
Sudah lima tahun terlewati semenjak acara kelulusan Av dan Kai, selama itu aku menjalani masa sekolah menengahku seperti murid biasa pada umumnya, tidak ada drama picisan antara aku dan Theodor, tidak ada perkelahian, tidak ada larangan dari Av dan Kai dan juga tidak ada si tampan nan seksi, Robin.
Sangat biasa sampai-sampai aku lupa kalau sebenarnya aku berada di dunia novel, Robin sama sekali tidak mendekati Avery, itu artinya dia sama sekali tidak berniat untuk menculikku demi mendapatkan perhatian Avery. Dunia ini sudah berubah dan mungkin aku penyebabnya.
Tapi bukannya baik ya? Entahlah, aku hanya merasa bahwa sangat membosankan menghadapi semua pelajaran yang menyakitkan kepala dan sudah kulewati dulu. Kehidupanku aman, nyaman dan damai sekarang. Tidak ada lagi ketakutan dalam diriku terhadap Robin, dia sesekali mengirimiku pesan tapi sayangnya dia tidak pernah lagi mengirimiku pesan sekitar 3 tahun yang lalu, tepatnya ketika hari kelulusanku dari sekolah menengah.
Entah ada dimana Robin sekarang, menghilangnya dia sangat tiba-tiba sehingga membuatku sedikit tidak siap, rasa gelisah muncul ketika aku tidak menerima pesan darinya. Aduh, malu deh kalau mengingat bagaimana aku bisa tertarik dengan orang yang seharusnya menjadi malaikat maut untukku.
Lupakan itu, sekarang aku sudah berada di semester 7 perkuliahan, tentu saja aku mengambil jurusan yang aku inginkan. Bahasa dan Sastra, aku juga sudah menulis beberapa novel tapi belum kuterbitkan, karena apa? Karena sekarang aku akan kembali menulis skripsi. Sial bukan? Aku kembali ke masa-masa yang paling tidak ingin aku ulangi.
SIALAN!
Rasanya ingin menangis jika mengingat masa-masa saat dimana aku mengerjakan skripsiku lalu meninggal. Jangan sampai aku meninggal lagi deh.
Sudah dua hari ini aku pergi ke toko buku untuk melihat dan membeli buku-buku terbaru untuk menjadi inspirasiku dalam menulis, aku sudah selesai menulis sekitar 7 novel yang belum kuajukan ke penerbit manapun dan akan menuju 8 novel sebentar lagi. Rencananya setelah lulus dari kuliah, aku ingin segera menerbitkan novelku dan mulai membangun toko buku.
Sebuah tepukan di pundak membuat aku menoleh, seorang pria yang aku kenal terlihat dengan seragam kaos putih santai dan celana jeans biru muda, masih sama tampannya dan malah semakin seksi. Benar sekali, Robin adalah orang yang menepuk pundakku. Tingginya kini jauh lebih tinggi dibandingkan denganku, jika dulu aku sebatas hidungnya kini aku hanya sebatas dadanya. Sangat menyebalkan jika aku berdiri bersamanya karena aku akan terlihat sangat pendek.
__ADS_1
"Lama tidak bertemu, Cel"
Masih sama, suara yang aku kenal dan tentu saja suara serak basah yang membuatnya terdengar seksi. Aku ingin protes pada Tuhan, bagaimana bisa dia menciptakan makhluk seperti Robin yang tidak bisa ditolak pesonanya!
"Benar, lama tidak bertemu. Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Membeli buku?" dia tersenyum dan menggeleng, senyuman Robin sangat manis dan membuat siapa saja yang melihatnya ingin ikut tersenyum.
"Ini toko buku yang aku buat Cel, punyaku. Hari ini aku memeriksa buku-buku yang masuk dan melihat apakah ada namamu di salah satunya atau tidak" sialan, Robin sangat pandai dalam hal membuat jantungku berdegup kencang. Bahkan kata-kata yang diucapkannya secara santai bisa membuatku salah tingkah tidak karuan. Mungkin sekarang dia sedang melihat semburat merah yang muncul di wajahku.
"Belum, semua novelku belum aku terbitkan. Bukannya kamu menjalankan bisnis real estate ya? Kenapa jadi toko buku?"
