Bunga Bermekaran Di Musim Panas, Trouvaille 2

Bunga Bermekaran Di Musim Panas, Trouvaille 2
Bagian Kenangan Manis


__ADS_3

Tidak ingin merasa terganggu, Mark memilih memakai headsead dan memutar musik dari ponselnya sambil menunggu sang dosen masuk ke kelas.


 


\*


 


"Mark tidak ingin makan siang bersama?" tanya Anna menghampiri pria itu.


...


tanpa bicara Mark berlalu, meninggalkan Annasya yang hanya menekuk wajahnya.


"Kamu kenapa sih? aku salah apa?" tanya Anna lirih memandang punggung Mark.


"Anna.. Makan siang yuk." ajak Min Ho sambil menepuk pundak gadis itu.


Mark melirih dari kejauhan, menyaksikan Min Ho dan Anna yang asik berbicara sebelum beranjak dari posisi duduknya.


"Tentu saja mereka akan makan siang." gumam Mark dalam hati sambil berjalan menjauh dari tempat pengintaiannya.


 


\*


 


"Mark.. aku minta maaf." ujar Anna sambil mengekor di belakang pria itu.


...


Mark hanya membisu sambil berjalan meninggalkan Anna.


"Mark, please jangan diam aja. Ngomong Mark." pinta Anna. Gadis itu mulai resah menyadari bahwa sudah satu semester Mark mendiamkannya.


"Jangan mengikutiku." jawab Mark dingin.


Kalimat Mark cukup membuat Anna terpaku dan membeku. Gadis itu berdiri di tempat dan membiarkan Mark berlalu.


"Kamu kenapa? Aku salah apa?" tanya Anna lirih sambil memandang punggung Mark yang semakin menjauh.


 


\*


 


"Mark, kau akan pulang? Tunggu aku." panggil Anna. Setengah berlari gadis itu mengejar Mark.


Menjadi gadis tidak tahu malu, itulah yang dilakukan oleh Anna selama setahun ini. Setiap hari dia akan menyapa Mark, bertanya ini itu, walau sering Mark hanya membisu seolah tidak melihat keberadaannya dan mendengar suaranya.


"Kau akan pulang lebih awal?" tanya Anna.


....


"Aku akan pergi bermain dengan Min Ho. Jika kau ingin ikut serta, bergabunglah." ujar Anna lagi, masih mengabaikan aksi bisu Mark.


....


"Mark, aku salah apa?"


....


"Mark aku minta maaf." kini tangan Anna sudah menarik ujung ransel Mark.


"Anna apa kau tidak punya kesibukan? Punya banyak waktu luang?" Mark berbalik dan membentak Anna.


"Jangan marah." Anna mamasang wajah memelas, mencoba meluluhkan hati Mark.


"Pulanglah. Jangan mengekor di belakangku." jawab Mark dingin sambil berlalu meninggalkan Anna yang masih terpaku.

__ADS_1


"Apa kau marah karena aku belum membayar uangmu?" tanya Anna lebih pada dirinya sendiri.


Dia mengingat bahwa diawal semester ke tiga, Mark pernah membantunya membayar administrasi sekolah senilai 10 juta dalam rupiah. Saat itu Ibu Anna masuk rumah sakit karena sakit, sehingga Anna harus pulang ke Indonesia, sementara tabungannya hanya cukup untuk biaya administrasi sekolah. Akhirnya Mark menawarkan diri untuk membantu.


Dengan hati yang sangat sedih, Anna meninggalkan tempat itu dan memilih kembali ke asrama.


 


\*


 


"Mark, kau bisa memakiku. tapi jangan mengabaikan ku. Sudah dua tahun Mark, mau sampai kapan kau akan berhenti bicara padaku?" tanya Anna masih mengikuti Mark seperti biasa.


Yah, sudah dua tahun dia selalu merecoki Mark, dan pria itu selalu mengabaikannya.


"Setidaknya kalau kau marah, beritahu apa kesalahanku." tuntut Anna.


....


"Setelah setahun kita akan berpisah, aku hanya tidak ingin kita berpisah dengan kenangan buruk. Diammu membuatku merasa bersalah Mark. Haruskah aku mengenang rasa bersalah ini selamanya?"


....


Mark hanya membisu sambil melangkah menuju parkiran kampus.


"Maaf. setidaknya maafkan aku. Bagimanapun bagiku kau tetap teman. Kau boleh protes dan marah-marah padaku, tapi berhentilah mengabaikanku. Please.."


"Aku akan memaafkanmu besok." ujar Mark sambil masuk ke dalam mobilnya.


 


\*


 


Besok harinya.


"Aku tidak mau." jawab Mark sambil mengeluarkan buku dari tasnya.


"Wah kau sudah menjawab ku. Apa kau sudah memaafkanku?"


....


Mark hanya membisu dan memilih sibuk dengan buku di atas mejanya.


