CINTA ABADI DIHUJAN MALAM

CINTA ABADI DIHUJAN MALAM
Episode 18 masih seperti ini !!


__ADS_3

Karena yang kutahu adalah... aku akan berjuang selagi kau masih disisiku, tapi jika suatu saat nanti kau ingin pergi. Maka, akan aku lepaskan dengan senyum. Ya pastinya pada saat itu aku hancur, namun tidak apa-apa... karena untuk sekarang biarlah aku percaya padamu tanpa 'tapi'.


**********


 


 


Malam tanpa kicauan burung, hanya desiran angin yang berhembus menerbangkan rambut yang terurai. Sekali-kali aku bertanya pada rembulan yang terus diam ditempatnya yang seakan menatapku. Berbicara dengan gumaman yang begitu lirih terdengar oleh telinga kecilku.


Kepada hati yang kutunjukkan rasa sepi. Mengakar serta melilit hati. Dia yang berdiri didekatku terasa sangat jauh, terlihat samar dari kejauhan. Dia yang masih ada, namun seakan telah pergi tanpa aba-aba.


Untuk seseorang yang seperti tidak kukenal lagi. Tanpa memberi alasan untuk kumengerti. Dia berlaku seperti tiada aku dihati. Entah terlalu bodoh atau aku yang terlalu percaya diri, terus saja berjuang untuknya. Mencoba segala cara agar ia tidak terlalu menderita saat bersama.


**********


 


 


“Assalammualaikum” ucap tiga orang sahabat Razzi yang datang kerumahnya. “Waalaikummussalam, bentar” sahut Radha sambil membukakan pintu.


Kreeek… suara pintu  dibuka.


“Ah… kakak, masuk kak” sapa Radha sembari mempersilakan masuk. Mereka bertiga pun masuk dan duduk diruang tamu.


“Sudah sehat dek?” tanya Edik begitu lembut, “I i iya kak sudah, te terima kasih waktu itu kakak bantu Radha” ujarnya terbata-bata.


 


Radha adalah anak yang baik, polos dan yang paling menjadi ciri khas sifatnya yaitu, ia suka gugup-an saat ada seorang yang bertanya atau memanggilnya. Dia akan terbata-bata saat bicara, dan juga sangat pemalu.


Jeki dan Jino tertawa melihat Radha yang gugup-an sangat ditanya oleh Edik. Sedangkan Edik sendiri hanya tersenyum. Ia tertunduk malu karena teman-teman kakaknya tertawa melihatnya.


Edik yang menyadari bahwa Radha sudah benar-benar malu akhirnya ia menghentikan tawa teman temannya. “Hei kalian berdua sudahlah” tegas Edik. Mendengar Edik meminta dua sahabatnya berhenti tertawa, barulah Radha dengan perlahan mengangkat kepalanya.


 


“Oya dek, dimana Razzi?” tanya Jino, “Ka… kakak Razzi ada dikamarnya, ka kakak pergi saja kekamarnya” ujar Radha yang memang selalu terbata-bata karena gugup.


“Oke deh, kita kesana ya, makasi” ucap Jeki, “Sa sama-sama kak” ujarnya.


“Hai… bebeb Razzi” sapa Jino yang menggoda Razzi dengan menirukan suara perempuan yang malah terlihat seperti banci. Sontak Razzi yang mendengar menjadi geli, “Ih… apa sih lo” Dengan wajah yang terlihat jijik.


 


Karena kelakuan Razzi dan Jino membuat Jeki dan Edik tertawa terpingkal-pingkal. Razzi bertanya kepada sahabatnya mengapa mereka tumbennya main kerumah biasanya juga ngumpulnya dirumah Edik.


Pertanyaan Razzi membuat sahabatnya kesal, “Ya seharusnya begitu, tapi memang lo enggak lihat handphone? Berapa banyak panggilan, chat, tapi enggak ada dibalas tu!” cerocos Jino kesal.


“Kita khawatir, mana tahu lo gantung diri kan karena lagi ada masalah sama lian kecayangan” kelakar Jeki dengan sindiran.


 


Razzi kini hanya diam dan sesekali menghembuskan nafas yang terdengat berat. Sambil memandang temannya yang sibuk mengoceh karena kesal dengannya.


Hingga akhirnya Edik lagi-lagi menjadi penengah dan membuat Jino dan Jeki diam. Setelah mereka tenang barulah Edik bertanya dengan Razzi, sebenarnya ia kenapa.


Mukanya yang kusut sebenarnya sudah cukup menjelaskan bahwa ia sedang ada masalah. Namun Razzi tetap menjelaskan semuanya. Sahabatnya bingung karena antara Razzi dan Liandari, tidak ada satupun dari mereka yang mau meluruskan semua masalah dengan baik.


