Bunga Bermekaran Di Musim Panas, Trouvaille 2

Bunga Bermekaran Di Musim Panas, Trouvaille 2
Hidup Normal


__ADS_3

Mark duduk di sofa dengan wajah frustasi. Ada nasihat lama yang berbunyi, "rasa percaya itu, sekalinya retak nyaris mustahil untuk direkatkan kembali."


Entah mengapa, kini dia mengerti arti kalimat itu.


 


\*


 


Mark meninggalkan ruangannya dengan langkah tergesa sambil melirik jam di tangannya.


"Sudah 19.00" Pria itu menggeram sedikit frustasi.


"Nona Kim." panggil Mark pada sekertarinya.


"Iya tuan?" wanita cantik berambut panjang itu segera menoleh ke arah bosnya yang kini bergerak mendekati meja kerjanya.


"Jadwal besok, tolong kosongkan." ujar Mark tanpa basa basi.


"Baik tuan. Anda akan pulang sekarang?" tanya gadis itu berusaha bersikap ramah.


"Tentu saja. Kau juga boleh pulang setelah memastikan jadwalku besok kosong." jawab pria itu sambil memutar badan bersiap berlalu dari sini.


"Terimakasih tuan." Mark masih mendengar suara gadis itu. Dia hanga melambaikan tangan tanpa menoleh ke arah sekertarinya.


 


\*


 


Di depan gedung 19.15


Mark melangkah dengan sedikit terburu-buru saat melewati lobi. Tentu saja pria itu menyadari setiap pasang mata yang menatapnya penuh perasaan kagum. Atau sebut saja tatapan iri dari beberapa pria, siapa sih yang tidak iri dengan ketampanan Mark. Wajah yang terpahat sempurna dan tubuh atletis tentu saja membuat iri pada pria. Dan faktanya penampilan Mark menjadi kemewahan tersendiri bagi para wanita. Wajar jika Tania semakin was-was sekarang.


"Selamat malam tuan Mark", sapa sang supir yang sudah menunggu sambil membukakan pintu mobil untuk Mark. Pria itu adalah Ahn, supir yang khusus melayani tuan muda Mark.


"Selamat malam paman Ahn." walau menjabat posisi tinggi di perusahaan namun Mark selalu bersikap sopan pada yang lebih tua, inilah yang membuat Mark semakin dipuji oleh orang-orang di sekitarnya.


Ahn sang sopir yang sudah berumur itu hanya tersenyum ramah sambil bergegas kebelakang kemudi setelah menutup pintu di belakang Mark.


"Tuan mau kemana?" tanya paman Ahn sambil melakukan mobil.


"Oh paman, hentikan.. Bukankah sudah kukatankan cukup memanggilku Mark? Tanpa embel-embel Tuan."protes pria itu panjang lebar.


"Tapi tuan?"


"Paman, berhenti memanggilku begitu atau gaji paman ku potong setengah sejak bulan ini." ancam Mark kemudian.Bukan karena ingin bertindak jahat, hanya saja Mark merasa tidak nyaman di sebut Tuan. Toh apa yang dia miliki sekarang juga bukan hasil kerja kerasnya. Dia hanya diberi amanat menjaga sesuatu yang seharusnya menjadi milik Tania.


"Maafkan saya tu.. eh... Mark." jawab sang supir sedikit canggung.


"Nah begitu dong, paman harus memanggilku dengan santai. Apa paman punya anak?" tanya Mark mencoba mencairkan suasana.


"Iya tua... eh.. maaf. Iya Mark. Saya punya seorang putra dan seorang putri." jawab paman Ahn masih agak belepotan.


"Setua apa mereka paman?"


"Putraku sedang menyelesaikan studinya di universitas, dan putriku masih SMP."

__ADS_1


"Wah, manis sekali. Paman bisa berbicara padaku seperti berbicara pada mereka. Tak perlu merasa canggung." jelas Mark panjang lebar.


"Anda sangat baik hati, pantas banyak yang menyukai anda. Jadi kemana tujuan kita sekarang.... Mark?" tanya paman masih terdengar sedikit ragu.


"Kita kerumah utama keluarga Oh. Saya ingin menemui Tania." jawab Mark santai.


"Baiklah. Kita melaju kesana." ujar sang sopir.


Sepanjang perjalanan mereka berbagi cerita tentang banyak hal. Begitulah Mark dan hidupnya yang normal. Pria itu sungguh sangat baik hati. Sampai orang disekitarnya kadang berfikir bahwa dia adalah malaikat berwujud manusia.


Mobil mewah edisi terbatas yang dikendarai paman Ahn mendarat dengan mulus di halaman depan sebuah rumah mewah bergaya eropa. Rumah itu adalah milik pemegang saham terbesar di perusahaan Qtania, perusahaan yang kini dipimpin oleh Mark.


"Terimakasih Paman. Silahkan beristirahat, paman bisa pulang sekarang." ujar Mark lembut sambil melangkah keluar dari mobil dan meninggalkan supirnya.


Sepeninggalan Mark, tanpa berpikir panjang pria berumur itu segera menyalakan mobilnya dan kembali melaju menuju rumah. Kembali kelukan istri dan anak-anaknya.


