Bunga Bermekaran Di Musim Panas, Trouvaille 2

Bunga Bermekaran Di Musim Panas, Trouvaille 2
Dia Kembali?


__ADS_3

"Annasya..." gumam Mark pilu.


Angel langsung menggerakkan tangan untuk menutup kedua telinganya. Gadis itu memejamkan mata, respon yang membuat Mark berdiri terpaku.


"Bahkan dalam wujud arwah pun kau tak sudi bertemu kembali denganku?" Mark membatin pilu, ada kesedihan yang menusuk jauh di dalam batinnya.


***


"Annasya...." gumam pria itu lirih. Bulir air mata kini menetes menghampiri pipinya. Sementara gadis dihadapannya mematung terpaku memandang wajah Mark dengan penuh kebingungan.


"Kamu tahu dia siapa?" gadis itu bertanya ke arah kursi kosong di seberang mejanya.


Mark mengerakkan pandanganya ke arah mata gadis itu. Dia terkesiap kebingungan melihat tidak ada siapapun disana.


"Ayolah Mark, jawab aku. Kamu mengenal pria aneh ini?" tanya Angel sedikit emosi.


Kaki Mark kini gemetar, dia berdiri terpaku bagai disambar petir mendengar namanya keluar dari bibir mungil gadis itu.


"Anna, Mark disini." gumam pria itu lirih. Tanpa sadar dia bergerak mendekat dan memeluk gadis itu.


"Kamu masih hidup? aku sangat merindukan mu." gumam Mark terisak sambil memeluk Angel erat-erat.


"Lepaskan aku!!! Brengsek !! Tolong!!! To..long.!!!" Angel yang merasa diserang oleh pria asing itu berteriak meronta berusaha melepaskan diri. Namun seketika pandangannya berputar dan berkabut, sebelum akhirnya semua menjadi gelap.


Mark memandangi wajah yang sangat dirindukannya kini terkulai lemah dalam pelukan. Pria itu berhenti berkedip, memandangi sosok yang kini utuh dalam dekapannya.


"Annasya, ini kamu kan?" tanyanya lirih dan pilu. Digendongnya tubuh mungil itu. Diiringi senandung keresahan yang mengendap di dalam hatinya, Mark berjalan keluar dari Cafe menuju parkiran.


***


Ruangan yang didominasi warna putih itu terlihat hening. Pria tampan yang duduk di sofa berusaha melepaskan kaitan pengancing di ujung lengan kemejanya. Wajahnya terlihat berantakan dan frustasi.


"Tuan Mark..." sebuah suara menyapanya diiringi oleh seorang pria paruh bawa yang mengenakan pakaian dokter diiringin dua wanita dibelakangnya.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Mark tanpa menoleh ke arah pria itu.


"Sepertinya dia mengalami serangan panik berlebihan, yang bisa jadi dikarenakan sebuah trauma di masa lalu." ujar pria itu.


"Apakah dia sudah sadarkan diri?" tanya Mark, seperti membohongi diri sendiri mengingat sejak diperjalan tadi gadis itu sudah bangun dan memohon untuk diturunkan dari mobilnya namun kembali pingsan berulang kali karena Mark mengabaikannya.


"Dia, apakah tuan mengenalnya?" tanya pria itu lagi.


"Apakah ada masalah serius dengannya?" Mark bertanya gusar.


"Sebaiknya tuan, jika anda mengenalnya saya menyarankan anda membawanya ke psikologis, supaya nona itu bisa ditangani dengan profesional. Saya mendapati dia berbicara sendiri berkali-kali." jawab sang dokter terdengar khawatir.

__ADS_1


"Apakah dia masih hidup?" Mark bertanya gusar membuat sang dokter dan kedua asistennya saling memandang dan mengeryitkan kening.


"Saya pamit diri sekarang tuan. " sang dokter menyadarkan Mark dari lamunannya.


"Terimakasih." jawab Mark sambil melagkah gontai menuju sebuah daun pintu yang menjadi pemisah antara dia dan gadis itu.


***


"Siapa kamu?" Angel berteriak kepada Mark yang berdiri di ambang pintu. "Apa maksudmu membawaku kemari?"


"Anna, aku Mark." jawab pria itu lirih.


"Arrrrgh... "Angel memegang kepalanya yang mendadak sakit, gadis itu berguling diatas ranjang empuk sang tuan rumah. "Arrrrgh...." buliran air mata membasahi pipi gadis itu pertanda sakit yang menyerangnya begitu parah.


"Maaaaaark...." isak gadis itu sambil memandang tak tentu arah. "Tolong aku." isaknya lagi.


Mark berlari menghampiri gadis yang kini terlihat tidak berdaya itu, membawa nya kedalam pelukan mencoba menenangkan Angel. namun bantuan Mark sepertinya tidak dibutuhkan, karena seketika itu juga gadis itu jatuh ke alam bawah sadar.


"Ada apa denganmu Annasya? Apa yang salah denganmu?" tanya Mark lirih.


