Cinta 'Kan Temukan Jalannya.

Cinta 'Kan Temukan Jalannya.
Bab. 12 Hampir saja


__ADS_3

Setelah Nadia menemui Edward, dia mangatakan kepada kakaknya akan pergi dengan Aariz.


Edward yang mengetahui jika Aariz itu Aarash jelas mengizinkan, bahkan dia meminta Nadia jalan-jalan bersama Aariz dahulu agar rencananya akan berjalan lancar.


Edward memperhatikan Nadia berjalan dengan Aarash dari jauh. Ketika dia melihat Nadia dan Aarash pergi dan mobil Aarash tak terlihat lagi, akhirnya dia menyuruh seseorang untuk mengajak Arsyla ke dalam hutan.


"Pokoknya jangan sampai dia curiga, ini bayaran loe"


"Oke deh, tapi janji jangan buat teman gue celaka ya"


"Tenang saja, segini cukup nggak"


"Cukup, lagian gampang kerjanya kok, hanya ajak dia jalan itu masalah gampang" ungkap Cindy.


Cindy sekelas dengan Arsyla dan Aarash. Cindy sebenarnya menyukai Aarash namun Aarash tak pernah memperdulikannya.


Untuk itu, dia begiti dendam juga dengan sosok Aarash. Apalagi tadi dia melihat Aarash bersama wanita lain, dia menjadi sakit hati.


Ketika Edward mengajaknya bekerja sama jelas dia sangat tertarik. Sebenarnya dia tak tega kepada Arsyla. Namun setelah di jelaskan Edward, akhirnya dia pun tergoda untuk bekerja sama.


"Ingat, jangan sampai terjadi apa-apa dengan Arsyla" tegas Cindy.


"Tenang saja, kalau sudah pacaran, ya wajarlah *****'kan, hehehe..." tawa Edward membayangkan dia berciuman dengan Arsyla.


"Oke deal!!." Cindy menerima uang 100 ribuan dua lembar.


Sebenarnya itu uang jajan Edward selama tafakur alam, namun karena niatnya ingin menjadikan Arsyla sebagai buruannya, hingga dia mau menyerahkan uang itu kepada Cindy.


"Eh, Dua ratus ribu saja ya, seratusnya buat gue jajan,hehehe..." kekeh Edward sambil menarik uang 100 ribuan lagi.


"Ish, loe itu pelit banget sih"


"Udah maklum gue tidak kerja, itu saja ngambil uang adek gue"


"Oke deh, lumayan buat jajan di sini." Cindy pun menjauhi Edward.


Uang yang dia dapatkan langsung di kantonginya. Lalu dia menemui Arsyla.


Maklum acara tafakur alam yang di adakan di puncak, jadi jelas di belakangnya masih hutan belantara.


"Arsyla, yuck kita jalan-jalan sebentar di sana." tunjuk Cindy di belakang tenda.


"Ih, ngeri ah. gue takut" Arsyla melihat hutan belantara.


"Nggak usah takut, kan ada gue juga" bujuk Cindy.


"Gue pamit dulu sama kakakku ya" imbuh Arsyla.


"Tadi gue lihat kakakmu pergi membawa mobilnya"


"Hah, beneran?" heran Arsyla.


'Kok, biasanya kakak pamit atau mengajakku, kok sekarang tidak' batinnya di dalam hati.


"Ya makanya itu, kita jalan-jalan bentar"


"Oke deh,"


Akhirnya mereka berjalan di jalan setapak memasuki area hutan.

__ADS_1


"Wow, baru kali ini gue masuk hutan seperti ini, sebenarnya tak seram ya"


"Iya, apalagi kalau kita sampai di puncak, pasti sangat seru, bagaimana kalau kita mencari sampai ke puncak, lagian ini jalan setapaknya kan hanya satu, pasti tidak akan tersesat"


"Jangan ah, gue takut nyasar. lagian guru melarang kita untuk jalan terlalu jauh"


"Ish, gue kok pengen pipis" ungkap Cindy.


"Jangan becanda Cindy, atau kita balik pulang saja"


"Gue udah kebelet, loe tunggu di sini ya." ucap Cindy sambil menahan roknya.


"Iya deh, tapi jalan lama-lama sebentar lagi udah mau maghrib" ujarnya.


"Ini baru jam 5 kali, ya udah gue ke semak-semak dulu"


"Hmm.. cepetan ya, gue takut sendiri"


"Iya,"


Cindy pun masuk ke dalam hutan, sebenarnya dia tak ingin buang air kecil, karena sudah melihat anak buah Edward jadi dia berpura-pura kebelet agar Arsyla mengijinkannya pergi.


Baru lima menit di tinggalkan Cindy. Arsyla terlonjak kaget dengan kemunculan orang bertopeng bahkan menggunakan baju hitam-hitam.


