
"Ternyata kau tidak menjemput ku lagi." gumam Angel dalam hati sambil melangkah keluar dari bandara itu.
Ada rasa nyeri yang kini bersarang dalam dadanya.
\*\*\*
Angel menggeliat diatas tempat tidurnya, sinar matahari yang masuk melalui celah gorden kamar cukup untuk mengusik tidur panjang gadis itu.
"Wah... aku lelah sekali." jerit Angel sambil membuka matanya perlahan.
"Waw... pemandangannya luar biasa. Enak banget punya uang? Akhirnya aku bisa punya apartemen sendiri di sini, dengan pemandangan menakjubkan begini lagi. Angel... kamu luar biasa." dia berdecak kagum sambil memuji dirinya sendiri.
Gadis itu lalu segera bergegas menuju kamar mandi, menuntaskan ritual mandi paginya sebelum beraktifitas sepanjang hari. Tujuannya datang ke Korea tentu saja bukan untuk bermalas-malasan. Angel kembali ke negara ini untuk bekerja, bekerja dan bekerja. Dan jika ada kesempatan dia akan membalaskan dendam yang selama hampir tiga tahun terakhir bersarang di dadanya.
\*\*\*
Mark mematut dirinya di depan cermin. Bersiap pergi ke kantor. Jadwalnya hari ini sangat padat. Hari-harinya terasa sangat sibuk dan melelahkan. Mendengar dering ponselnya, Mickey segera meraih benda pintar itu.
"Selamat pagi baby..." suara dari seberang, khas milik Tania.
"Pagi Tania.."
"Kau sedang apa?"
"Bersiap untuk bekerja. Apa kau baru bangun. Ada kuliah kan hari ini?"
"Iya. Aku punya banyak kelas hati ini. Membosankan sekali.." keluh Tania dengan wajahnya yang dibuat selimut mungkin.
"Paman dan Ayah akan kembali hari ini." ujar Mark mengingatkan sesuatu.
"Kau akan menjemput mereka?" tanya Tania. "Apa aku boleh ikut?" tanyanya lagi.
"Aku sibuk, mereka akan dijemput oleh supir."
"Bagaimana sekretaris mu?"
"Maksudmu Nona Kim?"
"Jangan menyebutnya begitu. Apa kau menyukainya Mark."
"Yah, tentu saja dia sangat terampil dalam bekerja."
"Bod*h, aku membencimu." ujar Tania merajuk.
Sadar bahwa dirinya baru saja salah berbicara, Mark segera menepuk jidat nya sendiri.
"Tania, bukan begitu maksudku. Jangan salah paham." ujar Mark.
"Kita menikah saja." pinta Tania akhirnya
"Kenapa mendadak?"
"Aku malas kuliah Mark. Ayok menikah, agar aku bisa diam di rumah seharian menunggumu pulang, atau ikut denganmu kekantor seharian."
"Kekanakan sekali" jawab Mark dalam hati.
"Kamu masih kecil." jawab Mark lembut.
"Kecil apanya, aku sudah bisa buat anak tahu. Kan kamu sudah memeriksanya berkali-kali, jangan meledekku kecil. Apa ini ukurannya terlalu kecil?" Tania protes pada Mark sambil mengarahkan kamera ponsel ke area dadanya yang hanya dibungkus oleh piyama transparan.
Mark segera membuang pandangan dari layar ponselnya. Ada perasaan aneh berkecambuk dalam dadanya.
"Jangan marah. Aku bekerja dulu ya. Selamat pagi Tania." ujar Mark pada layar ponselnya.
Setelah memutuskan panggilan tadi, Mark segera membuka aplikasi media sosial di ponselnya. Mengamati sebuah akun yang sudah lama tidak digunakan pemiliknya.
"Annasya, bagaimana kabarmu?" tanya Mark sambil memandang foto gadis itu.
Pikirannya kembali menerawang jauh ke masa lalu.