Liandari yang diam seperti tidak ada masalah. Dan Razzi yang tidak bertanya tapi malah membuat Lian menangis. Andaikan mereka berdua saling terbuka dan bisa berbicara dengan baik, mungkin masalah ini tidak akan menjadi rumit.


 


Lanjut Razzi berbicara, “Pada saat itu gua benar-benar enggak mengerti, kenapa sih dia masih diam?” lirihnya. “Makanya lo bertanya lah, jangan diam dan tiba-tiba marah” celoteh Jeki sambil memainkan game di handphone.


“Benar banget!” sambung Edik yang lagi asik membolak-balikkan kubiknya Razzi. “Bro… lo bayangin deh, tiba-tiba lo diketusin pacar tanpa tahu apa-apa, gimana rasanya? Keget kan!” ujar Jeki.


“Makanya kan ada pepatah, ‘Tak mau bertanya, tak tahu jalan’ ingat itu bro” Dengan tegas dan percaya diri Jino memberi pepatah yang salah.


 


“Oi… salah” seru ketiga sahabatnya.


“Yang bener itu ‘Malu bertanya sesat dijalan’ b*go” kata Razzi. “Ini nih pembuktian bahwa otaknya didengkul” Jeki mencibir dengan muka datar. “B*ngs*t\, sok pintar amat lo Jek\, lagian sama sajalah itu” ucapnya membenarkan.


“Makanya banyak baca buku, jangan sibuk main” cetus Edik menasehati, “Iya iya bawel ah” ucapnya ngeyel.


**********


 


 


“Eh… ada chat, dari siapa ya?” gumam Liandari yang baru saja dari dapur dengan memegang segelas air putih ia mengambil handphone dan membuka sandinya. Terlihat jelas bahwa itu dari Razzi. “Haah…” Liandari yang kaget


sekaligus senang melihat Razzi mengechatnya dan meminta untuk bertemu.


“Haa… haa… hahahahahaa akhirnya” tawanya yang begitu senang.


 


Dengan ketikan jarinya yang lentik ia membalas pesan dengan cepat, “Iya, aku kesana” balas Liandari. “Pakai baju apa ya” Sibuk Liandari membongkar isi lemarinya dan sembari memilih terlintas dipikiran Lian untuk memberi kabar bahagia ini kepada sahabatnya.


Lian berhenti memilih baju dan duduk dipinggir kasur sambil menunggu kedua temannya mengangkat handphone nya. Liandari membuat video call dengan caca dan mirza.


 


“Hei Lian” sapa Caca, “Hai juga... Ca, Mir aku ada kabar bahagia” ucapnya begitu senang. “Wih… senang amat lu” ujar Mirza yang menguap, “Tentunya gua senang banget, kalian tahu enggak,  tahu enggak” ujarnya yang begitu excited.


“Oke… tenang dulu, memang ada apa nih kok senang banget?” tanya Caca, “Razzi Razzi hahaha… dia ngechat dan ngajak ketemu ditaman, aku senang banget, aku kira Razzi enggak bakal nge-chat aku setelah kejadian siang tadi” Liandari yang berbicara begitu cepat sangkin senangnya.


 


“Tapi tunggu dulu Li” tegas Mirza, “Ya apa” sembari tersenyum. “Siang tadi bocah itu buat lu nangis, dan sore ini lu sesenang ini ketemu sama dia?” cetus Mirza yang masih kesal dengan Razzi.


Dan ia juga heran kok bisa-bisanya Liandari senang, belum juga sehari namun amarah, kecewa, sedihnya bagaikan luntur hanya dengan beberapa kalimat yaitu ‘ingin bertemu’


“Oh itu…” ucap Liandari pelan dengan raut muka sedikit sedih. “Hei Mir… ngapain sih diingetin lagi, sudah lah. Lagian mungkin dengan ketemuan begini bisa selesai masalahnya” cetus Caca yang enggak suka melihat Lian


sedih.


 


“Aku enggak apa-apa kok Ca. lagian aku sudah tidak peduli dengan apa yang terjadi siang tadi, yang aku ingin hanya kembali seperti semula, aku tidak ingin melihat Razzi yang tadi siang, aku ingin Razziku yang dulu, rasa sakit lupakan saja… asalkan kami bisa kembali seperti biasanya” lirihnya sembari tersenyum manis.


“huff… terserah lu deh Li, yang penting jangan sampai lu nangis lagi sajalah” ujar Mirza, “Iya benar kata Mirza, nanti kalau ada apa-apa bilang ya” kata Caca, “Siap bos” ujar Liandari tersenyum.

__ADS_1


“Tunggu aku, aku datang” gumam Liandari bersiap-siap dengan senyum yang tidak lepas diwajahnya.


