Cinta 'Kan Temukan Jalannya.

Cinta 'Kan Temukan Jalannya.
Bab. 14. Semakin Dekat


__ADS_3

Hari ini hari kedua melakukan tafakur alam, Nadia mengatakan tak bisa datang ke perkemahan.


Aarash pun mengiyakan, bahkan Aarash sudah tak ingin dekat dengan Nadia. Dia sadar jika cintanya Nadia untuk Aariz bukan untuknya.


Ciuman kemarin yang berakhir dengan sebutan Aariz menandakan jika Aariz yang di cintai Nadia bukan Aarash.


Untuk itu, Aarash akan menghindari Nadia perlahan-lahan.


Aarash tak ingin jatuh lebih dalam lagi.


Sedangkan Arsyla mulai dekat dengan Edward.


Setiap hari ada saja di lakukan Edward agar Arsyla tak lepas darinya.


Seperti saat ini, dia memberikan ubi bakar yang baru matang ke pada Arsyla.


Arsyla sangat menyukai perhatian di lakukan Edward, padahal dalam hati Edward dia hanya ingin membalas dendam kepada Aarash dan hanya memanfaatkan Arsyla saja.


"Hebat banget loe Edward, tak sia-sia kita babak belur ya" ucap Raka.


"Maaf Bro, biar kelihatan benaran makanya gue mukul kalian beneran dengan tenaga,hehehe" tawa Edward.


"Trus uang kita mana!!" tagih Jimmy.


"Tenang aja, setelah gue pacaran, baru kalian dapat hasilnya juga" pandangan Edward ke depan. Dia harus mengatur strateginya agar Arsyila cinta kepadanya.


"Oke, kita tunggu janji loe, jangan sampai loe kacang lupa kulitnya"


"Pasti gue kabulkan keinginan kalian bro, tenang aja" tepuk Edward di bahu Raka.


"Kami percaya dengan loe"


"Nah, begitu dong"


Mereka pun makan singkong bakar dengan lahap.


Besok mereka akan kembali ke rumah masing-masing.


***


Aarash duduk termenung sendiri. Dia harus menyatukan Adiknya dengan Nadia. Dia pun mempunyai inisiatif membeli kartu baru.


Pada saat istrahat, dia melajukan mobilnya untuk membeli id card yang baru.


Akhirnya dia ketemu counter walau hanya kecil tak seperti di Mall. Dia membeli 2 Id Card.


Setelah mendapat apa yang di inginkan, dia berkunjung di tempat di mana dia dan Nadia bertemu terakhir kali.


"Nadia maafkan aku, aku bukannya mau membohongimu, namun ini yang terbaik untuk kita berdua" guman Aarash dengan cucuran air mata menetes di pipinya.


Pertama Aarash mengganti nomor handphonenya, setelah itu dia membuang nomornya sendiri.


Setelah itu dia mengambil ID CARd yang ke dua, dia pun menjalankan apa yang harus dia lakukan.


📨 [Aariz, maaf aku Nadia, aku memakai nomor handphone temanku, karena pulsaku habis. Ini nomor baruku 0855546xxxx. tak perlu di balas, karena ini nomor kawanku]


📨 [Nadia, ini aku Aariz, aku lagi ada di kemah adikku, makanya aku memakai nomor handpone temannya Arsyla, nomorku 08566464xxxx tak perlu di balas karena aku sudah mau kembali, nanti hubungi nomorku saja]


Aariz yang menerima pesan Nadia sangat bahagia, sedangkan Nadia bertanya-tanya mengapa Aariz mengganti nomor handponenya.


'Biar sajalah, nanti aja aku tanyakan' batin Nadia di dalam hati.


Setelah menerima pesan itu, Nadia menyimpan nomor handphone Aariz dan melanjutkan pekerjaannya di bengkel, sedangkan Aariz langsung menelpon Nadia dengan semangat.

__ADS_1


Terdengar suara dering telepon dari seberang, namun Nadia belum menjawabnya.


'Mungkin dia sibuk' batin Aariz.


Tak lama terdengar dering telpon Aariz dan ternyata Nadia yang menelponnya.


[Halo, Assalamu'alaikum. Nad]


[Waalaikum salam, Aariz. tadi Aa menelpon Nadia ya]


[Iya, mau ngajak Nadia jalan sih, jika kamu nggak sibuk]


[Boleh, bentar lagi jam 5 aku udah selesai kerja, nanti tinggal jemput saja di bengkel]


[oke deh, aku siap-siap dulu] Aariz sangat senang mendapat lampu hijau dari Nadia.


[Baiklah, sampai bertemu nanti, Assalamu'alaikum]


[Waalaikum salam] jawab Aariz sambil berjingkrak jingkrak dengan senang hatinya.


Hari ini dia pertama kali mengajak Nadia jalan. Dia pun segera mandi dan memilih-milih pakaian yang cocok untuknya.


Sudah setengah jam, masih saja Aariz memilih pakaiannya.


