
Pagi hari seperti biasa suara Atika melengking panjang membangunkan sosok yang sulit di bangunkan.
"Aariz, Aarash, Arsyla, kalian ini setiap mau ke sekolah dibangunin susahnya minta ampun" teriak Atika membangunkan ketiga anak-anaknya.
"Ummy, aku sudah bangun dari shubuh, tapi aku tidur lagi" ucap Aarash sambil mengucek matanya.
"Lihatlah, kalian akan terlambat ke sekolah nanti" Imbuh Atika.
"Baru juga jam 7 ummy"
"Ayo segera mandi kalian, ummy tunggu di ruang makan ya, secepatnya!" gertak Atika.
Arash segera bebersih dan Aariz pun demikian. Arsyla sudah mandi tapi biasanya lamanya dia berdandan pasti sangat merepotkan Aarash.
"Ays, Gue tunggu loe di Bawah, cepat, nanti kita telat, pagarnya akan di kunci"
"Iya, Iya"
Arsyla masih tetap setia berdandan walau memang masih wajah natural.
Setelah itu Aariz pun segera turun ke lantai bawah sambil menenteng hadiah untuk seseorang yang sangat dia kagumi dan cintai.
"Siapa yang ulang tahun,sampai loe mau bawakan kado untuknya" tanya Aarash.
"Nggak ada" jawab Aariz
"Trus ngapain bawa bingkisan?" tanya Aarash lagi, Aarash penasaran siapa yang akan di berikan bingkisan oleh Aariz.
Tanpa menjawab, Aariz malah meninggalkan mereka semua.
"Kakek, Nenek, Ummy, Aby, aku pamit ke sekolah, assalamu'alaikum" Aariz menyalami Kakek dan Neneknya serta kedua orang tuanya.
"Waalaikum salam" jawab kedua orang tuanya dan kakek dan neneknya.
Aariz pun bergegas mengemudikan motornya menuju sekolahnya.
"Sudah, nggak usah kepoin adik kamu, cepat kamu sarapan dan bergegas ke sekolah"
"Aku udah selesai sarapan Ummy," Aarash melihat ke lift tapi penampakan adiknya belum juga terlihat.
"Arsyla, cepet dong. kita nanti telat" teriak Aarash.
"Iya, iya, nih gue sudah selesai" ucapnya sambil berlari ke arah Aarash.
"Ummy, aku tak sarapan, sarapannya di sekolah saja" pamit Arsyla.
"Ini ummy sudah buatin bekal, biar kamu bisa sarapan di sekolah. Dandannya jangan lama-lama sayang, wajah kamu itu masih sensitif sayang" Ummy memberi pengarahan kepada arsyla yang memang senang berdandan.
"Ini Ummy, pakai hijabnya masih mencong-mencong makanya lama" ucap Arsyla membela diri.
"Makanya pakai hijab tuh yang simple kali, kayak ummy tuh, walau hijab biasa tapi ummy tetap cantik" ucap Mahendra.
"Ah, Aby, mau seribu cewek cantik tetap saja bilang Ummy paling cantik, ya Kannn" goda Arsyla.
Mahendra yang di goda anaknya seperti itu malah, membanggakan dirinya.
"Memang Ummy kalian lebih cantik, jika tidak kalian pada jelek semua, hahahaha" tawa Mahendra membuat semua orang ikut tertawa.
__ADS_1
"Ayo kak Aa, kita akan telat nanti"
"Pakai motor sja, ya"
"Ish... Ays nggak mau ah. ntar hijabnya malah terbang-terbang" tolak Arsyla.
"Nanti kita malah telat nanti, pakai helm saja"
Arsyla mau tak mau harus menuruti kata kakaknya,dia pun mengerucutkan bibirnya.
"Sudah jangan cemberut cucu kakak, ntar cantiknya hilang" ujar Pak Tohar menggoda cucunya.
"Walau nggak cemberut, udah jelek juga kek, hehehe" Aarash menimpali.
"Ayok, mau pergi atau mau buat gue sedih nih,kakak tak berakhlak"
"Hus, ngak boleh begitu sayang" cela Ibunya Atika.
Akhirnya mereka salim kepada kedua orang tuanya dan tak lupa kakek dan neneknya.
"Assalamu'alaikum" Aarash dan Arsyla mengucapkan salam dengan serempak.
"Waalaikum salam" jawab kedua orang tuanya dan kakek dan neneknya.
