
Hari ini Nadia mengajak Aarash ke tempat makan yang tak jauh dari tempat tafakur alam yang di ikuti Aarash.
"Aa, kita duduk di sini aja sambil melihat pemandangan alam yang asri" ajak Nadia.
"Boleh, yuk kita ke sana"
Nadia dan Aarash berjalan sambil menggenggam tangan seperti mereka lakukan jika sedang berjalan berdua.
"Pemandangan di sini sangat indah ya Aa"
"Iya, apalagi di temani bidadari cantik seperti kamu." puji Aarash sambil menatap wajah cantik Nadia.
"Aa bisa aja, aku jadi malu." ungkap Nadia sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aku tak buat kamu malu, aku berkata jujur kok..." jujur Aarash, bagi Aarash Nadia orang paling cantik di dunia.
Aarash menyingkirkan tangan Nadia perlahan-lahan agar wajah cantik Nadia bisa di lihatnya.
Nadia tak menolaknya, gemuruh di hatinya bertalu-talu.
Aarash mengikis jarak antara mereka berdua hingga tak tersisa, bau nafas mint menyeruak di sekitarnya.
Nadia hanya terdiam menatap mata coklat Aarash, mata mereka beradu seolah-olah saling menyelami satu sama lainnya. Dada mereka bergemuruh penuh degub.
Nadia terdiam, matanya melebar tiba-tiba saja Aarash menyatukan bibir mereka.
Aarash mengecup lembut benda yang berwarna tomat matang nan tebal, Nadia pun menikmati permainan Aarash, hingga tak terasa Nadia mulai membalasnya.
Mendapat balasan dari Nadia membuat Aarash agresif. Ia ******* bibir Nadia dengan brutal serta menekan tengkuk leher Nadia agar mereka bisa lebih memperdalam ciumannya.
Hmmppttth...
Ngn...
Nadia mengusap lembut dada Aarash yang masih tertutup kaos oblongnya. Oksigen mereka mulai menipis namun mereka tak ingin mengakhiri ciumannya.
Nadia menikmati ciuman Aarash yang lembut, namun pasti.
Sebuah sensasi menegangkan menyeluruk ke dalam hati keduanya, beriringan dengan mata mereka memejam, nikmat. Sungguh Nadia tak menyangka, di balik sikap pendiam Aariz benar-benar membuat Nadia tertegun.
Hah... Hah... Hah...
Nafas keduanya seolah-olah menyatu dengan alam di sore itu.
Hingga Aarash melepas lembut permainannya.
Keduanya tertawa bersama sambil kepala mereka beradu.
"I love you, Aariz" ucap Nadia.
Aarash harusnya senang, namun hatinya bagai rasanya tercubit dengan perkataan Nadia.
Paling tepatnya terluka namun tak berdarah.
Bukan salah Nadia.
Dialah yang salah, yang tak mau jujur kepada Nadia.
__ADS_1
Aarash tersenyum kecut.
'Ini harus di akhir' batinnya.
Namun melihat betapa bahagianya Nadia saat ini, dia pun mengurungkan niatnya bahkan tak tega jika nanti Nadia akan kecewa dan malah akan menjauhinya.
Keinginannya untuk jujur masih sering bertengkar dengan egonya.
Aku harus jujur! tekadnya.
Hah!
Aarash menarik nafas panjang dan melepaskan perlahan-lahan
"Nadia, ada yang harus aku katakan" lirih Aarash.
"Aku sudah tau apa yang ingin kau ucapkan, tak perlu kau ungkapkan, aku sudah mengatakan aku sangat mencintaimu, apa itu belum cukup?" tanya Nadia.
"Iya aku tau, aku juga sangat mencintaimu, namun-" perkataan Aarash mengambang di udara.
Handphonenya berdering, dia pun langsung melihat siapa yang memanggilnya.
"Sebentar, aku akan mengangkat telepon dulu, dari adikku." ujar Aarash sambil memperlihatkan jika Aarsyla yang menelponnya.
"Halo, Assalamu'alaikum" jawab Aarash.
"Kakak, kakak ada di mana, hiks..." tangis Arsyla terdengar perih dari seberang.
"Ada apa dek, kenapa kamu menangis, katakan"
"Aku hampir, hiks,,," Arsyla tak dapat meneruskannya, dia tak mungkin mengatakan dari handphone kalau dia hampir di perkosa.