Ummy Atika yang melihat Anaknya yang sedang bingung sendiri mendekatinya.


"Ada apa sayang, kok pakaian lemari di bongkar semua?" tanya Ummy Atika.


"Ini Ummy...hhmm" ragu Aariz mengungkapkan kepada ummynya.


"Katakan saja nak, nanti Ummy bisa bantu" terang Ummy Atika sambil melihat kaos yang pantas untuk anaknya.


"Gini My. Ai punya janji sama temen, tapi bingung mau pakai baju yang mana"


"Kaos aja My, biar kelihatan santai" jawab Aariz.


"Gimana yang ini" tunjuk Ummy Atika.


"Tapi... itu kan mirip punya Kak Aarash, Aariz nggak suka deh"


"Tapi coba dulu, kalian itu cocok pakai baju kaos itu"


"Oke deh My, Aariz coba ya"


Aariz pun mencoba kaosnya dan kelihatan sangat pas di tubuh ya.


"Nah, kan. Kamu sama Aa itu bajunya couple tapi Ummy tau, kalian cocok pakai kaos itu"


"Oke My, makasih ya sudah bantu Ai." Aariz pun mencium lembut pipi Ibunya dan segera memakai parfum kesukaannya, parfum yang sama dengan Aarash.


"Sepertinya bukan temen deh..." goda Ummy Atika.


"Baru temen My, ntar do'ain jadi demen ya" canda balik Aariz.


"Kalau begitu, jangan lupa ajal ke rumah" ujar Ummy Atika.


"Siap My, do'ain lancar ya My"


"Iya sayang, Anak-anak Ummy sudah mulai beranjak dewasa nih" senyum Ummy Atika mengembang. Jika anaknya akan menikah berarti dia harus siap menjadi seorang nenek nantinya.


"Belum Dewasa My, masih remaja. Aariz masih panjang jalannya untuk menikah"


"Kalau begitu, pacarannya tak boleh aneh-aneh ya" wanti-wanti Ummy Atika.

__ADS_1


"Aneh gimana Ummy. Aku janji tak akan melewati batasnya. Aku sangat menyayangi nadia Ummy"


"Oh... jadi namanya nadia" ucap Ummy Atika sambil manggut-manggut.


Aariz yang di tanya hanya menyengir, dia baru sadar sudah keceplosan nama kesayangannya.


"Ummy Do'ain kamu akan terus bahagia ya nak, ingat! jangan pulang malam-malam"


"Siap My. Aariz pergi dulu. Assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam"


Aariz pun mengambil kunci mobil Aarash, tak mungkin dia memakai motor menjemput Nadia.


Sebenarnya Aarash dan Aariz mempunyai mobil sendiri-sendiri, namun Aariz jarang memakai mobilnya. Akhirnya Aariz menjualnya dan dia mengoleksi sepeda motor saja.


Terbalik dengan Aarash, dia lebih memilih menggunakan mobil dari pada motor. Namun, jika di pakai balapan, dia meminjam motor Aariz.


Mereka tak pernah bertengkar, jadi mau di pakai siapa pun motor atau mobil mereka lebih memilih untuk gantian pakai.


Setelah menempuh tiga puluh menit, akhirnya Aariz sampai juga di depan bengkel Nadia.


Aariz turun dari mobilnya dan menghampiri Nadia.


"Hai, Assalamu'alaikum" ujar Aariz ketika menemui Nadia.


"Eh, Aariz duduk dulu ya, aku lagi beresin ini dulu, setelah itu aku ganti baju. Kamu nggak apa-apa menunggu kan?" tanya Nadia.


"Iya santai saja, aku tunggu di sana ya" ucap Aariz sambil menunjuk bangku yang ada di sebelah bengkel.


Nadia hanya mengangguk, dia fokus membereskan motor yang habis di pasang bussynya.


Setelah beres Nadia mengganti pakaiannya dan menemui Aariz.


"Maaf kalau nunggu lama, ya"


"Nggak apa-apa, ayo kita pergi"


Nadia pun hanya tersenyum dan melangkah menuju mobil yang terparkir di depan bengkelnya.


Aariz pun membukakan pintunya dan Nadia masuk ke dalam mobil dan di ikuti Aariz.


"Mau ke mana sekarang?" tanya Nadia.


"Hmm.. aku masih bingung. kamu punya tempat favorit?"


Nadia pun memincingkan matanya. Biasanya Aariz sudah tau tempat kesukaan mereka, tapi sekarang kok malah Aariz yang bertanya.


"Kok malah bengong?" tanya Aariz.


"Eh, kita ke alun-alun seperti biasa"


"Seperti biasa?." tanya Aariz lagi. Dia menjadi bertanya-tanya dalam hati.


'Ah, mungkin Nadia sudah biasa di alun-alun" batin Aariz.


"Ayookk.. "


"Siap Nona cantik.. meluncuuuurrr"


Mobil Aariz pun menuju alun-alun.


TBC....

__ADS_1


Jangan lupa Vote dan komentar ya🙏 trima kasih


__ADS_2