Cinta 'Kan Temukan Jalannya.

Cinta 'Kan Temukan Jalannya.
Bab. 6 Kakek Sakit


__ADS_3

"Aku antar kamu ke rumah ya" Aariz sedang duduk di atas motornya


"Iya," Nadia mengangguk senang dan segera berboncengan dengan Aariz.


"Jangan lupa peluk ya, nanti kamu jatuh, aku juga yang sakit" ungkapnya sambil menarik tangan kanan Nadia dan di pelukkan ke pingganggnya.


"Kok bisa Aa juga yang sakit," tanya Nadia.


"Ya karena sakitmu, sakitku juga, bahkan aku ingin merasakan sakit yang sama denganmu"


"Ish, gombal" Nadia memukul lemut punggung Aariz


Aariz hanya terkekeh melihat tingkah Nadia.


Motor Aariz membelah jalanan, Aariz tak sadar sudah berapa banyak kata yang di keluarkan dari bibirnya jika bersama Nadia.


Itulah membuatnya nyaman, dan mungkin Aariz merasa lebih hangat ketika bersama Nadia.


Ketika berada di rumah Nadia, Nadia menyuruh Aariz untuk singgah sebentar di rumahnya namun Aariz menolaknya dengan halus, karena dia masih harus ke rumah sakit setelah mendapat telpon dari rumahnya jika Opanya masuk rumah sakit.


Akhirnya Aariz pergi ke Rumah Sakit tapi sebelumnya dia mengganti pakaiannya terlebih dahulu.


Sedangkan Aarash sudah terlebih dahulu ke rumah sakit bersama Arsyla.


"Aariz mana sih, kok belum datang"


"Mungkin lagi di jalan kak, tunggu saja"


***


Nadia pun masuk ke dalam rumahnya, terlihat kakaknya lagi duduk di ruang tamu.


"Siapa yang bersamamu tadi" tanya Edward.


"Ih, kakak sudah ketemu semalam kok masih nanya siapa itu" Nadia menghampiri kakaknya.


"Bukannya itu satu sekolah denganmu, kalian seragamnya sama" Edward penasaran.


"Iya emang kak, kakak nih aneh" sambil memicingkan matanya menatap aneh kakaknya.


"Berarti yang semalam itu teman sekolahmu" tanya Edward lagi.


"Ya ampun kakak nih, makin aneh deh" Nadia pun meninggalkan kakaknya yang kebingungan.


"Berarti semalam bukan Aarash, tapi kok wajahnya mirip Aarash, atau mereka orang yang sama atau orang yang berbeda" gumam Edward sambil memperhatikan adiknya yang masuk ke dalam kamarnya.


"Aku harus mencari tahu dahulu," batin Edward di dalam hati.


Nadia mengganti pakaiannya, dan tak lama handphonenya berbunyi.


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam, Aa. sudah nyampe di rumah" Nadia pun membaringkan tubuhnya ke ranjang.


"Alhamdulillah, aku baru nyampe, dan sekarang aku mau ke Rumah Sakit dahulu"


"Semoga Nenekmu cepat sembuh ya, aku sebenarnya ingin ikut, tapi karena harus kerja di bengkel jadi maaf ya"


"Iya, tidak apa-apa, ya sudah aku tutup telponnya lagi. aku mau siap-siap ke rumah sakit"


"Iya,"

__ADS_1


Tut... tut...


Akhirnya sambungannya terputus.


Nadia bahagia bisa sering berkomunikasi dengan Aariz.


Aariz segera bergegas ke Rumah Sakit, Kakek dan Neneknya sudah di Rumah Sakit, tinggal dia saja dan kedua orang tuanya belum ke rumah sakit.


Perlahan Aariz menuju lobi Rumah Sakit, dia pun menelpon Kakaknya.


"Di mana"


"Kakak ke ruang IGD dulu, kami semua ada di sini"


Tut.. tut..


"Kebiasaan, hanya tanya, langsung di matikan hpnya" gerutu Arsyla.


Aariz pun melihat keluarganya berkumpul di depan ruang IGD.


Dia pun menghampiri semuanya.


Aarash mencoba menghubungi kedua orang tuanya namun hanya operator yang menjawabnya.


***


Nadia setelah sholat dhuhur dia langsung bergegas ke bengkel yang jaraknya lumayan dekat dengan rumahnya.


"Kasih uangmu dulu" pinta Edward.


