengan gerakan tidak terduga, pria itu langsung menciumi rakus bibir dan leher Tania secara bergantian.
Tania yang terkejut dengan perlakuan Mark tidak dapat melakukan penolakan apa-apa. Semarah dan sekesal apapun dirinya, tubuhnya selalu mendamba setiap sentuhan pria itu.
Tania masih merasakan ciuman Mark yang menuntut di bibirnya sebelum akhirnya gadis itu merasa tubuhnya sedikit melayang. Mark kini menggendongnya ke arah ranjang. Akhirnya kencan mereka hari ini, yang katanya tadi rahasia dituntaskan di kamar. Mereka hanya saling bergelung, saling mengecap dan saling meneriakkan nama satu sama lain.
Mark sedang di puncak kenikmatan nya, setiap kali bayangan gadis itu muncul di kepalanya. Gadis itu tersenyum namun dalam hitungan detik air mata membasahi pipinya. Dan gadis yang ada dalam kepala Mark bukanlah gadis yang kini sedang menjamah tubuhnya. Gadis itu bukan Tania.
Mark menghempas tubuhnya ke sebelah tunangannya.
"Bagaiman jika kita menikah saja?" tanya Mark kemudian.
"Kamu yakin?" Tania bertanya kembali. Ternyata mood gadis itu sudah baikan. Yah sejak empat tahun lalu, begitulah Tania, dia selalu bisa dijinakkan oleh Mark dengan melakukan kegiatan panas itu.
Tapi pernikahan tidak hanya soal hasrat kan?
"Kamu bahkan sudah menundanya sejak dua tahun lalu." jawab Tania pelan menyadarkan Mark bahwa selama ini yang mengulur pernikahan mereka adalah dirinya sendiri.
"Kamu tahukan, dua tahun lalu aku masih mahasiswa?"
Mark bertanya ragu-ragu. sebetulnya bukan ragu atas pertanyaannya maupun jawaban Tania. Mark sedang ragu atas keputusannya sendiri.
Apakah sudah waktunya baginya untuk menikah dengan Tania dan mengubur semua tentang kenangan lama?
"Setidaknya kamu melamarku dengan cara yang romantis, jangan diatas ranjang." gumam Tania sebelum terlelap karena kelelahan.
...to be continued...
Curhatan Author
Gimana guys? Apakah masih tertarik? Lanjut atau tamatin aja?
jangan lupa komen pendapat kalian, beri like, dan vote juga ya.
thankyou.
-best-
__ADS_1