***


setelah membenarkan posisi tidur gadis itu, Mark tak lupa menyelimutinya. Kemudian diraihnya ponsel dari saku dan sebuah nomor diujung sana berdering pelang.


"Datanglah ke tempatku sekarang. ada masalah serius, bawa serta pujaan hatimu itu." ujar Mark


tak terdengar balasan dari seberang, Mark segera memutuskan panggilan. 30 menit kemudian bell apartement nya berbunyi. Mark berjalan keluar membuka pintu.


"Hi tuan Mark." pria tambun tersenyum jenaka sambil menyapa sahabatnya yang membukakan pintu.


"Selamat malam Si An dan sang kekasih." jawab Mark dingin.


"Ada apa sikpmu dingin begini? Apa lebih baik aku dan wanitaku pulang saja jika sambutanmu seperti es begini?" ancam Si An.


"Silahkan masuk." ujar Mark sambil berjalan menuju kamar utama membuat Si An semakin terheran dengan etika bertemu temannya itu.


"Hei Mark...!!" protes Si An sambil melangkah masuk ke kamar utama menyusul sahabatnya .


"Kau menyembunyikan wanita di apartementmu? Skandal apa ini?" tanya Si An sambil membekap mulutnya tak percaya.


"Kemarilah." panggil Mark yang kini duduk di salah satu sisi ranjang king size itu. "Lihatlah dia." ujar Mark lirih.


"****.... Kau tidak sedang bercanda denganku kan Mark?" mata Si An terbelalak melihat sosok yang terbaring dan lelap diatas ranjang itu.


"Aku pikir aku sudah gila." Mark berkata lirih dan pedih.

__ADS_1


"Annasya. Gadis ini masih hidup? Kau temukan dimana dia? Apakah ini mimpi?."


Angel yang mendengar suara berisik disekitarnya, membuat tubuhnya bergerak pelan dalam lelap.


"Stttttt...." Mark berusaha mengheningkan suasana dan memberi isyarat pada Si An untuk keluar dari ruangan itu.


***


"Jawab dulu pertanyaanku." Ujar Si An tak sabar. kini mereka sudah berpindah ke ruang tamu.


"Aku bertemu dengannya di Cafe sore tadi. Dia tidak mengenali ku. Tapi dia berbicara sendiri seolah dia sedang berbicara dengan sosok bernama Mark. Dia pingsan berkali-kali setiap kali aku muncul dihadapannya. Aku bahkan tidak tahu pasti apakah dia Annasya atau hanya seseorang yang mirip dengan Annasya." Mark menjelaskan panjamg lebar.


"Mustahil Mark. Mustahil ada orang semirip itu jika bukan kembar. Dan selama ini Annasya tidak pernah mengaku memiliki saudara kembar." jawab Si An.


"Itulah alasanku memintamu membawa Min Ha. Agar dia bisa memeriksa kondisi Anna... maksudku wanita di dalam sana. Min Ha bisakah kamu membantuku?" tanya Mark.


"Tentu saja." Jawab gadis berambut panjang itu. Min Ha kekasih Si An memang seorang psikologis dengan lisensi.


***


"Hi..." Min Ha mendekati Angel yang kini terjaga dari tidurnya.


"Hallo." jawab Angel singkat. "Terimakasih". ujar gadis itu lagi.


"Bagaimana keadaan mu?" Min Ha kembali bertanya.


"Dimana aku?" Tanya Angel.


"Tenang saja, kamu aman bersamaku. namaku Min Ha." Gadis itu mengulurkan tangan.


"Angel." menyambut tangan gadis dihadapannya sambil tersenyum manis.


"Ah ia, apa kamu melihat kekasihku? Mark?" Tanya Angel seketika.


"Dia diluar." ujar Min Ha mengingat Mark dan Si An sedang mengobrol diruang tamu. "Sebentar aku panggilkan." Ujar gadis itu lagi.


***


"Angel, ini Mark." ujar Min Ha sambil memasuki kamar kembali.


"Ha?" Angel terlihat kebingungan. "Bukan, aku tadi bersama Mark kekasihku. bukan dia." jawab Angel membuat Min Ha dan Mark saling memandang penuh keraguan.


"Annasya..." Mark bergumam lirih.


"Pergiiiii....!!!!!" Angel seketika berteriak dan meremas kepalanya yang mendadak sakit. "Tolong kepalaku sakit sekali. Mark... kamu dimana?" Isak gadis itu. Lalu dalam sekejap dia melompat ke sisi lain tempat tidur dan mendekap dirinya sendiri. "Kamu dari mana saja Mark?" dia bertanya lembut kedalam pelukannya sendiri.

__ADS_1


Min Ha memandang gadis itu penuh arti. Sebuah puzzle kini mulai bermain di kepalanya. Sambil melempar pandang kepada Mark, gadiis itu bergumam lirih. "Kita perlu diskusi."


__ADS_2