
Satu-satunya hal yang sangat aku sesali adalah kelalaianku dalam menjaga adik tersayangku. Bahkan meski pernikahanku dan Galih sudah lama terjadi, rasa penyesalan tidak pernah hilang dari diriku. Semuanya akibat obsesi yang pria itu rasakan padaku, semua ini tidak akan terjadi jika bukan karena Robin Eirlys.
Saat sedang dalam perjalanan menuju makam adikku, Celesta, aku mengalami kecelakaan karena seorang anak kecil yang menyeberang sembarangan. Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Betapa senangnya aku ketika memikirkan Celesta yang masih hidup di masa sekarang.
Aku menjaganya dengan sekuat tenaga, mengupayakan segala cara untuk menghindari Robin Eirlys dan menjauhkannya dari adikku, Celesta. Tapi semua usaha yang aku lakukan entah kenapa terasa sia-sia ketika Robin menghampiri kami di kantin.
__ADS_1
Tubuhku menegang ketika mengingat bagaimana dia menculik Celesta, berusaha menenangkan diriku dan berusaha memberikan minum pada Celesta.
"Berhenti memandangi adikku Tuan Eirlys. Dia. Tidak. Nyaman." Aku berusaha memberitahunya untuk menjauh dari adikku, tapi Robin sama sekali tidak mendengarkan. Dia menawarkan cokelat pada, Cel, aku takut. Takut kalau Robin berniat meracuninya.
Semua itu berlalu begitu saja, Celesta dan Robin bahkan sama sekali tidak berhubungan lagi setelah itu, aku merasa sedikit lega. Namun, merasa sedikit aneh karena Robin Eirlys bahkan tidak menunjukkan ketertarikannya sama sekali padaku. Apa mungkin masa depan sudah berubah? Tidak, aku tidak boleh lengah.
__ADS_1
Saat lulus dari sekolah menengah, aku berpikir bahwa semua sudah selesai. Robin sama sekali tidak berbuat hal aneh, pertunangan Celesta dan Theodor sudah batal, bahkan tidak ada adegan penculikan yang dilakukan oleh Theodor.
Namun saat Theodor meminta Celesta untuk mengikutinya aku panik, takut kalau dia melakukan hal yang buruk, Kai menahanku agar tidak menyusul mereka. Aku tidak mau, adikku sedang bersama seseorang yang berbahaya. Aku menyusul mereka dan membawa Celesta menjauh darinya, tidak akan kubiarkan Robin menyakitinya kali ini.
Lebih dari lima tahun rasa damai dan tentram membuatku kembali berpikir bahwa semua sudah baik-baik saja, tapi kemudian Robin kembali muncul, mendekati Celesta. Bahkan saat kejadian dimana Celesta diculik oleh Theodor, Robin menjadi pahlawan. Aku bingung, takut, marah dan frustasi. Aku merasa dipermainkan oleh takdir, bagaimana bisa orang yang membunuh adikku di masa lalu malah menjadi pahlawannya sekarang?
__ADS_1
Saat Celesta mengatakan bahwa dia ingin menikah dengan Robin, aku sangat marah, takut, serta kecewa karena melihat betapa bersikerasnya orang yang kulindingi melawanku demi bersama dengan pembunuhnya di masa lalu. Tidak akan kubiarkan Robin dan Celesta menikah, bisa saja ini hanya akal-akalan Robin untuk menyiksa adikku. Aku tidak boleh lengah.
Tapi Celesta sangat keras kepala ingin tetap menikah dengan Robin dan mengatakan bahwa aku egois. Melihat sikapnya yang keras kepala itu, aku akhirnya membuat kesepakatan dengan Celesta, aku akan melihat sikap Robin untuk satu tahun ke depan. Tidak akan aku biarkan adikku masuk ke bahaya seperti di masa lalu. Aku benar-benar harus menjaganya, Robin beebahaya.