Celesta & Tuan Antagonis

Celesta & Tuan Antagonis
Robin yang Gentleman


__ADS_3

"Celesta," sebuah suara yang menyebalkan memanggilku, Theodor, entah sejak kapan pria itu sudah berdiri di meja yang terletak di depan kami. Dia memandangku dengan pandangan yang aku sendiri tidak bisa menebaknya, berjalan perlahan mendekati kami, saat tangannya ingin menyentuh tanganku, aku dengan cepat menghindarinya.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Tuan Milles?" ucapan ini keluar dari mulut Robin yang ternyata sudah menatap Theodor dengan pandangan tajam, lalu dia beralih melihatku lagi. Sejujurnya aku sangat tidak nyaman dengan keadaan seperti ini, di sini sangat ramai dan banyak orang menonton drama yang terjadi di antara kami, sebenarnya tidak terlalu bermasalah jika hal seperti ini terjadi pada saat kami masih SMA.


Tapi, sekarang berbeda, kami sudah dewasa dan harusnya mengerti harus berperilaku seperti apa. Apa lagi dua orang ini adalah orang yang terkenal dan media selalu mencari berita tentang mereka di mana-mana! Aku tidak mau terseret dalam masalah sepele seperti ini.


"Robin, sepertinya aku sudah kenyang. Makanan sisanya bisa minta tolong pelayan untuk di bungkus, aku mau makan di rumah saja" Robin sepertinya paham kalau aku sangat tidak nyaman ditatap oleh banyak orang seperti ini, dia mengangguk lalu menatapku dengan ragu, "Aku pergi sebentar oke? Aku akan membayar ini dan meminta pelayan untuk membungkus semua yang tersisa"


Aku mengangguk dengan mantap, membiarkan Robin pergi dengan cepat agar mereka semua tidak terus menatapku dengan pandangan ingin tau, aku tidak takut jika Theodor akan bertindak buruk padaku. Aku rasa Theodor masih punya otak sehingga dia tidak akan menyebabkan keributan di tempat ramai seperti ini. Selepas kepergian Robin, Theodor duduk di kursi yang tadinya Robin duduki, dia memandangku sangat lama membuatku ingin sekali mencongkel bola matanya itu. Aku tidak nyaman sialan!


"Ada apa? Lama tidak bertemu Tuan Milles, kamu seharusnya sudah jadi lebih 'baik' 'kan?" Kata baik di sini aku tekankan agar Theodor sadar dan tidak berperilaku kekanak-kanakan seperti perilakunya semasa sekolah. Aku harap dia tidak macam-macam deh.


"Lama tidak bertemu Cel, kamu semakin cantik" aneh, ada yang aneh dengan sirkuit otak Theodor pada saat ini, seperti orang asing yang sama sekali tidak pernah aku temui sebelumnya. Aku yakin yang di hadapanku saat ini bukanlah Theodor, melainkan alien yang menyamar menjadi dirinya. Ya, pasti alien.

__ADS_1


"Terima kasih, kamu juga sama" masih menyebalkan kata-kata ini hanya kuucapkan dalam hati saja, tidak baik jika aku menyebabkan pertengkaran di antara kami hanya karena sebuah perkataan yang menyinggung Theodor, aku tidak ingin ada adegan jambak-menjambak seperti yang sering kulakukan padanya saat kami Sekolah dulu.


"Apa hubunganmu dengan Tuan Eirlys? Aku mendengar percakapan mu dengannya tadi" eh, anda siapa ya? Rasanya ingin aku mengatakan ini pada Theodor, maksudku, Theodor tidak berhak dan tidak harus tau tentang hubunganku dengan Robin. Barangkali ingatannya terhenti pada saat 6 tahun yang lalu dimana aku masih menjadi tunangannya, baik kalau begitu akan aku ingatkan lagi dia.


