
"Av, please deh jangan bersikap seperti ini. Masa kamu tidak mengizinkanku menikah seumur hidup sih?" Aku masih saja membujuk Avery agar dia berhenti mengusik kencanku dan Robin. Setiap kali aku dan Robin sedang kencan, Avery yang entah datang darimana tiba-tiba mengganggu kami.
Aku sama sekali tidak mengerti kenapa dia begitu posesif padaku, bahkan Kai tidak sampai seperti ini. Lagi pula bukannya sangat tidak adil ya? Avery sendiri memiliki kekasih si pemeran utama itu, masa dia tidak mengizinkanku untuk punya kekasih juga?
"Tidak, Cel. Tidak boleh, setidaknya bukan dengan Robin" aku menghela nafas, benar-benar keterlaluan. Avery sama sekali tidak menghargai pendapat dan keinginanku, dia dengan keras kepala menolak keinginanku untuk bersama dengan Robin.
"Kamu egois Avery! Kamu dari dulu dengan seenaknya bisa pergi bebas kemana saja tanpa perlu mengabari siapapun, tanpa harus dikawal oleh siapapun. Kamu juga dengan bebas bisa pacaran dengan siapapun, bahkan sampai sekarang" aku akhirnya melupakan segala emosi yang sudah kupendam selama ini, meskipun kehidupanku sangat nyaman dan damai, tapi terkadang aku tidak bisa hidup dengan bebas.
Sedari awal aku selalu diawasi dan dilarang untuk melakukan ini itu. Berbeda dengan Avery yang bebas melakukan apapun yang dia inginkan, terkadang aku merasa sedikit tidak adil dengan perlakuan mereka yang sangat posesif padaku, terlebih lagi Avery. Entah kenapa gadis itu selalu sangat, sangat, sangat posesif padaku.
"Bahkan dengan persetujuan mu ataupun tidak, aku akan tetap menginginkan Robin. Ini hidupku dan kamu sama sekali tidak bisa memegang kendali" aku pergi dari ruang keluarga, hanya ada aku dan Av memang. Suara teriakan Avery terdengar dari belakang, dia memanggilku namun kuhiraukan dia. Aku sudah terlanjur kesal dengan segala keegoisannya.
Setelah memasuki kamar aku mengunci pintu kamarku agar tidak ada seorangpun yang bisa masuk tanpa izin dariku. Aku dalam keadaan sedang tidak ingin diganggu sekarang, bahkan jika disogok oleh cokelat sekalipun.
***
Acara menutup diri pun harus berakhir ketika papa dan Kai sudah pulang ke rumah, mereka langsung menyuruhku ke bawah untuk makan malam dan tidak menerima penolakan sama sekali.
__ADS_1
Di ruang makan, Kai dan papa duduk bersebelahan, Sedangkan aku duduk di sebelah Avery. Suasana hening mungkin sedikit canggung karena biasanya ruang makan akan dipenuhi oleh Omelan Avery, rengekan dariku ataupun percakapan antara papa dan Kai, tapi kini semua orang terdiam. Sampai akhirnya papa membuka obrolan.
"Baik, bisa beritahu papa apa yang terjadi di sini?" Aku memandang papa lalu melihat Avery yang berada di sampingku, berharap bahwa lirikan mata dariku ini mampu menjelaskan semuanya. Tapi papa tidak puas dengan sebuah lirikan mata, dia kembali bertanya padaku tentang apa yang terjadi, aku menghela nafas lalu menceritakan semua yang terjadi tadi siang.
"Avery terlalu egois pa, selama ini aku berusaha menghargai keinginannya dan kata-kata darinya. Tapi apa yang aku dapatkan? dia sama sekali tidak pernah mau mendengarkan pendapatku, bahkan dengan egoisnya dia ingin menentukan dengan siapa aku harus menikah"
Avery menatapku tidak setuju, dia ingin melontarkan protes tapi mulutku lebih cepat daripada dia. Dengan cepat aku kembali berbicara tanpa membiarkan Avery membantah, bukannya selama ini aku sudah memberikannya banyak kesempatan untuk berbicara? Sekarang giliran ku untuk berbicara.
