
"Tau gitu ngapain gue jalan cepat kayak dikejar setan dari tadi?" oceh Angel yang ternyata terburu-buru karena khawatir sang sahabat kelaparan.
\*
Gadis itu memilih memperlambat langkah kakinya sambil melempar pandangan memantau setiap sudut di sekitar gedung King Grup. Seulas senyum terbit membingkai wajahnya, saat sosok yang selalu menemaninya tiba-tiba hadir di sana.
"Mark, apakah tidak ada restoran di sekitar sini?" Angel memandang sosok itu sambil melempar sebuah pertanyaan.
Sang pria hanya tersenyum sambil mengedarkan pandangannya, Angel memilih mengikuti arah yang dipandang lelaki itu.
"Ah, bagaimana kau bisa tahu jika ada cafe di sana?" tanya Angel sambil tersenyum bersemangat.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, sekertaris Kim sedang mengeryit bingung.
"Kenapa perempuan tadi berbicara sendiri? Aku tidak melihat ada orang lain disini. Apakah... apakah ada hantu?" tanyanya dalam hati.
"aaaaaaaaaa... ada hantu." sekertaris cantik itu memilih berlari masuk ke dalam perusahaan. Gagal sudah niatnya untuk makan siang di luar hari ini.
Sementara Angel yang tidak menyadari apa-apa memilih menata langkah menuju cafe yang terletak bersebrangan dengan King Grup. Senyumnya merekah sempurna setiap kali pria yang berjalan bersamanya melirik ke arahnya.
Sesampainya di depan cafe, beberapa pasang mata menatap Angel dengan tatapan bingung.
"Lihat-lihat, kenapa gadis itu tersenyum sejak tadi? Apa kau mengenalnya? apa dia tersenyum pada kita?" sekelompok pekerja kantoran yang baru keluar dari cafe itu berbisik satu sama lain.
Namun Angel sama sekali tidak menyadari keanehan yang sedang ditonton oleh semua orang yang sejak tadi mengawasi gerak geriknya.
Setelah memesan dan membayar pada kasir, Angel memilih duduk di sudut ruangan. Tepat di sisi dinding kaca yang bisa menunjukkan langsung pemandangan di halaman depan King grup.
"Apakah aku akan melakukannya dengan baik kali ini?"
....
"Kau tahu, ada banyak orang baru di hidupku."
"Kau akan baik-baik saja." sosok itu memberi jawaban.
"Yah, tapi aku sedikit tidak nyaman bekerja dengan orang baru."
"Kau bisa menyelesaikannya." pria itu kembali menyemangati Angel.
"Kau selalu begitu percaya dengan kemampuanku."
"Maaf nona, ini pesanan anda." seorang pelayan datanag dan meletakkan pesanan Angel di atas meja dengan wajah ketakutan.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Angel menyadari tangan pelayan yang sedang bergetar.
"itu... eh... saya baik-baik saja. Apakah anda sedang berbicara lewat telepon?" tanya pelayan wanita yang masih terlihat muda itu ragu-ragu.
"Aku sedang berdiskusi dengannya." jawab Angel tersenyum senang sambil mengangkat dagunya, menunjuk ke arah sosol yang duduk berhadapan dengannya.
Sang pelayan wanita menoleh ke arah kursi kosong yang terletak di depan Angel. Kursi yang hanya terpisah oleh meja makan berukuran kecil itu.
"Oh, silahkan menikmati makan siang anda." ujar wanita itu sambilberlalu meninggalkan Angel yang masih tersenyum manis.
"Mungkin dia orang gila. Tidak ada siapa-siapa di sana. Gadis itu berbicara sendiri, aku harus melapor pada meneger cafe agar dia segera diusir dari sini. Sayang sekali, padahal dia terlihat begitu cantik." Batin pelayan itu seiring langkahnya yang menjauh dari meja Angel.
Sambil menyantap makan siangnya, Angel sibuk berbicara dengan pria yang sedari tadi tersenyum menatapnya.
note dari author:
sosok yang diajak mengobrol oleh Angel hanya dapat dilihat dirinya sendiri.
\*\*\*
Mark sedang berusaha fokus pada dokumen-dokumen di meja kerjanya. Sesekali pria tampan ity menghela nafas berat, karena lelah dengan segala kesibukan itu.
'kruuuuuuk.. kruuuuk..' suara dari perut Mark yang kini meminta untuk di isi.
Mark segera menekan tombol interkom yang terdapat di meja kerjanya.
"Nona Kim, apakah ada jadwal meeting penting sore ini?" tanya Mark.
"Terimakasih." jawab Mark sopan sebelum memutuskan panggilan.
Mark langsung menyusun rencana untuk mengunjungi orang tuanya sore ini. Mark menunda rasa laparnya, sambil berusaha membereskan dokumen yang sejak tadi dia baca.