Flashback On
__ADS_1
Korea Musim Panas 2017
"Annasya, bangunlah. Sudah pagi, kita harus pulang." Mark menggoyangkan tubuh Annasya, mereka terjaga di ruang diskusi hampir sepanjang malam untuk persiapan ujian kelulusan.
"Hmmmmmh..." Annasya bergeming di atas sofa ruang diskusi itu.
"Annasya..." panggil Mark lembut.
Wajah gadis di hadapannya terlihat semakin imut dan menggemaskan.
"Aku jatuh cinta pada Min Ho, tapi dia malah menolak ku Mark. Jahat sekali." isakan Annasya beberapa bulan lalu kembali bermain dalam pikirannya.
"Jangan menangis, apapun keputusanmu aku akan selalu di sini untukmu." jawaban penghiburan yang diberikan Mark untuk mengobati patah hati Annasya kali itu.
"Annasya..." Panggil Mark lirih, namun tak kunjung menyadarkan Annasya dari tidurnya yang belum ada satu jam.
Memandang wajah Annasya yang sedang terlelap membuat dada Mark bergemuruh. Ada rasa nyeri setiap kali Annasya memuji Min Ho dihadapannya.
"Cih, padahal dia sudah mencampakkanmu, tapi kamu selalu memuji nya." ujar Mark.
"Annasya...." sekali lagi dia memanggil namun Anna tak kunjung bangun.
Dengan gerakan pelan, Mark lalu menundukkan wajahnya dan mengec*p bibir Annasya, gadis itu hanya menggeliat kecil merasakan gerakan-gerakan di bibirnya.
"Apa-apaan aku?" tanya Mark pada dirinya sendiri setelah melepaskan pagutannya.
"Annasya... Annasya..." Mark mengguncang tubuh gadis itu.
"Apa Mark?" akhirnya Anna terbangun.
"Maaf..." ujar Mark lirih.
"Kenapa?"
"Kau tidak mengetahuinya?"
"Mengetahui apa Mark?" tanya Anna penasaran.
"Aaaaaaaaaaa... Mark, apa yang kau lakukan? Kenapa melakukannya? Itu ciuman pertamaku. Kau mencurinya...." Anna berteriak sambil memukul tangan dan pundak pria itu.
"Maaf.. aku melakukannya karena aku mencintaimu."
"Aaaaa... hentikan... kau menodaiku."
"Apa benar itu ciuman pertamamu?"
"Iya."
"Bukankah kau sudah pernah pacaran?"
"Aku bahkan tidak mengijinkannya memegang tanganku, kami putus karena aku marah saat dia mencoba mencium pipiku. Arrrrrrgh... kau menyebalkan. Itu milik suamiku Mark. Kenapa malah mencurinya." protes Anna.
"Annasya Lionita, aku sangat mencintaimu. Maaf aku begitu karena tidak dapat mengendalikan perasaanku." sambil berlutut di dekat Anna.
"Ayok pulang." jawab Anna.
Saat meninggalkan ruang diskusi, Mark memilih menggenggam tangan Anna.
"Kita sarapan sebentar." ujar Mark membawa Anna menuju mobilnya.
Akhirnya mereka sedang menikmati sarapan masing-masing, dengan Mark yang masih menggenggam salah satu tangan Anna.
"Hentikan Mark." ujar Anna lembut.
"Tapi aku tidak bisa menahannya lagi Annasya."
"Bukankah kau sudah punya pacar?"
"Kau benar. Tapi aku sangat mencintaimu. Bahkan aku sangat frustasi membayangkan beberapa minggu lagi kau akan meninggalkan negara ini, meninggalkanku. Aku juga kesal saat kau jatuh cinta pada Min Ho."
"Ya Tuhan, gimana ini? Sejak awal aku sudah menahan diri supaya tidak jatuh hati padanya." batin Anna.
__ADS_1
"Annasya, please."
