
Setelah kembali dari tafakur alam, Aarash mengungkapkan niatnya kepada kedua orang tuanya.
"Ummy, Aby, Aarash ingin belajar menjadi CEO di perusahaan kakek"
"Alhamdulillah nak, ummy senang sekali jika kamu sudah memantapkan hatinya menjadi CEO"
"Iya Ummy, satu hal lagi. Aarash akan tinggal bersama nenek saja"
Mahendra dan Atika terperangah, dia tak percaya jika anaknya ingin tinggal bersama neneknya.
j
"Bagaimana Aby, apa kamu setuju"
Mahendra sebenarnya tak ingin terpisah dengan anaknya, namun jika tak ada yang tinggal dengan neneknya maka Mahendra dan Atikalah yang harus tinggal di sana, sedangkan Arsyla anak perempuan yang butuh bimbingan dan pengawasan orang tua.
Mahendra berfikir lagi.
"Baiklah nak, Aby setuju kamu tinggal bersama nenekmu" ucap Mahendra dengan berat hati.
"Ummy bagaimana?" tanya Aarash.
"Jika Abymu sudah setuju, Ummy juga akan menyetujuinya"
"Baiklah, malam ini aku akan beres-beres, biar besok setelah pulang sekolah aku langsung ke rumah nenek dan ke perusahaan kakek"
Aarash mengedarkan pandangannya, dia tak melihat kembarannya.
"Aariz mana ummy?" tanya Aarash.
"Katanya tadi mau ketemu sama... " perkataan Nadia mengambang, dia memikirkan nama gadis yang di sebutkan anaknya.
"Siapa ya namanya.. na... na"
"Nadia ya?" jawab Aarash menebak.
"Yah,, bener Nadia... dia mau ketemu Nadia"
'Berarti mereka setelah aku berikan nomor handphone langsung saling berhubungan' batin Aarash kecewa.
"Ummy, Aarash ke kamar dulu"
Tanpa menunggu jawaban kedua orang tuanya, Aarash segera melangkah menuju kamarnya.
Hatinya begitu sakit, bayangan ciuman dengan Nadia berputar-putar di benaknya.
Arrrghhhhhh.
Aarash menjambak rambutnya.
Dia pun langsung menuju kamar mandi untuk mendinginkan perasaan yang panas karena mendengar Aariz bertemu dengan Nadia.
'Kenapa harus begini' batinnya sambil air matanya menetes.
Cengeng.
Itulah yang di rasakan Aarash, meneteskan air mata buat melepaskan sosok Nadia.
Setelah di rasa tenang, Aarash pun segera mengganti pakaiannya dan memasukkan baju-bajunya ke dalam tas ranselnya.
Dia pun mengambil foto Nadia.
__ADS_1
"Goodbye My Sweety"
Aarash pun memasukkan foto Nadia ke dalam laci. Dia tak ingin membawa kenangannya lagi.
Setelah semua beres, Aarash membaringkan tubuhnya.
15 menit berselang namun mata Aarash belum bisa menutup sempurna. Bayangannya kepada Aariz dan Nadia yang sedang berjalan berdua.
"Akhhhhh.... Aku lebih baik cari angin di luar"
Aarash pun mengambil kunci mobilnya, namun kunci mobil yang satunya tak ada.
"Dimana aku menaruhnya ya?" gumamnya sendiri.
Atika yang melihat anaknya sedang celingak celinguk mencari sesuatu sehingga dia pun ikut mencari.
Aarash yang melihat Ibunya mondar mandir pum merasa heran.
"Ummy, ummy sedang mencari apa?." tanya Aarash.
"Ummy lagi membantu kamu nak" ucap Atika sambil mencari sesuatu juga.
"Emang Ummy tau, Aarash mencari apa?" tanya Aarash penasaran.
"Yah nggak tau, kan hanya bantu saja"
"Ish, Ummy ini ada-ada saja" cibir Aarash.
"Emang kamu sedang mencari apa lek" tanya balik Atika.
"Aarash mencari kunci mobil yang satu my"
"Owalah... kalau itu mobil di pakai Aariz lek"
"Jangan malam-malam pulangnya, ya nak"
"Iya Ummy." ucap Aarash sambil menyalim ibunya.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam" balas Ibunya Aarash.
Aarash pun mengambil mobil yang tadi di pakai dari tafakur alam.
Aarash pun segera menuju ke alun-alun. Biasanya Dia dan Nadia akan mojok di tempat paling ujung.
