Cinta 'Kan Temukan Jalannya.

Cinta 'Kan Temukan Jalannya.
Bab. 3 Makan malam part. 1


__ADS_3

POV. Aarash.


Kami pun menuju tempat angkringan yang di tunjukan Nadia.


Warung sederhana tapi kelihatan bersih dan nyaman.


Akupun membukakan pintu mobil untuk Nadia.


"Selamat datang, tuan putri, silahkan"


"Ish, Aa apaan sih" ucapnya sambil menampilkan senyum merekahnya menampilkan lesung pipi yang membuatnya bertambah cantik.


Hari ini penampilannya sederhana tapi tidak dengan wajahnya. wajahnya sangat wah bagiku.


Aku jatuh cinta di saat pertama bertemu.


Walau aku harus menyamar menjadi Aariz tak masalah, asal bisa dekat dengannya.


Jika dia sudah menerima cintaku, barulah aku akan berterus terang kepadanya.


Setelah mereka duduk, Nadia memesan 2 lalapan ayam beserta 2 es jeruk.


Nadia pun sempat bingung harus bicara apa. Dia hanya senang di ajak makan.


Kata Aarash sebagai tanda terima kasih telah memperbaiki kerusakan mobilnya hingga bisa di ajak balapan.


"Kamu sering makan di kedai ini?" tanya Aarash.


"Tak sering sih, jika habis gajian pasti aku sempatin makan di sini"


"Trima kasih, kamu telah memberi aku pengalaman pertama makan di kedai seperti ini"


"Iya, aku hanya tak terbiasa makan di restoran atau cafe. jadi makanya aku mengajak kamu makan di tempat ini. apa kamu menyukainya?"


"Sangat suka, apalagi bersama denganmu"


Nadia pun tersenyum, mereka bertatapan mesra.


Aarash menyentuh rambut Nadia dan menyelipkan di telinga Nadia.


"Ada rambut yang menutupi kecantikanmu"


Nadia makin tersipu dan menyembunyikan kegugupannya.


Deg.. deg.. deg..


Gemuruh di dadanya terasa nyata.


Apa ini di sebut cinta. Jika di sekolah tingkahnya cool tapi lain hal jika telah berada di luar sekolah.


Mereka pun bertatapan mesra kembali. Hingga terputus karena pesanan mereka telah di hidangkan.


"Semoga kamu suka ya" ucap Nadia.


Aarash pun mengambil sepotong kecil Ayam dan di cocol di sambal. Sebelumnya dia mengucapkan do'a dan langsung melahap makanan di depannya.


"Hmm, ini sangat enak, aku belum pernah makan sambal seperti ini"


"Iya, itu sambalnya biasanya di kasih jahe"


"Sepertinya kamu suka memasak sampai tau racikannya nih"


"Kedua orang tuaku jualan lalapan juga seperti ini"


"Loh, kenapa tidak makan di kedai kedua orang tuamu, sekaligus aku ingin lebih dekat dengan kedua orang tuamu"

__ADS_1


"Maksudnya?" Nadia heran Aarash ingin lebih dekat dengan kedua orang tuanya.


"Nggak ada maksud apa-apa, hanya ingin silaturahmi saja, apa tak boleh?"


"Boleh, nanti kapan-kapan kamu aku ajak di kedai kedua orang tuaku"


"Yes" batinnya di dalam hati Aarash.


Aarash hanya menganggukan kepalanya sambil menikmati lalapan.


"Setelah selesai makan, kita ke taman kota ya"


"Boleh, tapi jangan sampai lewat jam 9 ya. Ibu melarangku keluar sampai jam 9 malam"


"Baiklah." Aarash pun menyanggupi keinginan Nadia.


Memang sepatutnya anak remaja jangan terlalu lama di luaran.


Bagi orang tua Nadia, boleh keluar rumah asal pulangnya jangan terlalu larut malam.


Setelah selesai makan, Aarash pun membayarnya kepada pemilik kedai.


Dia menyerahkan uang 100ribuan 2 lembar.


"Kembaliannya di ambil aja pak"


"Trima kasih den, ini terlalu banyak"


"Nggak papa Mang, anggap aja rezeki dari Allah"


Nadia melihat perbuatan Aarash begitu tersentuh, bukan saja baik tapi juga sangat dermawan.


Aarash pun mengenggam tangan Nadia dan Aarash membukakan pintu mobilnya.


Nadia masuk kedalam mobil.


Aarash hanya bergumam.


