
Kalian tau apa yang lebih mengejutkan daripada dapat undian berhadiah 100 juta? Aku sangat terkejut sekarang, lebih terkejut dibandingkan ketika nilai ujianku mendapatkan skor penuh, kenapa? Pasalnya Robin sedang berdiri di depan rumahku dengan pakaian santai. Aku kira paket yang kutunggu-tunggu akhirnya datang, dengan cepat membuka pintu dan menyodorkan uang ke orang yang berdiri di depan pintu.
Ketika aku mendongak melihat tukang paket yang tidak juga mengambil uangku, aku terkejut. Bukan tukang paket yang datang, tapi Robin yang sedang berdiri di depanku dengan wajah tersenyum seolah menertawakan kekonyolan diriku. Sialan! Dengan cepat aku mundur dan menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Aku benar-benar malu!
"Kenapa memberiku uang, Cel? Kamu tidak punya hutang padaku" rasanya ingin aku pukul Robin dengan pot bunga yang berada di sudut teras agar dia diam saja dan tidak membuatku tambah malu. Aku menutup pintu dan berlari ke kamar, mengabaikan Kai yang memanggilku dan bertanya ada apa. Aku sangat malu sekarang!
Sialan! Robin benar-benar definisi dari jailangkung, pergi tak dijemput pulang tak diantar. Dia tiba-tiba menghilang tanpa kabar dan tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan. Penampilanku sangat kacau ketika berhadapan dengan Robin tadi, hanya kaos hitam dan celana pendek serta sandal rumah, jangan lupa dengan rambut acak-acakan yang sudah dua hari tidak aku sisir, yang paling parah aku BELUM MANDI!
Aku membenamkan wajahku di bantal dan memukuli bantal yang tidak bersalah sama sekali, membayangkan bahwa itu adalah wajah Robin. Sangat menyebalkan!
Tidak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar, aku membukanya dan terlihatlah wajah tampan Kai yang menatapku dengan tatapan mengejek dan senyum konyol, "Pujaan hatimu datang malah kabur, kemarin-kemarin kamu bilang Robin menyebalkan dan memberikanmu harapan palsu. Sekarang orangnya sudah di depan mata malah menghindar"
Aku menatap Kai dengan kesal, memukulnya dengan bantal yang kupeluk sedari tadi, entah sejak kapan Kai senang sekali mengejekku. Ini sangat menyebalkan. Bukannya aku menghindari Robin, tapi situasiku saat ini sangat memalukan! Dengan penampilan acak-acakan dan kelakuanku yang menyodorkan uang ke Robin sangatlah memalukan.
"Aku malu Kai, aku kira dia tukang paket lalu aku beri uang! Ah, benar-benar menyebalkan! Dia datang tanpa pemberitahuan sama sekali" Kai tertawa setelah mendengarkan perkataanku, dia mengelus rambutku lalu memutar tubuhku dan mendorongku masuk ke kamar. Di bukanya lemari pakaianku dan dia ambil handuk yang di gantung di kamar mandi.
__ADS_1
"Mandilah, Robin ke sini untuk mengajakmu pergi. Lebih tepatnya, berkencan" aku terkejut ketika Kai mengatakan itu, hei, Robin sangat tidak bisa di tebak. Kai juga sama sekali tidak terlihat marah! Biasanya, jika ada pria yang mendekatiku Kai akan menanyakan seribu pertanyaan dan menatap orang itu dengan tajam, dia juga terus mengatakan padaku tentang keburukan-keburukan pria. Sekarang dia malah menyuruhku untuk pergi. Sangat aneh.
"Sejak kapan kamu dekat dengan Robin?" Kai mengangkat bahunya dan menatapku dengan senyum mencurigakan, aku menatapnya dengan pandangan waspada.
"Cepatlah Cel, Robin sudah menunggumu" dia mendorongku masuk ke kamar mandi lalu keluar dari kamarku, oke, berhenti memikirkan tentang sikap mencurigakan Kai, lebih baik aku cepat-cepat mandi dan bersiap-siap untuk menemui Robin. Aku sedikit bersemangat.
