Celesta & Tuan Antagonis

Celesta & Tuan Antagonis
bertemu ibu mertua


__ADS_3

"Cel, tidak bisa dibiarkan. Pria gila itu akan tetap melakukan hal seperti ini jika tidak diberi pelajaran! Kamu harus memberinya pelajaran Kai" Avery duduk di pinggir tempat tidurku, dia terus mengelus punggungku berusaha menenangkan aku yang sebenarnya sudah tenang. Dia terlalu berlebihan karena terus memelukku dan terus saja mengelus punggungku, padahal itu tidak lagi diperlukan.


"Av, aku sudah tidak apa-apa, menjauhlah sedikit dariku. Panas!" Avery tidak mau melepaskan ku sedari tadi, meskipun kamarku memiliki AC, tapi tetap akan panas jika dikelilingi oleh banyak orang yang mengkhawatirkan dan terus bertanya padaku. Jelas aku sudah baik-baik saja!


Avery cemberut dan melepaskanku. papa, Kai, Robin dan orang-orang yang tidak aku kenal berkumpul di kamarku yang membuat kamarku rasanya sesak. Apa perlu orang-orang ini masuk? Aku bahkan tidak mengenal siapa mereka.


"Kai, siapa mereka?" Aku menunjuk ke arah orang-orang yang tidak kukenal sama sekali, mereka berpakaian formal dan tubuh tegap bak tentara yang sedang berjaga. Untung saja mereka tidak membawa senapan, jika tidak aku pasti akan mengira bahwa mereka adalah tentara yang sedang bertugas.


Kai melihat ke arahku dan tersenyum, dia mengelus kepalaku dan menunjuk ke arah Robin seolah berkata bahwa bukan dia yang seharusnya menjawab pertanyaan ini. Aku menatap Robin dengan pandangan bertanya, sedangkan yang ditatap malah tersenyum dan mengangguk. Hei! Aku sama sekali tidak mengerti apa arti dari anggukan darimu itu.


"Mereka orang yang akan menjagamu, Cel. Aku takut kejadian ini akan terulang lagi" aku menatapnya dengan mata melotot, tidak mau! Aku tidak akan mau dikawal kemanapun seolah tahanan perang.


"Tidak mau! Aku tidak membutuhkan mereka, aku tidak mau diikuti selama 24 jam. Aku butuh privacy!" Robin terlihat menghela nafas lalu menatap Kai yang hanya mengendikkan bahunya tidak mau ikut campur, kemudian dia kembali menatapku dan mengangguk.


"Baik, kalau begitu bagaimana kalau pergi dan pulang dengan supir? Dia hanya akan mengantarmu kemanapun kamu mau Cel, sama sekali tidak mengikutimu" ini yang aku sukai dari Robin, dia selalu menghargai pendapat dan keinginanku. Aku mengangguk setuju, lebih baik daripada harus diikuti 24/7.

__ADS_1


Papa hanya diam memandang kami yang berdebat mengenai hal ini, sama sekali tidak protes bahkan ketika Robin mengambil keputusan tentang pengawal dan supir. Dia seakan sudah sangat percaya pada calon menantunya ini, HAH kuharap Robin akan benar-benar menjadi calon menantunya! Hahaha.


Tapi, dia harus jadi suamiku sih. Jangan sampai plot twist dia jadi suami Avery, meskipun tetap menjadi menantu papa aku tidak ikhlas! Oke, aku mulai melantur memikirkan hal yang tidak-tidak, Robin sih, kenapa dia sangat tampan dan seksi sehingga membuatku tidak tahan untuk tidak memikirkannya.


Robin dan orang-orang yang tidak kukenal itu pamit setelah beberapa saat, hari juga sudah mulai gelap dan tentu saja mereka harus pulang, apalagi Robin yang pastinya sangat sibuk karena perusahaannya yang mungkin saja sedang banyak hal yang harus dia urus. Semangat sayang!


Papa, Kai dan Avery juga keluar dari kamarku setelah aku usir dengan paksa. Bagaimana tidak, mereka ngotot ingin menemaniku lebih lama lagi dengan alasan menjagaku, Theodor tidak cukup gila untuk membobol rumahku dan menculikku. Atau mungkin dia memang cukup gila untuk melakukan hal itu, tapi tetap saja aku tidak ingin di awasi 24 jam, menyebalkan.


