
Brumm...Brumm
Suara melengking motor yang mau adu balap telah terdengar.
Aarash dan Edward telah bersiap balapan.
"Ingat siapa yang kalah, motornya menjadi miliknya yang menang" Teriak Edward.
"Oke, siapa takut, pecundang sepertimu tak pantas Menang" Balas Aarash.
"Kita lihat saja nanti"
Satu.... dua.... ti.... ga...
Brummm.....
"Aarash,"
"Edward"
Semua penonton riuh meneriakkan jagoannya.
Satu putaran masih di pimpin Edward, mereka saling melajukan motornya.
Kadang Aarash di depan, kadang Edward di depan.
Karena memang jarang perawatan motor Edward bermasalah di putaran ke tiga sehingga mau tak mau balapan di menangkan Aarash.
"Horeeee, Aarash keren" teriak penonton.
"Aarash, hebat kamu ya"
"Huh, motor butut somplak, kalau kamu tak ngadat aku sebenarnya bisa menang" gerutu Edward.
Aarash pun menghampiri Edward.
"Nah, loh apa gue bilang kamu itu hanya pengecut saja"
"Nih kuncinya" Edward melempar kunci motornya ke arah Aarash.
Bukannya Aarash terima, malah di tendang baik hingga mengenai pelipis Edward.
"Aww" rintih Edward.
"Uppss, sorry. Motor butut kayak itu, buat apa di koleksi.hahaha, silahkan ambil lagi dan jangan pernah mengangguku lagi"
Permusuhan antara Edward dan Aarash sudah terjadi mulai Aarash sekolah di sekolah yang sama dengan Edward.
Edward kakak kelasnya Aarash, karena kecerdasan Aarash sehingga meredupkan jiwa bintang Edward.
Akhirnya Edwarsd sering mengganggu Aarash tapi tak sampai melukai Aarash.
Karena Aarash capek diganggu terus, hingga Aarash mengajak balapan, siapa yang menang berhenti menganngu yang kalah begitu juga sebaliknya.
Tapi di tengah balapan, Edward pun mengatakan siapa yang menang motor yang kalah akan jadi miliknya.
"Cuiih, anak sombong, gue pastiin loe bakal bertekuk lutut di hadapanku"
"Gue memang tak mengganggumu, tapi gengku bakal buat kau menderita deh" Batin Edward di dalam hati sambil menampilkan senyum simricknya.
Aarash yang sudah perg menjauh, langsung menemui Nadia.
Dia sudah berjanji akan bertemu dengan Nadia malam ini.
"Gue harus ganti motor dan baju dulu deh, setelah itu menjemput sang pujaan"
***
Sedangkan di dalam kamar Aariz.
Dia sedang menggambar sosok yang sangat di kagumi dan di cintai.
__ADS_1
Siapa lagi kalau bukan Nadia.
Dia mengambil bingkisan untuk di berikan kepada Nadia.
Sebuah handphone walau bukan handphone mahal tapi masih bisa di pakai.
Tujuannya agar selalu berkabar dengan Nadia.
"Semoga saja Nadia suka dengan Pemberianku"
Aariz beranjak dari meja belajarnya menuju ke ruang makan.
Sesampai di sana dia melihat Aarash sedang keluar dari lift.
Aariz pun membiarkan Kakaknya.
Tak lama Atika penasaran dengan kemana perginya anaknya.
"Mau kemana?" tanya Ibu Atika
"Ngedate Ummy" jawab Aarash dengan sumringah.
"Ya Ampun Aarash, kamu itu masih kecil"
"Ih,Ummy aku itu sudah 17 tahun, wajar dong suka seseorang"
"Iya kamu memang udah 17 tahun tapi waktunya sekolah dulu, Aby sama Ummy saja kuliah baru bisa jadian.
"Ah, Ummy pasti sekolah juga sudah jatuh cinta."
"Udah sholat belum,"
"Sudah Ummy, aku pergi dulu ya, ntar telat kasian kalau pacarku nunggu"
"Jangan aneh-aneh ya pacarannya. Ingat masa depanmu itu masih panjang."
"Hmmm... bay Ummy. Assalamu'alaikum" ucap Aarash sambil meninggalkan Ibu Atika dan Aariz yang sedang makan malam.
