Celesta & Tuan Antagonis

Celesta & Tuan Antagonis
bertemu ibu mertua 2


__ADS_3

Ternyata bertemu dengan Ibu Robin tidak seburuk yang aku pikirkan, suasana diantara kami tidak semenegangkan yang aku bayangkan. Kami sangat cocok, ditambah ibu Robin yang ternyata juga menyukai novel romansa dan tidak menyukai makanan pedas, selera kami sama. Ibu mertua dan menantu yang sangat serasi!


Jarang menemukan mertua yang sefrekuensi, akan sangat menyenangkan jika aku menjadi menantu dari ibu Robin. HAHAHA, aku sudah berharap dan membayangkan seberapa menyenangkannya jika hal ini benar-benar terjadi. Mungkin hidupku akan bahagia selalu, tidak pusing memikirkan betapa sulitnya menjadi seorang istri.


Ibu Robin adalah orang yang berpikiran maju, dia mementingkan pendidikan bagi perempuan, dia juga mengatakan kalau harus mencari pria yang mau menjadikan kita sebagai istri bukan sebagai 'pembantu' di rumah. Berumah tangga tidak hanya sekadar menjalankan tugas masing-masing, tapi juga harus adanya sebuah keharmonisan tanpa meninggikan hak salah satu gender.


"Kalau misalnya Robin tidak bisa diajak berkompromi dan berdiskusi dengan baik, lalu seenaknya mengambil keputusan yang tidak kamu sukai, laporkan pada Ibu. Biar ibu didik lagi dia bagaimana cara memperlakukan perempuan dengan benar" ibu Robin terus memberikan wejangan padaku sambil memperingati Robin yang membuat pria itu hanya bisa tersenyum kecil tanpa protes sedikitpun.


Sangat lucu, pantas saja Robin sangat berbeda dengan Theodor yang pemaksa dan seenaknya. Ibu Robin selalu mengajarinya dan menunjukkan cara memperlakukan wanita dengan benar, sedangkan orang tua Theodor hanya membiarkan perilaku anaknya tanpa mau menasihati ataupun mencegah perilaku buruknya. Aku tidak akan heran lagi dengan sikap Robin selama ini yang selalu bisa menghargai pendapatku.


Sangat menyenangkan! Aku berharap punya ibu mertua seperti ibu Robin, jika bisa ibu Robin saja yang jadi mertuaku HAHAHA, itu sih mauku. Masakan ibu Robin sangat enak, semuanya sesuai dengan seleraku. Kalau ibu Robin bilang, makanan pedas adalah selera Robin yang sangat berkebalikan denganku yang menyukai manis. Aku tidak tahan dengan makanan pedas.


"Bagaimana rasanya, Cel? Apakah enak?" Sebuah pertanyaan terlontar dari mulut ibu Robin membuatku mengangguk, "Sangat enak! Ibu pandai memasak, aku bisa memasak tapi tidak terlalu enak, rasanya biasa saja"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, biarkan Robin memasak jika kalian menikah nanti. Dia bisa memasak" aku terbatuk ketika mendengar perkataannya, Robin dengan cepat memberikan air minum padaku. Aku sangat terkejut! Tidak pernah terbayangkan olehku bahwa ibu Robin akan mengatakan hal seperti ini! Meskipun senang, ini juga membuatku semakin gugup. Aku sudah dapat LAMPU HIJAU dari CALON IBU MERTUA.


Ibu Robin tertawa saat melihatku tersedak karena perkataannya, kelihatannya dia senang karena telah berhasil menggodaku, "Tidak perlu malu-malu, ibu sangat setuju jika kamu dan Robin menikah pada akhirnya. Tapi kamu harus menyelesaikan sekolahmu dulu, sebentar lagi kan? Kamu sudah semester 7 dan harus fokus pada skripsimu"


Aku hanya menganggukkan kepalaku, bingung ingin menjawab apa. Masa iya aku dengan semangat berkata 'Iya! Aku ingin menikah dengan Robin tersayang' malu dong. Di depan calon mertua harus terlihat baik, anggun dan menawan. Titik.


"Jangan menggoda Celesta Bu, aku akan menunggu kapanpun dia siap" aku kembali tersedak, Robin sama saja dengan ibunya. Tidak bisakah mereka membicarakan hal seperti ini di saat yang tepat? Jangan saat aku sedang makan, aku orangnya kagetan.


Robin terkekeh, dia kembali memberikan air minum padaku dan mengelus punggungku. Sialan, hal ini terlihat sangat gentle bagiku, tidak boleh! Pria seperti Robin tidak boleh lepas. Akan rugi jika aku melepaskannya.