"Bukannya aku bebas untuk memilih dengan siapa aku ingin menikah selagi dia laki-laki baik? Sangat tidak adil jika Avery bebas menentukan pilihannya sedangkan aku harus menyerahkan masa depanku pada orang lain"
"Kamu yang seharusnya mendengarkan aku! Kamu hanya selalu ingin didengarkan tanpa mau melihat semua yang sudah terjadi, berapa kali Robin menyelamatkanku, dia memperlakukanku dengan baik, dia juga menghargai pendapatku. Darimana ya yang bukan orang baik?!"
Aku sangat kesal sekarang. Bahkan orang buta sekalipun bisa melihat kebaikan Robin, dia bukan orang jahat seperti yang Avery katakan. Sedari awal aku memang sedikit bingung, Avery didalam cerita sama sekali tidak memiliki kebencian apapun pada Robin. Tapi sejak aku datang kemari, Avery seolah sangat tidak menyukai Robin.
Avery diam saat perkataanku terlontar, barangkali dia sedang berpikir darimana jahatnya seorang Robin Eirlys. Bahkan di dalam novel sekalipun, Robin bukan sosok yang benar-benar jahat.
"Kalau begitu buktikan, aku akan melihat sikapnya selama kamu belum lulus kuliah ini. Jika ada sesuatu yang salah sedikit saja darinya, jangan harap kalian bisa menikah" Avery berdiri dan pergi dari ruang makan setelah mengucapkan kalimat itu. Aku menghela nafas lega, tanganku sedikit gemetar ketika bertengkar dengan Avery.
__ADS_1
"Tenanglah, Cel. Avery sudah mulai membuka hatinya, tidak perlu khawatir lagi" papa memegang tanganku dan sedikit meremasnya, Kai mulai mengambil piring dan menyendokkan makanan ke dalamnya lalu menyerahkan piring itu padaku, aku menerimanya. Lebih baik mengisi perut agar aku memiliki tenaga untuk menghadapi lalat pengganggu Avery.
***
Sudah lebih dari setahun sejak kejadian dimana aku dan Avery bertengkar cukup hebat, aku sudah wisuda dan berhasil mendapatkan gelar sarjanaku. Aku juga berhasil menerbitkan buku yang selama ini kusimpan, semua mimpiku menjadi kenyataan.
Benar, termasuk mimpiku untuk menjadi istri Robin Eirlys. Setahun ini banyak cara yang aku dan Robin lakukan untuk mendapatkan restu dari Avery, dari mulai mengucapkan kata-kata manis sampai menyerahkan sogokan padanya, sampai akhirnya Avery merestui hubungan kami. Setelah lebih dari setengah tahun aku lulus, Robin dan Ibunya melamar ke rumahku.
Waktu yang sangat membahagiakan bagiku saat itu, meskipun Avery masih sedikit tidak rela, tapi dia tetap memegang janjinya yang akan merestui kami jika Robin terbukti adalah seseorang yang baik. Sebulan lagi bahkan kami akan mengadakan pernikahan yang menurutku sedikit berlebihan, karena papa dan Kai bersikeras untuk mengadakan pernikahan mewah untukku dan mengundang kolega bisnis mereka.
"Sangat cantik, Cel. Sangat cocok untukmu"
Aku menoleh melihat Robin yang memasuki ruang ganti dan melihatku dengan gaun pengantin putih yang sangat cantik. Aku tersenyum senang mendapatkan pujian darinya, siapa coba yang tidak senang mendapatkan pujian dari pria tampan? Mungkin Avery.
"Terima kasih, Robin. Kamu juga sangat, sangat, sangat tampan" dia terkekeh ketika mendengar pujian berlebihan yang keluar dari mulutku. Sebenarnya sama sekali tidak berlebihan, Robin memang benar-benar sangat, sangat, sangat tampan. Dengan tubuh seksinya yang dibalut oleh tuxedo hitam mahal, serta rambut yang tertata rapi, semakin mengeluarkan aura seksinya. Rasanya aku ingin berteriak 'LIHAT CALON SUAMIKU SANGAT TAMPAN DAN SEKSI'
Tapi sepertinya tidak perlu, bisa-bisa Robin lari karena mengira aku ini gila. Duh, jangan sampai deh. Semoga saja pernikahan kami diberi kelancaran ya! Aku sangat menantikannya.
__ADS_1