
Pov Aariz
Setelah kedua orang tuanya hadir di Rumah Sakit, Aku sedikit lega. Aku pun hanya diam mendampingi semua orang namun hatiku terpaut kepada seseorang.
Ah...
Apa ini yang di namakan cinta.
Aku ingin mendengar suaranya lagi, padahal aku baru 2 jam tak bersua dengannya.
"Kak Aariz, ngapain melamun" Adikku membuatku kaget, aku terhenyak seketika namun aku bisa mengendalikan diriku.
"Tidak" ucapku menggeleng.
"Ish, bicara dengan kakak, pasti hanya keluar satu kata"
Aku pun melirik adikku, aku letakkan jariku telunjukku di bibirku.
q
Dan akhirnya Adikku meninggalkanku mendekati kakakku.
Sudut bibirku mengembang walau hanya tipis.
Aku tak tau, mengapa aku cukup tak dekat dengan keluargaku.
Mungkin karena aku sulit untuk adaptasi.
POV Nadia
Di bengkel tempatku bekerja,aku tak bisa konsentrasi, aku memikirkan seseorang yang aku sayangi.
Aku tahu dia butuh keberadaanku karena pasti dia sedih, kakeknya sedang koma di rumah sakit.
Arghhhh..
Aku tak menyangka, kakakku sangat tega kepadaku.
"Hei Nadia, kerja yang bener dong. Tuh lihat olinya udah penuh"
Aku kaget mendengar kata sudin, teman seprofesiku sebagai montir.
"Astagfirullah" aku langsung mengangkat botol olii yang sudah kedua kali aku letakkan di tempat pengisiannya.
"Makanya kalau kerja, jangan melamun. Tuh liat, semua jadi rusak karena keteledoranmu"
"Maaf" hanya itu yang bisa aku sampaikan.
"Maaf itu tidak bisa mengembalikan olii yang kau tumpahkan, hehehe"
Aku pun mengangkat sudut bibirku, walau rasanya tak ada yang memperhatikanku.
"Kamu itu sedang memikirkan apa sih"
"Aku barusan kehilangan handphone pemberian seseorang"
"Sudah, ikhlasin aja, supaya dapatnya yang lebih baik lagi"
"Ish, kamu nih Sudin. Kamu aja kemarin kehilangan sendal malah bingung setengah mati,hahaha" tawaku seketika.
"Nih buktinya aku, aku kemarin memang pusing, namun sekarang udah ada gantinya. Bagaimana, Enak toh"
Aku pun hanya tersenyum kecut.
"Siapa yang mau memberiku handphone seperti itu" batinku mempertanyakan apa yang aku alami sekarang.
Ahh.... sudahlah.
Aku lebih baik Bekerja keras, agar dapat upah dan bisa membeli handphone seperti itu lagi.
__ADS_1
Aku pun melanjutkan pekerjaanku sebagai montir.
Kebetulan ada motor masuk dan aku segera menyelesaikan pekerjaanku.
POV Aarash.
Hari ini aku mendampingi keluargaku, aku sebenarnya ingin sekali bertemu sang pujaan hatiku, siapa lagi kalau bukan Nadia.
Biasanya sore aku bertemu dengannya, berhubung kakek sakit, aku terpaksa harus menundanya.
Ah....
Aku tak bisa mendengar suaranya, aku berniat membelikannya handphone, agar bisa berkomunikasi dengannya nanti.
Aku pun berencana setelah dari rumah sakit untuk ke counter handphone terlebih dahulu, setelah itu aku akan singgah di bengkel Nadia.
Aku melihat jam tanganku, berarti sebentar lagi Nadia akan selesai bekerja di bengkel.
Aku pun pamit kepada semua orang.
"Ummy, aku pergi sebentar. Nanti aku balik ke sibi lagi" ucapku pamit kepada ibuku.
"Mau kemana nak, jangan lupa, jika balik ke sini belikan makan untuk semua yang ada di sini" Ibuku memberiku uang 100 ribuan sebanyak 5 lembar.
Aku pun menerimanya.
"Hati-hati di jalan nak" ucap Ayahku.
"Iya Aby, aku hanya sebentar saja"
"Kak, aku ikut dong" Aku melirik suara adikku.
"Kakak hanya sebentar saja, kamu di sini saja, siapa tau Ummy membutuhkanmu, bagaimana" tolakku kepada Adikku.