Setelah berbincang panjang dengan ibu Robin kami akhirnya pulang, Robin mengantarku dan pergi setelah berpamitan dengan papa. Kai sepertinya sedang bekerja dan Avery juga tidak tau kemana. Mereka sibuk setelah memasuki dunia kerja, meskipun begitu mereka juga tetap memiliki waktu untuk berkumpul dan berbincang dengan keluarga. Aku menyukai masa-masa seperti ini, Kai dan Av tidak seposesif saat kami masih sekolah dulu, aku sudah sedikit bebas ingin pergi kemanapun yang aku inginkan.


Tapi terkadang aku merasa sepi karena mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, aku punya teman, tapi tidak terlalu dekat. Zurie juga tidak pernah menghubungiku lagi setelah aku lulus dari sekolah menengah, padahal dulu kami sudah sangat dekat satu sama lain. Sangat disayangkan kami tidak saling menghubungi lagi untuk waktu yang lama.

__ADS_1


Setelah pertemuan dengan calon ibu mertua, hahaha maksudku ibunya Robin, aku mulai sibuk kembali mengerjakan skripsi yang beberapa hari ini aku abaikan. Tinggal sedikit lagi, aku sudah menyerahkannya pada dosen pembimbingku dan katanya skripsiku sudah baik, hanya tinggal beberapa hal lagi yang perlu diperbaiki. Aku sedikit santai ketika sudah mendapatkan feedback yang baik, lebih tepatnya aku bersantai-santai.


"Cel, film di televisi sudah selesai tapi lamunanmu tidak juga selesai. Apa yang kamu pikirkan?" Papa yang ternyata sudah duduk di sebelahku sambil membawa cemilan dan minuman menegurku, aku sama sekali tidak sadar bahwa papa sudah berada di sana.


"Jika aku menikah papa ingin menantu yang seperti apa?" Entah keberanian macam apa yang merasukiku sehingga Bernai menanyakan pertanyaan sensitif seperti itu. Tapi, aku sangat penasaran dengan jawaban yang akan papa berikan. Wajah papa terlihat bingung sekaligus sedikit tidak senang, sudah bisa kutebak apa yang dia pikirkan, pasti dia berpikir bahwa terlalu cepat untukku membicarakan tentang pernikahan.


Padahal sebenarnya jika dihitung umurku dari kehidupanku sebelumnya sangat wajar jika aku sudah memikirkan tentang pernikahan, selama ini aku jomblo dan sepertinya sudah cukup untukku menyandang status itu selama puluhan tahun. Wajar saja kan aku memikirkan tentang pernikahan.


"Kamu harus sukses dulu sebelum memikirkan hal itu, Cel. Kamu bilang ingin jadi penulis dan membuka toko buku, jadi kejar dulu impianmu itu" sudah aku duga jawabannya akan begitu, tapi itu sama sekali bukan jawaban yang aku inginkan. Aku sedikit merenggut tidak senang, lalu kembali bertanya pada papa, "aku tidak ingin jawaban yang seperti itu, kan aku hanya bertanya kriteria menantu papa yang bagaimana. Belum tentu aku sudah mau menikah"


"Kalau begitu papa ingin menantu yang bisa menjagamu, menghargai mu, membimbingnya dan juga menjadikanmu seorang istri" aku sedikit bingung dan menatap papa meminta penjelasan lebih. Kriteria dari papa terlalu umum dan luas.


"Dia harus bisa melindungimu dan menyayangimu, dia juga harus menghargai pendapatmu tidak seenaknya saja dalam mengambil keputusan, dia juga harus bisa membimbing mu untuk bisa menjadi seorang istri yang baik dan menjadi ibu yang baik, tidak hanya itu dia juga harus bisa menjadikanmu seorang istri. Bukan hanya sekadar status, tapi perlakuannya, merawatmu saat kamu sakit, menyayangimu, membelikanmu makanan yang kamu inginkan, menjagamu saat kamu hamil, memberikan semua kebutuhanmu dan juga menghargai mu sebagai istrinya. Bukan hanya sekadar menjadikanmu tukang masak ataupun pemuas di ranjang"

__ADS_1


Aku sedikit terharu ketika mendengar perkataan papa yang sangat memperhatikan calon suamiku, terlihat dari perkataannya bahwa dia menginginkan yang terbaik untukku. Saking terharunya aku tidak bisa mencegah air mataku keluar, aku menangis dan membuat papa panik. Saat itu juga entah bagaimana Avery pulang dan mulai menuduh papa yang membuatku menangis.


Maaf pa, aku sedang tidak bisa membelamu. Aku sangat terharu.


__ADS_2