
"Cel," ucap seseorang dengan suara yang halus. Sinar terang membuat mataku sakit. Wanita cantik duduk di kursi di samping ranjangku, memanggil namaku. Aku merasa bahwa semua ini seperti deja vu, bahwa aku pernah mengalami hal yang sama sebelumnya.
Ketika aku membuka mata, aku menyadari bahwa aku masih hidup. Avery dan papa berada di sampingku, sementara Kai, Robin dan beberapa orang yang tidak kukenal juga berada di dalam ruangan yang kuanggap sebagai ruang rawat di rumah sakit. Semua orang memandangku dengan tatapan lega, terlihat bahwa mereka baru saja melewati sesuatu yang menyedihkan dan menegangkan.
Avery menangis dan memelukku erat-erat, aku tidak tahu apa yang terjadi. Sepertinya aku melewati sesuatu yang sangat tidak menyenangkan."Kamu akhirnya bangun, Cel. Dokter bilang kamu koma dan tidak tahu kapan akan bangun. Ada kemungkinan juga kamu meninggal. Tapi, kamu bangun, kamu tidak meninggalkan aku, Cel," kata Av dengan isak tangis.
"Tentang apa ini?" tanyaku. Tenggorokanku sakit dan kering, tapi tidak ada yang memberikan air atau memanggil dokter untuk memeriksa keadaanku. Aku tahu mereka sedih dan senang karena aku bangun, tapi aku harap mereka tidak mengabaikanku seperti ini.
Setelah beberapa saat, Kai memberikan aku air minum dan menekan tombol yang berada di dekat kasur untuk memanggil dokter dan perawat. Beberapa perawat dan dokter masuk ke dalam ruangan dan menyuruh beberapa orang untuk keluar, menyisakan aku dan Papa beserta perawat dan Dokter.
__ADS_1
"Tidak ada yang salah, semuanya normal. Detak jantungnya juga berdetak dengan normal. Dia hanya butuh istirahat beberapa hari lagi untuk memulihkan diri," kata Dokter itu. Aku menatap Dokter itu tanpa berpaling - dokternya tampan, kalian tau tipe pria dengan wajah lembut dan sayang keluarga?
Setelah beberapa pemeriksaan dan kata-kata singkat, Dokter dan para perawat pun keluar. Robin, Kai, dan Avery kembali masuk dan duduk di sofa dekat jendela rumah sakit. Avery tidak kuizinkan untuk duduk di kursi samping ranjangku, aku tidak ingin dipeluk-peluk olehnya.
"Sudah berapa lama aku tidak sadar?" tanyaku. Kai menatapku lalu menatap Robin yang sepertinya mengetahui kejadian sebenarnya.
"Sudah lebih dari seminggu, Cel. Aku terlambat menemukanmu," kata Robin dengan pandangan sedih, seperti anjing yang berbuat kehilangan.
"Aku datang tepat setelah ambulans sampai dan langsung membawamu ke rumah sakit. Seorang wanita tua memanggil polisi, karena itulah kamu cepat ditangani dan cepat dibawa ke rumah sakit. Aku sangat berterima kasih padanya. Jika bukan karena dia, mungkin kamu tidak bisa diselamatkan," kata Robin menjelaskan.
__ADS_1
"Lalu, Theodor?" Aku bertanya. Saat aku menyebut namanya, suasana di ruangan itu menjadi tegang dan membuatku merinding.
"Dia berhasil kabur, tapi tenang saja, polisi sedang mencarinya dan wanita tua itu menjadi saksi atas tindakannya terhadapmu. Aku pastikan dia dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku," kata Robin meyakinkanku. Meskipun aku membenci Theodor, membunuhnya atau menyiksanya bukanlah hal yang benar dan menyenangkan.
Menurutku, nyawa bukanlah sesuatu yang bisa diambil begitu saja. Membunuh dan menyiksa seseorang adalah suatu tindakan kriminal yang sangat salah dan tidak patut dilakukan, bahkan oleh seseorang yang merasa sedih seperti Avery. Lagipula, apakah dengan membunuh Theodor akan membuat kita hidup damai dan tenang? Malahan akan menambah masalah karena akan ada dendam yang terus berkelanjutan. Aku ingin hidup damai.
"Tenanglah, Av. Kita harus mengikuti hukum yang berlaku. Aku tidak ingin kamu menjadi pembunuh hanya karena aku. Aku tidak menyukai cara seperti itu," kataku. Avery masih tidak setuju dengan perkataanku, jadi Kai membawanya keluar dari ruanganku untuk menenangkan diri agar dia bisa berpikir lebih jernih. Kemudian papa juga keluar untuk mencarikan aku makanan. Hanya tinggal aku dan Robin di ruangan ini. Dia berjalan mendekat dan duduk di kursi sebelah ranjangku, lalu menggenggam tanganku lembut dan menciumnya.
"Maafkan aku, Cel. Seharusnya aku lebih cepat. Luka di tubuhmu semua karena aku terlambat." Dia mengusapkan tanganku di pipinya dan memejamkan mata. Aku salah tingkah karena ulah Robin. Bayangkan saja, seorang pria tampan melakukan hal seperti ini padamu. Tidak mungkin kamu tidak salah tingkah.
__ADS_1
"Bukan salahmu. Semua hal ini tidak pernah kita ketahui sebelumnya. Ini semua kecelakaan yang disebabkan oleh Theodor. Tidak ada yang akan menyangka semua ini akan terjadi, Robin. Jangan menyalahkan dirimu." Aku mengangkat tanganku sebelah lagi, mengusap kepala Robin yang kini kembali memejamkan mata menikmati sentuhanku. Sialan! Aku BAPER.
Bagaimana bisa Robin memperlakukan aku seperti ini tanpa melamarku? Sialan! Aku ingin menikahinya.