
Setelah Aditya masuk ke dalam rumah Atika, Aarash menuju ke kamar neneknya.
Aarash dan Aariz bergantian menunggui neneknya.
Akhirnya neneknya tersadar.
"Nek." Aarash pun mendekati neneknya.
Neneknya masih menangis, tak sanggup untuk berjalan.
Mahendra pun mendekati mertuanya.
"Nak, bawa aku ke depan jenazah ayah mertuamu" lirih Ibu Tantri.
Mahendra dan Aarash membawa Ibu Tantri ke depan jenazah ibunya.
Aditya mengeryitkan dahinya.
'Mengapa Aariz ada 2 orang' bathin Aditya di dalam hati.
"Atika, anakmu Aariz yang mana?" tanya Aditya.
"Itu yang memapah Ibuku." tunjuk Atika.
Atika tersenyum melihat Ibunya sudah tersadar dari pingsannya.
'Oh, iya. Mahendra kan mempunyai anak kembar, tapi yang mana dekat dengan anakku?' gumam Aditya lagi di dalam hatinya.
'Nantilah aku tanyakan lagi' bathin Aditya lagi, selama di depan jenazah Ayahnya Atika, Aditya selalu memperhatikan Aarash dan Aariz, sambil membedakan mana yang Aarash dan mana yang Aariz.
Mereka pun menyolatkan jenazah Pak Tri setelah itu menuju ke tempat pemakaman.
Akhirnya selesai sudah jenazah di makamkan, pemakaman di lakukan di area TPU kamboja yang jaraknya satu kilometer dari rumahnya Atika.
Nenek masih terlihat sedih.
Aarash tetep mendampingi neneknya.
Aditya, para kerabat dan kolega Pak Tri mengucapkan bela sungkawa kepada Atika dan Ibunya, setelah itu mereka meninggalkan Keluarga Mahendra yang masih duduk di sekitar makam Ayahnya Atika, mereka pun membacakan do'a untuk Pak Tri Ayahnya Atika agar di jauhkan dari siksa kubur.
Mobil yang mereka bergegas kembali ke kediaman Atika lagi.
*****
POV. Aarash.
Aku tersentak ketika nenek memintaku untuk menjadi CEO di kantor Kakek, sebenarnya aku telah banyak belajar namun aku masih umur remaja, apa aku siap untuk memimpin perusahaan.
"Nak, cobalah dahulu, jika kamu ingin belajar biar Ayah yang akan membimbingmu secara langsung"
"Tapiii... " ucapanku menggantung di udara.
"Nak, Ibu mohon, kamu anak tertua, jelas tanggung jawabmu jika bukan sekarang kapan lagi" lirih Ibuku padaku.
Aku sebenarnya bukan tak siap, namun aku ragu dengan kemampuanku saat ini.
"Baiklah Ayah, Ibu dan Nenek. Jika memang kalian ingin aku memimpin perusahaan kakek, aku siap, Namun aku akan siap jika setelah selesai acara Tafakur Alam yang di adakan oleh sekolah." ujarku sambil menarik nafas panjang.
"Terima kasih Nak, kami harap kamu akan bertanggung jawab dengan apa keputusanmu" timpal Nenek kepadaku.
"Aku janji akan bertanggung jawab dengan segala keputusanku" sarkasku.
"Baiklah, nenek lega setelah mendengar Pernyataaanmu." Senyum Ibuku terlihat sempurna namun tak seperti hatiku.
Aku berharap, aku baik-baik saja.
POV Aariz.
__ADS_1
Aku hanya mendengar apa yang keluargaku katakan.
Aku bersyukur jika aku tak di pilih menjadi penerus perusahaan kakekku.
Aku memilih kehidupanku sendiri.
Aku masih berusaha menelpon Nadia, namun panggilan masih tetap yang menjawab operarator.
'Apa Nadia sudah tak mau berbicara denganku' batinku.
Aku semakin gelisah.
"Nak, mengapa kamu gelisah" tanya Ayahku.
"Aku tak apa-apa Aby" jawabku.
"Apa boleh aku keluar sebentar" tanyaku lagi.
"Boleh, Asal jangan lama-lama, karena bentar lagi ada pengajian di rumah ini"
"Baiklah Aby"
Aku pun pamit kepada kedua orang tuaku untuk pergi keluar sebentar.
Setelah di izinkan, aku segera bergegas ke rumahnya Nadia.
Aku melihat Nadia sangat sibuk di warungnya. Aku ingin mendekatinya, namun aku urungkan.
