Cinta 'Kan Temukan Jalannya.

Cinta 'Kan Temukan Jalannya.
Bab. Tak Seperti Dulu


__ADS_3

Setelah sampai di Alun-alun, Aariz mengedarkan pandangannya, dia nampak ragu untuk turun.


"Nad, kita jangan di sini ya! aku nggak suka di sini" ujar Aariz setelah melihat Alun-alun nampak ramai.


'Biasanya kok mau di ajak ke sini, mengapa sekarang nggak suka ya' batin Nadia.


"Baiklah, kita cari tempat yang membuat Aa nyaman aja" ucap Nadia sambil menatap Aariz.


Mobil Aariz pun menuju restoran mewah, dia ingin memesan room VVIP.


"Aa aku malu masuk ke restoran seperti ini"


"Nggak apa-apa, kamu cantik dan kita masuk di room VVIP aja"


Nadia terbelalak, biasanya Aariz nggak mau seperti ini, kok sekarang mau seperti ini.


Karena tak ada respon dari Nadia, Aariz turun memutari mobil dan membukakan pintu untuk Nadia.


"Yuck turun" ajak Aariz.


Nadia pun dengan berat hati melangkahkan kaki ke dalam restoran itu.


Aariz pun langsung menemui CS meminta di bukakann room VVIP.


Setelah itu, mereka di antarkan karyawan restoran di ruangan yang telah di pesan mereka.


Aariz menarik kursi dan mempersilahkan Nadia duduk.


Dengan lankah gontai Nadia pun menuruti keinginan Aariz.


"Pesanlah yang kamu suka." Aariz menyerahkan daftar menu kepada Nadia.


Nadia melihat daftar menu, dia sebenarnya tak suka makan di tempat seperti ini.


"Nadia? kamu nggak suka makan di sini?" tanya Aariz.


Nadia menggeleng.


"Eh, maksudnya aku senang kok" senyum kecut mengembang di bibirnya.


"Pesanlah"


"Aku bingung mau pesan apa, aku tak pernah masuk ke restoran seperti ini"


"Mulai sekarang biasakan, aku akan mengajak kamu ke tempat seperti ini"


Nadia hanya tersenyum masam. Di lubuk hatinya paling dalam menginginkan Aariz seperti dulu.


Nadia hanya menganggukkan kepalanya.


"Kamu mau steak?" tanya Aariz dahulu sebelum dia memesannya.


Nadia hanya menganggukkan kepalanya.


"Baiklah 2 wagyu kobe steak, 2 milkshake, dan lemon creme desert 2 ya"


Karyawan itu pun mencatat pesanan mereka. Tak berapa lama pesanan mereka pun datang.


Nadia hanya memandangi pesanan yang ada di mejanya, dia tak tau cara makan ya bagaimana.


Aariz pun tersenyum, dia mendekatkan kursinya di samping Nadia.


Nadia pun membalas senyumannya.

__ADS_1


Aaris mengambil pisau dan garpu, setelah itu menyuruh Nadia memegang pisau dan garpunya.


Aariz pun mengajarkan cara motong steak kepada Nadia.


"Potong perlahan, setelah itu yang terpotong di bisa langsung di makan, mudah kan!" ujar Aariz.


Nadia hanya mengangguk lagi, dia nampak kaku memotong steak yang ada di depannya.


Namun Nadia berusaha untuk terlihat bisa memotong steak yang ada di depannya.


Aariz pun membantunya.


'Mengapa sih, sikapnya aneh! Biasanya maunya makan di kedai biasa, ah.. aku rindu Aariz yang dulu' batin Nadia.


Dia pun memperhatikan Aariz. Aariz yang di tatap Nadia malah tersenyum senang.


Setelah mereka makan, Nadia melihat jam di handphonenya sudah menunjukkan jam setengah sembilan malam.


"Aa kita pulang yuck, kedua orang tuaku akan marah jika aku pulangnya melewati jam sembilan"


"Ya udah kita pulang, padahal aku ingin mengajakmu menonton bioskop, tapi jika kamu memang ingin pulang, aku akan mengantarkanmu"


Mereka pun keluar dari restoran, Aariz membayar pesanan makanan mereka.


Nadia tercengang ketika kasir menyebutkan harga makanan yang mereka makan.


'Delapan juta, mending uangnya aku simpan saja' batin Amara yang tak pernah memegang uang sebanyak itu.


Aariz pun membukakan pintu mobilnya dan setelah Nadia duduk dia pun memutari mobil dan duduk di samping kemudinya.