"Dalam cinta tak ada kata trima kasih"


***


Mereka pun ke taman kota yang tak jauh dari kedai tempat mereka makan malam.


"Kita duduk di sana ya"


"Ayuk"


Aarash masih menggenggam tangan Nadia.


Mereka pun duduk di sudut taman kota.


"Apa kamu bahagia malam ini bersamaku?" tanya Aarash memulai obrolan.


"Iya aku senang dan bahagia,"


"Syukurlah, aku tak sia-sia mengajakmu makam malam dan jalan-jalan"


"Tak ada yang sia-sia di hidup ini, aku dulu terlahir orang berada, sampai kedua orang tuaku bangkrut. Aku tak sedih. Mungkin ada kebahagiaan yang akan aku raih nantinya"


"Aku janji akan membahagiakanmu, aku sangat mencintaimu Nadia"


"Benarkah yang Aa katakan? selama kita di sekolah kita memang dekat. Tapi kamu tak pernah sekalipun mengatakan apapun"


"Aku dari awal melihatmu, aku sudah jatuh hati, ijinkan aku membahagiakanmu"

__ADS_1


"Ijinkan aku menjadi pacarmu, apa kamu menerimanya?"


Aarash menggenggam kedua tangan Nadia. Sambil bertatapan mesra.


"Beri aku kesempatan untuk memikirkannya, aku bukan menolak tapi aku hanya ingin menyakinkan hatiku, beri aku waktu seminggu ini" ucap Nadia hati-hati.


"Baiklah, kita jalani saja kemana arah kedekatan kita. Aku ingin mengenalmu lebih dalam lagi"


Tatapan Aarash ke dalam mata cantik Nadia. Membuat Nadia menjadi salah tingkah.


Sebenarnya Nadia mencintai Aariz juga. Dari mereka dekat di sekolah sampai mereka duduk di bangku yang sama.


Hanya saja Nadia takut kedua orang tuanya dan kakaknya bakalan marah jika dia sudah berani berpacaran di usia masih sekolah saat ini.


Nadia tak ingin Aariz kecewa nantinya. Untuk itu seminggu ini dia akan memperkenalkan Aariz kepada kedua orang tuanya dan kakaknya.


"Aa, selama seminggu ini, aku akan mengenalkan kamu kepada kedua orang tuaku dan Kakakku, jika mereka mau aku pacaran saat ini, aku akan menerimamu"


"Jika memang kedua orang tuaku dan kakak masih keberatan aku pacaran saat usia sekolah. aku janji setelah aku dewasa dan kuliah, cinta ini hanya untukmu"


Antara bahagia atau tidak, Aarash merasa bukan aku yang di tujukan kata ini, di lema di dalam hatinya.


"Apa aku jujur saja saat ini, jika aku bukan Aariz" Batinnya dalam hati.


"Nadia, aku sebenarnya..."


"Aa sepertinya sudah jam 9 lebih, kita ngobrol lain kali aja ya, aku takut jika kedua orang tuaku akan marah nanti"


"Oke , aku antar kamu ke rumahmu, sekalian berkenalan dengan kedua orang tuamu"


"Ya, baiklah"


Kami berdua pun berjalan sambil menggenggam jemari. Aarash sangat posesif kepada Nadia.


Dia ingin menunjukkan bahwa Nadia hanyalah miliknya.


Setelah itu dia membukakan pintu mobil dan Nadia duduk di samping kemudi.


Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah yang tak terlalu besar namun ada warung kecil di sampingnya.


"Ini rumahku, ayo kita masuk. Sepertinya ayah dan ibuku belum tidur karena lampu warungnya masih menyala"


"Baiklah,"


Aarash turun dari mobil dan berlari membukakan pintu di samping tempat duduk Nadia.


"Silahkan turun princessku"


"Aa ish, becandanya kelewatan deh" ucap nadia sambil menampilkan dua lesung pipitnya.


"Ish gue yang gemes sendiri" batin Aarash melihat Nadia.


"Ayok"


Nadia mengenggam jemari Aarash dan Aarash mengeratkan genggamannya.


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam" jawab kedua orang tuanya Nadia.


"Aa duduk dulu, aku buatin minum ya"


"Iya dek, trima kasih" ucap Aarash ramah.


Di balik pintu seseorang melihat Aarash.

__ADS_1


"Apa Aarash berpacaran dengan Nadia, wow kebetulan yang baik, jika begitu" gumam Edward dari balik pintu.


TBC...


__ADS_2