CINTA ABADI DIHUJAN MALAM

CINTA ABADI DIHUJAN MALAM
Episode 10 menggoda atau tergoda


__ADS_3

Caca mengira mereka telah membaca semuanya. Kini betapa Caca sangat mengutuk dirinya karena tidak


menyembunyikan diary tersebut.


Dengan berpura-pura tidur ia mendengar secara seksama obrolan kedua temannya. Sementara ia sangat ketakutan, darahnya seperti turun dan naik dengan cepat. Lebih kurang seperti sedang menaiki roller coaster yang berliku-liku dan terlihan curam dan suram.


***********


Tangannya dingin, tanpa sadar keringatnya sudah mengalir. Liandari pun mulai menceritakan awalnya ia tahu bahwa Caca lagi suka sama cowok.


Tetapi ada satu kesalahan disini, yang malah membuat Caca menghembuskan nafas lega.


Liandari mengira bahwa J yang ada dibuku diary Caca adalah jeki. Karena terlihat waktu Caca terkena bola. Jeki sangat khawatir dan ia begitu perhatian ke Caca.


Tetapi siapa sangka kalau pikiran Mirza kali ini tidak sejalan dengan Lian. “Li… apa iya J itu adalah jeki?” tanyanya curiga terhadap Caca.


“Ya iyalah, memang siapa lagi?” cetus Liandari enteng. “Bisa sajakan J itu jino?” ujar Mirza berhati-hati.


 


Seeerrrrr… darah Caca lagi lagi menurun dengan seketika cepatnya, wajahnya pucat pasih,jantungnya berdegup dengan kencang setelah rasa lega yang baru saja ia rasakan tadinya.


“Hahahahaaa…” tawa Lian memenuhi kamar mereka, “Kenapa ketawa, aku serius” ucap Mirza tanpa tersenyum sedikitpun.


“Enggak mungkinlah Caca suka sama jino” ucap Lian yang menghentikan tawanya dan menenangkan Mirza. Dan lian melanjutkan bicaranya, “Kita juga tahu kalau kamu sama jino saling suka, Caca enggak begitu orangnya” ujar Lian lebih meyakinkan.


“Emm… begitukah, jika benar Caca suka sama jin…” terpotong.


“Hei… tak bisakah kamu percaya dengan sahabat kamu sendiri? Caca bukanlah orang yang akan merebut sesuatu milik sahabatnya, apalagi masalah cowok seperti ini” tegas Lian sambil memegang bahu Mirza. Meyakinkannya.


Sekarang Mirza merasa sedikit tenang karena perkataan Lian tadi. “Iya juga, kan pasti jijik banget punya sahabat kayak begitu, dan Caca enggak seperti itu” ucapnya yang sudah mulai terenyum.


“Benar, Caca itu orangnya penyayang, dan tak mungkin ia melukai sahabatnya” ujar Lian menambah


keyakinan Mirza.


 


“Jijik… haaa…” Kata itu sungguh menyayat hati Caca, rasa sesak lagi lagi dan sekali lagi memenuhi rongga dadanya.


Dia mengusap pelan air matanya yang mulai jatuh dipipi. Hingga suara dari Mirza yang memanggil membuatnya harus berpura-pura lagi.


“Ca bangun dong” panggil Mirza membangunkan Caca. “Emm… apa” Membalikkan badannya dan berpura-pura seperti baru bangun tidur.


“Kamu sebenarnya lagi suka sama siapa sih” tanya Mirza to the point.


 


“Janji jangan ngeledek ya” ucapnya memulai dari satu kebohongan. Dan dengan semangat kedua sahabatnya mengangguk.


“Jeki” katanya, “Itu kan betul” ucap Lian gembira, “Hahaha… iya, tenang saja Ca, bakal aku bantuin kok” ujar Mirza lega.


“Emm” Caca pun berdiri dan pergi menuju kamar mandi.


Dikamar mandi kini air matanya mengalir dengan deras. Dada dan tenggorokannya terasa sakit karena harus menahan sedu sedan. Ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, sembari menyandar dipintu kamar mandi.


“Aku tak minta kalian membantuku, aku tak minta. Aku hanya ingin melupakannya dan merelakannya untukmu. Aku tak akan merebutnya, tapi mengapa aku harus mendengar kata JIJIK dari mulutmu mirza. Andaikan kamu tahu. Sahabat kamu ini menyukai orang yang sama. Orang yang kamu cintai. Maafkan aku! Jika kamu tahu, apakah kamu akan memandangku dengan jijiknya? Sejijik itukah aku? Tapi sebenarnya wajar saja kamu merasa jijik” Pikir Caca dengan tanpa hentinya mengeluarkan air mata.


