
Semua yang terjadi benar-benar seperti mimpi bagiku, Theodor yang tiba-tiba menculikku, semua luka yang ada di tubuhku akibat ulah Theodor dan juga wajah menyebalkannya ketika sedang tersenyum. Aku sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa hal seperti ini akan terjadi, jika begini lebih baik diculik oleh Robin yang tampan dan seksi daripada harus diculik dan disiksa oleh iblis seperti Theodor, setidaknya Robin pasti tetap memberiku makan.
Theodor entah apa yang ada dipikirannya terus saja memandangiku sambil tersenyum horor! Sama sekali tidak memberiku makan. Mungkin dia pikir aku adalah boneka kesayangan yang tidak perlu diberi makan. Aku juga tidak berani mengeluh takut dia kumat dan mulai memecahkan barang lainnya atau menyakitiku lagi.
"Aku tidak bisa bersamamu terus di sini Cel, aku harus menyiapkan barang-barang dan hal-hal yang akan kita bawa nantinya. Tunggu aku kembali ya, sayang?" Sayang kepala bapakmu! Ingin sekali aku mengatakan kalimat itu pada Theodor, tapi situasiku sama sekali tidak mendukung, mentalku yang tadinya setebal kertas skripsiku sekarang menipis menjadi tisu dibagi dua. Aku takut! Jadi aku hanya bisa diam sambil menatap marah kearah Theodor yang sepertinya masih bisa mentolerir hal sepele seperti tatapan mataku.
Dia mendekat kearahku lalu mencium keningku dan mengambil kunci pintu yang berada di saku celananya, aku melihat ke arah kunci itu, jadi selama ini kunci yang seharusnya bisa menyelamatkan hidupku berada di saku celana Theodor?! Betapa bodohnya aku tidak memikirkan hal ini dan hanya diam saja menunggu pertolongan.
Theodor akhirnya pergi dan mengunci kembali pintu, tidak ada jalan keluar lagi di sini, hanya ada satu pintu dan ventilasi yang sangat kecil di sini. Bahkan tidak ada kamar mandi, Theodor benar-benar gila dan sudah merencanakan hal ini, bagaimana jika aku ingin buang air kecil atau buang air besar? Masa aku harus menggali tanah sih?! Dia sama sekali tidak meninggalkan celah agar aku bisa kabur.
Aku berkeliling melihat rumah yang sepertinya bukan rumah ini, lebih seperti bekas gudang dibandingkan dengan tempat tinggal seseorang. Tidak masuk akal jika sebuah rumah tidak memiliki jendela atau kamar mandi. Aku melihat dan mencari sesuatu yang bisa kujadikan sebagai kunci atau mungkin jalan keluar. Aku harus segera pergi dari sini!
__ADS_1
Sampai akhirnya mataku tertuju pada kawat tangkai bunga yang tadinya berada di vas cantik kini tergeletak di lantai karena Theodor membantingnya, kalau di film-film biasanya orang membuka pintu menggunakan kawat dan berhasil. Aku harus mencobanya!
Mencoba membentuk kawat seperti di film agar bisa menjadi kunci pintu, tapi sayangnya tidak semudah itu! Sangat sulit untuk membentuk kawat bunga yang sedikit keras. Tentu saja aku tidak boleh menyerah, ini demi keberlangsungan hidupku agar kembali nyaman dan damai seperti sebelumnya. Setelah setengah jam kira-kira aku sibuk dengan kawat di tanganku yang menyebabkan tanganku merah, akhirnya kawat itu berhasil kubentuk seperti yang ada di film.
Saat kucoba ternyata juga tidak semudah kelihatannya, ini sangat sulit SIALAN! Tubuhku rasanya sangat lelah, mataku sedikit memburam tapi tetap kupaksakan kesadaranku supaya bisa keluar dan kabur dari sini. Syukurnya setelah percobaan keenam akhirnya pintu berhasil terbuka. Aku melihat sekeliling, ini benar-benar gudang! Tapi aku dikurung di salah satu ruang yang terkunci, gudang ini tidak memiliki pintu dan sepertinya sudah terbangkalai. Tidak membuang kesempatan aku dengan cepat berlari kabur dari sini, setelah berlari jauh aku akhirnya bertemu dengan jalan raya.