'Alhamdulillah, ternyata Nadia hanya sibuk saja' gumamku namun hanya di dengar olehku sendiri.
Pada saat aku ingin pergi, ternyata Nadia melihatku dan memanggilku.
"Aariz"
Aku membalikkan badanku seraya tersenyum.
"Maaf, aku kesini hanya ingin melihatmu"
Aku pun berfikir, sebaiknya mampir sebentar.
"Baiklah, maaf kalau kedatanganku menganggumu"
"Tidak kok, aku senang jika kamu menemuiku"
"Ayolah, masuklah" ajak Nadia lagi kepadaku
Aku mengikuti langkahnya, baru kali ini datang di rumah Nadia.
Aku pun di persilakan duduk di kursi yang sudah usang.
Kehidupan Nadia sangat kontras denganku, namun aku sangat menganguminya.
Setelah itu Nadia meninggalkan aku sendiri duduk di ruang tamu.
Aku melihat di sekeliling, ku perhatikan ada foto keluarga Nadia.
'Berarti Nadia mempunyai seorang kakak.' batinku lagi, karena melihat foto yang ada di atas nakas"
Aku tersenyak ketika ada yang menepuk punggungku.
"Astagfirullah." aku langsung melihat siapa yang tega menepuk punggungku.
Laki-laki itu hanya tersenyum padaku.
Aku membalasnya dengan senyuman.
"Maaf aku hanya melihat foto keluarga kalian." jelasku kepadanya.
__ADS_1
"Nggak masalah bro, kamu pacarnya Nadia yang memberinya handphone" tanyanya langsung kepadaku.
Aku pun hanya mengangguk.
"Namun sebenarnya kami hanya berteman" jelasku lagi.
"Kalau begitu, jika kamu ingin berpacaran dengan adikku, aku akan memberi restu asal asa syaratnya" ungkapnya kepadaku.
Aku tersentak, namun ku berusaha bersikap biasa.
"Syaratnya apa" tanyaku langsung kepadanya.
"Berikan aku dan nadia setiap minggu uang jajan" ujarnya kepadaku.
"Berapa uang jajan yang kau minta"
"Berikan lima juta setiap minggu, bagaimana? Apa kau sanggup"
Bagiku itu kecil, setidaknya aku sudah mendapat restu dari kakaknya walau harus membayar mahal.
"Baiklah, aku menyetujui permintaanmu"
Kami pun berjabat tangan.
Tak lama Nadia membawakan kue dan tiga gelas teh kepada kami berdua.
"Kalian sudah berkenalan" tanya Nadia kepadaku.
"Sebenarnya belum, karena aku belum mengetahui nama kakakmu" jawabku santai.
"Loh, trus tadi yanh jabat tangan kenapa" tanya Nadia kepada kami sambil mengeryitkan alis, aku tau dia penasaran, namun aku tak mau jika Nadia curiga kepada kami.
"Baru mau kenalan, tapi karena kamu datang, akhirnya kami tak sempat berkenalan" jelas kakaknya nadia dan aku menganggukkan kepala saja.
"Oke, kalau begitu kalian berkenalan sekarang juga" imbuh Nadia kepada kami.
"Baiklah,"
Kami pun berjabat tangan dan saling menyebutkan nama.
"Edward"
"Aariz"
"Aariz?" tanya balik Edward kepadaku.
"Iya Aariz," Aku mengulanginya lagi.
Aku melihat expresi bingung di wajah Edward, namun aku mengabaikannya.
"Aku ke kamar dulu, kalian lanjutkan saja"
Aku hanya menatap punggung Kakaknya Nadia, setelah itu Aku dan Nadia berbincang, aku ingin bertanya tentang handphonenya mengapa tak bisa di hubungi.
"Nadia, dari tadi aku hubungi namun handphonemu tak bisa aku hubungi" tanyaku langsung.
"Tuh, lagi di cash, tadi sempat dengar lagu, makanya sekarang lowbath" jelasnya kepadaku.
Aku melihat memang handphonenya Nadia lagi di cash.
"Iya baiklah, tadi aku sempat khawatir jika handphonemu bermasalah"
"Masak barang masih baru di beli langsung rusak"
"Iya ya, benar juga,tapi nggak apa-apa yah, sekalian melihat bidadariku lagi ngapain." pujiku kepadanya.
Aku melihat Nadia tersipu malu. Wajahnya merona seperti buah tomat yang sudah matang.
__ADS_1
Sunggu menggemaskan bagiku, tingkah Nadia membuatku ingin rasanya melabuhkan ciuman panas dengannya.
TBC....