"Aku juga menyayangimu Mark. Tapi kita tidak boleh seperti ini. Kau sudah punya masa depan dan impianmu. Kau sudah punya kebahagiaan mu sendiri." ujar Anna mencoba menyadarkan Mark.
"Tapi hanya saat bersamamu aku merasakan utuh Annasya."
"Ayok pulang." ujar Anna tak ingin membahas perasaan pria itu.
Mark mengantar Annasya kembali ke asrama, untuk bersiap mengikuti kelas hati ini.
Sejak ciuman yang dicuri itu berkali-kali Mark mencium Anna tanpa izin. Awalnya Anna akan protes dan mengingatkan Mark tentang pacarnya. Namun lama-kelamaan Anna ikut terjebak oleh perasaannya sendiri.
"Seminggu lagi. Kita hanya punya waktu seminggu lagi sebelum wisuda." seru Anna sambil berjalan mendahului Mark dan Min Ho, mereka baru saja selesai makan malam bertiga.
"Annasya, pulang denganku." ujar Mark.
"Oke." jawab Min Ho yang jelas-jelas masih menghindari Annasya.
Diperjalanan keduanya membisu, Mark menjalankan mobilnya menuju apartement.
"Kita mau kemana?" tanya Anna.
"Menunjukkan sesuatu padamu." jawab Mark.
Keduanya lalu tiba di apartemen milik Mark. Mark membawa Anna ke salah satu sisi gedung itu, jendela kaca yang luas menunjukkan penampakan Korea yang berkelip cantik di malam hari.
"Wah... ternyata bintang tidak hanya ada di langit." ujar Anna sambil menatap takjub pemandangan di depannya.
"Kau menyukainya? " tanya Mark.
"Ya."
"Annasya, " Mark berlutut di hadapan gadis itu.
"Apa Mark?"
"Dimasa depan, ijinkan aku tetap menjagamu. Kumohon."
Anna mengangguk pelan. Dia tersenyum sungguh pada Mark.
Pria itu lalu bangkit dan mencium Anna dalam. Bibirnya bergerak menuntut dan menjelajahi seluruh lekuk tubuh Anna.
"Apa yang kau lakukan Mark?" protes Anna sambil merapikan pakaiannya.
"Maaf."
"Kau sudah punya pacar, kenapa masih begini padaku?" tanya Anna.
"Aku berjanji akan menjaga pacarku dengan baik setelah ini." jawab Mark.
deg..
Dada Anna seperti dihantam sesuatu. "Kenapa berkata seperti itu di depanku Mark? Kau tidak sadar sedang melukai perasaanku?" Gumam Anna dalam hati.
Mark bergerak mendekati Anna yang masih terpaku dengan pikirannya sendiri. Tangannya kini bergerak kesana kemari menjelajahi tubuh Anna, hingga gadis itu lupa diri. Akhirnya Mark berhasil, berhasil menembus pertahanan Anna yang dijaga dengan baik selama ini.
"Mark, sudah hentikan. Aku tidak bisa menahannya, itu terlalu menyakitkan." ringis Anna sambil mendorong Mark yang sudah memasukkan separuh organ kebanggaannya ke dalam Anna.
Mark mundur perlahan.
"Maaf, tentu saja kau kesakitan karena ini pertama kalinya bagimu." ujar Mark sambil meletakkan tubuhnya di sisi Anna.
"Aku akan menyelesaikannya nanti. Di masa depan. Tunggu aku, dan menikah lah denganku." pinta Mark sambil memeluk Anna.
Anna hanya mengangguk pelan sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Mark.
**Flashback off
Korea, 2020 (sekarang**)
Mark menghela nafas panjang, setelah tersadar dari semua kenangan itu.
__ADS_1
"Annasya, kau sudah bahagia kan?" tanya Mark lirih pada layar ponselnya yang masih menampilkan wajah gadis manis yang dulu mengusik hatinya.