
POV Nadia.
"Sebenarnya aku ingin memberikanmu sesuatu, kita duduk di sana saja ya" ucap Aariz kepadaku
Kami pun duduk di ruang tunggu bengkel.
"Ada apa Aa, sepertinya penting banget"
"Memang penting sayang"
Mendengarkan Aariz berkata sayang membuat wajahku merona.
Ya ampun, sebut sayang, membuatku malu
"Aku untuk sementara kan belum bisa ketemu kamu di luar, nah, aku biasanya kangen, untuk mengusir agar aku tak galau, aku belikan kamu ini" ucap aariz kepadaku.
"Apa itu Aa,"
"Buka saja, mudah-mudahan kamu suka ya"
Aariz menyodorkan bingkisan kepadaku, setelah berada di tanganku, Aariz menyuruhku membukanya.
"Bukalah"
Akupun menerima bingkisan itu, dan ketika aku buka ternyata handphone baru lagi.
"Ya Allah, apa Aariz tau jika handphone yang di berikan telah di ambil kakakku?" batinku sedih.
"Loh, kok jadi sedih, ngak bagus ya, kalau ngak bagus, kita sama-sama ke counter ya"
Aku melihat wajah panik Aariz, aku pun menggeleng.
"Aku suka kok, cuman aku sedih, padahal tadi pagi kamu sudah memberiku handphone baru, namun kakakku telah mengambilnya" ucapku jujur dan membuatku sedih dan aku melihat expresinya biasa saja.
"Yah sudah untung aku belikan, yang tadi pagi biarlah untuk kakakmu saja" ucapnya sumbringah.
"Benar kamu tak keberatan? padahal aku takut kamu marah"
Aku bersyukur Aariz sangat perhatian dan tak gampang marah.
Ah, aku semakin mencintainya.
"Iya aku tak marah, yang sudah di ambil tak usah di ambil lagi, biarlah untuk kakakmu,oke!"
Aariz mengerlingkan matanya. Aku tersenyum dengan tingkahnya.
"Iya, makasih ya. Nanti jangan belikan apa-apa lagi, aku tak ingin merepotkanmu!"
Aku sadar aku bukan pacarnya, untuk itu aku tak ingin Aariz terlalu royal denganku.
"Yah sudah,aku antar kamu pulang, setelah itu aku ke Rumah Sakit lagi.
"Baiklah"
Kami pun berjalan beriringan. Aku melihat ada anak perempuan di dalam mobilnya.
Gemuruh dadaku bergejolak.
Apa dia selingkuh atau....
"Ada adikku di dalam mobil, jangan cemburu"
Kok bisa Aariz tau aku cemburu, aku pun berusaha menutupi rasa cemburuku.
"Siapa yang cemburu,"
Aku masih menetralisir apa yang ada di dalam hatiku.
Ya ampun, aku telah husnuzoon kepada Aariz.
Aariz membukakan pintu mobil.
"Hai" sapaku pada wanita yang ada di dalam mobil.
__ADS_1
Dia pun tersenyum.
"Hai juga, kak Aa ini siapa" tanyanya kepada aku.
"Perkenalkan aku Nadia, sahabatnya kakakmu"
"Hmmm.. tadi kakak bilang teman tapi mesranya. hehehehe"
Wajahku kembali merona.
"Iya sepertinya begitu" aku pun mengiakannya saja.
"Masuklah, aku akan mengantarmu ke rumahmu"
Setelah aku duduk di samping adiknya, akupun mengajaknya berkenalan.
"Siapa namamu dek" tanyaku menyapanya
"Aku Arsy, boleh juga di panggil Arsyla"
Dia pun menyodorkan tangannya dan aku pun menyambutnya.
"Nama yang cantik, sesuai orangnya"
"Kak Nadia juga cantik, cocok sama dengan kak Aa Nih"
"Do'ain jodoh ya dek" timpal Aariz kepada kami berdua.
kami pun hanya tertawa.
Akhirnya sampai juga di rumahku, karena memang jaraknya tak terlalu jauh.
Aku segera pamit kepada mereka berdua. Berada di keluarga saling sayang memang cukup nyaman.
Aku melambaikan tangan dan setelah mobilnya tak kelihatan lagi, aku pun langsung masuk kedalam rumah.
Ketika memasuki rumah, aku berpapasan dengan saudaraku lagi.
"Apa yang kau bawa itu lagi, sini kasih kepadaku lagi" Edward pun mengambil bingkisan yang di beri Aari kepadaku.
"Heh! enak banget kamu dapat handphone terus"
Edward pun langsung melempar bingkisan dan beruntung aku bisa menangkapnya lagi.
