Cinta 'Kan Temukan Jalannya.

Cinta 'Kan Temukan Jalannya.
Bab. 17 Pulang Bersama


__ADS_3

Hari ini seperti biasa Aarash bersama Arsyla menuju ke sekolahnya.


"Dek, nanti kamu bisa pulang sendiri kan?" tanya Aarash.


"Bisa kak" jawab Arsyla tanpa ada sanggahan atau bertanya mengapa kakaknya tak mengantarkan dia pulang.


"Kok tumben nggak nanya kalau kakak mau ke mana" heran Aarash.


"Arsy dah tau, kalau kakak bakal ke kantor opah, Ummy sudah ngasih tau kok"


"Oh, gitu. Kamu harus langsung pulang ke rumah ya?" peringati Aarash.


"Siap Kakakku." jawab Arsyla sambil menirukan tentara yang sedang menghormat bendera.


Akhirnya mereka pun tertawa bersama.


'Aku akan hubungi Edward, biar dia aja yang mengantarku pulang' bathin Arsyla, lalundia tersenyum.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" heran Aarash.


"Nggak kok, hanya rasa aneh saja. Kakak baru 17 tahun udah jadi CEO"


"Terus anehnya di mana?" tanya Aarash.


"Ya Nggak ada yang aneh, hanya saja kalau kakak lagi mimpin rapat, yang di depannya ibu-ibu sama bapak-bapak nanti, hehehehe" goda Arsyla untuk mengalihkan perhatian Aarash.


Setelah sampai di sekolah, mereka langsung masuk ke dalam kelas.


Arsyla langsung duduk di sebelahnya Cici.


"Ci, kita pulang bareng. Mau nggak" tanya Arsyla"


"Kamu pulang bareng Edward saja"


"Sttt... jangan keras-keras. Nanti kakakku bakal dengar. Iya aku bakal pulang bareng Edward tapi ntar aku bilang sama kakakku, jika aku akan pulang bareng denganmu. Kamu mau kan"


"Oke, oke!! asal ada uang tutup mulutnya dulu"


"Ish, kamu nih" gerutu Arsyla.


"Oke, oke!! tenang aja.. jika kakakmu sudah pergi baru aku akan pulang bareng sopirku"


"Tenang aja, aku bakal kirim pulsa tutup mulut" celoteh Arsyla.


"Asseeeek"


"Oke ya, temani aku sampai kakakku pergi"


"Assyiap bos"


Setelah itu Arsyla mengirim pesan kepada Edward agar mereka bisa pulang bersama.


Edward pun menyambut gembira dengan jika mereka berdua bisa jalan bersama.


Langkah menggapai rencananya Edward berjalan mulus.


Tak lama guru kelasnya datang ke dalam kelas, mereka belajar dengan serius.


Setelah pelajaran berakhir, mereka pulang sekolah bersama.


"Dek, kamu mau jalan sama siapa"


"Sama cici kak, tuh cici lagi siap-siap pulang juga"

__ADS_1


"Jangan keluyuran ya dek"


"Iya kak, aku hanya jalan-jalan sebentar doang"


"Ya udah, kakak ke kantor opa dulu"


"Iya kak, dadah...." Arsyla melambaikan tangannya dan melihat kakaknya sampai mobil kakaknya sudah tak terlihat lagi.


"Kakakmu sudah pergi" tanya Cici.


"Iya nih, tapi Edward kok belum kelihatan ya"


"Kita tunggu aja di sini"


"Baiklah"


Setelah menunggu 15 menit.


Dari kejauhan ternyata Edward baru keluar dari kelasnya.


Edward yang sudah kelas 3, memang ada jam tambahan.


"Maaf aku ada tambahan jam pelajaran tadi..." ucap Edward sambil menghampiri Cici dan Arsyla.


"Untung ada Cicinya, jika tidak aku berdiri sendiri di sini" gerutu Arsyla sambil mengerucutkan bibirnya.


"Jangan marah sayang, aku tak tau jika ada tambahan pelajaran, suer deh" celoteh Edward sambil memperlihatkan kedua tangannya seperti telinga kelinci dan memperlihatkan kedua lesung pipinya.


"Udah jangan marah, aku pergi dulu ya" pamit cici.


"Makasih ya, sudah menemani cantikku ini" goda Edward kepada Arsyla.


Arsyla hanya memukul lembut lengan Edward.


"Ayo kita pergi, aku punya tempat yang seru buat kita jalan-jalan" ajak Edward.