“Hufff…” menghembuskan nafas.


 


Pada saat itu Caca sengaja menyalakan shower agar tidak kentara. Disela tangisan yang ia tahan serta pikirannya yang entah kemana-mana sekarang. Terdengar ketukan pintu kamar mandi dari luar.


Dengan secepat mungkin Caca mengusap air matanya. Tetapi tetap saja sembab dimatanya pasti akan terlihat jelas. “Bagaimana ini?” gumam Caca cemas, sedangkan Lian masih terus mengetuk pintu.


Tidak hal lain yang terpikirkan oleh Caca pada saat itu. Ia dengan sigap melepas pakaiannya dan berdiri didekat shower membasahi tubuhnya. Dan ia pun mengambil shampo, memencetnya dengan kuat sehingga berlimpah ruah dan menimbulkan busa yang sangat banyak dikepalanya.


Setelah itu ia pun memakai handuk dengan buih shampo yang masih berada dikepalanya dan ia pun membuka pintu.

__ADS_1


 


“Kok lama banget sih bukanya” tanya Lian protes, “Namanya orang lagi mandi, lagian aku pakai shower jadi enggak berapa kedengaran, hehe…” ujarnya berusaha terlihat baik-baik saja.


“Kamu mau ngapain memangnya?” tanya Caca, “Oh… aku mau cuci muka” ucap Lian sembari masuk kemar mandi sambil memutar keran dan membasuh mukanya.


“Aku enggak terbiasa kalau enggak cuci muka sehabis bangun tidur” katanya, “Oh, oke deh, sudah?” tanya Caca, “Ya sudah” Liandaripun keluar dari kamar mandi.


Ketika Caca hendak menutup pintu dengan cepat Lia menahannya. “Ehhh… tunggu!” ujarnya, “Apalagi?” balas Caca, “Kamu habis nangis ya? Kok mata kamu merah begitu agak sembab juga!” cetus Lian yang masih menahan pintu dan menaikkan mengerutkan dahinya.


“Apa ini? Ketahuan!” Dalam hati Caca, “Kenapa diam? Bener habis nangis ya?” tanya Lian mengintrogasi Caca.


 


“Ha… haha… ha” tawanya yang agak tertahan dan senyum palsunya. “Apaan sih kamu, enggak lihat nih, buih shampo dikepala aku banyak banget” ujar Caca membuat alasan.


“Terus!” kata Lian singkat tanpa adanya raut senyum sedikitpun. “Iya… terus, karena kebanyakan shampo… jadi kena kemata deh, pedih banget tau… tadinya aku kucek terus mataku jadi merah deh, itu juga makanya tadi aku lama buka pintu” ujar Caca dengan cepat membuat alasan.


Entah bodoh atau polos. Tapi Liandari percaya begitu saja. Raut yang serius tadinya langsung menghilang tergantikan dengan senyuman dan ia pun melepas tangannya yang tadinya masih menahan pintu kamar mandi.


Liandari pergi begitu saja setelah percaya dengan perkataan Caca, tanpa ada sedikitpun ia berpikir bahwa mungkin saja itu hanya alasan belaka. Sekali lagi Caca menghembuskan nafas leganya. Dan ia menutup pintu dan kembali mandi, membasuh badannya yang sangat licin karena shampo yang begitu banyak ia pakai.


Hanya untuk alasan saja. Tingkah yang bodoh kini menyelamatkannya.


**********


"Haaa... ini semua karena Mirza" keluh Caca kesal sembari berjalan menuju cafe.


"Bro... Caca sudah sampai, kalau begitu aku pergi dulu deh, santai saja oke!" kata Edik sambil mengacungkan jempol dan pergi meninggalkan Jeki.


"Edik, kamu disini juga?" tanya Caca yang memergoki Edik lagi keluar dari Cafe, "Ehh... iya Ca" jawab Edik.


"Kenapa keluar, ayo masuk" ajak Caca, "Ah... tidak tidak, aku sudah beli minumannya kok" Dalih Edik beralasan,  "Oh, tapi... minuman kamu kemana? kok enggak kamu bawa?" balas Caca melirik ketangannya Edik yang tidak membawa apa-apa, "Haa?"  Edik yang baru saja tersadar.


"Ya ampun bodoh banget aku ya, dasar buat alasan saja tak bisa. Mungkin inilah balasan dari ALLah untuk hambanya yang berbohong, maafkan hamba Ya ALLAH, seharusnya hamba lebih lihai berbohongnya" Dalam hati Edik.


