
Berita baik muncul setelah 5 hari aku sadar, Theodor sudah ditemukan dan sekarang berada di kantor polisi. Selama ini, aku merasa sangat tidak nyaman dan tidak tenang selama Theodor belum ditemukan. Setiap malam, rasa takut muncul, membuat aku tidak bisa tidur. Aku takut dia akan menculikku lagi! Perlakuan kasar Theodor sepertinya menimbulkan sedikit trauma pada diriku.
Aku bukanlah lemah, bayangkan saja siapa yang tidak akan mengalami trauma setelah mengalami kejadian mengerikan seperti itu. Terlebih lagi, aku hampir mati ketika lari dari kejaran Theodor. Aku ingin meminta maaf sambil memijit Celesta yang sebenarnya karena pernah berpikir dia bodoh dan tidak melihat-lihat dulu saat menyeberang, sekarang aku mendapat karma. Aku hampir mati karena tidak memperhatikan sekitar saat menyeberang. Untung saja tidak mati.
Robin selalu menjaga aku setiap hari. Dia datang ke sini setiap hari seolah-olah dia adalah pengangguran yang hanya bekerja untuk menjagaku. Dari pagi hingga malam, dia berada di rumah sakit tanpa memegang handphone dan hanya mengurusku. Aku dan Robin semakin dekat karena hal ini. Aku tidak lagi malu untuk memberikan kode padanya agar dia segera memperjelas hubungan kami.
"Terima kasih, Robin, sudah banyak membantuku. Tapi kamu tidak perlu repot-repot kok, pacarku saja tidak melakukan hal seperti ini," ujarku. Robin hanya tersenyum dan menyentil dahiku pelan, sama sekali tidak sakit.
"Memangnya kamu punya pacar? Kamu tidak punya, Cel," balas Robin sambil menyuapkan makanan rumah sakit padaku. Padahal sudah beberapa kali kutolak. Aku sangat tidak menyukai makanan rumah sakit yang rasanya hambar dan tidak enak.
"Kalau begitu, kamu saja jadi pacarku," ucapku tersenyum lebar menatap Robin yang hanya diam saja. Tapi aku langsung tolak kembali, "Makanlah, Cel. Jika begini bagaimana kamu bisa sembuh?" Dengan cemberut, akhirnya aku menerima suapan dari Robin. Tidak apa-apa makanannya tidak enak yang penting disuapi oleh pria tampan.
"Jika begini terus, aku bisa mencari calon pacar lain loh," candaku menggoda Robin agar segera memberikan kepastian padaku. Dia hanya tersenyum dan mengelus rambutku. Aku tidak suka itu! Apa susahnya menjawab pertanyaanku? Kenapa begitu sulit mengatakan 'ya Cel, kamu pacarku sekarang'?
__ADS_1
Akhirnya aku diam dan cemberut tidak ingin melihat Robin. Menyebalkan! Robin seperti tidak memiliki niat untuk menjadi pacarku. Mungkin selama ini Robin bersikap baik karena tugasnya membantu sesama manusia. Dia mungkin tidak memiliki perasaan sama sekali padaku.
Ah, sepertinya aku harus mencari calon pacar yang lain.
Bunyi handphone Robin terdengar menandakan ada yang menelponnya, Robin mengangkat telepon di depanku dan bahkan di loudspeaker. Ternyata itu Papa Theodor yang mungkin bisa dikatakan sebagai papa Robin juga.
"Halo, Robin," suara terdengar, tapi Robin tidak langsung menjawab dan hanya diam saja. Dia menunggu si penelepon berbicara kembali.
"Diam, jangan menyebut dirimu Papa. Aku sejak lahir adalah anak haram yang tidak punya Papa. Aku tidak akan melepaskan Theodor. Jika kamu benar-benar menyayangi anakmu, kirimkan saja pengacara untuk membela diri jika dia bisa. Satu hal lagi, aku tidak punya saudara, hanya aku dan ibu, selama ini selalu begitu dan akan terus begitu." Telepon langsung dimatikan setelah Robin mengatakan hal itu sambil menahan emosinya. Aku yang tadinya ingin ngambek dan tidak ingin menatap Robin sekarang malah bersimpati. Aku genggam tangannya berusaha memberikan sedikit ketenangan untuk Robin.
