
“Malam ini sungguh gelap bahkan bintangpun tidak Nampak dilangit” gumam Lian yang sedang membuka jendela dan melihat langit malam, Lian menarik kursinya hingga berada didepan jendela dan ia duduk didekat kursi tersebut.
“Wah… sudah begitu gelap sekarang malah hujan pula, ayah pasti lagi sembunyi dikamarnya, huuf” lirih Lian dengan menghembuskan nafasnya.
Matanya begitu sayu dan terpaku melihat keluar jendela kamar, “Suara hujan malam ini sungguh membuatku sedikit tenang… walau hati ini masih terasa bergemuruh” Mata yang terpaku dengan pikiran yang terus berjalan. Dalam diamnya Lian, tin… tin… terdengar suara klakson motor yang sangat akrab ditelinganya, “Razzi… kenapa dia kesini?” gumam Lian dengan penuh pertanyaan.
**********
Lian yang melihat Razzi akhirnya turun kebawah mengambil payung dan keluar sambil berjalan dengan cepat menuju Razzi. Razzi yang melihat Lian keluar dengan tergesa-gesa sambil membawa payung pun tersenyum.
“Ngapain kesini hujan-hujanan, buat drama film india?” ucap Lian sambil memayungi Razzi.
“Iya… tapi bukan film, aku hanya membuat cerita tentang kita nantinya” ujar Razzi sambil mengambil payung yang Lian pegang, karena razzi lebih tinggi dari Lian jadi lebih gampang untuk memayungi.
“Hahaha… apa sih, sudahlah aku serius sekarang… ngapain kesini, enggak takut sama ayah aku?” tanya Lian dengan wajah yang begitu penasaran.
“Aku enggak takut sama ayah kamu, aku hanya menghormatinya karena ia orang tua kamu” tegas Razzi dengan satu tangannya menghusap-usap kepala Lian seperti mengusap kepala anak kucing yang menggemaskan.
“Lalu kamu kesini…?” tanya Lian.
“Lian aku suka kamu” ucap Razzi kepada Lian dengan tatapan yang mematikan bagi Lian.
“Apa ini? Enggak… enggak… Lian kamu gak boleh kegeeran dulu, bisa jadi maksudnya suka sebagai teman, ya ya gitu… tapi bagaimana jawabnya ya, mending muka tembok saja deh dulu” Pikir Lian, “Ya aku tahu kok, kamu suka aku… enggak mengherankan bagiku untuk disukai orang” ucap Lian dengan percaya diri yang entah dari mana datangnya.
“Bukan, maksudku aku sayang sama kamu” cetus Razzi dengan tatapan yang serius.
“Apa lagi ini? Akhhhh… aku bisa gila dibuatnya, dia nyatain perasaan seperti cinta begitu atau apa sih, aduuhh…
bagaiman nih, muka aku apa sudah merah kali ya, malunya…” Pikiran Lian yang terus saja berputar-putar, “Kamu suka aku, kamu sayang aku, aku suka kamu, eh… bukan, itu anu maksud aku, emm… ah itu akhh… maksud kamu apa ya?” ujar Lian.
“Aduh salah tingkah kan gue, malunya… mati sajalah kamu Lian”, pikir Lian.
Imutnya, “Maksud aku… aku cinta kamu, kamu mau jadi pacar aku?” ucap Razzi dengan lantang tanpa ragu.
“apa?” Kini mata dan bibir Lian terbuka lebar, tetapi otakku pun ikut menjadi kosong saat ini.
**********
PAGI HARI
“Siapa aku ? Dimana aku ? Tahun berapa sekarang ? Apa aku sudah mati ? Ini surga apa neraka?” gumam Lian, “AAAAAAAAAA… … … APA INI!!!” jerit Lian dipagi hari yang seakan membuat rumah akan runtuh karena mengingat kejadian malam tadi.
“Apa-apaan anak itu, masih pagi sudah menjerit, beberapa hari sebelumnya karena perjodohan ia sudah seperti zombie, tidak sampai tiga hari sudah kesenangan enggak jelas” gumam ayahnya yang sedang menikmati sarapan pagi dan bersiap untuk berangkat kerja.
”Pak mobil sudah siap” kata Pak Ujang supir pribadi ayahnya Lian, “Ya” ucap Ayah Lian singkatnya dan langsung beranjak dari tempat duduk berjalan menuju keluar yang diikuti oleh Pak Ujang supirnya.