 


"Kamu duluan saja kedalam, aku mau langsung pulang" cetus Edik, "Lah kok cepat banget" kata Caca.


"Aduh kok Caca jadi bayak tanya sih" Pikirnya. "Itu kamu kedalam saja, pas aku beli minum enggak sengaja ketemu Jeki, ya mungkin Jekinya masih didalam, masuklah" pinta edik agar Caca masuk kedalam.


"Oh oke, kamu kenapa terlihat buru-buru sih" tanya Caca, "Aku kebelet" balas Edik beralasan lagi.


"Ya sudah masuklah! didalam cafe ada wc kok" ujar Caca memberitahu, "Di cafe ini jorok wcnya, aku pulang saja, daa..." ucap Edik pergi sambil melambaikan tangannya.


"Tunggu!" teriak Caca, "Ya?" kata Edik yang berhenti dan membalikkan badannya kebelakang, "Dua ruko setelah cafe ini ada pom bensin, dan disitu wc nya bersih" ujar Caca mengeraskan suaranya dari kejauhan, "Oh... oke" ucap Edik tersenyum dan langsung pergi.


***********


"Ah... ini semua karena jeki. Ngapain juga dia minta ditemenin ke cafe. Dan parahnya caca enggak boleh tahu kalau dia pergi ke cafenya ditemenin sama aku. Hari ini gara-gara dia aku harus berulang kali berbohong, Ya ALLAH maafin hambamu, Astaghfirullah al adzim" gumam Edik sambil berjalan mencari taxi.


"Hacih!!" Jeki bersin. "Kayaknya ada yang lagi nyeritain aku deh". "Jangan berpikiran negatif, sakit kali kamunya?" sahut Caca yang tiba-tiba nimbrung dan berbicara dari belakang Jeki, "Ah.. enggak mungkin, aku tadi baik-baik saja kok" jawab Jeki reflex.


Dan tak sampai bberapa detik Jeki pun baru sadar bahwa ada orang yang tiba-tiba nimbrung gumamannya. Dengan cepat Jeki melihat kebelakang dan ternyata, yang nimbrung adalah Caca.


"Hai... sudah lama?" sapa Caca sambil menarik kursi dan duduk. KIni posisi mereka berdua saling berhadapan.


"Baru kok" jawab Jeki, "Tadi aku kira siapa, ternyata kamu, haha..." kata Jeki sembari tertawa kecil, dan disambut dengan tawa Caca.


 


"Mau pesan apa?" tanya Jeki, "Samakan saja dengan kamu" ucap Caca. "Oke, sepertinya kamu bisa makan apa saja ya?" canda Jeki dengan wajah nakalnya, "YA, selagi itu masih sebuah jenis makanan dan halal" jawab Caca sambil menompang dagu memandangi Jeki dengan senyumnya.


"Selama ini yang tahu seorang Caca adalah anak yang baik, penyayang dan mungkin terlihat sedikit polos, oh... ingat aku hanya bilang SEDIKIT" katanya menaikkan sebelah alis dengan tatapan yang tak lepas ke Caca.


"O ya... lalu" ujar Caca yang masih menompang dagu dan menantang tatapan Jeki. "Lalu... hari ini aku melihat Caca yang nakal!" ucap Jeki menggoda Caca.


"Wah... aku tidaklah nakal wahai Jeki sang penggoda" kelakar Caca dengan senyumnya yang seakan mengejek. "Bukanlah aku... sesungguhnya kamulah yang penggodanya, matamu menggodaku" ucap Jeki tanpa senyum dengan tatapan mautnya.

__ADS_1


"Keterlaluan... dasar penggoda" Terlihat Caca sedikit tertawa tetapi ia menahannya, dan ia memalingkan muka. "Salah! bukan penggoda, tapi lebih tepatnya... aku yang tergoda!" ungkap Jeki dengan wajah yang merah merona.


**********


 


"Caca, bagaimana?" tanya Mirza, "Semuanya lancar seperti yang kamu harapkan" jawab Caca sembari duduk disofa. "Kok seperti yang aku harapkan, memang kamu tak mengharapkannya?" kata Mirza curiga.


"Matilah, kenapa aku harus bicara seperti itu?" Dalam hati Caca.


"Bukan seperti itu! ini terlalu cepat bagiku, dan ya,,, aku senang semuanya berjalan sempurna tapi kan aku malu harus ngajak ketemu duluan dan kamu,. dan kamu tanpa bilang apa-apa sudah buat rencana seperti ini. Memangnya kamu mau aku mati sebelum pacaran?" ujar Caca dengan seribu alasannya.


