
Masa ujian sudah tiba membuat otak kecilku dipaksa untuk berpikir, sangat menyebalkan bagiku karena harus kembali mengikuti ujian yang seharusnya sudah aku lewati. Menghadapi banyak soal-soal buatan pemerintah pastinya sangat membuat pusing kepala.
Tidak ada yang ingin mengulangi masa-masa ujian sekolah, mungkin hanya anak-anak pintar seperti Najwa Shihab ataupun Maudy Ayunda yang berpikir bahwa ujian adalah sesuatu yang menyenangkan. Berbeda untukku, sebagai orang yang memiliki nilai biasa-biasa saja dan juga otak yang tidak encer, ujian adalah sebuah kegiatan yang sangat memeras otak membuat kepulan asap di kepalaku terlihat.
Semua orang di kelas sibuk mencoret-coret kertasnya mencari jawaban matematika yang sepertinya sulit untuk dikerjakan, hal ini juga membuatku heran dan sedikit cemas karena kertas yang diberikan padaku oleh pengawas ujian yang bertujuan untuk mencari jawaban malah aku penuhi dengan gambar-gambar tidak jelas.
Bukannya aku tidak ingin berusaha, tapi aku tau kapasitas dari otakku. Sangat sulit jika itu adalah matematika. Otak kecilku tidak bisa menghitung dengan benar apalagi jika sudah ada aljabar yang menyertai. Oh, sangat tidak bisa! AKU BENCI MATEMATIKA!
Bel pulang sudah berbunyi membuat seluruh murid bergegas menyerahkan lembar ujiannya ke pengawas dan membereskan barang mereka, Kai dan Av juga datang ke kelasku tidak lama kemudian.
"Bagaimana ujianmu Cel, lancar?" Kai bertanya sambil mengusap lembut kepalaku dan tersenyum menatap wajahku yang sudah keruh karena matematika. Raut wajahku sama sekali tidak bisa ku kendalikan, selama seminggu masa ujian ini membuatku sangat lelah, bayangkan saja, aku sudah melalui masa-masa ini dengan usaha keras agar bisa lulus dengan nilai yang memuaskan dan sekarang aku harus melakukannya lagi. Aku MUAK.
"Tidak memuaskan, aku benci ujian"
Av memegang pundakku dan mencubit pipiku dengan keras, sialan, cubitan dari Av terasa lumayan sakit untukku. Aku menatapnya kesal dan dibalas cengiran manis darinya, Av sangat cantik.
"Jangan terlalu di pikirkan Cel, berapapun Nilaimu papa tidak akan marah. Kamu tetap adik yang membanggakan"
Benar-benar berlebihan jika dia mengatakan bahwa aku membanggakan, tidak ada yang bisa mereka banggakan dariku. Sama sekali tidak ada. Lagi pula aku heran kenapa aku tidak mendapat otak pintar seperti Av dan Kai, padahal Celesta juga merupakan adik kandung mereka. Biasanya kalau orang isekai ke dalam novel pasti mewarisi kelebihan dari karakter yang dimasukinya, sedangkan aku malah sama saja.
"Kenapa kamu dan Kai pintar sedangkan aku bodoh ya Av? Sangat tidak adil"
Sebuah sentilan di dahiku yang berasal dari Kai membuatku sedikit kesal, lumayan sakit. Kai menoleh ke arahku dan menyipitkan matanya seolah menilai ku.
__ADS_1
"Mungkin karena kamu terlalu cantik jadi tuhan tidak memberimu otak yang pintar. Supaya adil bagi setiap orang, Cel"
Omong kosong.
Av sangat cantik tapi otaknya juga sangat pandai, terlebih lagi dia pandai melukis. Kai sangat tampan dan otaknya juga pandai, lalu dia juga bisa melakukan pencak silat yang sangat keren bagiku. Bukannya ini sangat tidak adil ya? Satu-satunya kelebihanku adalah aku bisa menulis cerita fiksi yang tidak terlalu keren.