****
Setelah sampai di sekolah, Aariz melihat Nadia sedang duduk di bawah pohon yang biasanya dia dan Nadia duduk.
"Hai, Nadia" sapa Aariz
"Eh, Aa, baru datang nih" jawab Nadia
"Apa ini?" Tanya Nadia, dia enggan mau membukanya.
"Sudah, kamu coba buka saja" perintah Aariz.
Nadia pun membuka bingkisan itu dengan rasa tak sabar, ketika bingkisan terbuka Nadia pun terperangah.
"Handphone baru?" ucapnya seraya bertanya kepada Aariz.
"Iya handphone baru, aku memberikannya agar kita bisa berkomunikasi nanti"
"Ya Allah, Aariz, makasih banyak ya" ucap Nadia dengan bergelayut manja di tangan Aariz.
"Iya," Aariz pun memberanikan diri mengacak rambut Nadia.
"Ih, tambah jelek nanti"
"Ngak apa-apa jelek, tetap aku suka"
Wajah Nadia memerah, ucapan rasa suka membuatnya menjadi serba salah. Mengingat perkataan Ibunya semalam.
"Mudah-mudahan Aariz tidak bertanya tentang jawaban ungkapan rasa sayangnya, aku tak ingin mengecewakannya" batin Nadia di dalam hatinya.
Teng! teng! teng!
Bunyi bel tanda pelajaran akan segera di mulai sudah berbunyi.
__ADS_1
"Yuck, kita ke kelas"
Mereka pun berjalan sambil menggenggam tangan.
Semua orang menetap mereka, namun mereka tetap acuh.
Teman-temannya pun saling berbisik, karena mereka baru melihat pemandangan yang sangat tak mungkin.
Sosok Aariz yang jarang bergaul dan berbicara, bisanya menjadi hangat di dekat Nadia yang tomboy.
****
Sementara di sekolah Aarash dan Arsyla hampir saja terlambat. Pintu sekolah hampir menutup sempurna.
Aarash yang membawa motor sangat kencang membuat Arsyla hampir menangis.
"Tuh, liat, kalau gue ngak cepet, pasti kita sudah tak bisa masuk sekolah.
"Iya, tapi liat nih, hijab gue jadi belepotan"
"Udah, ntar bisa perbaiki di kamar mandi sekolah"
"Iya, iya"
Teng! teng! teng!
Bunyi bel tanda pelajaran akan segera di mulai sudah berbunyi.
Mereka pun menuju ke kelasnya, pada saat yang sama Edward pun berpapasan dengan mereka.
Aarash tak menghiraukannya, namun bukan Edward namanya jika tak berbuat ulah.
"Ups, sorry"
Edward sengaja menyenggol Arsyla, dan hampir saja terjatuh. beruntung Aarash dengn cekatan membantu adiknya.
"Hei, loe ingat kemarin apa kata gue, jangan pernah mengganggu gue dan adik gue, paham!" tatapan tajam menghunus ke arah Edward.
"Sorry, bro. gue nggak sengaja"
"Kak, hayo, biarin saja, aku nggak apa-apa, nanti kita telat ke kelas" ajak Arsyla yang tak menggubris tingkah Edward.
"Awas aja loe ya" kepalan tangannya Aarash di arahkan kepada Edward.
Aarash dan Arsyla meninggalkan Edward dengan rasa jengkelnya karena kelakuannya tidak di respon Aarash.
Edward yang mendapat perlakuan seperti itu hanya tersenyum simrik.
"Nyali loe itu tak ada apa-apanya denganku" gumamnya Edward dan dia pun bergegas ke kantin. Dia tak ingin ke kelasnya. Edward kakak Kelasny Aarash.
"Hmmm.. cantik juga adeknya ya, aku punya ide nih, siapa tau bisa membuat Aarash bertekuk lutut kepadaku.
Otaknya Edward pun mempunyai ide dengan adik Aarash. Dia pun menyusun rencana dengan gengnya.
Seperti biasa, Edward tak masuk di dalam kelas, melainkan ke kantin di belakang sekolahnya.
Sudah berulang kali kedua orang tua Edward di panggil ke sekolah, namun tak membuat kelakuan Edward berubah, malah semakin parah.
__ADS_1
Edward berusaha menghubungi gengnya untuk berkumpul di kantin. Setelah sampai di kantin, Edward segera memesan pesanannya.
TBC...