Celesta & Tuan Antagonis

Celesta & Tuan Antagonis
Robin Menyebalkan!


__ADS_3

Kertas berserakan di kamarku membuatnya terlihat sangat berantakan, sudah lebih dari 2 bulan semenjak pertemuanku dengan Robin di toko buku. Setelah itu aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi, ini seperti kebiasaan Robin yang senang sekali menghilang.


Dia bahkan sama sekali tidak menghubungiku setelah percakapan kami waktu itu, seolah-olah semua itu tidak penting sama sekali. Aku sedikit kesal, SEDIKIT ya, rasanya seperti sebuah harapan yang tidak akan pernah terwujudkan. Awalnya aku kira Robin akan kembali menghubungiku setidaknya menyapaku melalui media sosial setelah percakapan kami waktu itu. Tapi, semua harapan itu pupus setelah 3 bulan aku menunggu. Aku terlihat seperti orang bodoh. Sialan.


Entah sejak kapan aku mulai menyukai Robin, tapi beberapa waktu yang lalu aku sangat berharap bahwa Robin akan sering menghubungiku. Aku tau kalau aku bukan siapa-siapanya yang pasti tidak harus baginya untuk menghubungiku, tapi sikap Robin waktu itu seolah-olah dia menyesal karena tidak bisa menghubungiku membuat harapan muncul di dalam diriku.


Sebuah ketukan di pintu membuatku menoleh, Kai masuk ke kamarku dengan nampan yang berisi cokelat panas dan cemilan, di luar hujan dan udara terasa sangat dingin. Cokelat panas adalah hal yang sangat baik di cuaca seperti ini. Kau memang yang terbaik!


"Berhenti dulu, Cel. Meskipun skripsimu penting tapi tetap ingat untuk istirahat, sudah 3 bulan kamu bergelut dengan kertas-kertas itu sehingga istirahatmu terganggu" benar, sudah lebih dari tiga bulan ini jam tidurku sangat terganggu karena tumpukan kertas penentu kelulusanku ini. Aku sangat lelah tapi tidak bisa jika harus menunda pekerjaanku lagi, aku ingin cepat-cepat lulus.


"Kalau begitu bantu aku Kai, kamu kan pandai dalam hal seperti ini" Kai terkekeh dan mengelus puncak kepalaku, lalu duduk di sofa yang terletak di dekat jendela. Kai sangat tampan dengan sweater biru langitnya yang sangat cocok dengan warna matanya. Tidak lupa juga kacamata yang terpasang di wajahnya membuat Kai terlihat semakin seksi.


"Tidak, kamu harus mengerjakannya sendiri Cel"

__ADS_1


Aku cemberut lalu menghela nafas, sudah beberapa kali aku meminta Kai untuk menyelesaikan skripsiku namun di tolak. Benar, Kai bilang kalau aku harus mengerjakannya sendiri agar aku tau bagaimana sulitnya untuk lulus sehingga aku lebih menghargai pekerjaanku.


"Ah, begitu terus. Kertas-kertas ini membuatku pusing Kai"


"Kamu hanya perlu mengerjakannya dengan santai, Cel. Tidak perlu terburu-buru karena hasilnya juga tidak akan baik"


Selalu begitu setiap kali aku mengeluh mengenai skripsiku, Kai hanya mengatakan bahwa aku harus lebih santai dan tidak terlalu memikirkannya "Kerjakan saja dengan santai" selalu kalimat itu yang aku dengar darinya.


Sebenarnya aku bisa saja mengerjakan skripsiku dengan santai, papa tidak pernah menyuruhku untuk cepat-cepat lulus kuliah agar tidak menjadi omongan tetangga, dia selalu bilang kalau aku harus menikmati masa-masa pendidikanku karena akan lebih sulit ketika aku memasuki dunia kerja. Di sini juga tidak ada keluargaku yang membandingkan aku dengan anak-anak mereka karena terlalu lama lulus kuliah. Aku sangat bisa bersantai.