"Jangan dipikirkan Cel, apapun hasilnya tidak akan ada yang marah dan kecewa padamu. Tidak perlu menjadikan Nilaimu sebagai beban"
Av benar, tidak akan ada yang marah jika nilaiku kecil, Papa berbeda dengan Bapak dan Ibuku dulu. Mereka mementingkan yang namanya nilai, saat nilaiku turun sedikit saja, mereka akan mengomel panjang lebar dan menyalahkan aku karena terlalu sering pergi bersama teman. Padahal itu semua adalah hasil dari usahaku.
Tanpa memikirkan hal itu lagi kami langsung pulang menuju rumah dengan suasana hati yang lumayan baik, tentu saja lumayan baik karena Kai baru saja memberikanku cokelat agar mood ku kembali membaik. Cokelat memang cocok untuk memperbaiki suasana hati!
***
Bisa kalian tebak siapa ini? Yap, benar sekali. Theodor, si pria resek yang selalu menggangguku dulu dan berhenti untuk beberapa waktu namun kini kembali menggangguku. Dia duduk di kursi di depanku dan menatapku tajam seolah-olah aku sedang berhutang sesuatu padanya.
"Di sini saja kan bisa, tidak perlu berdua"
"Tidak, ini harus dibicarakan berdua"
Aku menghela nafas, lagi-lagi Theodor memaksakan kehendaknya padaku. Sama sekali tidak berubah, dia tidak bisa mendengarkan keinginan orang lain dan hanya ingin dituruti, sangat menyebalkan.
Aku mengikutinya pergi ke taman sekolah yang memang biasanya sepi, semua ini aku lakukan agar Theodor berhenti menggangguku setelah semua ini. Aku tidak ingin dia terus-menerus mendatangiku dan memintaku berbicara berdua dengannya.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu bicarakan?"
Dia menatapku lama, namun mulutnya sama sekali tidak bicara. Aku memutar bola mataku malas, sangat menjengkelkan. Setelah beberapa menit dia diam, akhirnya mulutnya terbuka ingin mengatakan sesuatu.
"Kenapa kamu berubah?"
"Aku tidak berubah, kamu saja yang tidak mengenalku"
Dia terdiam ketika mendapatkan balasan seperti itu dariku, memang benar 'kan? Theodor sama sekali tidak mengetahui apapun tentang Celesta karena fokusnya hanya pada Avery, selama pacaran mereka bahkan jarang bepergian bersama dan obrolan mereka hanya menyangkut Avery saja. Aku sendiri bingung dengan kebodohan Celesta.
"Kamu dulu tidak seperti ini"
Aku memutar bola mataku lagi, malas sekali meladeni syndrom narsisme Theodor. Lebih baik aku kembali ke kelas atau pergi ke kantin untuk makan. Tapi karena aku sedang baik hati akan aku jawab pertanyaannya yang sangat tidak berbobot itu.
"Aku dulu seperti apa? Maksudmu aku dulu bodoh karena mudah kamu tipu dengan rayuanmu yang hanya sekedar omong kosong itu? Atau mungkin aku yang dulu mengejar kamu sampai-sampai rela melakukan apapun untuk bersamamu?"
"Aku akui bahwa aku dulu bodoh dan sangat tidak bisa berpikir dengan benar karena bisa jatuh hati pada pria seperti kamu. Seharusnya aku bisa mendapatkan seseorang yang bisa memperlakukanku dengan baik"
"Theodor, dulu aku sedang dalam masa di mana hormon remaja meningkat dan dengan mudahnya termakan bujuk rayumu. Tapi sekarang aku sadar, pria sepertimu sangat tidak pantas untuk dikejar dan diperjuangkan. Banyak pria yang lebih pantas darimu"
Semuanya sudah keluar dari mulutku, semua keluh kesah dan ketidak puasan yang mungkin juga dirasakan oleh Celesta yang asli telah aku sampaikan pada Theodor. Aku tidak perduli dengan tanggapannya.
Setelah mengatakan hal itu aku langsung pergi dari sana dan tidak menoleh sama sekali, siapa yang Sudi melihat wajah Theodor? Tentu saja bukan aku. Hidupku sudah lumayan tenang dan tidak banyak gangguan beberapa hari ini tanpa kehadiran Theodor. Tentu saja hal seperti ini harus dipertahankan.
__ADS_1
Hidup damai tentram selalu, itulah tujuanku.