Akhirnya aku bisa menikmati waktu sendirian ku setelah kamarku sesak dipenuhi orang seharian, jiwa-jiwa Introvert yang aku miliki selalu ingin berada di tempat sepi tanpa adanya orang demi mengisi baterai sosial yang harus aku gunakan keesokan harinya.


Berita tentang kejadian kemarin tersebar dimana-mana, banyak media yang menyebarkan berita mengenai pertengkaran antara Robin dan Theodor. Aku terkadang bingung bagaimana bisa media mendapatkan foto dan Vidio, padahal tidak ada orang lain selain kami di ruang VIP itu. Bahkan pada saat aku meminta tolong tidak ada satupun orang yang datang dan mendengarkan.


Hal ini membuatku menjadi artis dadakan, banyak orang melihat ke arahku dan bahkan ada beberapa wanita kurang ajar yang langsung menemuiku dan bertanya mengenai kejadian ini sekaligus menghina diriku. Semua ini aku hiraukan, tidak penting mengurusi orang-orang yang bahkan tidak aku kenal. Aku hanya berjalan lurus ke arah mobil yang sudah berada di parkiran mall dan menghampiri Robin yang berdiri menungguku.


Robin ingin mengajakku ke suatu tempat dan menjemputku yang sedang shopping dengan suasana hati riang gembira. Dia terlihat tampan dengan kaos santainya dan rambutnya yang sedikit berantakan, banyak wanita yang melihat ke arahnya seakan ingin menerkam Robin membuatku kesal, rasanya ingin aku colok mata mereka satu persatu. JANGAN MENATAP CALON PACARKU SIALAN!

__ADS_1


Meskipun belum official tetap saja aku tidak rela mereka menatap Robin seperti itu, aku sangat kesal mengingat Robin sama sekali belum memberikan kejelasan tentang hubungan kami! Kalau begini terus bisa-bisa aku mencari pria tampan lain.


"Sudah lama menunggu?"


Aku bertanya padanya hanya sekadar basa-basi yang sebenarnya sangat basi, aku tau bahwa Robin seharusnya sudah lumayan lama menungguku karena dia mengabariku ketika aku sedang di salon, tidak mungkin selesai dalam waktu lima menit.


"Tidak terlalu lama, aku sekalian rapat terlebih dahulu melalui zoom tadi" Robin sepertinya mengatakan hal ini dengan santai dan sedikit terkekeh, entah apa maksudnya tapi aku merasa dia mengejekku. Jika dia bisa menyelesaikan rapat sambil menungguku artinya dia sudah menungguku cukup lama.


Aku mencubit pinggangnya kecil membuat Robin semakin tertawa. Tidak ingin menjadi bahan tontonan lebih lama lagi, kami akhirnya masuk ke dalam mobil dan pergi ke tempat yang Robin tuju, aku sendiri tidak tau kami akan pergi kemana. Robin bilang kami akan menemui seseorang yang baik hati, aku sedikit gugup.


Mobil akhirnya berhenti di depan rumah besar yang menurutku sangat besar, meskipun tidak sebesar rumah-rumah CEO di dalam novel, tapi ini cukup besar, terlihat sangat nyaman dan sederhana. Robin dan aku turun disambut oleh seorang wanita paruh baya dengan paras cantik yang mirip dengan Robin, bedanya dia terlihat lebih lembut dibandingkan dengan wajah Robin yang tegas.


"Robin, ini yang kamu ceritakan? Sangat cantik, ayo masuk sayangku. Ibu sudah memasak makanan kesukaanmu" wanita itu memelukku dan menarik tanganku masuk ke dalam rumah meninggalkan Robin yang sama sekali tidak disambutnya. Aku ingin tertawa ketika melihat wajah pasrah Robin.


"Robin bilang kamu tidak suka makanan pedas, jadi tidak ada hal pedas yang dihidangkan! Percaya, kamu pasti akan menyukainya" aku menatap Robin dengan mata memicing curiga, Robi tau makanan kesukaanku, dia tau bahwa aku tidak suka pedas. Entah darimana pria ini tau semua hal ini.

__ADS_1


Robin yang ditatap hanya tersenyum lalu menggeleng seolah berkata bahwa dia sama sekali tidak bersalah. Robin bodoh! Dia membawaku pada Ibunya tanpa pemberitahuan sama sekali, aku gugup SIALAN.


__ADS_2