"Ish, kakak nih, harusnya kakak yang memberiku handphone bukan orang lain"
"Kamu kan kerja, ngapain kerja setengah mati malah mengharap padaku yang pengangguran, beruntung kamu sudah punya kekasih yang tajir seperti Aarash"
"Aarash" ucapku mengulang lagi
"Aariz kak, teman yang aku taksir namanya Aariz dan dia satu sekolah denganku"
Aku melihat kakakku terlihat bingung.
Aku pun langsung masuk ke dalam kamarku, meninggalkan kakakku yang kelihatannya lagi bengong.
Aku mengeluarkan handphone baruku dan memasang kartu yang baru di kasih Aariz.
Duhhh...
"Berapa ya nomor handphonenya Aariz, aku tadi lupa mencatatnya terlebih dahulu" bathinku ngedumel sendiri.
Aku pun langsung membersihkan diriku, setelah itu aku pun sholat sebelum membantu kedua orang tuaku.
Aku bergegas ke warung pecel lele kedua orang tuaku. Aku melihat kakakku sedang makan pecel lele.
"Di rumah ada makanan kok maunya makan di sini" dongkolku sendiri melihat tingkah kakakku.
Setelah makan kakakku langsung pergi tanpa membantu kami di warung.
"Mau pergi kemana kamu Edward" tanya Ayahku dengan lantang.
"Main" ucap kakakku acuh.
__ADS_1
"Kamu ini, habis makan malah ngeluyur terus, lihat itu adikmu, kita ini bukan orang kaya lagi Ed, Ingat! setidaknya kamu tak buat onar di jalan" Ayahku berkata sambil menunjuk muka kakakku.
"Iya, ayah tak perlu mengajariku" ucap kakakku lalu menjauh.
Aku hanya melihatnya, dan tak bisa berbuat apa-apa.
Kakakku memang sudah terbiasa hidup mewah, jadi pada saat jatuh seperti ini dia malah melawan takdirnya.
Aku hanya berharap kakakku bisa cepat sadar.
Drerttt...
Handphoneku berdering.
Kedua orang tuaku melihatku, aku hanya tersenyum dan mengangkat teleponnya.
"Halo, assalamu'alaikum" jawabku setelah sambungannya tersambung.
"Waalaikum salam, kamu lagi apa"
"Aku lagi bantu ayah dan ibuku"
"Owh, maaf kalau sudah menggangumu"
"Tidak kok, kebetulan belum ada pembeli"
"Semoga laris manis ya"
"Iya, Aamiin" jawabku lirih
"Aa lagi apa sekarang, kesehatan kakek masih belum ada perkembangan ya" tanyaku padanya.
"Iya, nih. Do'akan agar kakekku cepat sembuh ya,"
"Pasti, aku selalu mendo'akan yang terbaik untuk kakekmu"
"Hemm, Biasanya sekarang aku mengajak kamu jalan-jalan, maaf ya"
"Ngak usah minta maaf, aku mengerti dan aku harap kakek segera sembuh"
"Trima kasih sayang"
Aku tersenyum, bagai kupu-kupu menari-nari di sekitarku.
"Ya sudah kamu bantu ayah dan ibumu dulu, aku mau sholat sebentar"
"Iya A, assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam"
Aku pun memutuskan sambungan teleponku dan menghampiri kedua orang tuaku.
"Kamu dapat handphoe dari mana!" ujar Ayahku dengan lantang.
"Aku di beri Aa yah" ucapku lirih, aku takut jika kedua orang tuaku marah nanti.
"Nak, tak baik menerima pemberian orang, lebih baik kamu beli dengan hasil jerihmu bekerja" Ibuku berkata sambil membelai punggungku.
"Aku sudah menolaknya bu, namun Aa mengatakan agar aku bisa berkomunikasi dengannya, karena katanya kakeknya lagi koma"
"Kakek? Kakek dari sebelah mana nak, ayah ibunya Aa atau Ayah dari Ayahnya"
"Kalau kata Aariz, yang sakit ayah dari ibunya"
"Pak Tri? Ya Allah, semoga Pak Tri cepat sembuh"
"Ayah mengenal keluarga Aa"
"Iya nak, ayah mengenalnya, malah sangat mengenalnya, mereka orang-orang yang baik, lupakan saja, sana kau ambilkan minum untuk ibu itu"
Aku melihat pengunjung yang sedang duduk di warung makan pecel lele kedua orang tuaku.
Aku melihat ada sesuatu yang di sembunyikan ayahku, tapi aku takut untuk bertanya....
__ADS_1
TBC....
Jangan lupa tinggalkan jejak komentar ya...