Dia menarik telapak tanganku ke arah pipinya lalu menatapku dengan sangat dalam. Tatapannya mungkin saja berlangsung selama beberapa menit. Kemudian, Robin mengatakan sesuatu yang membuat aku akan jantungan.
"Setelah kamu lulus, ayo kita menikah, Cel!" Hah! Robin tidak pernah menjawab ketika aku memberinya kode tentang pacar, tapi sekarang malah mengajakku menikah. Aku senang! Tentu saja senang, karena Robin akhirnya memberikan kepastian padaku. Dia masih menatapku dan menunggu jawabanku.
__ADS_1
"Iya, ayo. Kalau kamu mengajak sekarang pun aku akan tetap mau." Robin terkekeh mendengar perkataanku, dia kembali menyentil dahiku dan kemudian mengusapnya ketika aku berteriak kesakitan, "Kamu harus kuliah dan menerbitkan novel terlebih dahulu, impianmu harus tercapai." Aku terharu sampai-sampai ingin meneriakkan kata 'I love you' pada Robin.
Akhirnya! Lalat pengganggu Theodor sudah berhasil disingkirkan dan kapalku dan Robin berlayar tanpa adanya gangguan. Aku tidak ingin lagi menjadi batu bata di dunia Harry Potter, karena mungkin saja Robin tidak akan menyadari bahwa itu aku. Aku tidak ingin menjadi burung hantu, karena mungkin saja aku tidak bisa bertemu Robin. Yang pasti, aku tidak ingin pergi ke dunia Harry Potter, karena di sana tidak ada Robin!
"Menikah denganmu juga impianku, tau," sebuah gelak terdengar dari arah pintu. Kai, Papa, dan Avery ternyata sudah berada di depan pintu memandang kami dengan pandangan yang berbeda-beda. Papa memandang kami sambil menggelengkan kepalanya seolah berkata 'Dasar anak muda'. Kai tergelak sambil memegangi perutnya karena mendengar ucapanku yang mungkin menjijikkan baginya. Sedangkan Avery, aku sangat takut melihat tatapan Avery yang seperti ingin menerkam Robin saat ini juga. Jika saja ada pedang di sekitar sini, mungkin sudah menancap di perut Robin sekarang.
Saya melihat Robin mungkin tersinggung karena tatapan mata Avery, tapi pria itu hanya tersenyum dengan tenang dan mengabaikan tatapan mata Avery yang sangat tidak bersahabat padanya. Avery berjalan mendekati kami dan berdiri di depanku dan Robin. Ia memandang kami berdua dengan tatapan tajam, lalu memandang saya dengan sedih. Kemudian, ia duduk di kursi dekat jendela dan hanya diam saja tanpa protes sedikitpun.
Namun, sepertinya bukan Avery kalau tingkahnya hanya sebatas itu. Ia akhirnya kembali berdiri dan menarik tangan Robin agar dia tidak duduk dekat saya lagi. Avery menyuruhnya pergi dan akhirnya duduk menggantikan Robin.
Saya merasa ingin menangis membayangkan bagaimana masa-masa romantis saya dan Robin akan selalu diganggu oleh Avery kedepannya. Lalat pengganggu Avery sepertinya sudah mulai melancarkan aksinya, "Av, jangan begini deh. Saya kan ingin bersama Robin," ucap saya meminta Avery untuk tidak mengganggu hubungan saya dan Robin. Avery hanya menatap saya datar, "Siapa bilang kamu boleh menikah?"
Tunggu, apa maksudnya saya tidak boleh menikah dengan siapapun dan akan menjadi jomblo seumur hidup?! Saya tidak mau! Enak saja, saya sudah menjadi jomblo dalam kehidupan sebelumnya, masa sekarang jadi jomblo lagi?! TIDAK BOLEH!
__ADS_1