
Hari kelulusan sudah tiba, artinya Kai dan Av sudah lulus dari Sekolah Menengah dan akan meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, itu juga berarti Theodor juga sudah lulus dan tidak akan pernah mengusikku lagi. Yuhuu! A la la like it, like it.
Bebas dari Theodor rasanya seperti bebas dari penjajah yang kejam, sangat menyenangkan. Sayang sekali Robin juga akan lulus dan aku tidak akan bisa melihat wajah tampan dan tubuh seksinya lagi, Huhuu.
Tapi, tidak apa-apa, setidaknya masa SMA yang aku jalani tidak akan terlalu suram karena Theodor yang terus menggangguku akan segera hengkang dari sekolah ini, aku akan menjalani kehidupan sekolah seperti murid biasa tanpa adanya gangguan ataupun drama picisan yang seringkali Theodor lakukan.
Aku juga sedikit sedih karena berarti tidak akan ada Kai dan Av yang akan menemaniku makan di kantin lagi, hanya tersisa Zurie si gadis cerewet yang selalu mengikutiku kemana-mana.
"Cel, aku akan merindukanmu" Av dengan segala drama yang ada pada dirinya memelukku dengan erat seolah kami akan berpisah untuk waktu yang lama, padahal aku dan dia satu rumah. Sangat menyebalkan, aku menatap Kai yang hanya menggeleng ketika melihat tingkah Avery.
"Jika ada yang mengganggumu di sekolah langsung beritahu aku, biar kujambak rambutnya!"
Tidak, terima kasih. Aku bisa melakukannya sendiri bahkan tanpa bantuan Av, menjambak rambut seseorang adalah sesuatu yang mungkin bisa menjadi keahlianku. Bercanda, mana ada orang yang menjadikan kekerasan sebagai sebuah keahlian, kecuali Theodor sih.
"Berhenti membuat drama Av, papa sudah menunggu kita untuk foto bersama" Kai yang hanya berdiam diri sedari tadi akhirnya bicara dan menarik Av yang masih memelukku, menyeretnya menuju papa dan menoleh kearahku, aku langsung mengikuti Kai.
"Untung saja Theodor lulus di tahun yang sama dengan kami, jadi dia tidak akan bisa mengganggumu di sekolah" sebuah usapan lembut di kepalaku membuat aku sedikit tersenyum, Kai selalu saja membuat hatiku meleleh, jika saja aku bukan adiknya mungkin saja dia sudah aku jadikan idola nomer satu.
"Kalau dia menggangguku tinggal aku jambak saja"
__ADS_1
"Jambak apanya, tenagamu itu kurang dalam hal menjambak Cel. Cengkraman tangan yang berasal dari Theodor sepertinya tidak juga menyadarkanmu"
Avery menjulurkan lidahnya mengejekku, biarlah dia mau mengatakan apa, yang penting aku pernah membuat Theodor sengsara dengan tendangan mautku. Hahaha. Aku masih teringat saat dimana aku menendang masa depannya yang membuat Theodor tidak bisa berkutik lagi, meskipun akhirnya aku juga jatuh tengkurap karena dia menarik kakiku.
"Jangan nakal Cel, jangan mengikuti jejak Avery yang sering mencari masalah di sekolah" sebuah suara berat terdengar dari arah belakang kami, Papa, dengan tubuh yang seksi dan rambutnya yang mirip dengan rambut Kai membuat mereka berdua seperti anak kembar. Jika saja Kai tidak mendapatkan mata biru yang berasal dari mama, mungkin aku benar-benar akan mengira kalau papa adalah saudara kembarnya Kai.
"Aku tidak pernah nakal Pa, aku bukan Av yang suka mencari masalah"
Avery memelototi aku ketika kalimat itu keluar dari mulutku, memang benar 'kan? Avery sangat mudah terpancing emosi sehingga dia seringkali mendapatkan masalah di sekolah.
