
Beberapa hari ini aku merasa sangat bosan, tidak ada Kai dan Av yang biasa menemaniku ke mana-mana. Mereka masih sibuk dengan acara pentas seni yang akan di adakan beberapa hari lagi, aku berjalan di ke perpustakaan sendirian, tapi belum sampai di perpustakaan sudah ada orang yang menarik tanganku dengan sangat kasar!
Orang menyebalkan mana yang berani menarik ku dengan kasar?!
Oh, ternyata si bajingan Theodor Milles yang kembali berulah. Apa lagi maunya pria mesum ini? Seenaknya saja menarik tanganku! Lihat saja nanti, akan aku adukan dengan Kai.
Lagi pula kenapa dia ada di sini deh, bukannya anak kelas 3 sedang sibuk mengurusi pentas seni ya? Atau mungkin karena Theodor tidak memiliki bakat dia menyerah untuk melakukan pertunjukkan di pentas seni?
"Hei, bodoh! Lepaskan aku! Apa sih maumu?" aku berteriak dengan kencang berharap ada yang mendengar teriakanku dan membantuku, tapi sepertinya percuma saja. Manusia-manusia tidak punya hati ini tidak ada satupun yang perduli dengan teriakanku.
Mereka seolah-olah tuli dan tidak melihat sikap kasar Theodor padaku, benar-benar menyebalkan!
Manusia memang selalu ingin berada di tempat aman tanpa satupun kerugian ya, bahkan rasa empati dan simpati telah hilang karena keegoisan di dalam diri mereka. Aku berhenti berteriak, karena percuma saja tidak akan ada yang menolongku dan teriak hanya akan membuat tenggorokanku sakit, sayang kan kalau tenggorokanku sakit aku tidak bisa menyelesaikan karaoke lagu Taylor Sw*ft yang tadinya ku setel di rumah namun di hentikan oleh Av karena menurutnya suaraku seperti kambing.
Av sialan! Suaraku bagus kok, ya cuman aku nggak sampai nadanya saja. Pokonya suaraku bagus.
Theodor membawaku ke tempat paling sepi yang berada di pojok sekolah tempat biasanya anak-anak nakal nongkrong. Sial, mau apa dia?
Dia memojokkan ku ke dinding dan mengurungku dengan lengannya, aku rasanya ingin berteriak lagi. Theodor menakutkan! Dia menatapku tajam dan wajahnya sangat dekat dengan wajahku.
"Kalau kamu macam-macam aku tendang masa depanmu!"
Percuma saja, ancaman yang aku berikan sama sekali tidak digubris oleh Theodor. Alias tidak mempan! Benar, bagaimana mungkin otak kecilnya itu bisa menerima dan mengerti apa maksud dari perkataanku, dia malah semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku.
__ADS_1
SIALAN! AKU TAKUT!
Tanpa berpikir panjang lagi aku bulatkan niatku lalu ku tendang masa depannya membuat Theodor terduduk kesakitan, rasain! Aku langsung lari tapi ternyata kakiku di pegang oleh Theodor, membuatku jatuh dengan cara yang sangat tidak cantik. Benar, aku jatuh tengkurap membuat dadaku sangat sakit.
"Dasar laki-laki kasar! Dadaku sesak tau!"
Entah bagaimana caranya air mataku jatuh, mungkin karena ini benar-benar sangat sakit. Kalian bayangkan saja jatuh dengan posisi tengkurap di tempat yang banyak batunya, aku menangis bukan karena aku cengeng ya! Tapi karena ini benar-benar sakit!
Tapi tangisan ini tidak membuat tekadku untuk kabur dari Theodor runtuh, aku langsung berlari menjauh dari Theodor meskipun sakit di tubuhku malam makin terasa, air mata masih mengalir membuat orang-orang yang aku lewati menatapku seolah bahan gosip sudah tiba. Sial!
