
POV Aarash.
Aku pun duduk di rumah Nadia yang tak begitu besar tapi tertata dengan rapi. kupandangi semua sudut ruangan itu, tak ada foto satupun di dinding rumah itu.
Aku cukup penasaran dengan keluarga Nadia. Kata Nadia dia mempunya seorang Kakak, namun tak kulihat seorangpun yang datang di ruangan tamu ini.
Aku berfikir mungkin Kakaknya Nadia sedang keluar, Ayah dan Ibunya Nadia masih berada di warung makannya.
Tak lama Nadia membawakan minuman teh untukku.
"Jangan repot-repot sayang" aku memberanikan diri memanggilnya sayang.
Ah, mumpung tak ada orang di rumahnya.
"Ini tak repot Aa, Aa nunggu dulu di sini ya, aku panggilkan kedua orang tuaku dulu ya"
Warung makan yang tak jauh dari ruang tamu memudahkan Nadia pergi kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu, Aa ingin bertemu"
"Iya Nadia, nanti kami akan kesana"
Setelah itu aku melihat Nadia berjalan ke arahku lagi.
"Di minum tehnya Aa" Ucap Nadia kepadaku.
"Iya, trima kasih Nadia,"
Aku menyeruput teh buatan cinta terkasihku.
Enak!
Namanya udah sayang, apapun yang di sajikan pasti terasa enak.
"Sabar ya Aa, ayah dan ibu lagi beresin warung" Ujar Nadia kepadaku.
"Bagaimana kita bantu saja Ibu dan Ayahmu, agar secepatnya bisa beristirahat nanti" usulku kepadanya.
"Boleh, kalau Aa tak keberatan"
Aku pun langsung berdiri dan melangkahkan kaki ke warung tanpa menunggu lama, Nadia pun mengikutiku dari belakang.
"Assalamu'alaikum" ucapku setelah sampai di depan pintu warung.
Hatiku serasa mau copot, ini kali pertama aku bertemu dengan kedua orang tua Nadia.
"Waalaikum salam" jawab Ibunya Nadia.
"Nadia, kok tamu di ajak kesini" protes ayahnya Nadia.
"Ini Ayah, Aa hanya ingin membantu Ayah dan ibu, agar bisa secepatnya selesai dan bisa cepat beristirahat" jawab Nadia.
Akupun langsung tak enak hati.
__ADS_1
"Tapi tak elok seorang tamu di suruh membantu Nadia, ajak masuk ke dalam runah saja. sedikit lagi pekerjaan ayah dan ibu selesai" imbuh Ayahnya Nadia.
"Trima kasih Nak, tapi tak perlu di bantu, ini sudah mau selesai menyimpan barang-barang" sanggah Ibunya Nadia.
"Maaf Ibu, bapak jika saya sudah lancang datang ke sini, saya beneran hanya niatnya membantu" ungkapku karena memang tak enak hati malah pujaan hatiku yang di marahi padahal itu adalah salahku.
"Iya Nak, kembali ke dalam rumah lagi saja, nanti kami berdua akan kesana sebentar lagi" Ujar Ibu Nadia.
"Ayo Aa, kita ke rumah lagi, tungguin di sana saja" ajak Nadia kepadaku.
Setelah aku melangkah, samar-samar aku mendengar kalau Ayah dan Ibunya Nadia malah seperti berdebat.
Akupun langsung tak enak hati, mungkinkah mereka akan memberiku kesempatan menjadi pacar Nadia?
Pertanyaan yang membuatku down langsung menari-nari di pikiranku.
Aku melihat jam tanganku, jam menunjukkan pukul 10 malam, bisa-bisa aku sampai di rumah jam 12 malam dan pastinya Ummy akan memarahiku.
Setengah jam kemudian, datanglah kedua Orang Tua Nadia.
"Assalamu'alaikum" ucap Ibunya Nadia.
"Waalaikum salam" jawabku dan Nadia bersamaan.
Mereka pun langsung duduk bersama kami.
Deg! deg! deg!
Degub jantungku kian memberontak, aku sudah mempunyai firasat yang tak baik tapi aku berusaha mengendalikan perasaanku.
"Iya pak, saya Aariz Putra Pratama"
Aku sengaja mengatakan nama adikku karena memang Nadia mengenalku dengan sosok Aariz.