"Kalau aku boleh tahu, apa alasan kemarahan mu? Setidaknya dengan mengetahui kesalahanku, aku bisa berubah jadi lebih baik." Anna meletakkan kepalanya di meja Mark.


"Bertanya tentang makananku, minumanku, tugasku, kesehatan ku, jangan lakukan hal-hal seperti itu." Mark menyerah pada kegigihan Anna.


"Kenapa?"


"Karena teman tidak seharusnya menanyakan hal-hal begitu."


"Oh... terimakasih Mark."


"Dan satu lagi.."


"Ada lagi?" tanya Anna penasaran.


"Jangan berterimakasih atau meminta maaf. Teman tidak membutuhkan kata-kata itu. Terimakasih dan permintaan maaf hanya membuat canggung." Kalimat Mark terhenti saat dosen tiba di dalam kelas.


"Jangan berterimakasih dan meminta maaf? Membuat canggung? Kenapa aku malah merasa aneh?" gumam Anna dalam hati.


Mark memandang Anna yang duduk tidak jauh darinya, gadis itu tidak memperhatikan penjelasan dosen. Sepertinya sedang sibuk memikirkan kata-kata Mark. Pria itu tersenyum hangat, menikmati wajah kebingungan Annasya.


**FLash Back off


 


\*

__ADS_1


 


Korea, 2020 (Sekarang**)


tok...tok..tok.. Suara ketukan di pintu menyadarkan Mark dari lamunannya.


"Masuk.."


Mark memandang ke arah pintu yang terbuka beberapa detik kemudian, dan memunculkan sosok sang sekretaris.


"Tuan, saya hanya ingin mengingatkan bahwa tuan punya meeting pukul 16.00 nanti. Tuan harus berangkat pukul 15.00 dari kantor kita." ujar Sang sekretaris.


"Baiklah. Terimakasih nona Kim."


Pintu kembali tertutup, membawa sosok sekretaris itu menghilang dari pandangan Mark.


Mark menunduk sekali lagi untuk memandang foto di laci mejanya.


"Annasya, apa kau baik-baik saja? Semoga kau selalu bahagia." ujar Mark tersenyum penuh arti.


Kenangan manis tentang Annasya di siang ini membuatnya merasa bersemangat. Namun itu hanya sebentar, seketika raut wajahnya berubah saat kilasan memory lain berputar di kepala Mark.


Dengan mata sayu dan wajah sedih, Mark bangkit dari kursinya. Namun tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah figura foto di meja kerjanya.


Foto yang membingkai senyumnya bersama Joelin, Si An, Mickey dan Bill.


"Bagaimana kabar kalian?" tanya Mark lirih pada foto itu.


"Annasya aku juga punya teman lain yang berasal dari Indonesia. Sepertinya kau memang menyumpahiku untuk tidak bisa melupakan mu." Mark berujar lirih dalam hati sambil memandang langit dari jendela kaca di kantornya.


 


\*


 


Bandara Soekarno Hatta, 2020 (Sekarang)


Angel menarik kopernya dengan kasar. Gadis itu sangat kesal, saat mendengar bahwa penerbangannya di korea harus di percepat menjadi hari ini.


"Mereka tidak profesional, kau tahu aku sangat kesal." omel Angel.


.....


"Kau tahu? Untung saja aku selalu menyediakan koper berisi pakaian tertentu di apartemen. Jika tidak, pasti semuanya akan sangat merepotkan. Menyebalkan sekali." ujar Angel lagi sambil mengibaskan rambutnya.


...


"Jangan tersenyum, kau membuatku tak bisa marah." Angel lalu tersenyum pada sosok itu.


Beberapa meter di balik punggung Angel, Jack menatap gadis itu dengan tatapan sedih. Kesedihan Jack bukan hanya karena Angel akan pergi ke Korea. Jack menyadari ada sesuatu yang aneh pada diri sahabatnya itu. Sudah beberapa kali dia melihat Angel berbicara seperti tadi.


"Apapun An... kau bebas melakukan apapun asal jangan menyakiti diri mu sendiri." ujar Jack lesu memandang tubuh gadis yang dicintainya itu berjalan menjauh.


 


\*


 


Bandara internasional di kota Seoul, Korea (sekarang).


Angel menarik kopernya santai meninggalkan area imigrasi. Akhirnya gadis itu mendarat di Korea setelah penerbangan selama sekian jam.


"Kau tahu, aku paling malas landing malam hari. Hari ini menyebalkan sekali. Ah... kalau tersenyum lagi." Angel tersenyum hangat.


Dia mengedarkan matanya ke seluruh area bandara, seketika rasa kehilangan menghampiri dadanya. Membuat gadis itu merasa sesak. Sosok yang tadi ada disana untuk mendengarkan ocehannya kini sudah pergi entah kemana.


"Ternyata kau tidak menjemput ku lagi." gumam Angel dalam hati sambil melangkah keluar dari bandara itu.


Ada rasa nyeri yang kini bersarang dalam dadanya.

__ADS_1


__ADS_2