Lebih sialnya lagi aku malah menabrak tubuh keras yang membuatku jatuh lagi dan pantatku sakit! KENAPA AKU SIAL SEKALI SIH? Aku ingin kembali saja, aku ingin bersama Bapak dan Ibu. Tidak apa-apa deh miskin, tidak apa-apa jika tanteku terus menyuruhku ini itu dan membandingkan ku dengan anaknya. Aku jadi kangen tanteku.
Tangisku semakin menjadi tentu saja, bagian depan dan belakang tubuhku sakit semua! Aku mendongak ke atas ingin memarahi orang yang menabrak ku tapi keberanianku runtuh saat melihat siapa yang aku tabrak. Robin. Sialan! Kenapa aku sangat sial?! Aku menunduk dengan takut berharap Robin akan pergi saja dan tidak memendam dendam karena aku telah menabraknya.
"Cel? Kenapa?"
Jangan bertanya! Aku jadi semakin ingin menangis rasanya, dan sialnya aku benar-benar menangis lebih kencang karena sakit di tubuhku dan rasa takut cemas yang aku alami, sudah ketakutan karena tindakan Theodor yang di luar nalar, lalu bertemu lagi dengan Tuan Antagonis dengan posisi aku menabraknya. Bagaimana aku tidak ketakutan coba?!
"Cel, apa ada yang sakit? Kenapa menangis?"
Robin berjongkok untuk melihat wajahku, dia memelukku yang menangis. Mungkin tujuannya untuk menenangkan ku, tapi aku tidak bisa tenang! Tidak bisakah antar saja aku ke UKS dan cepat obati badanku yang sakit ini? Sepertinya akan ada beberapa memar di badanku setelah ini.
"Tadi aku lihat Theodor menarik Celesta dengan paksa setelah itu Celesta kembali dengan menangis"
__ADS_1
Seorang laki-laki berkacamata tebal mendekat dan memberanikan diri berbicara kepada Theodor, oke, sepertinya masih ada orang yang memiliki rasa simpati di dunia ini.
"Itu, tadi aku melihat Celesta dipojokkan oleh Theodor lalu menendang anu—"
Laki-laki itu berhenti bicara saat mendapatkan tatapan tajam dari Robin, dia pasti sangat ketakutan, aku bahkan takut melihatnya. Ih seram!
"Lanjutkan"
"Celesta menendang itunya Theodor dan ingin melarikan diri, tapi kakinya di tarik oleh Theodor jadi dia jatuh tengkurap dengan banyak batu di tanah. Anu—Mungkin dia kesakitan"
Benar, aku sangat kesakitan dan berhenti mengobrol cepat bawa aku ke UKS!
"Diam, nggak bisa ya kalian melihat bahwa aku kesakitan? cepat bantu aku ke UKS dong! Nanti saja ceritanya, sakit nih"
Robin langsung mengangkatku, lebih tepatnya menggendongku lalu membawaku ke UKS, aku jadi merasa sedang bermain drama picisan. Malu!
Sesampainya di UKS aku langsung di beri obat oleh Dokter perempuan yang ada di sana, saat dia melihat luka-luka goresan kecil dan merah-merah di perutku dia meringis. Apa dia benar-benar Dokter? Bukan Dokter palsu kan?
Kai dan Av sepertinya juga sudah mendengar kabar mengenai aku, mereka dengan cemas memasuki UKS dan berlari ke arahku, memeriksa setiap inci dari tubuhku dan mulai mengomel saat menemukan beberapa luka dan memar yang ada di perutku.
"Theodor benar-benar keterlaluan! Kita harus menuntutnya, Cel! Ini sudah termasuk tindakan kekerasan"
Av mengomel dengan sangat cepat dan Kai hanya diam dengan pandangan dingin, dia mengelus rambut Celesta dan mengatakan bahwa dia akan mengurus Theodor. Aku bisa saja berkata tidak perlu, tapi aku tidak mau! Theodor memang keterlaluan, tidak mungkin aku akan memaafkan tingkahnya yang membuat tubuhku sakit.
__ADS_1
TIDAK AKAN KU MAAFKAN! TITIK.