Tidak lama ayahnya pergi Lianpun turun dari tangga dan celingak-celinguk mencari ayahnya, “Eh… kok enggak ada” gumam Lian.
“Cari siapa, Non?” tanya Bibi Sumi asisten rumah tangga Lian, “Bik Sum ayah mana?” tanya Lian, “Tuan baru saja pergi non… ada apa ya, Non?” kata Bibi Sumi, “Ah… enggak ada kok Bik, Cuma nanya… ya sudah aku berangkat kesekolah dulu Bik” ucap Lian sambil mengambil tangan Bibi dan menciumnya, setelah itu Lianpun pergi kesekolah.
**********
“Caca, Mirza” Panggil Lian dengan muka yang malu, “Ih… kenapa muka lu Li, merinding gua lihatnya” ucap Mirza, “Hahaha… gua lagi senang banget tahu” ujar Lian sambil tertawa, “Salah makan obat ini anak, kemarin mukanya seperti muka pembawa sial sekarang kenapa lagi ini?” kata Mirza, “Apa sih kamu Mir… jahat banget ngomongnya” ucap Caca sambil mencubit pelan pipinya Mirza, “Razzi nembak aku malam tadi” ujar Lian dengan senyum yang lebar.
Kalimat Lian barusan membuat suasana hening bagai tidak ada penghuni. Mata Caca dan Mirza saling bertatapan dengan tampang yang melongo seakan tidak percaya.
“Reaksi apa ini” kata Lian, “Apa ini nyata?” ucap Caca, Liandari menganggukkan kepala yang mengartikan iya, “Bagaimana ceritanya?” tanya Mirza.
__ADS_1
Flashback
Lian menceritakan dari awal sampai akhir, panjang lebar dan juga ia cerita dimana ia menjadi muka tembok yang mendapat kepercayaan diri yang entah dari mana datangnya. Saat Lian cerita awalnya sahabatnya pada tertawa mendengarkannya.
Hingga sampai diklimaksnya saat Razzi dengan lantang bilang kalau ia mencintai Lian, para sahabatnya pun langsung memasang muka yang serius. Dititik akhir cerita sewaktu dimana Lian…
“Maksud aku… aku cinta kamu, kamu mau jadi pacar aku?” ucap Razzi dengan lantang tanpa ragu.
“Apa?” Kini mata dam mulutku terbuka, dan tetapi otakku pun menjadi kosong saat ini.
Pada saat itu yang Lian ucapkan dengan tampang yang bodoh banget, dia bilang “Iya aku mau” ucap Lian ke Razzi. Razzi senang sekali dengan jawaban Lian dan tanpa sadar mereka berdua telah saling berpelukan, entah siapalah yang memulai dulu, yang diketahui adalah mereka sangat bahagia.
Liandari yang otaknya masih loading hanya diam saat berpelukan dengan Razzi. Hingga suara Razzi membuat Lian terbangun dari diamnya. Akhirnya Razzipun pulang dengan wajah yang sangat cerah walau pada malam itu langit sangat gelap dan hujan yang membuat basah bajunya.
Lian yang masih seakan tidak percaya dengan kejadian malam itu. Dia berjalan sambil membawa payung menuju kerumah dan masuk kekamarnya seperti orang bodoh yang tidak bernyawa. Ia melemparkan tubuhnya kekasur serta menarik selimutnya, ia melihat kelangit langit kamarnya sambil mengingat kejadian tadi, malam itu begitu indah bagi mereka… sangat bahagia.
Kebahagian yang datang tanpa diundang, padahal awalnya rasa sesak dan sakit memenuhi relung hati mereka masing-masing. Keterlambatan, ketidakjujuran, serta rasa yang terpendam ada dihati mereka tetapi karena rasa takut kehilangan yang sangat besar telah membuat semuanya terkuak dan mereka bersatu, tidak ada lagi rasa yang terpendam… kebahagiaan yang tidak diundang kini datang diantara kita, Razzi dan Liandari.
**********
“Kyaaaaa… … …” teriak sahabat Lian yang selesai mendengarkan cerita Lian.
“Malam-malam, hujan pula, romantis banget itu, andai dia kayak begitu” ucap Caca kepada sahabatnya.
“Tunggu-tunggu…
dia yang kamu bilang itu siapa ya, hayooo… siapa Ca?” tanya Lian dengan guraunya.
melelehkan hati batunya Caca” Ledekan Mirza yang membuat Caca tersipu malu.
“Eh… enggak ada kok, aku asal sebut saja, so… ayah kamu tahu enggak kamu pacaran sama Razzi?” tanya Caca mengalihkan pembicaraan.