"Aku bertemu dengan Robin beberapa bulan yang lalu" pernyataan ini membuat Kai menaikkan sebelah alisnya, memandangku dengan pandangan yang tidak bisa kujelaskan. Dia mengangguk dan diam untuk beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, "Ya, dia memang sering muncul di berita beberapa bulan ini. Keluarganya sedikit sulit di jelaskan, Robin berasal dari keluarga yang tidak akur. Persaingan untuk menjadi ahli waris pasti membuatnya sangat tertekan"


Aku menatap Kai dengan mata melotot selama ini aku selalu mengatakan semua hal yang berkaitan dengan Robin kepada Kai, tapi hal penting seperti ini malah baru dia katakan padaku sekarang. Bantal yang ada di dekatku aku lemparkan ke arah Kai untuk melampiaskan kekesalanku.

__ADS_1


"Kenapa kamu baru mengatakan hal itu sekarang? Aku sudah sangat berpikiran buruk tentang Robin selama ini" Kai memandangku dengan santai lalu menaikkan bahunya, dia berjalan ke arahku dan meletakkan bantal yang sempat aku lemparkan padanya tadi di kasur.


"Kamu selalu bersemangat setiap kali membahas tentang Robin, selama ini dia sedang berjuang untuk mendapatkan haknya sebagai ahli waris, sangat berbahaya jika kamu mengetahuinya dan bertindak sesukamu. Robin akan kesulitan jika kamu ikut terseret dalam hal ini" sebuah sentilan di dahiku yang diberikan oleh Kai membuatku sedikit berteriak dan menatapnya kesal. Aku memikirkan kembali perkataan Kai, benar, aku tidak tau hal bodoh apa yang akan aku lakukan ketika tau bahwa Robin mungkin saja dalam bahaya.


Tidak, aku mungkin tidak akan melakukan hal yang membahayakan nyawaku karena aku masih waras! Mana berani aku masuk ke kandang buaya ketika aku berusaha mati-matian untuk selamat dari takdir kematian. Tapi, bisa saja orang memanfaatkan aku untuk membuat Robin lemah. Itu sebabnya dia tidak pernah menghubungiku lagi beberapa tahun ini.


"Lalu kenapa kamu mengatakannya sekarang?" Kai membereskan kertas-kertas yang berserakan di lantai kamarku dan menaruhnya di meja nakas yang berada di samping tempat tidurku.


"Karena dia sudah berhasil mendapatkan haknya, dia sudah resmi menjadi ahli waris dari keluarga Eirlys. Apa kamu tidak melihat berita akhir-akhir ini, Cel?" Kai menyerahkan handphonenya padaku yang menampilkan artikel yang berjudul 'ahli waris resmi keluarga pebisnis terkenal Eirlys' aku menggulirkan layar handphone untuk melihat isi berita. Intinya media sudah mengetahui siapa ahli waris resmi dari keluarga pebisnis besar dan ada gambar-gambar tampan Robin terpampang sebagai sampul berita.


Kalau begitu kenapa dia tidak juga menghubungiku setelah berhasil menjadi ahli waris? Kami bahkan sempat bertemu beberapa bulan yang lalu tapi sama sekali tidak ada pesan ataupun telepon yang berasal dari Robin di handphoneku.


"Dia sama sekali tidak menghubungiku lagi bahkan setelah berhasil menjadi ahli waris" Kai mengangguk dan mengambil handphonenya, kemudian mengambil cokelat panas yang belum aku sentuh sedari tadi lalu memberikannya padaku. Aku meminumnya, sangat manis dan sangat enak!

__ADS_1


"Mungkin ada kesalahpahaman di antara kalian berdua, barangkali Robin ingin menghubungimu Cel, tapi dia takut kamu tidak akan menerimanya lagi dan marah padanya" aku memang sempat marah dan merasa kesal ketika melihat Robin di toko buku, tapi itu bukan berarti aku akan marah selamanya pada Robin 'kan? Meskipun percakapan di antara kami berdua sangat singkat waktu itu, tapi seharusnya dia sedikit berjuang dong!


Robin menyebalkan!


__ADS_2