
"Theodor jangan gila! Tidak bisakah kita bicara baik-baik?" Entah sudah berapa lama aku membujuk dan mencoba berbicara secara baik-baik dengan Theodor yang sekarang mengurungku di sebuah rumah tidak berpenghuni yang aku sendiri tidak tau di mana letak pastinya.
Begini, tadinya aku pergi ke supermarket ingin membeli cokelat yang sudah lama tidak aku makan. Supir yang Robin suruh mengantar dan menjemputku juga ingin ikut masuk menemaniku, tapi karena aku tidak ingin diikuti, jadi dia ku suruh menunggu saja di mobil. Tidak pernah aku sangka bahwa penculikan juga bisa terjadi di supermarket, bahkan CCTV sama sekali tidak berfungsi karena sudah disabotase oleh seorang Theodor.
Mereka membekap mulutku dengan sesuatu yang aku tidak tau apa itu, membuatku tertidur sampai akhirnya aku sudah berada di sini saat membuka mata. Sosok menyebalkan Theodor adalah yang pertama kali aku lihat saat aku terbangun, dengan tampang menyebalkannya dan baju rapi seperti ingin ke kantor dia berjalan ke arahku dan mulai menyentuh wajahku. Aku menghindar tentu saja! Sama sekali tidak sudi disentuh oleh pria gila sepertinya.
"Kamu akan tetap bersamaku, menikah denganku dan menjadi istriku. Itu yang selama ini kamu mau kan, Cel?"
Otak Theodor sepertinya sudah rusak dan menyebabkannya menjadi gila, padahal sudah lama sekali pembatalan pertunangan kami resmi terjadi. Seharusnya dia tau bahwa aku dan dirinya sama sekali bukan tunangan lagi. Aku tidak tau apa yang menyebabkan Theodor sepertinya sangat terobsesi denganku, tapi ini benar-benar mirip dengan dirinya yang pernah ku baca di novel. Orang yang akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Sangat sial! Aku kira aku sudah terbebas dari takdirku diculik oleh Robin, tapi ternyata ini hanya berganti orang saja, nasibku tetap sama. Kenyamanan dan kedamaian yang selama ini aku rasakan membuatku lupa bahwa mungkin saja kejadian seperti ini bisa terjadi. Ibarat takdir yang sudah ditetapkan, mungkin saja aku memang tidak bisa selamat, hidup selama ini mungkin bisa menjadi suatu keberuntungan dalam hidupku.
__ADS_1
"Kita sudah bukan siapa-siapa lagi, pertunangan kita sudah dibatalkan lebih dari 5 tahun yang lalu! Kamu yang menginginkannya" mencoba mengingatkan Theodor, barangkali dia kehilangan ingatan serta akal sehatnya karena terbentur di suatu tempat. Tapi, sepertinya otak gila Theodor sama sekali tidak mau mengerti tentang apa yang aku katakan.
"Diam! Kamu tetap tunanganku, kamu pikir aku menghilang selama ini dan tidak pernah menemuimu? Aku selalu mengikutimu, di kampus, di rumahmu, dimanapun kamu berada! Kamu pikir aku tidak tau kemana kamu kemarin? HA!" Sebuah bentakan dan juga suara pecahan kaca terdengar membuatku sedikit terkejut, aku mundur menjauh dari Theodor. Sial! Sama sekali tidak ada jendela di kamar ini hanya ada ventilasi kecil dan sebuah pintu yang sudah Theodor kunci. Aku sama sekali tidak bisa kabur!
Theodor mendekatiku, mencoba menggapaiku, namun dengan cepat aku menghindar. Tubuhku mulai gemetar, siapa yang tidak akan merasa takut dalam keadaan seperti ini? Hanya saja aku berusaha untuk tidak menunjukkan wajah takutku pada Theodor.