Robin memandangku dan tersenyum, dia hanya diam tidak menjawab pertanyaanku, "Apa ada buku yang ingin kamu beli, Cel?" pertanyaan darinya membuatku sadar dari lamunanku, tadi aku sempat melamun sembari menatap wajah tampan Robin yang sudah menunjukkan kedewasaannya.
Robin mengangguk lalu berjalan ke arah rak di sebelah kirinya yang berisi novel romansa dan menelusuri setiap judul novel, sampai akhirnya dia berhenti di salah satu buku dan mengambil buku itu lalu menyerahkannya padaku.
"Ini bagus, aku sudah membaca yang ini" aku memandang Robin dengan pandangan aneh, sedikit aneh saat melihat pria dengan wajah tampan dan seksi tau tentang novel romansa yang biasanya dibaca oleh perempuan, pria biasanya tidak menyukainya. Bukan begitu, aku tidak meremehkan genre yang Robin suka karena aku sendiri menyukainya, tidak salah juga jika pria menyukai hal romantis tapi jika itu Robin, maka wajar saja aku bingung.
"Kamu baca novel romansa?"
__ADS_1
Dia mengangguk saat mendapati pertanyaan itu dariku, "Kamu menyukainya, jadi aku pikir itu bagus dan mencoba membacanya. Aku sangat ingin membaca novel mu" oh tidak! Panah cinta yang Robin luncurkan sangat tepat sasaran mengenai hatiku, sialan! Bagaimana caranya menolak pesona dari si tampan ini.
"Aku akan segera menerbitkan novelku saat sudah lulus kuliah, kamu tau, aku sudah mulai menulis skripsi dan itu sangat menyulitkan untukku"
Meskipun kami tidak berhubungan selama lebih dari 3 tahun tapi aku tidak merasa canggung sama sekali dengan Robin, aku juga tidak bertanya mengapa dia tidak menghubungiku selama ini. Hei, gengsi dong masa aku harus menanyakan hal seperti itu sedangkan kami tidak memiliki status apapun selain teman. Bahkan tidak bisa dikatakan teman.
"Benar, semoga kamu bisa menyelesaikan skripsimu. Aku tidak bisa menghubungimu selama 3 tahun lebih ini, Cel. Banyak hal darimu yang aku lewatkan"
Pernyataan Robin membuatku ingin melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini ada di kepalaku, tapi tidak kulakukan. Maksudku, aku bukan siapa-siapanya Robin sampai-sampai harus mengetahui tentang apa yang terjadi padanya.
"Aku kira kamu akan segera menerbitkan novelmu, jadi aku mencari ke seluruh toko buku untuk melihat apakah ada novel yang ditulis olehmu. Sayangnya tidak ada"
Aku terkekeh, tentu saja tidak ada karena aku tidak menerbitkannya. Novel pertamaku selesai aku tulis setelah aku masuk kuliah, awalnya memang ingin aku terbitkan. Tapi, semua rencana itu aku tunda terlebih dahulu karena berpikir untuk menerbitkan tujuh seri novel sekaligus.
"Sayang sekali ya, senang bertemu denganmu tapi aku harus segera pulang karena Av akan segera menelpon jika aku terlambat sedikit saja"
Wajah Robin terlihat sedikit tidak rela ketika mendengar perkataanku, aku sendiri tidak bisa mengerti Robin, dia seharusnya bisa mengabarimu lewat handphone ataupun meneleponku jika ingin tau mengenai kabarku. Tidak sulit, tapi entah kenapa dia tidak melakukannya, aku jadi berpikir bahwa Robin hanya ingin mempermainkan hati kecilku yang malang ini. Huhuu.
__ADS_1
Setelah Robin mengatakan iya, dia tidak sama sekali menawarkan tumpangan ataupun mengatakan hal lain padaku, aku sedikit kesal. Bukannya aku terlalu percaya diri, tapi sikap Robin tiga tahun yang lalu membuatku mengira bahwa dia menyukaiku.
Baiklah, berhenti memikirkan Robin. Aku harus mulai menulis skripsi lagi! AH!