Bunga Bermekaran Di Musim Panas, Trouvaille 2

Bunga Bermekaran Di Musim Panas, Trouvaille 2
Percakapan diantara Keluarga


__ADS_3

"Annasya, kau sudah bahagia kan?" tanya Mark lirih pada layar ponselnya yang masih menampilkan wajah gadis manis yang dulu mengusik hatinya.


Mark memutuskan untuk menyimpan benda pintar itu dan segera bergegas untuk memulai harinya. Dengan helaan nafas panjang dan berat Mark meninggalkan kamarnya.


\*\*\*


Mobil yang membawa Mark melaju membelah janlanan kota Seoul. Pria itu baru saja menyelesaikan meeting penting dengan salah satu client bisnisnya. Di dalam mobil paman Ahn, sang supir fokus dengan jalanan sementara Nona Kim sang sekretaris tengah memeriksa gadget nya.


"Tuan, siang ini tuan ada janji makan siang dengan nyonya." sang sekretaris memulai percakapan.


Mark menghentikan aktifitasnya melepaskan dasi yang sejak tadi terasa menjepit leher pria itu.


"Terimakasih nona Kim." jawab Mark tulus.


"Paman, kita kerestoran biasa." ujar Mark pada sang supir.


Suasana di mobil itu kembali hening, Paman Ahn mengendarai mobil itu menuju tempat yang disebutkan tuannya.


"Bagaimana perkembangan project kuliner Asia?" tanya Mark memecah keheningan.


"Semua berjalan sesuai dengan rencana Tuan. kita akan mengadakan meeting dengan para artis dari ke delapan negara." sang sekretaris memberi penjelasan.


"Bagaimana dengan propil mereka? Kau sudah memeriksanya kan?"


"Sudah tuan, jika anda ingin memeriksanya saya sudah meletakkan print out di ruang kerja anda dan mengirimkan soft file ke email anda."


"Aku akan memeriksanya nanti." jawab Mark.


"Tuan, saya merasa ada sedikit kejanggalan dengan salah satu artis itu." ujar Sekretaris Kim ragu-ragu.


"Apa maksudnya?" tanya Mark penasaran tepat saat kendaraan yang mereka tumpangi tiba di area restoran.


"Itu... saya juga belum yakin. Anda bisa memeriksanya sendiri nanti." jawabnya pelan


"Baiklah kau sudah bekerja keras. Nikmatilah jam makan siang mu dengan leluasa. Kita bertemu di kantor sore nanti." ujar Mark sambil turun dari mobil.


"Terimakasih tuan." sang sekretaris menjawab hormat.


Mark sudah melangkah menjauh dari mobil saat dia kembali teringat sesuatu.


"Ada apa tuan?" tanya Nona Kim yang sadar akan gerakan bosnya.


"Apa aku punya janji penting sore ini?"


"Tidak ada tuan."


"Sepertinya aku akan menghabiskan sore ini dengan keluargaku, jika ada hal penting segera hubungi aku." ujar Mark akhirnya.


"Baik tuan." sekretaris Kim membungkuk hormat saat Mark memutar tubuhnya masuk ke restoran mewah itu.


Setelah mendapatkan informasi dari resepsionis, Mark segera mencari ruang VIP yang ditempati kedua orangtuanya.


"Mom... Dad..." seru Mark saat memasuki ruangan mewah itu.


"Hai Son..."jawaban antusias dari pasangan patuh baya yang tengah menunggu putranya semata wayang mereka.


"Dad... Aku sangat merindukanmu." Mark memeluk ayahnya.


"Kau hanya merindukan Dad? Bagaimana dengan Mommy? ah, tahu begini Mommy tak akan mewariskan ketampanan itu padamu." sang Ibu kini menarik pelan daun telinga Mark.

__ADS_1


"Ampun Mom... ampun... Telinga Mark masih dipakai Mom, jangan di buang." Mark berpura-pura memungut sesuatu dari udara dan menempelkan di salah satu telinganya yang bebas.


"Astaga Mark, darimana kau belajar hal konyol begitu?" tanya sang ibu.


"Dari Mom."


"Jangan sembarangan Mark." protes sang ayah. "Apa kamu lupa bahwa Dad yabg sudah mengajarimu?"


"Dad selalu yang paling benar dan akurat." jawab Mark bersemangat sambil melayangkan tinju di udara dan disambut oleh sang ayah.


"Jadi kau tidak ingin memeluk Mommy?" tanya wanita itu galak.


"Lepaskan dulu telingaku Mom."


"Oh, Mom lupa tangan Mom masih menempel di sana." jawab sang ibu santai.


"Tidak lucu. Iya kan Dad?" Mark mengedipkan sebelah mata pada ayahnya.


"Maaf Mark, Dad ada di pihak Mom." jawab sang ayah terkekeh geli.


"I miss you mom." Mark kini memeluk sang ibu yang tertawa penuh kemenangan karena di bela oleh suaminya.


"Miss you too son. Kamu gagah sekali." memuji dengan wajah haru sambil melepaskan pelukannya.


"Siapa dulu Daddy nya." sang ayah ikut nimbrung.


"Siapa dulu Mommy nya. Yang sukses memenangkan hati Dad.."


"Betul, Mom yang paling cantik." puji ayah Mark.


"Dad paling tampan."


