Bunga Bermekaran Di Musim Panas, Trouvaille 2

Bunga Bermekaran Di Musim Panas, Trouvaille 2
Menjaga Jarak


__ADS_3

Mereka sudah berteman selama satu semester, dan sampai hari ini bagi Anna, pria di hadapannya ini adalah sesama mahasiswa asing. Sama seperti dirinya, setiap hari dia berniat menanyakan tentang keluarga Mark, namun setiap kali mereka bersama, Anna selalu lupa akan hal itu.


\*\*\*


"Mark, apa kau sakit? Wajahmu pucat sekali."


...


"Mark kau sudah makan? Kenapa hanya makan mie instan? Ini nggak baik untuk kesehatanmu."


...


"Mark, kau tidak kedinginan? Jaga kesehatanmu."


...


Setahun sudah Mark mengenal Annasya dengan semua aksi berisik nya itu. Sangat sering Mark merasa tidak nyaman dengan perhatian Anna yang dirasa berlebihan. Kalimat-kalimat yang tadi terngiang di telinga Mark adalah contohnya.


Pria itu mendengus frustasi, sambil meneguk air untuk mengganti setiap tetes keringatnya yang sedang mengalir. Mark baru saja selesai berlari mengelilingi fieldtrack, area khusus untuk olahraga lari.


"Kau kenapa?" tanya seorang pria menghampiri Mark.


Pria tampan dengan wajah mirip oppa korea, pria itu adalah Park Min Ho, sahabat Mark sejak SMP dan kebetulan sekarang mereka kembali dipertemukan sebagai teman sekelas .


Mark menoleh ke arah Min Ho, sambil memberikan tatapan penuh arti.


"Apa maksudmu Min Ho-aaa" tanya Mark dalam hati.


"Kau hanya berlari jika memikirkan sesuatu. Ada apa?" tanya Min Ho seolah membaca isi kepala Mark.


....


Mark tidak menjawab pertanyaan Min Ho, pria itu memilih melempar pandangan jauh ke depan.


"Apa karena dia?" tanya Min Ho sambil menunjuk ke arah gadis yang berlari ke arah mereka.


Mata Mark terbelalak lebar, dia tidak menyangka akan bertemu gadis itu di sini. Seolah Mark lupa kalau fieldtrack ini adalah fasilitas kampus.


"Mark?" sapa gadis itu setelah melambatkan langkahnya.


"Hi..." Mark menyapa Anna dengan melambaikan tangan.


"Tunggu aku di sana." ujar Anna sebelum kembali berlari, rupa-rupanya gadis itu memilih menyelesaikan olahraga nya terlebih dahulu.


"Karena dia kan Mark?" tanya Min Ho mengembalikan kesadaran Mark.


"Aku hanya merasa bersalah pada Tania." jawab Mark pelan.


"Maksudmu si Tania kecil?" Kini Min Ho sudah duduk bersisian dengan Mark.


"Ya. Aku merasa menjadi pacar yang tidak setia sekarang." ujar Mark menuangkan isi hatinya.


"Sejak kapan kau berpacaran dengan Tania?"


"Hampir dua tahun."


"Kau bahkan tidak memberitahu ku." ujar Min Ho kesal sambil menepuk pundak Mark.

__ADS_1


"Lalu apa yang mengganggu pikiranmu? Apa kau merasa berdebar pada mahasiswa asing itu?" tanya Min Ho lagi.


"Aku tidak tahu." jawab Mark santai.


"Kau bahkan sangat jarang denganku selama setahun terakhir. Padahal aku sempat menduga bahwa kita akan sering menghabiskan waktu bersama. Tapi sejak Anna muncul, duniamu seolah berputar di sekitarnya. Di setiap sudut kampus, jika aku melihatmu, Anna pasti ada." Min Ho mulai bercerita pancang lebar.


"Benar kan? Kami terlihat aneh kan?" tanya Mark frustasi.


"Aku bahkan sempat menduga-duga bahwa kalian adalah sepasang kekasih. Aku terkejut saat kau menyebut Tania sebagai pacarmu." curhat Min Ho lagi.


"Aku harus bagaimana?" tanya Mark bingung.


"Kau mencintai Tania?"


"Tentu saja Min Ho, aku tidak mungkin berpacaran dengannya jika aku tidak mencintainya."


"Hubungan kalian sudah sejauh mana?" goda Min Ho kemudian.


"Apa maksudmu?" tanya Mark menatap Min Ha dengan wajah ekstra penasaran.


"Bagaimana dengan ...." Min Ho mengerakkan kedua tangannya, mengerucutkan jemari dan membuat tangan kanan dan tangan kiri saling bersentuhan, seolah mengisyaratkan ciuman.


"Tidak ada." jawab Mark santai.


"Apa? Kau bodoh? Apa kau sungguh lelaki Mark?"


"Tania masih kecil Min Ho. Kau ingin aku merusak gadis remaja?" tanya Mark makin frustasi.


"Maaf." menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kau tadi menyarankan menjaga jarak kan? Bisa bantu aku?" tanya Mark.


"Bagaimana?"


"Tunggu dia di sini, katakan pada Annasya bahwa aku pergi karena ada urusan mendadak. Jadilah temannya mulai hari ini." pinta Mark sungguh-sungguh.