Dalam perjalanan tak ada yang bercerita, semua larut dalam hayalannya.


Aariz pun menyetel musik India yang ada di mobil Aarash.


"Aa aku suka lagu India" ucap Nadia.


"Oh, kamu suka! ya udah aku setel itu saja"


'Astaga, hari ini Aariz nampak berbeda dari biasanya. Mungkin memang sudah berubah karena biasanya di sekolah diam saja' batin Nadia lagi.


Setelah menempuh jarak setengah jam, akhirnya mereka sampai di rumah Nadia.


Aariz pun membukakan pintu untuk Nadia.


"Aa mau mampir dulu" tanya Nadia.


"Nanti lain kali saja"


"Baiklah, hati-hati di jalan..." ujar Nadia sambil melambaikan tangan kepada Aariz.


Setelah membunyikan klakson, Aariz memutar mobilnya menuju ke rumahnya.


Perasaannya begitu bahagia, lain halnya dengan Nadia.


Dia merasa kehilangan sosok Aariz yang dahulu.


Sementara itu di kamping Aarash dan Arsyla sedang berbaris untuk penutupan acara tafakur alam di sekolah mereka.


Setelah Kepala Sekolah memberi sambutan dan menutup kegiatan tafakur alam, semua siswa ada yang senang ada juga yang sedih. Mereka pun bersiap pulang ke rumahnya masing-masing.


"Arsy, loh nggak dekat lagi dong sama bambang tampan Edward" bisik Citra.


"Hust, diam! ntar kakak gue denger nanti..." balas Arsyla sambil meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya.

__ADS_1


"Tapi kamu dah punya nomor handphonenya kan"


Arsyla hanya menganggukkan kepalanya, senyum cerah citra pun terbit di bibirnya.


'Yes, makan tuh umpan' batinnya lagi.


"Bagus deh" ucap Citra sambil tersenyum.


Arsyla pun membalas senyuman Citra.


"Dek, udah siap semua?" tanya Aarash.


"Udah kak, nih..." tunjuk Arsyla memperlihatkan bawaannya.


"Aku nebeng kalian ya" ceplos Citra.


Aarash hanya menatap dingin Citra.


"Iya kak, kasian Citra ortunya nggak bisa jemput. Lagian rumahnya Citra kan searah dengan kita"


"Ya udah, masukkan tas kalian di bagian belakang mobil" ujar Aarash mengalah.


Sebenarnya dia sangat malas berhubungan dengan Citra. Citra yang tak pernah berhenti mengganggunya.


Aarash sangat tidak menyukai wanita yang tak malu untuk mengungkapkan isi hatinya, seperti yang di lakukan Citra.


Berulang kali memohon agar Aarash menerima cintanya, namun di hatinya hanya ada nama Nadia seorang.


Walau cintanya bertepuk sebelah tangan, dia tak pernah menyesal. Ciuman antar Nadia dan dirinya tak pernah akan bisa di lupakannya.


"Citra kamu di sebelah kakakku saja" ujar Arsyla sambil memasuki tempat duduk ke dua.


Aarash hanya memutar bola matanya, bisa-bisanya Adiknya mau dirinya dekat dengan Citra.


"Nggak apa-apa nih" tanya Citra lagi.


"Masuklah" kilah Aarash.


Akhirnya mobil Aarash pun meninggalkan tempat tafakur alam yang mereka ikuti.


Arsyla sengaja memilih untuk duduk di deretan kedua karena sedang saling mengirimkan sms dengan Edward.


Dia tak ingin kakaknya sampai tahu jika dia berhubungan dengan Edward.


[aku berangkat dulu ya] Arsyla mengirim pesan kepada Edward.


[Iya, kamu hati-hati di jalan ya, sampai ketemu lagi di sekolah] balas Edward.


[iya, terima kasih ya, sampai ketemu lagi di sekolah]


Arsyla pun menyimpan handphonenya di dalam tasnya. Dia tau jika kakaknya lagi mengawasinya lewat layar kaca spion.


"Yessss... jebakanku akhirnya di embat juga.hahaha" tawa Edward merekah.


Teman-temannya pun merangkulnya.


"Ada kabar apa bos" ucap Raka.


"Tenang aja, umpan sudah termakan. Kita tinggal mancing aja"


"Aseekkk, nggak kere lagi kita"


"Yoaiiii" ucap Edward dengan semangat.

__ADS_1


TBC....


__ADS_2