Cinta 'Kan Temukan Jalannya.

Cinta 'Kan Temukan Jalannya.
Bab. 9 Kakek Meninggal


__ADS_3

POV Aarash


Setelah menelpon dari Nadia, Aku begitu bahagia.


Setidaknya ada yang menghiburnya saat ini.


Semua nampak tegang.


Semua keluarga di minta menemui Kakek.


Semua minta maaf kepada kakek walau tak ada respon dari kakekku.


Aku melihat ibuku sangat sedih bahkan menuntun kakekku mengucapkan Laa ilaaha illallah.


Namun karena tak ada respon, Ibuku membisikkan Allah, Allah berulang kali.


Aku pun mengambil handphoneku, kubaca surat Yasin dari aplikasi Alqur'an offline.


Aku mulai membacanya.


Dokter pun masuk ke dalam ruangan.


Kami dengan rasa gelisah menunggu keputusan Dokter.


"Semuanya sudah di titik terendah, apa kalian masih ingin menyelamatkan nyawanya"


"Ini ada alat, hanya bisa membantunya bernafas namun tak bisa menaikkan tekanan darahnya bahkan denyut nadinya"


"Kakek Tri hanya bisa di topang oleh alat ini"


"Dokter, aku juga seorang dokter, namun dokter kandungan, suamiku juga dulu seorang dokter, pasti tau dengan alat ini, aku sudah ikhlas dengan kepergian Ayahku" ucap ibuku dengan berlinang air mata.


"Baiklah, jika begitu tunggu saja kepergian Ayahmu"


"Iya Dokter, Terima kasih" ujar ibuku lagi.


Aku melihat ibuku membisikkan sesuatu namun aku masih bisa mendengarnya.


"Ayah, jika ayah ingin pergi, pergilah, kalau hanya mengkhawatirkan keadaan ibu, kami anak dan cucumu akan menjaganya" bisik ibuku.


Seketika selesai di bisikkan, alat yang ada di samping tubuh kakekku berdering nyaring.


Tiiiiiiiiiiittttt....


"Innalillahi wainnailahi roji'un" ucapku.


Aku lihat nenek hanya menangis tak tertahan.


Aku mendekatinya dan memeluknya.


Air mataku tertahan namun luruh juga.


Ibuku menangis namun tak sampai meraung.


Perlahan-lahan aku lihat dokter mencabut satu-satu alat yang menempel tubuh Kakekku.


Aku masih memeluk Nenekku.


Nenekku juga menangis di pelukanku.


Ayahku langsung mengurus mobil ambulance untuk membawa jenazah Kakekku.


Kedua kakek dan nenekku dari ayah telah kembali ke rumah ibu, untuk mempersiapkan segala sesuatu menyambut jenazah Kakekku di rumah nanti.


Aku melihay Arsyla memeluk Ibuku.


Orang yang paling terpukul pasti ibuku dan nenekku.


"Ayo nek, kita pulang"


Nenekku menggeleng dia ingin mendampingi Kakekku.


Aku pun hanya memberinya kekuatan.


Nenekku langsung mencium tangan Kakekku.


Gemuruh di dadaku tertahan. Air mataku luruh juga.

__ADS_1


Setelah Ayahku menyelesaikan pembayaran dan membawa kakekku ke rumah ibuku yang dulu.


Aku terus menemani Nenekku.


Setelah sampai di rumah, Nenekku semakin terisak, mungkin Nenekku tak tahan melihat kenangan yang ada di rumah ini.


Akhirnya Nenekku pingsan, beruntung aku bisa menopang tubuh nenekku.


"Nak, banntu gendonglah nenekmu ke kamarnya, ayah akan memeriksanya"


Aku dan Ayahku menggendong nenek, sedangkan Aariz dan Arsyla berusaha menenangkan ibuku.


Setelah sampai di kamar, aku membaringkan tubuh nenekku ke atas ranjangnya dan meraih minyak angin yang ada di nakas.


Aku mengusapkan di bagian hidung dan kaki nenek yang terasa dingin.


Ayahku pun segera memeriksa keadaan nenekku.


Ibuku dan yang lainnya mendampingi jenazah Kakekku.


"Nenekmu hanya shock saja, jagalah nenekmu di sini"


"Iya Aby"


Aby pun langsung keluar dari kamar nenekku dan bergabung dengan lainnya.


Aku pun mengambil handphoneku dan menelpon Nadia.


Tut... tut... tut...


Akhirnya Nadia mau mengangkat Handphoneku.


"Assalamu'alaikum Aa"


"Waalaikum salam, Nad" ucapku lirih.


"Kok dari suara Aa, sepertinya lagi sedih"


"Kakekku Nadia, Kakekku meninggal dunia" ucapku sedih.