Setelah selesai bersiap-siap, aku pergi menuju ruang tamu yang ternyata sudah ada Papa, Kai dan Robin di sana. Avery sedang pergi dengan pacarnya, dia lebih sering menghabiskan waktunya untuk bekerja dan berpacaran sekarang. Tiga orang yang sedang mengobrol di ruang tamu menoleh menatapku.
"Cel, sini, kamu tidak pernah bilang kalau kamu berteman dengan Robin" aku mendekati papa dan duduk di sampingnya. Menatap papa dengan tersenyum canggung, mana mungkin aku menceritakan tentang Robin pada Papa, selama ini statusku dan Robin tidak jelas sama sekali.
Setelah lebih dari sepuluh menit papa dan Robin mengobrol, akhirnya papa mau melepaskan Robin juga. Robin pamit ke papa untuk mengajakku pergi, tentu saja papa mengizinkan. Entah bagaimana papa dan Kai bisa sangat akrab dengan Robin, aku hanya ingin mengacungkan jempol padanya karena bisa menjinakkan dua orang posesif ini.
Setelah masuk ke mobil Robin membawaku pergi, aku tidak tau ke mana yang penting ikuti saja dulu. Keheningan terjadi di antara kami berdua, aku merasa canggung dan tidak tau ingin mengatakan apa sedangkan Robin sepertinya memang tidak ingin berbicara apapun. Sampai akhirnya kami sampai di restoran makanan penutup tempat yang terakhir kali kami kunjungi pada saat sekolah menengah.
Robin turun duluan dan membukakan pintu untukku, oh senangnya dalam hati! Robin sangat gentle! Bukan gentle Jen ya, UPS. Hatiku rasanya sangat bahagia dan jantungku berdebar kencang, apalagi ketika tangan Robin menggenggam tanganku dan menarikku pelan ke restoran.
__ADS_1
Robin memesankan beberapa makanan penutup yang tentu saja semuanya terdiri dari cokelat, sangat, peka, perhatian, pengertian, tampan, kaya raya dan seksi. Tipe suami idamanku.
"Sudah lama sejak terakhir kali kita ke sini Cel, dulu kamu masih seorang remaja yang manis" Robin menatapku dalam, aku balas menatapnya dan tersenyum. Robin bilang aku manis, dia bilang aku MANIS.
"Iya, makanan di sini enak" aku tidak tau ingin mengatakan apa lagi, sangat canggung rasanya dan aku salah tingkah setiap berhadapan dengan Robin! Bagaimana tidak, Robin sangat tampan sehingga aku tidak mampu mengendalikan diri.
Robin hanya terkekeh ketika melihat gelagatku, dia kemudian diam sampai makanan dan minuman yang kami pesan sampai, setelah mengucapkan terima kasih kepada pelayan yang mengantarkan pesanan kami, aku langsung memakan kue cokelat yang ada di hadapanku. Cokelat sangat bermanfaat untuk meredakan rasa gugup.
"Mungkin sudah lama sekali kita tidak saling menghubungi, tapi aku mempunyai alasan tersendiri, Cel. Semuanya demi kenyamananmu" Robin kembali membuka mulutnya, aku yang tadinya sedang memakan kue cokelat langsung menatapnya. Tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Robin demi kenyamananku.
"Kalau begitu kenapa setelah kita bertemu tiga bulan yang lalu kamu tetap tidak menghubungiku?" Pertanyaan ini terlontar begitu saja, sama sekali tidak aku rencanakan membuatku ingin menepuk mulutku karena tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Aku kira kamu tidak akan mau memaafkan ku, kamu pergi begitu saja waktu itu. Aku kira kamu menghindari" oh, sebenarnya aku memang menghindari Robin, meskipun Avery mungkin akan mengomel dan mencariku jika aku pulang terlambat tapi itu sama sekali bukan masalah yang besar, aku hanya tinggal membujuknya atau membuat alasan saja. Aku hanya merasa canggung dan sedikit kecewa waktu itu karena aku sama sekali belum tau tentang keadaan Robin.
Ketika kami sedang berbicara dengan santai, sebuah suara menyebalkan menyapaku. Theodor, pria yang sudah 5 tahun ini tidak pernah kutemui dan kudengar kabarnya kembali menyapaku.
__ADS_1