"Lepaskan aku, kamu masih muda, kaya, tampan dan pastinya banyak gadis mengejarmu. Jadi, lepaskan aku dan hidup dengan damai saja Theodor! Yang kamu lakukan ini adalah tindakan kriminal. Kamu menculikku!" Theodor menarikku dengan kasar dan mendudukkan ku di kursi.
"Kita akan segera pergi jauh dari sini dan hidup bahagia bersama" senyuman manis yang menurutku sangat mengerikan terpampang di wajah Theodor. Dia gila! Aku benar-benar harus keluar dari sini dan melarikan diri.
"Kamu gila! Aku tidak mau menikah dengan orang gila sepertimu!" sebuah cekikan membuatku tidak bisa bernafas, Theodor dengan kasarnya mencekikku dan menatapku ganas, Seolah-olah ingin membunuhku. Lihat, dia sama sekali tidak mencintaiku.
__ADS_1
"Sudah kubilang turuti saja perkataanku! Robin sama sekali bukan apa-apa, dia bukan apa-apa! Kenapa semua orang terus saja lebih menyukainya dibandingkan denganku?!" Aku menatapnya lemas, tubuhku sama sekali tidak bisa digerakkan. Jika saja Theodor tidak juga melepaskan cekikannya dariku sudah bisa dipastikan bahwa aku akan mati saat ini juga. Tapi, untungnya dia melepaskan cekikannya dariku dan memelukku. Aku sama sekali tidak mempunyai tenaga untuk memberontak.
"Kamu juga lebih menyukainya daripada aku, dia jelas tidak lebih baik dariku. Iya 'kan? Dia tidak lebih baik dariku" tentu saja aku hanya diam saja tidak menanggapi perkataan Theodor, bagaimana mungkin aku bisa berbicara jika Theodor mencekikku cukup lama? Aku hanya bisa memastikan bahwa Theodor benar-benar sudah gila dan tidak waras. Barangkali ada syaraf di otaknya yang rusak.
"Robin adalah anak haram Cel, kamu tau? Dia anak haram. Mereka bilang ibuku sudah merebut ayahku dariĀ wanita itu, tapi tidak mungkin 'kan. Wanita itulah yang sudah merebut ayahku! Pasti salah wanita itu, salah ibu dari pria bajingan itu" dia mencengkram kedua pundakku dengan kuat membuatku meringis kesakitan, Theodor benar-benar sudah gila.
"Kamu tau apa yang terjadi pada keluargaku setelah aku lulus? Ayahku ingin kembali dengan wanita itu lagi, ibuku gila, semua orang membandingkan ku dengan Robin pria brengsek itu. Kenapa dia bisa mengambil alih keluarga Eirlys?! Kenapa?!" Dia berteriak di depan wajahku. Aku berusaha menjauh dari Theodor tapi sama sekali tidak bisa karena kekuatan Theodor jelas jauh lebih kuat dibandingkan denganku.
"Jika saja pria bajingan itu tetap bersembunyi di sangkarnya dan tidak memperlihatkan dirinya di media, ayahku tidak akan tau jika ibunya masih hidup! Ayahku tidak akan meninggalkan ibuku dan ibuku tidak akan gila! Jika saja dia tidak berusaha mengambil alih keluarga Eirlys dan tetap rendah hati sebagai anak haram, semua ini tidak akan terjadi padaku!" Aku mengerti sekarang, tapi aku sama sekali tidak mengerti mengapa semua ini menjadi salah Robin? Bahkan jika keluarga Theodor menjadi hancur karena semua ini, Robin sama sekali tidak bersalah.
"Dia bahkan mengambilmu, padahal kamu dulu sangat menyukaiku, Cel. Dia bahkan mengambilmu!" Aku menepis lengan Theodor yang menjambak rambutku, melihat sebuah pecahan kaca yang berada di dekatku, aku dengan cepat mengambilnya dan menggores tangan Theodor yang menjambak rambutku. Theodor akhirnya melepaskanku, aku menjauh darinya secepat mungkin.
__ADS_1
"Kemari Celesta!"
"Tidak mau dasar bajingan!"