Celesta & Tuan Antagonis

Celesta & Tuan Antagonis
Berhenti bersikap kekanak-kanakan Theodor!


__ADS_3

Mungkin Robin bisa saja memanipulasi media dan menghapus semua hal mengenai kejadian kemarin, tapi kabar dari mulut ke mulut tetap berjalan tanpa adanya hambatan, bahkan sekarang, teman-teman kuliahku sedang mengerumuniku seperti semut yang sedang mengerumuni permen. SIALAN. Aku bersumpah bahwa ini adalah hal yang paling menyebalkan dalam hidupku, bahkan lebih menyebalkan dibandingkan dengan ditanya tentang kapan lulus kuliah.


"Aku lihat sendiri loh, Cel. Kamu diperebutkan oleh dua pria tampan dan orang itu bukan orang biasa! Sangat luar biasa! Andai saja aku jadi kamu, pasti sangat menyenangkan"


Aku hanya diam tidak mau menyahut. Tidak ada yang menyenangkan dari sebuah masalah yang disebabkan oleh Theodor, jika bisa aku hanya ingin bersembunyi di dalam selimut sampai semua berita ini hilang tidak tersisa sedikitpun, telingaku gatal setiap kali ada orang lewat yang menunjukku sambil berbisik ke temannya. Sayang sekali aku bukan lagi remaja yang bisa langsung menjambak rambut orang-orang itu tanpa menghiraukan konsekuensinya.


"Kenalkan aku pada Robin dong Cel, pria tampan sepertinya tidak cocok denganmu" aku melihat siapa yang berbicara, nenek lampir. Rambut hitam panjang dengan bibir merah merona, kurang topi penyihir saja. Aku mengabaikannya, tidak peduli apa yang dia katakan asal aku tidak menjawab maka tidak akan ada pertengkaran yang terjadi.


"Kalau Robin tidak cocok dengan Celesta, maka dia lebih tidak cocok denganmu Penelope. Sadar diri" orang yang berbicara adalah orang yang melihatku di restoran makanan penutup waktu itu, dia orang yang sangat bersemangat ketika membahas tentang cinta segitiga antara aku, Robin dan Theodor.


Sebelum semua hal ini menjerumus menjadi sebuah perkelahian, aku dengan cepat bangkit dari dudukku dan pamit pulang. Sampainya di parkiran, aku melihat Theodor yang sudah berdiri tepat di depan mobilku. Bajingan! Kenapa sih hidupku penuh drama seperti ini, sangat menyebalkan.


Niatnya ingin kabur, tapi tanganku dengan cepat ditarik oleh Theodor membuat niatku tidak terealisasikan. Aku menatapnya dengan wajah cemberut tidak senang, Theodor sama sekali tidak mengerti dengan keinginan hatiku untuk menjauh darinya, dia selalu saja berusaha memaksakan kehendaknya terhadapku.


"Lepas, berhenti bersikap kekanak-kanakan Theodor. Berhenti memaksakan kehendakmu padaku" aku berusaha melepaskan tanganku yang digenggamnya dengan kuat, sialnya itu terasa sakit, semakin berusaha aku melepaskannya semakin kuat Theodor mencengkram tanganku.


Berusaha memberi pengertian dengan nada yang lembut sama sekali tidak bisa dicerna oleh seorang Theodor, dia hanya mengerti yang namanya kekerasan! Oke, aku gigit saja tangannya. Tidak, rencanaku sama sekali tidak bisa di realisasikan karena banyak orang yang menonton kami seolah kami sedang syuting drama picisan.

__ADS_1


"Kita harus bicara, berdua" aku menghela nafas berusaha untuk sabar dengan sikap menyebalkan Theodor, jika bisa memilih lebih baik aku pergi dari sini dengan cepat agar bisa menghindar dari Theodor. Sayangnya tidak ada pilihan, Theodor sama sekali tidak ingin dibantah dan aku tidak ingin menjadi tontonan, banyak orang bahkan sudah merekam dan memfoto kami sekarang.


"Oke, lepas dulu tanganku. Aku akan mengikuti kamu dengan mobilku" Theodor sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya.


"Naik mobilku" Sialan! Rasanya asap di kepalaku sudah mengepul, aku ingin meledak karena rasa kesal yang menumpuk! Theodor benar-benar menyebalkan.


"Tapi aku bawa mobil, apa salahnya dengan pakai mobil sendiri-sendiri?"


"Naik mobilku. Pergi bersamaku, Cel" baik, Theodor sama sekali tidak ingin kata-katanya di bantah dan aku akan mengikutinya untuk saat ini, aku tidak ingin masuk berita karena bertengkar dengan pengusaha terkenal ini.