Sepuluh menit kemudian, pria tampan berwajah campuran asia dan Amerika itu sudah berjalan santai di loby perusahaan. Beberapa pegawai yang berpapasan dengannya langsung menunduk memberi hormat. Jam makan siang yang belum usai menyebabkan banyak karyawan yang sedang berlalu lalang keluar masuk gedung itu.
"Dia sungguh tampan."
"Iya bos kita sangat tampan."
"Hatiku meleleh.."
"Aku bahkan ingin menjadi simpanannya."
Mark memilih mengabaikan bisik-bisik dari pegawai wanita yang tertangkap oleh telinganya.
"Apakah hanya demi mendapatkan pria tampan wanita rela menjadi simpanan? Aneh sekali mereka." Batin Mark, namun seketika raut kecewa dan sedih tergambar di wajahnya.
"Bod*h, aku bahkan sudah menjadikan gadis sebaik Annasya jadi simpananku." Mark memaki dirinya sendiri sambil keluar dari perusahaan itu.
__ADS_1
Sang supir yang sudah sejak tadi menunggu di depan loby perusahaan hanya bisa menahan diri saat melihat wasah masam dari tuannya.
"Pulanglah lebih awal paman, aku akan menyetir sendiri sore ini." ujar Mark sopan menolak masuk ke dalam mobil meski pintunya sudah dibukakan oleh sang supir.
"Lebih baik aku minum kopi sejenak, untuk menenangkan pikiranku." ujar Mark dalam hati.
"Pakai saja mobil ini, saya akan memakai mobil yang lain." ujar Mark pada sang supir yang masih mematung menatapnya.
"Terimakasih." Sang supir menunduk sopan sebelum Mark berlalu dari hadapannya.
Mark menatap cafe yang kini berdiri tepat di hadapannya. Dinding kaca yang tembus pandang, membuatnya bisa mengawasi isi cafe itu dengan leluasa.
"Syukurlah, cafe nya sedang sepi." gumam pria itu melihat hanya ada beberapa pelanggan di dalam sana.
Dari balik kaca, di salah satu sudut cafe Mark melihat seorang gadis yang sibuk tersenyum dan asik berbicara. Kening Mark mengeryit bingung, melihat bahwa tidak ada seorang pun yang sedang duduk semeja dengan gadis itu.
"Annasya? Apa aku berhalusinasi lagi?" Mark bergumam sambil bergegas masuk ke dalam Cafe itu.
Tanpa memesan kopi yang sedari tadi begitu diinginkannya, Mark melangkah menuju salah satu meja sudut ruangan. Sosok yang sudah lama dirindukannya sedang duduk di sana, tertawa renyah terlihat begitu bahagia. Jarak yang kini memisahkan mereka membuat Mark tidak mendengar kata-kata yang keluar dari bibir gadis itu. Sambil mengerjap bahkan mengucek kedua matanya berulang kali, Mark bergerak semakin mendekat ke meja Angel.
"Dia masih di sana, dia tidak menghilang. Annasya, apa kau benar-benar sudah di sini? Apa kau sungguh ingin bertemu lagi denganku?" batin Mark bertanya pilu.
"Mark, berhenti menatapku begitu. Aku bisa terkena obesitas." suara gadis itu akhirnya menyapa telinga Mark, karena jarak yang memisahkan mereka kini kian terhapus.
Satu meter dari meja Angel, Mark menatap wajah gadis itu dengan seksama, berulang kali Angel menggerakkan tangannya, seolah berbicara dengan seseorang yang juga tengah berbicara dengannya. Sedikit bingung, Mark melangkah semakin dekat.
"Hahahahaha..." Tawa renyah Angel masuk menyapa telinganya.
"Aku bukan hanya melihat wujudmu, aku bahkan bisa mendengar suaramu, mendengar tawamu. Annasya, apa kau bahagia sekarang? apakah aku boleh menyentuhmu?" Mark bergumam dalam hati sambil mengulurkan tangannya, menyentuh lengan kiri Angel yang melayang bergerak di udara.
"Aku... Aku bisa menyentuhmu." Mark tergugu, air mata haru menetes dari matanya.
"Siapa kau?" tanya Angel sambil menatapnya tajam.
"Annasya..." gumam Mark pilu.
Angel langsung menggerakkan tangan untuk menutup kedua telinganya. Gadis itu memejamkan mata, respon yang membuat Mark berdiri terpaku.
"Bahkan dalam wujud arwah pun kau tak sudi bertemu kembali denganku?" Mark membatin pilu, ada kesedihan yang menusuk jauh di dalam batinnya.
🌺🌺🌺..to be continued...🌺🌺🌺
Pengumuman:
guys, GC Diwelin lagi mengadakan event berhadiah pulsa, poin dan koin. yuk kamu yang ingin mendapatkan hadiah segera masuk Grup Chat (GC) untuk info lebih lanjut. Password masuk GC, silahkan ketik "DAVE SI PIRANHA"
thankyou
__ADS_1
Pesan dari oppa Mark:
"ayuk like, komen dan vote yang banyak cantikkk.. Sarangheo.." ❤