 


\*


 


Kediaman keluarga Oh 19.50


Tania bergelung malas di atas ranjang king size nya. Gadis itu sedang kesal. Tentu saja dia kesal pada Mark. Hari ini adalah hari pertama Tania kembali dari London, bukannya menjemputnya dengan romantis, pria itu malah memilih berdebat dengannya dikantor siang tadi.


Mood Tania betul-betul dibuat berantakan sepanjang hari oleh Mark. Sepulang dari kantor, Tania hanya bisa marah-marah pada semua pelayan yang ada disekitarnya. Untung saja Papa dan Mamanya sedang liburan ke luar negeri. Andai mereka di rumah, habislah sudah Tania diceramahi sepanjang hari karena perilaku buruk gadis itu saat marah-marah.


'tok..tok..tok...'


"Jangan ganggu aku brengs*k." omel Tania saat mendengat pintu diketuk, dia bahkan enggan untuk sekedar memeriksa siapa yang mengetuk pintu. Gadis itu masih bergelung malas di bawah selimutnya.


Suasana kamar kembali hening, Tania pikir mungkin pelayannya yang mengetuk pintu tadi sudah pergi dan sekarang sedang ketakutan. Tania tersenyum kecil membayangkan wajah ketakutan itu. Sampai tiba-tiba sebuah sentuhan lembut mendarat di rambutnya.


"Sudah kubilang pergi." teriak Tania marah sambil mencampakkan selimutnya ke sembarang arah.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Mark bingung dengan aksi Tania.


"Aku hanya... eh, sedang apa kamu di sini?" gadis itu malah balik bertanya.


"Kamu belum jawab pertanyaan ku Tania."


"Apa itu perlu?"


"Tania..." panggil Mark lirih berusaha tetap tenang.


"Aku tidak apa-apa, hanya tidak ingin diganggu oleh pelayan. Kukira tadi kamu salah satu dari mereka." ujar Tania panjang lebar.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya gadis itu lagi, dinilai dari pertanyaan ini sepertinya dia masih kesal pada Mark.


"Tentu saja mengunjungi tunangan ku." ujar Mark sambil naik ketempat tidur dan memeluk Tania erat-erat.


"Oh..." jawab Tania dingin.


"Kamu sudah makan malam?" tanya Mark tanpa melepas pelukannya.


"Aku? Makan malam?" tanya Tania, tiba-tiba dia sadar bahwa dia sama sekali belum makan siang. Gadis itu menggeleng pelan.


"Baiklah, mau makan malam di mana? Mau berkencan denganku malam ini nona?" tanya Mark sambil memandang kedalam manik mata Tania yang kino sedang dipeluknya.

__ADS_1


Tania kini sibuk mengingat tempat makan yang sangat ingin dia kunjungi. Sampai tiba-tiba bunyi berisik dari perutnya mengganggu suasana.


'kruk...kruk...'


"Hei, apa itu perutmu?" tanya Mark sambil tersenyum lebar.


'kruk...kruk...'


"Itu perutmu." balas tania manja setelah mendengar suara protes dari arah perut Mark.


"Sepertinya kita sama-sama kelaparan. Bagaiamana jika makan malam di rumah saja? Besok aku akan berkencan denganmu sepanjang hari." tawar Mark kemudian.


"Yakin? Kita akan berkencan seharian?" tanya Tania seperti anak kecil yang sedang diberi permen.


"Tentu saja darling. Kamu suka?"


"Terimakasih Mark. Ayok makan." jawab Tania penuh semangat, rasa kesalnya menguap seketika. Hilang entah kemana.


Mark tersenyum senang sambil mengekor dibalik punggung gadis itu. Ada rasa lega yang kini terbit di wajahnya.


 


\*


 


Jakarta 22.00 WIB


'ting tong... ting tong...' Bel di unit apartement Angel berbunyi nyaring menciptakan sedikit kebisingin yang mengusik aktifitas gadis itu. Angel meninggalkan komputernya dan segera bergegas ke arah pintu.


"Ada apa lagi?" tanya Angel pada sosok yang berdiri di balik pintu.


"Beri aku kesempatan An.." ujarnya sosok itu sedikit frustasi.


"Kesempatan apa lagi Jack?" tanya An sambil menatap pria yang berdiri di luar apartemen nya itu.


"Setidaknya izinkan aku bekerja denganmu."


"Aku sedang tidak membutuhkan tenaga pekerja tambahan. Pulanglah. Ini sudah larut." ujar Angel berusaha terdengar tidak seperti sedang mengusir.


"Baiklah. Artinya jika ada peluang kau akan menerima ku kan. Aku akan menciptakan peluang itu." Pria itu berkata penuh percaya diri.


"Jangan macam-macam. Atau aku akan berhenti jadi temanmu." ancam Angle.


Pria itu hanya tersenyum sambil berlalu dari sana. Angle menutup pintu dan kembali ke meja kerjanya. Menjalani hidupnya yang normal, bekerja keras dengan komputer dan kameranya. Yah, apa lagi yang harus dilakukan seorang artis media sosial seperti dirinya?


**to be continued


Curhatan author


Hi guys...


Gimana nih menurut kalian?


Menarik nggak? Udah tahu kan ternyata hidup oppa Mark se sempurna itu. Apa benar sempurna? Yuk baca terus sampai temukan celahnya.


jangan lupa like, komen dan vote yang banyak.


thankyou

__ADS_1


-best**-


__ADS_2