"Pratama, sepertinya tak asing di telinga saya"
"Iya pak, mungkin bapak sering mendengar nama Mahendra Pratama, itu ayah saya"
"Ibumu Atika" aku melihat Ibunya Nadia antusias menanyakan Ibuku.
"Iya Bu"
"Ya ampun, ternyata kamu anak sahabat kami" ucapan Ibunya Atika membuatku kaget dan lega.
"Syukurlah, jika bapak dan ibu tau tentang kedua Orang Tuaku"
"Tapi aku ingin kamu merahasiakan keadaan kami" Cela Bapaknya Nadia.
"Untuk alasannya,kami tak bisa mengatakannya dan kami harap kamu mengerti" lanjut Bapaknya Nadia kepadaku.
Aku penasaran siapa sosok yang ada di hadapanku, tapi aku takut mengungkapkannya.
"Baiklah, pulanglah nak. Ini sudah malam, kami juga ingin beristirahat" ujar Bapaknya Nadia kepadaku.
__ADS_1
Aku sebenarnya ingin bertanya nama kedua Orang Tua Nadia, namun pertanyaan itu tercegat di tenggorokanku dan tak sampai mencuat di bibirku.
"Trima kasih sudah memberi kesempatan untuk datang ke rumah Bapak dan Ibunya Nadia, baik pak. Memang sebenarnya tak elok saya sampai kemalaman di sini. Kalau begitu saya pamit pulang dulu. Trima kasih atas jamuan tehnya"
Aku pun menyodorkan tangan ingin salim dengan mereka. Awalnya aku lihat Ayahnya Nadia enggan memberi tangannya.Namun karena sikutan dari ibunya Nadia akhirnya Bapaknya Nadia mau memberikan tangannya dan akupun langsung salim dengan takjim. Begitu pula dengan Ibunya Nadia dia langsung menyerahkan tangannya.
"Nadia, aku pergi dulu ya, In Syaa Allah besok kita ketemu lagi"
"Iya Aa, sampai ketemu di sekolah"
Akupun hanya mengangguk.
"Assalamu'alaikum"
Mereka pun menjawab salamku dengan serempak.
"Waalaikum salam"
Aku menghirup udara dingin sambil menuju ke mobilku.
***
POV Nadia.
"Nadia, kamu masih kelas 2 SMA, masa depanmu masih panjang. Tak perlu pacaran, mending kami fokus belajar" ungkap Ibuku padaku.
"Tapi bu, Aa Aariz baik orangnya dan kami tak ada yang aneh-aneh"
"Bukan mama tak setuju, mama hanya ingin kamu setelah kuliah dan punya kerja baru mikirin pacaran, Ibu ingin kamu fokus belajar dan kerja di bengkel saja" jawab Ibuku yang membuatku down.
Aku tak ingin berdebat. Akhirnya aku menyetujui apa kata Ibuku.
Itu artinya, besok aku harus mengungkap kepada Aa Aariz jika aku tak mendapat izin untuk berpacaran.
Aku paham bagaimana perasaan ibu, situasi kami yang sedang terpuruk membuat Ibu makin over protektif kepadaku.
Aku menarik nafas panjang.
"Baiklah bu, aku hanya akan berteman dengan Aa Aariz saja. kami janji tak akan pacaran, karena aku tau Aa tidak mau membuat murka ibu dan ayah kepadaku"
"Syukurlah nak, lebih baik kamu fokus belajar. jika sudah siap nikah, ibu tak akan menghalangi, jika memang kamu sudah siap untuk membina rumah tangga, ibu akan lakukan yang terbaik untukmu"
"Trima kasih bu, kalau begitu Nadia tidur dulu, mimpi yang indah bu" ucapku sambil mencium kedua pipi ibuku.
"Mimpi yang indah juga nak, mama ke kamar mama dulu ya"
Ibuku langsung menciumku dan menaikkan selimut sampai di bagian leherku dan aku langsung memejamkan mata menunggu esok yang cerah tapi tak secerah hatiku.
Aku mendengar pintu telah di tutup Ibuku. Aku berusaha untuk tidur namun fikiranku masih mau terjaga hingga jam 1 namun aku belum bisa tertidur pulas.
Perlahan-lahan aku turun dan mengambil air wudhu.
Aku ingin mengadukan segala kegundahanku kepada penguasa alam semesta mesta Allah SWT semoga aku di beri kesabaran.
__ADS_1
TBC...