"I love you Mom" menggenggam tangan sang istri dan mengecupnya lembut.


"I love you more." tak mau kalah dari istrinya.


Kedua suami istri itu sibuk saling memuji, dan mengucapkan kata cinta sementara Mark hanya memandang mereka bergantian dengan sebuah tanda tanya berukuran super jumbo memukul kepalanya.


"Kenapa mereka begini? Aku merinding. Apa ini efek bulan madu di masa tua? Ada-ada saja." gumam Mark dalam hati tanpa ikut bergabung dengan percakapan konyol kedua orangtuanya.


"Permisi tuan, nyonya." Akhirnya masa konyol itu berlalu juga dengan satu kalimat singkat dari pelayan restoran.


Sambil melahap makanan masing-masing, baik Mark dan kedua orangtuanya bertukar kabar. Mereka berbincang panjang lebar. Dan sesekali tertawa bersama. Percakapan keluarga yang sungguh terasa hangat. Waktu bergulir pasti, dan makanan di meja pun sudah pindah ke dalam perut ketiga orang itu.


"Bagaimana rencanamu Mark?" tanya sang Ibu.


"Rencana apa Mom?" Mark balas bertanya.


"Mom, jangan membahas hal itu sekarang." Mark menatap sang ibu dengan wajah memohon.


"Mau menghindar sampai kapan Mark?" seolah tak mengerti isi hati putranya.


"Mark tidak menghindar Mom."


"Jangan membuat Tania kesal."


"Maaf Mom, Mark harus kembali kekantor." ujar Mark sambil beranjak dari posisinya.


"Bye Mom, Bye Dad." Mark meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


"Hati-hati Son." jawab sang Ayah sambil menatap istri nya penuh arti.


Dengan perasaan campur aduk Mark meninggalkan orangtuanya. Dia sangat merindukan kedua sosok itu. Mark mencoba mengingat gelak tawa antara dia dan orangtuanya saat makan tadi, mencoba mengusir resah yang kini mengganggu hatinya. Demi membunuh gundah di hati, Mark memilih untuk berjalan-jalan di taman kota yang tidak jauh dari restoran itu.


Sementara itu masih di ruang VIP restoran, kedua orang tua Mark sedang saling menatap penuh arti.


"Mom, jangan berlebihan." ujar sang suami hati-hati.


"Dad, mau sampai kapan Mark lari dari kenyataan? Tania itu tunangannya, calon istrinya. Apakah pertanyaan ku berlebihan?"


"Sayang, kau lebih tahu dari siapapun." Merendahkan suaranya mencoba berbicara selembut mungkin karena tak ingin menyakiti sang istri.


"Aku hanya ingin yang terbaik buat Mark." menjawab santai.


"Dia anakmu, anak kita, harusnya kita yang paling mengerti perasaannya."


"Tapi Dad, Tania itu pilihan terbaik yang Mark punya. Mereka saling mencintai sejak kecil, jadi tunggu aoa lagi?"


"Mom, berhentilah menutupi kebenarannya. Kita semua juga tahu bagaimana hati Mark. Di matanya Tania itu hanya seorang adik kecil Mom." mencoba memberi penjelasan dengan penuh kesabaran.


"Tidak ada pria yang tidur dengan adiknya sendiri Dad." menjawab suaminya dengan ketus.


"Mom yang paling tahu seluk beluknya. Mom, anakmu siapa? Mark atau Tania? Berhenti menjadikan Mark sebagai tameng untuk menutupi aib Tania. Bagaimanapun Mark itu anak kita, Mom." jawab ayah Mark mulai tak sabar dengan tingkah istrinya.


"Dia sudah tidur dengan Tania."


"Tahu darimana?"


"Tania mengirim buktinya padaku."


"Gadis itu.... Mom, tahu sendirikan penyakit yang diderita Tania? Mark tidak punya pilihan lain selain meladeninya jika sedang kumat Mom."


"Dad... aku tidak ingin berdebat denganmu soal ini." ujar Ibu Mark tak ingin dikalahkan oleh keadaan.


"Jika Tania menikah dengan Mark, dan suatu saat hamil, apa kau yakin itu cucu kita Mom?"


"Hentikan Dad..."


"Tolong pikirkan dengan hati-hati, ini melibatkan hidup dan masa depan anak kita. Yang Tania butuhkan dalah seorang dokter. Bukan Mark. Aku tidak mau Mark menjadi korban lebih lama lagi." ujar sang suami menyampaikan pergolakan hatinya selama beberapa tahun ini.


Wanita itu, Ibu Mark menatap suaminya penuh arti. Banyak kata dan keraguan yang ingin dia tumpahkan. Tapi sepertinya sama pria dihadapannya tak akan paham. Dia memilih menyimpannya sendiri.


"Mark harus menikahi Tania, bagaimanapun caranya." gumamnya dalam hati.


author POV


Kira-kira Tania sakit apa ya guys? dan kebenaran apa yang sedang di tutupi oleh keluarga Tania dengan memanfaatkan Mark? Menurut kalian, kenapa ibu Mark malah ngotot pengen Tania sama Mark, padahal sudah tahu rahasia terkelam Tania?


Dan yang terakhir, kalian tim siapa?



Tania-Mark


Annasya-Mark



tulis jawaban-jawaban kalian di kolom komentar ya.

__ADS_1


thankyou


-best-


__ADS_2