"Innalillahi wainna ilahi roji'un, semoga kakekmu husnul khotimah, A" jawab Nadia dari seberang.


"Maaf, aku tak bisa menemani Aa, karena lagi membantu orang tuaku di sini, di warung lagi rame"


"Iya nggak apa-apa Nadia, terima kasih sudah menguatkan aku"


"Iya sama-sama A,"


"Ya sudah aku tutup dulu telponnya"


"Iya Aa"


Akhirnya Aku menutup teleponnya, dan duduk menunggui nenekku yang lagi belum sadar sambil membalutkan minyak angin di kaki nenekku agar hangat.


POV Nadia.


Aku tersentak ketika Aariz mengatakan jika kakeknya meninggal dunia.


Ketika sambungan teleponnya berakhir, aku segera memberitahukan kepada Kedua orang tuaku.


"Ayah, kakek Aariz meninggal dunia"


"Innnalillahi wainna ilahi roji'un," ucap Ayah dan ibuku.


"Nak, kamu bantu ibumu ya, ayah mau kepemakaman Kakeknya temanmu"


"Ayah mau kesana, ayah tau rumah temanku?" tanyaku memastikan.


"Iya Nak, ayah sangat mengenali kakeknya temanmu"


"Baiklah Ayah, pergilah biar aku yang membantu Ibu di sini"


Ayahku segera mengganti bajunya dan segera berangkat menggunakan motor bututnya.


Hanya itu kendraan Ayahku.


Aku lega, jika ayahku ternyata mengenali kedua orang tua Aariz.

__ADS_1


Hari ini banyak pelanggan yang makan di warung ayah dan ibuku, tak mungkin kami menutup warung makan ini dan pergi ke pemakaman.


Lebih baik, biarlah ayahku saja yang pergi ke rumahnya Aariz.


Aku pun segera menelpon Aariz.


Tut... tut... tut...


Akhirnya Aariz mengangkat teleponku.


"Assalamu'alaikum Nadia" ucap Aariz dari seberang.


"Waalaikum salam, A, Aa Ayahku mau ke rumah kakekmu sekarang, ternyata Ayahku mengenali kakekmu"


"Baiklah Nadia, nanti aku akan menunggu Ayahmu di depan rumah" ucapku memastikan.


"Baiklah Aa, aku lanjut kerja lagi ya"


"Oiya Nadia, trima kasih ya"


"Iya Aa, aku tutup dulu telponnya"


"Iya Nad"


Tuuutt...


Akhirnya aku melanjutkan memberi air minum kepada pelanggan dan mencuci piring sisa tempat makan pelanggan.


POV Aariz.


Aku melihat kakakku datang ke arah kakek.


"Aariz, tolong jaga nenek dulu, aku akan menunggu seseorang yang Datang" ujar Kakakku kepadaku.


"Baiklah"


Aku pun langsung menuju ke dalam kamar nenekku, Aku tau sahabat kakakku banyak hingga dia pasti ingin menyambutnya.


Di dalam kamar nenekku, Aku berulang menelpon Nadia, namun handponenya tak aktif hanya suara operator yang menjawabnya.


Aku penasaran mengapa sampai tak bisa terhubung.


Akhirnya aku pasrah, aku menunggu Nenekku tersadar saja.


POV Author.


Banyak kolega dan kerabat ayahnya Atika datang ke rumah ini.


Tak berapa lama muncul Aditya ayahnya Nadia. Aarash tersenyum dan menyuruh masuk ke dalam rumah.


Atika kaget dan terperangah, setelah Acara akikah anaknya mereka tak pernah bertemu, sekarang malah bertemu di saat ayahnya telah meninggal.


"Aditya, Kok kamu bisa tau jika ayahku meninggal"


"Anakmu dan anakku satu sekolah,"


"Loh, emangnya anakmu sekolah di mana"7 tanya Atika.


"Di sekolah negeri 69"


"Oh, jadi Aariz berteman dengan Anakmu"


"Iya, bahkan kata Nadia satu kelas"


"Nadia, yang waktu tujuh bulanan ngom*pol di gendongan Mahendra" Atika tertawa mengingatnya.


"Iya, sekarang malah sekelas dengan Aariz"


"Khan memang hanya beda beberapa bukan,"


"Yah, sudah masuklah, jenazah ayahku sudah di kafani,sebentar lagi akan di bawa ke tempat pemakaman" ujar Atika.


"Suamimu mana," Tanya Aditya ke Atika.


"Ada di dalam, ayolah masuk,"


"Iya, trima kasih Atika"

__ADS_1


Atika hanya mengangguk dan berjalan bersama Aarash.


TBC....


__ADS_2