Berbeda denganku yang masih bisa menahan sedikit, SEDIKIT, emosiku. Av lebih menggebu-gebu dan sangat buruk dalam hal menahan emosi, dia sama sekali tidak bisa mengendalikan emosinya.
Robin menatapku dalam dan mengulurkan tangannya padaku, dia menarikku tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada papa, Kai dan Av sehingga membuat teriakan Avery menggelegar sangat keras. Aku menoleh ke belakang, terlihat bahwa Kai sedang menahan Avery yang ingin berlari ke arah kami dan siap mengamuk. Mengerikan.
Robin membawaku ke tempat yang sedikit sepi, dia menuntunku untuk duduk di sebuah bangku yang ada di taman sekolah, "Apa yang akan kamu lakukan setelah hari kelulusan mu nanti Cel?"
Pertanyaan itu membuatku sedikit terkejut dan bingung, pasalnya Robin sangat mendadak dan tidak bisa ku prediksi, sama halnya ketika dia tiba-tiba menawariku cokelat dan mengantarku ke rumah. Sama sekali tidak dapat ditebak.
"Mungkin aku akan kuliah di jurusan bahasa dan sastra, aku ingin menjadi penulis" hanya itu yang bisa kupikirkan ketika mendapatkan pertanyaan dari Robin. Aku hanya mahir dalam hal menulis novel, skripsi dan novel adalah dua hal yang berbeda tentu saja. Jangan bertanya padaku kenapa aku tidak bisa menulis skripsi sedangkan aku bisa menulis novel, karena keduanya berbeda.
__ADS_1
Novel adalah sebuah imajinasi ku yang aku realisasikan dalam bentuk tulisan, sedangkan skripsi harus memuat data yang sesuai fakta dan hasil dari penelitian beberapa sumber sehingga membentuk informasi yang konkret.
Aku tidak memiliki keahlian lain selain menulis novel, suaraku tidak bagus, aku tidak bisa melukis seperti Av, apalagi melakukan pencak silat seperti Kai, otak kecilku juga tidak pintar sehingga tidak akan cocok jika aku harus bekerja menjadi karyawan kantor ataupun mengelola bisnis.
Hanya menulis yang aku bisa.
"Kalau bisa aku ingin membuat toko buku dan menjadi penulis terkenal yang karyanya diketahui dan disukai banyak orang"
Robin menatapku sambil tersenyum lalu memberikan handphonenya padaku, aku kembali menatapnya bingung, tidak mengerti harus melakukan apa. Kemudian aku teringat ketika di kantin dan Robin juga menyerahkan handphonenya padaku. Aku mengambil handphone dari tangan Robin lalu mengetik nomor handphoneku.
Ngomong-ngomong soal handphone, aku sudah mendapatkan handphone baru yang dibelikan oleh Kai. Kalau kata Kai supaya aku bisa mengabarinya jika ada sesuatu yang terjadi padaku. Terlebih lagi handphone yang diberikannya padaku adalah handphone mahal yang pastinya tidak akan mampu aku beli.
"Hubungi aku jika kamu sudah menerbitkan buku pertamamu Cel, aku menantikannya"
Uhh! Bagaimana bisa Robin mengatakan hal yang membuat jantungku berdisko ria. Dah Dig dug begitulah bunyinya sekarang, seperti dipompa oleh pompa ban sepeda, jantungku berdetak dengan sangat cepat. Maksudku, siapa yang tidak akan salah tingkah jika pria tampan nan seksi mengatakan hal seperti itu padanya? Aku rasa tidak akan ada wanita yang mampu menahan pesona dari Robin. Sialan! Kalau Robin begini terus bisa banyak sainganku.
Oke, berhenti memikirkan itu, Avery yang tadinya berhasil ditahan oleh Kai sedang berjalan ke arah kami dengan wajah marah dan tangan mengepal siap untuk menjambak rambut Robin. TIDAK!
Aku dengan sigap berdiri di hadapan Robin mencegah Av menjambak rambutnya. Tidak ada yang boleh menyakiti pria SEKSI!
__ADS_1