“Alah dasar mengalihkan pembicaraan dia, tapi… benar sih, dionnya dikemanakan itu?” tanya Mirza.
“kalau dionnya nanti aku bicara berdua semoga dia mengerti jika aku hanya anggap dia sebagai kakak, tetapi… ayah pasti marah, bagaimana ya?” Disela perbicaraan antara lian dan sahabatnya telefon Lian bergetar disaku roknya dan Lian mengangkatnya yang ternyata dari ayah nya.
Ayah Lian bilang bahwa siang ini dion akan mulai tinggal dirumahnya. Sedangkan ayahnya ada urusan mendadak diAustralia dan terpaksa harus terbang malam nanti. Walau berangkat malam tapi ayah Lian tetap tidak akan pulang kerumah karena harus mengurus berkas dulu dikantor dan dari kantor langsung munuju kebandara.
Mendenar perkataan ayahnya Lian merasa enggak enak karena harus tinggal berdua dengan dion malam nanti, pasti rasanya awkward banget.
Jika saja Lian belum tahu akan perjodohan itu pasti malam ini jadi seru karena ketemu sama kak dion, tapi karena sudah tahu akan perjodohan... malam ini bakal jadi sejarah pertama antara aku dan kak dion menjadi canggung.
Hingga akhirnya Lian cerita kesahabatnya. Bahkan bukan hanya itu, Lian juga mengajak sahabatnya untuk nginap selama ayah Lian diAustralia. Sahabatnya setuju tapi mungkin paling lama sahabatnya bisa nginap Cuma
seminggu. Walau hanya seminggu Lian sudah sangat senang setidaknya ada yang menemaninya.
Selintas Lian ingat bahwa jino pernah minta tolong untuk bisa lebih dekat dengan mirza. Karena mengingat Lian telah berjanji pada jino waktu itu, akhirnya Lian mengambil kesempatan pada saat ini. Dan Lian juga mengundang Razzi, jino, jeki, dan edik untuk main dirumahnya dan pastinya mereka tidak akan ikut untuk menginap, momen ini bakal di jadikan untuk menciptakan kesempatan jino pedekatean dengan mirza.
**********
__ADS_1
“Akhirnya sampai juga” ucap Jino lega, “Iya… yuk masuk gays” seru Lian kepada teman-temannya. Mereka semuapun mengikuti Lian, tidak sengaja Lian melihat kearah Razzi yang masih diam tidak beranjak dari tempat ia meletakkan motornya dihalaman Lian.
“Mengapa Razzi diam saja?” tanya Lian dalam hati yang masih memegang gagang pintunya,
“Razzi ayo sini!” ajak Lian untuk ikut masuk kerumahnya.
Mendengar Lian mengajak Razzi, semua pandangan mata teman-temannya pun tertuju kepada Razzi. Mereka semua bingung mengapa Razzi masih diam ditempat, Lian yang melihat suasana yang menjadi aneh akhirnya ia menggenggam dan menarik tangan Razzi sambil tersenyum “Ayo!” ajak Liandari, “Tapi…” Razzi ragu untuk masuk kerumah Lian, “Sudahlah… go” potong Lian yang tetap menarik tangan Razzi, “Ayah kamu…?” tanya Razzi yang
memastikan, “DiAustralia… enggak apa-apa kok!” tegas Lian kepada Razzi.
Keraguan yang Razzi miliki cukup besar hingga membuatnya tidak enak hati untuk tetap masuk. Sedangkan temannya terdiam melihat Razzi dan Lian. Mereka tidak enak untuk menyela atau ikut campur… karena pembicaraan yang singkat itu terlihat sangat serius.
“Kita dapat menonton drama secara gratis disini” bisik Jino kepada Edik, “Huss… diamlah” sergah edik dengan suara yang pelan, “Caca… ini seru kan, Edik memang tidak bisa menilai situasi yang seru” Bisik Jino ditelinga Caca, yang membuat Caca terdiam karena sedikit kaget dan wajahnya memerah.
Pada saat itu Jino terlihat biasa-biasa saja setelah berbisik dengan begitu dekat ditelinga Caca, dan Edik hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Jino. Sedangkan Razzi dan Lian masih saja lanjut dengan pembicaraannya. Ucapan yang dikeluarkan dari mulut Razzi kini membuat suasana makin serius, ditempat itu sekarang seakan adanya hawa dingin dari gunung es.