"Iya kak, jangan lama-lama, aku takut, hiks..."
"Iya dek, jangan menangis lagi, kakak akan ke sana"
Aarash pun memutuskan sambungan teleponnya.
"Nadia, nanti kita bicara lagi, sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengan adikku, namun dia tak mau berterus terang di handphone"
"Ayo, kita pulang saja, nanti jika ada waktu lagi kita akan ke sini lagi"
Aarash pun hanya menganggukkan kepalanya, biarlah dia belum berkata jujur kepada Nadia.
Aarash akan mencari kapan waktu yang tepat untuk mengungkapkan segalanya.
Aarash dan Nadia pun berjalan ke arah mobil, Nadia mengenggam tangan Aarash.
Aarash tersenyum lemah, namun dia berusaha mengatakan jika dia baik-baik saja.
Mobil Aarash perlahan menuju tempat tafakur alam.
Setelah sampai di sana, aarash segera berlari ke tenda Arsyla.
"Kakak," tangis Arsyla pecah di perlukan kakaknya.
Nadia menatapnya lirih, dia melihat keadaan Arsyla begitu sok.
__ADS_1
"Aa aku pulang dulu ya, temani adikmu.jika sempat aku ke sini lagi"
"Iya Nad, jangan marah. Aku tak mengantarmu pulang"
"Sudah tak apa, semoga kamu baik-baik saja ya Arsyla. Aku harus pulang, karena orang tuaku pasti sudah menungguku" pamit Nadia.
Arsyla hanya menganggukkan kepala.
"Katakan, apa yang terjadi" tanya Aarsh sambil memegang kedua pundak Arsyla agar dirinya bisa jujur.
Arsyla pun menceritakan kronologi bagaimana dia hampir di perkosa.
"Brengseeekkkk, pastinya ini kerjaannya Edward"
"Kakak, kakak jangan sembarangan menuduhnya, malah Edward yang menolongku kak"
Arsyla pun menceritakan bagaimana Cindy dan Edward menolongnya, namun dia tak menceritakan jika Edward yang menggendomgnya sampai di perkemahan.
"Lalu bagaimana dengan komplotan yang hampir memperkosamu"
"Mereka lari ke dalam hutan kak"
"Mengapa kau tidak ceritakan sama ibu guru pendamping siapa tau mereka sama-sama mencari preman itu di bantu RT sini"
"Aku tak mau menceritakan aibku kak, aku hanya ingin kau menemaniku, aku takut sekali"
"Biarlah mereka ke dalam hutan, aku hanya berdo'a agar mereka tersesat nanti hingga tak tau alan pulang" lanjut Arsyla.
"Iya, kita do'akan mereka akan tersesat" Aarash mengalah.
Aarash memeluk menenangkan Adiknya, pasti adiknya sangat ketakutan.
Aarash masih ragu, di dalam hati kecilnya masih Bertanya-tanya apa benar Edward yang menolong Arsyla.
Kejadian ini pasti membuat Arsyla terpukul.
"Makanya dek, kamu mantapkan hatimu seperti ummy memakai hijab, hijab itu akan melindungimu dari mata jahat laki-laki hidung belang" nasehat Aarash.
"Benar kak, aku menyesal melepaskan hijabku, pasti dua preman itu membuntuti kami berdua"
"Pastilah, tapi yang membuat kakak janggal, mengapa cindy tidak di lecehkan mereka, secara dia sedang buang air kecil di sekitar situ"
Alis mata Aarsh beradu, dia masih memikirkan kronologi yang terjadii dengan Adiknya.
Arsyla hanya menangis.
"Tidurlah, biar kakak yang menjagamu di sini, hapuslah air matamu, ini minumlah" Aarash pun menyodorkan botol air putih yang masih tersegel.
"Buka dong kak, aku seperti tak ada tenaga" ujar Arsyla.
"Iya-iya, bawel"
Arsyla tersenyum kepada Aarash.
Aarah lega, jika telah melihat adiknya tersenyum.
Aarash membuka tutup botolnya lalu menyerahkan kepada Arsyla.
__ADS_1
'Aku harus mencari tahu terlebih dahulu, aku tak percaya dengan Edward dan Cindy, jangan sampai Adikku merasa berhutang budi' batin Aarsh di dalam hatinya.
TBC.. Jangan lupa tinggalkan jejak komentar,like dan Vote, jika mau beri hadiah silahkan🙏🙏 biar author semangat menulis😃