"Aku ingin cepat kembali ke rumah, aku takut di marahi ummy jika aku jalan-jalan sepulang sekolah"


"Sekali-kali bolehlah" desak Edward.


"Jangan hari ini deh, aku aja udah telat 15 menit tadi" cela Arsyla menolak halus kepada Edward.


"Baiklah, tapi lain kali jangan nolak ya"


"Iya, aku janji"


Akhirnya mereka tak jadi jalan ke tempat favoritnya Edward. Arsyla sangat takut kepada Ummynya


Mungkin jika Ummynya akan berangkat ke Singapura, dia akan jalan-jalan bersama Edward nanti.


Apalagi jika kakaknya sibuk di kantor, sehingga dia bisa sekali-kali jalan bersama Edward namun bukan sekarang ini.


Edward duduk di atas jok motornya, dan menyuruh Arsyla naik.


"Aku hanya punya motor butut ini, apa kamu tak malu berboncengan denganku?" tanya Edward.


"Aku malah senang jika kita naik motor, biar lebih dekat" imbuh Arsyla yang membuat Edward bahagia.


"Baiklah cantik, let's gooooo"


Edward pun menjalankan motornya perlahan-laham sambil bercerita.


Arsyla memeluk erat perut Edward, sekali-kali tangan Edward mengelus lembut jemari Arsyla.

__ADS_1


Arsyla sangat bahagia jalan bersama pujaannya.


Sementara itu di kantor opanya Aarash.


Aarash sebelumnya sudah mengganti pakaiannya di SPBU dekat sekolahnya, karena tak mungkin dia memakai baju seragam ke kantor opanya.


Semua mata memandang sosok Aarash, bahkan ada yang bertanya-tanya siapakah anak remaja yang memasuki kantor besar ini.


Satpam pun sempat menahan Aarash, terpaksa Aarash menelpon abynya dan abynya berbicara dengan satpam tersebut.


Setelah mengetahui jika Aarash cucu pemilik perusahaan akhirnya satpam itu meminta maaf dan menyuruh Aarash masuk ke dalam kantor.


Semua karyawan sudah di beritahukan jika mereka akan di kumpulkan di ruang rapat jika CEO perusahaan ini datang.


Semua orang bertanya-tanya siapakah sosok yang akan menggantikan Pak Tri yang berwibawa dan ramah itu.


Aarash pun menaiki lift khusus petinggi perusahaan.


Ting!!


Bunyi lift pun menandakan jika lift itu sudah sampai di lantai atas perusahaan.


Aarash melihat ke kanan dan ke kiri. Dia masih bingung di mana tempat abynya berada.


Sekretaris yang sudah mengetahui kedatangan Aarash segera mengajak Aarash menemui abynya.


"Aby, jadi di sini tempatku nanti" tanya Aarash.


"Iya Nak, perkenalkan ini sekretarismu nanti, Mbak Tia, dia juga akan membimbingmu nanti"


"Hallo tante, senang bertemu dengan anda, apa boleh aku memanggilmu Tante Tia ya"


"Iya tidak apa-apa, kamu juga seumuran ponakanku, biar kita lebih dekat kamu bisa memanggilku tante"


"Tia, suruh seluruh karyawan tanpa terkecuali datang di ruang rapat ya"


"Baik Pak"


Akhirnya Tia menelpon semua divisi untuk mengajak seluruh karyawannya agar hadir di ruang rapat sekarang juga.


Aarash dan Ayahnya menuju ke ruang rapat.


Aarash yang baru pertama kali, jelas begitu gugup namun dia berusaha agar tetap seperti biasa.


Mahendra yang melihat anaknya begitu gugup memberikan support dengan menggandeng pundak anaknya.


"Jangan tegang, ini seperti kamu akan menjadi ketua osis seperti di sekolahmu"


"Maklum Aby, ini baru pertama kali bagiku. apa mereka akan menghormati dan segan kepadaku walau aku lebih muda dari mereka"


"Tetap perlihatkan kamu itu atasan mereka, namun jangan perlihatkan sikap arogan bahkan semena-mena kepada karyawanmu"


"Baiklah Aby, aku akan selalu mendengar nasihatmu, aku sangat membutuhkan bimbinganmu nanti"


"Selalu belajar dan terus belajar"


"Baik Aby"


"Yuck kita masuk ke dalam ruangan"


Mereka pun memasuki ruangan sambil menunggu karyawan yang lain datang ke ruangan tersebut.


TBC...

__ADS_1


Jangan lupa jejak Vote dan komentar ya...


__ADS_2