Namun setelah sampai di sana Aarash tak melihat siapa pun. Dia pun mengedarkan pandangannya di sekitarnya, tapi tetap tak ada sosok Nadia dan Aariz.
'Kemana mereka pergi, biasanya Nadia paling senang di tempat itu' batin Aarash Bertanya-tanya.
Terpaksa Aarash menuju ke rumahnya Nadia dan memilih mengawasi dari jauh.
Aarash melihat di warung kedua orang tuanya Nadia hanya terlihat kedua orang tua Nadia.
"Berarti Nadia belum pulang dari jalan-jalan bersama Aariz" gumannya yang hanya di dengar olehnya sendiri.
'Kamu itu bego Aarash, Aariz belum pulang artinya mereka masih jalan-jalan' batinnya sediri hingga dia tersenyum dengan pikirannya.
Hingga 15 menit berselang, belum ada tanda-tanda Nadia akan datang ke rumahnya.
Aarash pun melihat jam di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Sudah hampir jam sembilan, artinya sebentar lagi Nadia harus pulang, karena dia takut kedua orang tuanya akan marah jika dia pulang lewat jam 9" gumam Aarash lagi.
Benar saja, terlihat mobil Aarash yang di pakai Aariz melewati mobilnya, dan berhenti tepat di depan rumah Nadia.
Aarash melihat Aariz turun dari mobil dan membuka pintu mobil untuk Nadia.
Aaras melihat Nadia tersenyum namun Aarash seperti tak melihat Nadia yang seperti dulu.
Jika bersama Aarash pasti Nadia akan bermanja-manja bahkan menyuruhnya untuk masuk ke dalam rumah.
Namun sekarang Nadia hanya melambaikan tangan kepada Aariz dan Aariz menjalankan mobilnya.
Biasanya jika kepada Aarash Nadia akan berdiri sampai mobil Aarash tak terlihat lagi.
Aarash melihat Nadia memutarkan tubuhnya dan memperhatikan mobilnya, karena takut ketahuan. Aarash pun segera menjalankan mobilnya.
Nadia semakin bingung.
"Itu kan mobil yang di tafakur alam kakak, kok ada di situ... atau hanya mobil yang sama aja" gumam Nadia yang hanya dia sendiri mendengarnya saja.
Karena mobil yang di perhatikan sudah pergi, akhirnya Nadia segera masuk ke dalam rumahnya dengan hati yang tak bisa dia jabarkan.
Perasaannya berbeda dengan sosok Aariz yang sekarang.
Akhirnya dia pun segera masuk ke dalam warung dan mulai membantu kedua orang tuanya.
Aariz yang begitu bahagia langsung pulang ke rumahnya.
Nadia yang mau jalan bersamanya merupakan awal kenangan indah untuknya.
Setelah sampai di rumahnya Aariz berjalan sambil bersiul ria.
"Hmmm... ada yang kasmaran nih" goda Ayahnya.
"Aby belum tidur?" yang di goda malah bertanya kepada ayahnya.
"Belum, ayah harus mempersiapkan catatan semuanya untuk penetapan Aarash. Aariz besok kakakmu akan menjadi CEO.
"Oh.. baguslah?" ucap Aariz sambil melewati ayahnya.
"Iya Bagus. Kasian juga perusahaan opa tak ada yang mengawasi"
"Aby Aariz ke atas dulu ya"
"Temani Aby ngobrol dulu"
"Aku ngantuk Aby" imbuhnya sambil meninggalkan Ayahnya sendiri.
"Anak itu, tapi syukurlah jika ada yang mencintainya. secara Aariz jarang ngobrol" gumam Mahendra sambip tersenyum.
Tak lama Aarash datang dengan wajah muramnya.
"Hmmm.. yang satu pulangnya wajahnya ceria dan yang satu pulangnya dengan wajah kusut, ada apa nak?" tanya Mahendra.
"Nggak apa-apa Aby" celanya Aarash menyembunyikan kegundahan hatinya.
"Aby sedang apa?" tanya Aarash untuk mengalihkan pembicaraan Ayahnya.
"Oh, ini.Ayah mempersiapkan catatan-catatan buat kamu menjadi CEO besok"
"Syukurlah Aby, aku sangat senang" ujarnya sambil tersenyum kecut, padahal di hatinya ada sesuatu yang sakit namun tak berdarah.
__ADS_1
TBC...
Jangan lupa ya Vote dan jejak Komentar! 🙏