"Aku tak punya uang kakak" Nadia menjauh dari Edward.


Edward pun hanya menahan tas yang di bawa Nadia.


Terjadilah saling tari menarik antar Nadia dan Edward.


Tughhh.


Handpone Nadia jatuh dari kantong tasnya.


"Kamu beli handphone baru" Edward langsung mengambil handphonenya.


"Itu hanya di kasih Aa" jujur Nadia.


"Di kasih handphone?" heran Edward.


"Iya, barusan Aa memberikan aku handpohe ini" tegas Nadia lagi.


"Sini, kasih saya saja" tarik Edward lagi.


"Jangan kak, aku mohon, kembalikan handphonku, aku dari dulu pengen banget punya handphone kak" pinta Nadia.


"Nanti kamu tinggal minta lagi, ini punya aku saja"


"Hikss, kakak jahat banget sama Nadia" Air mata Nadia tak terbendung.


Nadia tau pasti sangat sulit, jika barang sudah di tangan Edward artinya Nadia harus pasrah kehilangan handphonenya lagi.


Hiks...


"Jangan cengeng, segini aja udah cengeng, nanti minta lagi sama orangnya" Edward pun meninggalkan Nadia sendirian di ruang tamu.

__ADS_1


Dengan hati yang galau, Nadia meninggalkan Erdward yang tersenyum melihat handphone baru yang barusan di beri Aariz.


"Apa yang harus aku katakan, jika Aa menanyakan handphonenya" gumam Nadia.


"Aku harus mencari uang dan menabung lagi untuk membeli handphone seperti yang tadi" bathinnya di dalam hati.


***


"Handphone baru nih" goda temannya Edward.


"Yoi bro, dapat dari adik gue, keren kan"


"Kau ini kakak yang tak berakhlak, harusnya kamu itu yang ngasih kepada Adik, bukan adik yang ngasih ke kakak"


"Pacar Adikku sangat tajir, jadi handphone satu itu baginya kecil"


"Eh, Edward. Kamu lebih baik cari wanita yang cantik dan kaya juga, asal jangan tante-tante, biar kamu juga bisa minta apapun kepada pacarmu"


"Nah, ini baru ide bagus, sepertinya aku sudah punya target yang pas deh"


"Siapa bro, aku jadi penasaran, tipe kamu seperti apa" kekeh temannya.


"Wah, sebelas dua belas dengan Adikku, sepertinya Adik pacar Adikku pas deh"


"Masudnya Adik pacar Adikmu juga cantik?" tanya Jimmy penasaran.


"Yoi, sepertinya mereka kembar, gimana ideku bagus ngak"


"Sepertinya lebih menantang, tapi bagaimana kamu dekatin Adik pacar Adikmu"


"Sini bro, aku kasih tau, jika aku sudah menjadi kekasihnya, tenang saja, hidup kalian terjamin"


"Wahh bagus nih" ucap Raka.


"Oke gimana caranya" tanya Jimmy lagi.


"Sini saya bisikin"


Edward pun membisikkan sesuatu yang hanya di dengar olehnya dan kawan-kawannya.


"Wah, idemu bagus juga, tapi ada resikonya tuh, bagaimana jika dia melapor ke kantor polisi, bisa bahaya kita-kita"


"Tenang saja, kalian hanya perlu aku kasih bogem mentah, setelah itu kalian lari, nah di situ aku akan menjadi pahlawannya"


"Tapi, jika dia mengenali kami gimana?"


Bughhh.


"Aww" Jimmy meringis sakit gara-gara kepalanya di timpuk Edward.


"Kalian itu pakai topeng, dodddoll, masak penjahat tak pakai topeng"


"Baiklah, tapi kira-kira kapan waktunya"


"Kan aku mau tafakur alam di sekolah, nah.. kalian tinggal aku kasih kode biar bisa menjalankan rencana kita, gimana" tanya Edward menaik turunkan alisnya, menunggu kepastian dan persetujuan teman-temannya.


"Asal kami aman, kami siap menjalankannya"


"Asseeekk, begitu dong teman sejati"


Mereka pun bertos ria dan Edward tersenyum simrik, ingin rasanya semuanya berjalan sesuai apa yang dia inginkan.

__ADS_1


"Aku harus mendapatkan Arsyla, apa pun aku akan lakukan agar sekali tepul dua tiga lalat masuk perangkap, hahahaha" gumam Edward di dalam hatinya.


TBC...


__ADS_2