Aku mengikutinya masuk ke dalam mobil, untung saja aku membawa handphone dan tasku. Theodor membawaku ke sebuah restoran mewah yang menjual makanan enak dan mahal. Sama sekali bukan seleraku. Dia membawaku ke lantai atas yang sepertinya ruang VIP karena terasa sangat sepi.


"Pesan makanan dulu" dia tanpa menunggu jawaban dariku langsung memanggil pelayan dan memesan makanan untuk kami berdua, iya kami berdua. Dia bahkan tidak ingin repot-repot menanyaiku tentang apa yang ingin aku makan! Bayangkan, wanita sial mana yang akan menjadi istri Theodor nanti, hidupnya pasti akan sangat sengsara.


"Berhenti bersikap seenaknya Theodor! Sebenarnya apa yang kamu inginkan?! Berhenti menggangguku dan hidup dengan nyaman tidaklah sulit" aku sudah muak dengan semua tindakan Theodor yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Meskipun mulutku berbicara dengannya, tapi tanganku di bawah meja sibuk mengetik dan mengirimkan lokasiku saat ini pada Kai, benar, aku sudah berencana kabur. Jaga-jaga kalau Theodor tiba-tiba jadi gila dan tidak membiarkanku pulang.


"Jauhi Eirlys" Kata-katanya itu membuatku sangat ingin memukul kepala Theodor dengan vas bunga yang berisi mawar merah yang terletak di meja.

__ADS_1


"Kamu tidak memiliki hak apapun untuk mengaturku, apa lagi mengatur dengan siapa aku harus berteman. Ingat Theodor, kamu tidak berhak!"


"Turuti saja perkataanku, Celesta!" Aku benar-benar marah, mengambil tasku dan bergegas pergi dari sini tapi sayangnya gagal. Theodor dengan cepat menarik tanganku dan kembali mendudukkan aku dengan paksa.


"Kamu gila! Kamu seorang pria sukses yang tidak kekurangan apapun Theodor! Banyak wanita yang akan menyerahkan diri mereka padamu. Jadi, aku mohon berhenti menggangguku dan hidup dengan nyaman saja" Theodor menatapku tajam, jika saja tatapan bisa membunuh, sudah lama aku mati karena tatapan dari Theodor.


Aku sebenarnya takut, tanganku yang aku sembunyikan di bawah meja sudah gemetar, berusaha terus menelpon Kai namun tidak juga diangkat, meskipun pesanku sudah dibacanya aku tetap tidak tenang. Tampang Theodor sangat mengerikan sekarang, entah apa yang ada di otak Theodor sehingga dia berperilaku seperti ini.


"Tidak bisakah kamu turuti saja perkataanku, Cel? Jauhi Robin!" Bentakan darinya membuatku tersentak dan kaget. Sialan, tubuhku mulai gemetar namun aku tetap berusaha mempertahankan wajah tenangku.


"Tidak! Kamu bukan siapa-siapa bagiku dan aku tidak harus menuruti perkataanmu. Robin jelas lebih baik daripada kamu!" Rahangnya mengeras, tangan Theodor terkepal dan dia berusaha untuk menyentuhku, aku dengan cepat mundur ke belakang berusaha menggapai pintu. Sialan, apa tidak ada orang di restoran mewah ini? Masa mereka tidak mendengar adanya keributan yang terjadi di sini sih?!


Tidak ada jalan lagi untukku Theodor sudah memojokkan ku ke dinding dan berusaha melakukan hal yang tidak senonoh, air mata yang sedari tadi aku tahan sudah keluar, aku sangat takut! Tapi, sebelum dia bahkan bisa menyentuhku, sebuah tinju berhasil mengenai wajah Theodor. Robin, dia datang bersama Kai yang sudah memelukku.


Aku tidak ingin melihat Robin menghajar Theodor, aku hanya menyembunyikan wajahku di pelukan Kai. Aku sangat takut. Sudah lama aku menahan diri di dekat Theodor, biarkan saja Robin menghajarnya sampai babak belur!


"Tenang Cel, sudah tidak apa-apa" suara Kai terdengar berusaha menenangkanku, dia mengelus punggungku dan mengusap kepalaku. Tidak mempan! Aku hanya ingin pulang. Jika saja keadaanku tidak seperti ini, mungkin aku sudah bersorak menyemangati Robin yang sedang memukul Theodor.

__ADS_1


Bagus sayang, pukul bajingan itu!


__ADS_2