"His, aku bosan di sini"
"Adek, kamu temani Ummy dan Nenek, ajak cerita nenek tuh. Kamu perempuan pasti bisa menghibur nenek"
"Setidaknya hibur nenek dek, kasian nenek kelihatan sedih sekali"
"Nenek sama mbah wedo, aku ikut deh"
Karena tak ingin berdebat aku pun mengajaknya sekalian.
Setelah di perjalanan, aku mewanti-wanti Adikku agar tak menceritakan siapa yang lagi dekat denganku.
"Dek, nanti kamu jangan ember sama ummy dan Aby, boleh ikut tapi di mobil saja" aku menegaskan kepada Adikku agar dia tidak turun dari mobil.
"Emangnya kakak mau kemana, hmmm.. sepertinya kakak mau nemuin seseorang" Adikku memicingkan matanya, kemalnya keluar juga.
"Udah, tak usah kemal deh, kalau mau ikut"
"Iya-iya,"
Akhirnya Adikku diam juga, aku tersenyum menatap adikku.
Aku langsung singgah di counter yang di seputar taman, sepertinya di sini harganya lumayanlah untuk kantong pelajar sepertiku.
"Ayo turun, bantu kakak dulu" Sepertinya aku ingin mengajak Arsyla memilih handphone yang cocok untuk seorang cewek.
Ada gunanya juga mengajaknya mengikuti aku.
"Katanya aku tak bisa turun dari mobil" tolaknya halus.
Aku pun mencubit pipinya.
"Kalau kakak suruh turun, ya bisa turun, ayo bantuin kakak dulu"
Akhirnya adikku mau turun dari mobil juga setelah perdebatan yang panjang.
__ADS_1
Kami menuju konter yang berada dekat jalan.
"Kakak mau beli handphone, handphonenya kakak rusak" tanya Adikku bertubi-tubi.
"Sudah ikut saja, nanti kamu pilih sendiri di dalam" jawabku dengan abigui.
"Wah, kakak mau belikan arsy handphone baru, asekk" imbuhnya sambil Berjingkrak-jikrak.
Aneh.
"Bukan untukmu tapi untuk teman kakak wanita"
"Kakak sudah punya pacar?"
Aduh, jalan dengan Arsyla memang butuh mode extra sabar. Mungkin Arsy cocoknya jalan sama Aariz yang banyak mode diam, biar mulutnya tak nyerocos terus.
"Masih teman tapi mesrah dek" jawabku singkat agar dia tak bertanya lagi.
"Oke, aku akan memilih handphone yang terbaik nanti"
"Hmmm" ucapku membuka pintu toko handphone.
"Sore, ada yang bisa kami bantu dek"
"Mbak, kira-kira handphone yang bagus untuk anak seumuran dia mana"
"Yang ini dek, camcung 8+ Rose pink ramnya 4 harganya 8 juta"
"Bagaimana dek, bagus tidak" tanyaku kepada Adikku karena dia perempuan.
"Bagus itu kak, aku juga kan handphone seperti itu"
"Ya udah, saya ambil itu ya mbak,"
Aku menyerahkan kartu debetku, setidaknya uang jajanku telah berkurang.
"Tolong bungkus yang baik ya, itu mau saya buat kado"
"Baik dek"
Aku menunggu pesananku di buatkan mbak counter. Desain cantik membuatku ingin rasanya cepat sampai ke bengkel Nadia.
Aku melirik jam tanganku, 15 menit lagi Nadia akan pulang dari tempat kerjanya.
"Ini dek"
"Mbak, sekalian kartunya ya"
"Ini ada nomor cantik, harga 100 ribu"
"Ya sudah mbak, semua 8,1 juta kan"
"Iya dek, tolong pinnya dek"
Aku pun menekan-nekan EDC yang ada di counter, setelah terbayar, aku segera bergegas ke bengkel tempat Nadia kerja.
"Kau di sini kamu di mobil saja" aku memperingatkan Adikku.
"Iya-iya"
Setelah sampai di bengkel Nadia, aku melihat Nadia sudah bersiap-siap untuk kembali ke rumahnya.
"Nad" panggilku kepadanya.
"Eh, Aa. Kakekmu bagaimana"
"Masih koma, belum ada perkembangan"
"Mengapa Nadia bisa tau kakekku sakit ya" Bathinku di dalam hati.
__ADS_1
TBC...
Jangan lupa tinggalkan jejak komentar ya readers.