"Aariz, adikmu kok tidak makan malam"
"Masih kecil kok diet, ya udah kamu makan dulu, Ummy mau ke atas ke kamar Arsyla"
Tak lama kedua orang tua Mahendra pun bergabung dengan Aariz.
"Opa, Oma Aariz sudah selesai makan. mau ke kamar"
"Iya nak"
Setelah di tinggalkan Aariz Bu Nanda berkata kepada Pak Tohar.
"Ketiga cucu kita karakternya beda-beda ya, yang satunya terlalu aktif, yang satunya pendiam, yang satunya kurang bergaul"
"Biarin saja Nek, sudah karakternya mereka, asal mereka tidak berada di jalur yang beda dan kelihatannya masih baik-baik saja"
"Mahen kok tumben belum pulang ya. udah jam 8 malam." tanya Ibu Nanda
"Mungkin ada klien atau kerjaannya masih banyak, sehingga dia pulangnya telat." jawab Pak Tohar.
***
Dikamar.
"Arsy, kamu ngak makan nak?" tanya Ibu Atika.
"Udah makan buah Ummy, ini lagi kerjakan tugas"
"Kamu sekelas dengan Aarash ya, nak"
"Iya Ummy, Kak Aarash dan aku di kelas Pilihan"
"Apa Aarash sudah kerjakan PRnya. Awas aja belum. Milih pacaran dari pada belajar ntar Ummy tak kasih uang saku deh"
__ADS_1
"Paling dia nyontek punya aku mah,"
"Lain kali jangan di kasih"
"Iya Ummy"
"Ummy ke bawah dulu, kakek dan nenekmu pasti sudah makan malam"
Arsyla pun hanya menganggukkan kepalanya dan Atika segera meninggalkan kamar Arsyla.
Atika pun melihat handphonenya, memang tadi Mahendra sempat pamit akan bertemu dengan klien dari jepang.
Klien itu besok harus berangkat sehingga mau tak mau malam ini harus bertemu dengan klien itu.
"Ayah, Ibu sudah selesai makan?"
"Iya nak, ini mau minum obat dulu"
"Atika ambilin ya, tunggu saja di ruang keluarga"
"Iya nak" jawab Ibu Nanda.
Atika yang telah mengetahui tempat obat kedua mertuanya segera mengambilkannya dan menyuruh Bi Asih membawakan minumnya.
"Bagaimana lututnya ibu, masih sering nyeri ya"
tanya Atika.
"Kadang-kadang muncul, kadang-kadang tak sakit"
"Masih pakai kipas angin ya Bu"
"Iya kalau ayahmu kepanasan, kalau ibu sih sebenarnya enggan memakai kipas apalagi Ac"
"Ayah batuknya udah mendingan ya"
"Iya nak, hanya kadang-kadang juga muncul batuk."
"Ya udah, minum obatnya dulu" ujar Atika sambil menyodorkan obat-obatan kepada kedua mertuanya.
"Nak, Mahen kok belum pulang?"
"Tadi sudah telpon saya Bu, katanya ada klien dari Jepang mau ketemu di cafe dan besok kliennya harus kembali ke Jepang, jadi mau tak mau harus ketemu malam ini"
"Oh, syukurlah kalau dia sudah beri kabar di rumah"
"Iya Bu"
***
Di tempat lain.
"Maaf tadi menunggu lama,"
"Sebenarnya tidak lama juga, aku barusan membantu ayah dan ibu jualan juga"
"Oh, ya sudah ayo kita ke cafe."
"Kita makan di angkringan aja ya" ucap Nadia.
"Kenapa maunya di angkringan" tanya Aarash aneh. Biasanya wanita lain pasti maunya di Cafe atau tidak di restoran besar.
"Aku tak pede dengan penampilanku, aku punya tempat makan yang enak, aku yakin kamu bakal suka dengan tempatnya"
"Baiklah, kamu kasih tau aja jalannya ya"
Mereka pun melajukan mobilnya menuju tempat yang akan mereka datangi untuk makan malam bersama.
Aarash juga tak begitu suka makan di restorsn atau cafe, dia lebih memilih makan di rumah. baginya makanan buatan ummynya lebih enak dibandingakan makan di luar.
Demi membahagiakan Nadia, Aarash pun mengikuti kemauannya.
__ADS_1
Tak masalah makan di mana saja, asal bersama Nadia dia bahagia.
TBC..