"Maksudmu kau ingin menjadi kan ku sebagai tumbal?"


"Jaga bicaramu Min Ho, apa kau pikir Annasya itu orang jahat?"


"Kau bahkan membelanya. Aku curiga dengan perasaanmu sekarang." ujar Min Ho.


"Jangan penasaran. Cukup tunggu Annasya disini. Percaya padaku, dia gadis baik. Kau akan cocok berteman dengannya." ujar Mark mengingat Min Ho yang sama berisik nya dengan Anna. Mungkin 11:12 begitu Mark membuat perbandingan diantara mereka.


"Aku cabut sekarang." Mark menepuk pundak Min Ho sambil beranjak pergi, saat menyadari Anna sedang berlari ke arah mereka.


Min Ho hanya mengangkat kedua tangannya seolah berkata 'terserah' saat Mark berlalu.


\*\*\*


Anna sudah menyelesaikan putaran terakhirnya, hitungan beberapa langkah, dia akan tiba di titik henti Mark dan salah seorang classmatenya yang dikenal bernama Park Min Ho. Gadis itu mulai melambatkan langkahnya dan mengatur nafasnya sambil menghirup udara dalam-dalam. Anna rutin melakukan olahraga lari, dan belum pernah dia bertemu kedua sosok tadi di area ini. Hari ini adalah pertama kalinya Anna melihat Mark dan Park Min Ho berlari, itulah alasan dia meminta Mark menunggunya tadi. Setidaknya mereka bisa istirahat dan mengobrol sejenak kan?


"Kemana Mark?" tanya Anna saat tiba di tempat Min Ho sedang beristirahat.


"Ada urusan mendadak." jawab Min Ho santai.


"Oh.. terimakasih untu infonya tuan Park Min Ho." jawab Anna santai.

__ADS_1


"Anna.."


"Ya?"


"Bicaralah dengan santai padaku. Kita juga teman sekelas." ujar Min Ho.


"oh... terimakasih." jawab Anna yang kini sudah duduk bersisian dengan pria itu.


Hening, kedua insan itu sepertinya tengah sibuk dengan pikiran masing-masing. Sambil menatap jauh ke depan.


"Gue bahas apa sama anak ini? Ngapain si Mark pakai acara kabur sih? Kalau gue langsung pulang, terkesan sombong nggak ya?" Anna sibuk bermonolog dalam hati.


"Sialan si Mark. Mau jaga jarak sih jaga jarak. Kenapa harus melibatkan ku seperti ini?" Protes Min Ho dalam hati.


"Kemampuan berbahasa koreamu sudah jauh lebih baik." ujar Min Ho memecah keheningan.


"Oh... itu, terimakasih tuan Park."


"Kau? Apa kau tidak mendengarkan ku? Aku sudah memintaku untuk berbicara dengan santai kan?" tanya Min Ho cerewet.


"Oh iya. Maaf Min Ho-aaa" jawab Anna sedikit kikuk.


"Mau makan malam bersama?" Tanya Min Ho sambil melirik ponselnya, memeriksa waktu.


"Oh, aku menarik pertanyaan tadi." ujarnya lagi.


"Apa?" tanya Anna bingung dengan perubahan kalimat Min Ho bahkan sebelum dia memberi jawaban.


"Apa-apaan sih anak sebiji? Nawarin makan bareng, tapi nggak jadi. Gue juga nggak minat sama loe. Sok jual mahal banget." omel Anna dalam hati.


"Aku menarik pertanyaanku, karena aku tidak seharusnya bertanya begitu. Sudah sepantasnya kan kamu makan malam denganku? Anggap saja sebagai hukuman karena tadi tidak mendengarkan instruksi ku dan tetap bicara formal padaku." omel Min Ho panjang lebar.


"Apa? Astaga, dia bilang apa tadi? hukuman? Dan pria ini sungguh berisik sekali." umpat Joelin dalam hati.


"Ayok." Min Ho langsung menarik tangan Joelin dan bergegas dari sana.


Joelin yang terkejut dengan sebuah tangan yang sedang menggenggam tangannya hanya bisa melongo tak percaya sambil berjalan mengikuti Min Ho.


\*\*\*


Anna masuk ke dalam kelas dengan penuh semangat. Semua tugasnya dapat nilai sempurna, tentu saja Anna sangat bahagia.


"Hi Mark..." Sapa Joelin pada sahabatnya dan langsung duduk di sisi Mark seperti biasanya.


...


Tanpa bersuara Mark malah bangkit dari posisi duduknya dan pindah ke salah satu kursi kosong di kelas.


"Kenapa dia? Lagi PMS?" tanya Anna dalam hati.


"Hi Annaaaaaaa...." Min Ho yang baru masuk kelas berteriak kencang sambil berlari ke arah Anna dan duduk di kursi yang tadi ditempati oleh Mark.


"Hi..." jawab Anna sambil tersenyum lebar.


Tidak ingin merasa terganggu, Mark memilih memakai headsead dan memutar musik dari ponselnya sambil menunggu sang dosen masuk ke kelas.


....to be continued...

__ADS_1


__ADS_2