Bulu kuduknya merinding, dia tak tau harus berbuat apa lagi.


"Kalian siapa, jangan mengangguku"


"Cindy, Cindy Tolong aku" teriak Arsyla.


"Teriaklah sesuka hatimu, jika perlu kami akan membantumu"


Mendengar laki-laki itu berteriak sontak Arsyla menjadi takut.


'Ya Allah, tolonglah hamba' rintihnya di dalam hati.


Dia pun berlari, bukannya berlari ke luar hutan, malah semakin lari ke dalam hutan.


Laki-laki yang mengejarnya pun mengikuti Arsyla, mereka mengejar Arsyla, hingga kaki Arsyla tersandung.


"Aww... ummy, aby, kakak, tolong Arsy" rintihnya.


"Kita bersenang-senang dulu cantik"


"Jangan aku mohon, aku mohon jangan sentuh aku, aku akan memberikan berapa pun yang kalian minta, asal kalian jangan menyentuhku"


"Ah, omong doang, pasti kamu akan melaporkan kami ke kantor polisi"


"Tidak, aku janji, tapi aku mohon kalian lepaskan aku."


Arsyla memundurkan badannya, namun naas badannya sudah menyentuh dahan pohon.


"Mending kamu layani kami, sebelum kami membuang jasadmu," ungkap salah satu laki-laki yang memakai topeng.


Arsyla semakin ketakutan.


Salah satu mereka berusaha mendekati Arsyla, Arsyla yang ketakutan berusaha melayangkan tendangan namun bagai menendang angin saja.


"Tolong...!! Tolong aku!!" jeritnya sambil menangis.

__ADS_1


Akhirnya Arsyla menutup matanya dengan kedua tangan. Dia tak ingin menatap dua laki-laki yang memakai topeng yang ingin menjamahnya.


Bughh...


Tiba-tiba Edward menendang salah satu orang itu.


"Awww..."


Akhirnya dua orang bertopeng itu lari ke dalam hutan belantara.


Arsyla perlahan-lakan membuka kedua tangannya dan melihat sosok Edward dan Cindy di belakangnya.


Cindy mendekati Arsyla.


"kamu ke mana saja sih..!!" bentak Arsyla sambil menangis.


"Aku cari bantuan Arsy" bohong Cindy.


Hiks..


Refleks Arsyla memeluk Cindy dan Cindy mengajungkan jempol ke arah Edward.


"Terima kasih, kalian berdua mau membantu aku" tangis Arsyla semakin pecah di pelukan Cindy.


"Nggak usah berterima kasih kepadaku, aku sebenarnya tadi ingin keluar dari semak-semak namun aku berfikir, kita berdua wanita pasti akan kalah, makanya aku memanggil kakak kelas kita." bohong cindy lagi sambil mengelus rambut Arsyla menenangkannya.


"Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika kalian tidak datang, terima kasih!, aku sangat berterima kasih kepada kalian, aku mempunyai hutang budi kepada kalian berdua" tangis haru Asryla menyeruak.


"Sudah tenangkan dirimu, mereka tidak akan mengganggumu lagi, lupakan saja, ayo kita pulang" Ajak Edward.


"Maafkan aku, karena aku yang mengajakmu ke sini malah kamu mengalami perlakuan seperti tadi"


"Aku sangat takut Cindy, Hiks" tangis Arsyla. Lututnya gemetar, dia tak sanggup untuk berjalan.


Happp...


Edward langsung menggendong Arsyla ala bridal style.


Arsyla terperangah, sontak saja di kalungkan kedua tangannya di leher Edward.Di tatapnya wajah tampan Edward dengan lesung pipi menambah nilai plus di hatinya. Sontak, hal itu membuat kelopak mata Arsyla melebar, dadanya bergemuruh penuh degub. Aroma parfum mint di tubuh Edward menyeruak di hidung Arsyla menambah damai di hatinya.


Dia pun menyembunyikan wajahnya di sela-sela dada Edward, malu, terbuai, dan sangat bahagia itu yang di rasakan Arsyla. Arysla masih sekali-kali sesenggukan karena menangis.


Edward hanya terseyum dan menatapnya sekilas, agar Arsyla menjadi tenang.


Arsyla jatuh cinta dengan sosok Edward.


Selama di perjalanan Arsyla menatap Wajah Edward. Ketika itu dia tersadar jika Edward adalah musuh bebuyutan kakaknya Aarash.


'Apa yang harus ia lakukan'


'Berusaha mengabaikan hatinya atau menjalani cintanya dengan Edward' batin Arsyla di dalam hati.


Satu kata di dalam hatinya.


Dilema.


TBC....


TBC...

__ADS_1


__ADS_2