"Sepertinya ini sama sekali tidak ada hubungannya denganmu, kami hanya sekedar orang yang saling mengenal sekarang, bahkan kamu bukan temanku" benar, seharusnya aku mengatakan hal yang lebih dari ini agar bisa menyadarkan Theodor, tapi semua mata melihat ke arah kami. Aku tidak mau muncul di berita setelah ini.


"Aku mempunyai hak untuk tau, Celesta. Apa hubunganmu dengan Robin?" Habis sudah, rasa sabar ku sudah mau habis jika saja Robin belum juga datang ke sini. Aku tidak sanggup menghadapi Theodor yang gila dengan cara seperti ini. Aku harus memukulnya!


Untung saja Robin datang tidak lama kemudian dan membawa makanan yang sudah di bungkus dengan bungkus yang cantik, dia mendekati kami dan menatap waspada Theodor yang rahangnya sudah mengeras.


"Kamu akan pulang denganku, Cel" sebuah paksaan kembali terdengar dari mulut seorang Theodor, sudah berapa lama ya aku tidak melihat sikap pemaksanya ini? Sudah lebih dari 5 tahun kami tidak bertemu dan aku bahkan sama sekali tidak mengetahui keadaannya.


"Jangan memaksanya Tuan Milles, seharusnya kamu sadar bahwa di sini ramai orang melihat, jangan mencari masalah yang akan menyebabkan Celesta kesulitan"

__ADS_1


"Diam! Cel, kamu pulang bersamaku" Theodor mendekatiku dan menarik tanganku, sangat sakit! Dia menggenggam tanganku dengan sangat kuat sehingga aku berteriak kesakitan. Theodor gila! Apa sebenarnya yang dia inginkan.


Aku kira Theodor tidak akan bersikap seperti ini lagi padaku semenjak waktu itu saat sekolah menengah, bukannya waktu itu sikapnya sudah lebih baik ya? Kenapa jadi begini sekarang. Robin yang melihat itu langsung mengepalkan tangannya dan meninju Theodor, suasana menjadi ramai dan banyak orang yang merekam kejadian itu. Aku dengan cepat memisahkan mereka dan berusaha menenangkan Robin.


"Sudah, aku tidak nyaman di sini, ayo kita pulang" sepertinya perkataanku ini mampu menyadarkan Robin, dia dengan cepat menendang Theodor agar menjauh dari jalan dan kemudian menarik tanganku dengan lembut. Dia membukakan pintu mobil agar aku bisa masuk lalu baru masuk ke mobil. Aku menatap Robin dengan penuh rasa kagum, dia masih bisa memperlakukanku dengan baik bahkan setelah emosinya yang sedang tidak baik.


"Tidak perlu khawatir Cel, aku pastikan tidak akan ada yang menyebarkan berita ini" bahkan dalam keadaan seperti ini dia masih memikirkan kenyamananku, Robin! Kapan kamu jadi suamiku?! Ah, bagaimana bisa ada pria seperti Robin di dunia ini.


"Tidak perlu bersusah payah Robin, kamu tidak perlu melakukan apapun untukku. Seharusnya kamu tidak menyerang Theodor dan membuat dirimu terluka" aku melihat ke arah tangannya yang sudah berdarah karena terkena pecahan kaca gelas yang ada di restoran tadi, sepertinya akan ada tagihan biaya ganti rugi yang akan di kirim ke kantor Robin nanti.


"Tidak apa, aku pastikan media akan bungkam dan tidak akan menyebabkan rumor yang tidak-tidak mengenai dirimu"


Jika ada kasur di sini mungkin aku akan membanting diriku sendiri karena sikap Robin yang terlalu manis, gelombang di perutku semakin besar ketika mendengar pernyataan Robin, sialan! Aku ingin Robin. Kalau saja Robin memberiku kejelasan tentang hubungan kami atau mungkin memberikan sedikit harapan yang pasti padaku, aku akan berteriak padanya.

__ADS_1


Robin aku ingin menjadi istrimu! Ayo nikah sekarang!


__ADS_2