"Jika seperti ini terus... kayaknya aku jadi jago membuat alasan" Pikir Caca. "Kemana kepolosan ku? hilang sudah!" Dalam hati Caca.


Siapa yang mengira bahwa Dion diam-diam mendengar pembicaraan mereka bertiga.


"Iya Mir, mungkin Caca masih perlu waktu untuk beradaptasi dengan hati dan nyalinya" Tambah Lian menjadi penengah, "Seperti kamu sama Jino, kalian juga perlu waktu untuk saling megenal" ujar Liandari.


"Iya juga, maaf deh ya" ucap Mirza sambil memeluk Caca, dan Lianpun ikutan. Kini mereka bertiga saling berpelukan erat layaknya seorang sahabat.


**********


"Eh... kalian semua juga ada disini?" kata Jeki sembari masuk kekamar Edik, "Ya, kamu tumben kesini sendiri  biasanya ajak kita-kita" ujar Jino, "Biasalah, dia habis konsultasi sama gue, jadi sering kesini sendiri deh" sela Edik menjawab pertanyaan Jino.


"Konsultasi tentang apa? kok itu anak enggak ada cerita kekita" ucap Jino penasaran, "Jangan bilang masalah cewek?" ujar Razzi nyambung pembicaraan sambil memegang hpnya.


"Sudah tahu ya?" tanya Edik, "Oh... jadi betul?" ucap Razzi kaget, "Ya... anda semua benar" balas Jeki membenarkan kata sahabatnya sambil melemparkan tubuhnya kekasur.


"Akhhh... apa sih kalian semua, konsultasi tentang apa? cewek apanya? siapa?" ujar Jeki meninggikan suaranya, ia kesal dari tadi pertanyaannya tak ada jawaban.


 


"Lancar enggak?" tanya Edik penasaran, "Makasi bro, tadi lancar kok, sampai rasanya gue mau mati ditempat" jawabnya.


"Kenapa kok bisa mati ditempat" sela Razzi bertanya, "Jantung gue nggak bersahabat bro, cepat banget berdegup, mana kencang amat lagi, hahahahahahahahaha.... gue bahagia banget, hahahaha...." tawa Jeki begitu keras dan memenuhi ruangan, ia begitu kesenangan sambil berguling-guling dikasur Edik.


"Dasar gila, gila kalian semua, gila kau Jeki... cuma Edik yang waras, dik  dikulkas ada makanan tak?" ujar Jino yang kesal, "Ada" jawab Edik, "Oke" Jino yang hendak pergi kedapurpun terhenti mendengar Jeki memanggilnya.


"Jino!" panggil Jeki, "Haa" jawab Jino, "Tolong jangan anggap rumah ini sebagai rumah sendiri!" ucap Jeki tersenyum ramah, "Tenang saja, bakal aku anggap rumah ini sebagai rumah sendiri" balasnya sembari tersenyum ramah mengikuti Jeki.


"Huuff" Menghembuskan nafas. Sedangkan Jino pergi menuruni tangga serta bersenandung  dengan nada balonku ada lima dengan mangatakan, "Makanan aku datang... makanan bersiaplah"


**********


Negara Australia.


 


"Sayang" panggil Bundanya Lian, "Ya, apa bun" jawab Ayahnya Lian sambil mengupas apel,  "Kamu serius mau jodohin anak kita dengan Dion?" tanya Bundanya Lian sambil memakan apel yang telah dikupas dan dipotong.


"Tentu saja, mengapa tidak? Dion berpendidikan, pintar, baik, ganteng, mapan, dan yang kita tahu bebet bobotnya bagus" ujarnya begitu semangat.


"Bagaimana dengan perasaan kedua anak itu?" tanya Bundanya Lian khawatir, "Dion? sudah pasti ia mau, anak kita tidak memiliki celah kekurangan sedikitpun, dan dion juga setuju" ungkapnya begitu yakin sambil tetap mengupas apel dan memberikannya keistri tercinta.


"Lian? setahuku anak kita tidaklah setuju, jangan memaksa jika tidak ada yang setuju" ucap Bundanya lian menatap tajam suaminya"


Bersambung...


 


sepertinya ada pertentangan perjodohan???!!!


GAES JANGAN LUPA LIKE AND KOMEN YAH...DI LIKE DAN KOMEN BIAR CERITANYA LANJUT TERUS, BIAR SEMANGAT NIH YANG NULIS KALAU ADA DUKUNGANNYA... DAN TERIMA KASIH YANG SUDAH BACA LIKE N KOMEN.


uppppsss....dan jangan lupa tip nya juga ya guys, hehe... :)


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2