"Akhirnya" hanya itu yang bisa kukatakan karena setelah itu badanku seperti jelly, meluruh ke tanah tidak bisa menopang berat badanku lagi. Aku benar-benar lelah dan juga kesakitan, di sini sepi, meskipun ada beberapa orang yang lewat mereka sama sekali tidak berniat menolongku bahkan untuk bertanya pun tidak.
"Celesta! Berhenti sekarang juga" bodoh, dia pikir aku mau berhenti dan kemudian kembali ditangkap olehnya? Kalau begitu buat apa aku susah-susah kabur. Mengabaikan perkataan Theodor, aku tetap berlari menghindarinya. Berbelok ke arah setiap tikungan yang ada agar dia kesulitan mencariku, tapi sepertinya kecepatanku kalah darinya. Theodor dengan cepat menyusul dan menangkap ku, menarikku dengan paksa ingin membawaku kembali ke tempat dia menculikku tadi.
"Ayo kita kembali, jangan berulah Celesta!" Aku sangat muak dengan semua kata yang keluar dari mulut Theodor, seharusnya dia yang jangan berulah dan biarkan saja aku pulang ke rumah!
__ADS_1
"Lepaskan aku Theodor! Aku sama sekali tidak sudi kembali denganmu. Keluargaku pasti sedang mencariku kini, aku muak denganmu, dasar bajingan!" Sebuah tamparan dan jambakan membuatku sedikit terkejut dan mulai ketakutan, seumur hidupku hanya Theodor seorang yang berani memperlakukanku seperti ini, bahkan ketika aku hidup sebagai Rin, tidak pernah sekalipun aku diperlakukan kasar.
Tidak ada seorangpun di sini! Entah di mana ini tapi tempat ini seperti tidak berpenghuni sialan! Masa tidak ada orang yang lewat sama sekali?! Theodor memandangku dengan tajam dan menarik rambutku dengan sangat kasar, dia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan menatap mataku seolah ingin membunuh.
"Jangan bantah ucapanku, turuti saja. Ini bukan sesuatu yang sulit Celesta" enak saja dia bilang bukan sesuatu yang sulit, ini sangat sulit bagiku sampai-sampai aku ingin menangis rasanya. Tapi tidak boleh, aku tidak boleh menangis dihadapan Theodor dan membuatku terlihat lemah didepannya!
Gonggongan anjing terdengar membuat kami berdua menoleh, seorang wanita tua berdiri melihat ke arah kami dengan pandangan curiga. Aku melihat ke arahnya meminta pertolongan tapi sayangnya wanita itu kemudian pergi tanpa mengatakan apapun, mengabaikan ku yang jelas-jelas sedang di siksa oleh Theodor. Melihat tingkat kewaspadaan Theodor yang menurun aku dengan cepat mengambil celah, aku menggigit tangannya dengan keras membuat tangan Theodor berdarah akibat gigitan ku dan membuatnya melepaskan jambakannya dariku, lalu kutendang masa depannya. Rasakan!
Aku mengambil kesempatan untuk kembali berlari sekencang mungkin agar Theodor tidak bisa mengejarku, teriakannya terdengar sangat kencang memanggil namaku, bodo amat! Aku tidak akan menoleh ke belakang dan hanya akan berlari menjauh darinya. Namun saat aku berlari sebuah mobil besar lewat dan menabrakku, pada saat itu juga kesadaranku hilang.
Hahaha. Sepertinya aku mengerti apa yang Celesta asli rasakan pada saat seperti ini, padahal dulu aku mengatainya bodoh karena tidak melihat-lihat saat menyeberang.
__ADS_1