“Aku tidak mau dibilang tidak tahu diri” ucap Razzi, “APA… huff… ayah lagi tidak dirumah, tidak bisakah kamu santai sedikit” ujar Lian dengan nada yang mulai serius, “Kamu bisa bilang santai karena kamu tidak pernah direndahkan” kata Razzi yang seakan menekan Lian, “Aku?” tanya Lian yang tidak percaya Razzi akan mengatakan itu kepadanya.
“Razzi… apa-apaan kamu, kenapa kamu malah seakan menekan Lian” sergah Jino yang tidak senang dengan perkataan Razzi kepada Lian, “Cukup sudah, ayolah… aku tidak mau ada pertengkaran, kita semua kesini untuk senang-senang saja… main bareng” pinta Lian dengan suara yang rendah tanpa ada emosi seperti tadi, “Aku pulang saja ya!” cetus Razzi, “Hah… kenapa?” tanya Lian.
Kreeek… …suara pintu terbuka lebar yang membuat semua mata berpaling kearah pintu. Liandari mematung
dan matanya terbelalak melihat Dion yang sudah berada dirumahnya. Ia tahu kalau Dion memang datang hari ini, tetapi ia tetap saja kaget meliahatnya.
Dion membuka pintu dengan rambut yang sedikit acak-acakan. “Kak Dion?” sapa Lian, “Wah… Lian, apa kabar kamu cantik?” tanya Dion yang mendatangi Lian dan mengusap kepala Lian dengan tangan lebarnya.
“Baik kak, kakak…?” jawab Lian, “Sudah-sudah… mendingan kita ngombrol nya didalam saja, masih banyak yang ingin kakak tanyakan dan kamu jugakan… ajak teman kamu masuk Li!” ujar Dion yang tersenyum dan masuk
kedalam rumah tanpa segan, seakan rumahnya sendiri.
“Yuk all” ajak Lian kepada teman-temannya. Tanpa ada yang sadar ternyata Razzi yang tadinya ingin pulang
malah ikut masuk kedalam tanpa kata. Duduk saja senyamannya ya, anggap rumah sendiri saja… aku tinggal kedapur dulu” ujar Lian yang mempersilahkan temannya duduk dengan santai, “oya… kalian mau minum apa” tanya Lian.
Teman-temannya pun pada menyebutkan apa yang ingin mereka minum. Hingga akhirnya Lian baru sadar bahwa Razzi rupanya juga ikut masuk. Razzi terlihat santai duduk dibawah beralaskan karpet yang mewah berbulu lembut sambil memegang hpnya, Lian senang melihat Razzi dan ia menanyakan Razzi ingin minum apa, dan Razzi hanya bilang air putih dan Lian pun pergi kedapur untuk membantu bibi menyiapkan cemilan, buah, dan air minum untuk
temannya.
“Hehehe…” Jino tertawa pelan dengan suara yang sedikit masuk kedalam sambil melihat Razzi, “Anying… ngapain lo Jin, bikin merinding aja” ucap Razzi yang tanpa disengaja melihat kearah Jino yang lagi tertawa seperti itu sambil melihatnya.
“Ba**s*t jangan panggil aku JIN\, kurang O nya sial” cetus Jino sambil mengacungkan jari tengah nya ke Razzi\, “Astagfirullah… ngapain kalian kayak begitu\, tobat coi… itu mulut disumpal saja kali ya bagusnya” kata Edik yang mendengar pembicaraan Razzi dan Jino\, “Maaf pak ustadz Edik Sardidik…” ujar Jino dan Razzi sambil menempelkam kedua belah telapak tangan mereka masing-masing\, seakan seperti seorang yang lagi minta ampun\, “Alah… bacot kalian semua” selaan Jeki kepada teman-temannya.
Tidak lama kemudian pun Liandari datang dengan bibi dan kak Dion yang ikut membantu membawakan cemilan, dan air minum. setelah itu Lian mengenalkan Dion ke sahabat dan teman-temannya. "All... kenalin ini Kak Dion, teman kecil aku dulu diAustralia dan Kak kenalin juga ini teman-teman aku disekolah" ucap Lian, "Ya, salam kenal semua... oya sepertinya kamu lupa Lian" ujar Dion, "Apa?" tanya Lian, "Kenalin aku juga sebagai calon tunangan kamu!" ungkap Dion kepada Lian, "Hah..." Apa-apaan ini dalam hati Lian.
Bersambung...
__ADS_1
apakah yang terjadi selanjutnya, bagaimana tanggapan Razzi???