**********


 


 


Razzi sudah sampai duluan dan sambil menunggu Lian datang Ia duduk dibangku taman sambil berpikir. Haruskah ia langsung bertanya kenapa lian berbohong atau memancingnya saja dan mununggu ia kasih tahu sendiri.


 


Perasaan gembira apa bisa dilukiskan? Apakah ada seseorang yang bisa bantu lukiskan? Jika ada lakukanlah! Karena aku tidak bisa memaparkannya lagi, jadi abadikanlah dengan sebuah lukisan. Tapi aku sendiri, tidak ada yang membantu lukiskan! Jadi, mungkin aku sendirilah yang akan melukiskan perasaaan ini dihati. Akan ku ukir dan lukis dengan sangat cantik dan dalam. Liandari.


 


“Eh eh eh… ini mobil kenapa, Kok berhenti tiba-tiba? Ahh.. aku enggak tahu tentang mesin” gumam Liandari.


Ia pun keluar dari mobil dan menelpon montir. Dilihatnya kekiri dan kekanan, namun tidak ada taxi atau ojek yang lewat. Kalau menunggu lebih lama lagi mungkin ia benar-benar akan terlambat dan Razzi mungkin saja sudah pergi.


Sebenarnya lian ingin menelpon Razzi untuk menjemputnya, namun ia merasa tidak enak. “Bagaimana ya!” paniknya. “Sudahlah jalan kaki saja” pikir Liandari.


Tanpa pikir panjang Lian meninggalkan mobilnya dan berjalan dengan cepat, sesekali ia berlari-lari kecil agar cepat sampai ketaman dimana ia janjian. Padahal jaraknya masih satu kilo meter lagi.


**********


 


 


 


                                                                                      Bolehkah.


                                                                              Oleh: Marisa Delvia


Kepada gemerlap malam yang hanya datang disaat sang senja tenggelam,


Kepada malam yang mencengkram dibawah sinar bulan...


Aku tertunduk rapuh dengan kenyataan,


Kenyataan yang selalu menamparku ketika ku lupa...


Tamparan itu berkali-kali kudapatkan,


Hingga sudah memar rasanya...


Aku tak tahan lagi, bolehkah aku m*ti !!!!


 


Caca menutup buku puisinya dan menghelakan nafas, “Haahh… “ helaan nafas Caca.


“Marisa Delvia! Puisi-puisi dia kata per katanya biasa saja tapi terasa dalam sekali, aku yang hanya membacanya


saja terkadang bisa merasakan sesak nya puisi itu” ujar Caca sambil membolak-baliknya buku puisi tersebut.


 


Kringg... kringg… dering handphone Caca.


 


Dibukanya matanya lebar-lebar dan dibacanya kembali tulisan yang tertera di handphonenya.


“Haha… bener ternyata” Caca mengangkat telponnya, “Ya Jino, ada apa?” tanya langsung tanpa basa-basi karena


gugup sekaligus kaget.


 


“Aku pengen ajak kamu jalan, mau enggak?” ujar Jino, “Ja ja jalan?” ucapnya terbata-bata. “Eh iya, enggak bisa ya?” tanya Jino agak merasa tidak enak, karena takut mengganggu, “Bisa bisa bisa, kirim chat saja, nanti aku kesana?” tutur Caca bersemangat.


“Enggak usah, aku jemput sekarang saja ya, kamu siap-siap oke” suruh Jino, “O oke, ya bye” cetus Caca langsung


setuju.


“Lian kamu kayaknya nularin keberuntungan untuk ku” pikir Caca, dan ia pun bergegas membuka lemari nya.


**********


 


 


Hah... haaahh... ah ah… deruan nafas Liandari yang terengah-engah karena akhirnya ia berlari dengan sangat cepat. “Sudah sampai, akhirnya” ujar Liandari terengah-engah sambil memegang gerbang taman.


Lian pun masuk ketaman dan dilihatnya sekeliling taman, dimana razzi berada dan, “Razzi!” panggil Liandari. Razzi menolehkan kepalanya dan menunggu Lian datang sambil berlari kecil.


 


“Maaf lama” ujarnya, “Ya enggak apa-apa kok, sini duduk” ucap Razzi sambil menepuk-nepuk bangku. Lian tersenyum dan ia pun duduk disebelah Razzi.


“Lian” panggil Razzi, “Ya” jawabnnya sambil tersenyum. “Aku enggak basa-basi lagi ya!” ujar Razzi yang terlihat serius, “Eh… maksudnya?” kata Liandari bingung dengan keadaan sekarang.


Nafas saja belum teratur, namun Razzi sudah mulai saja dengan mode serius.


 


“Langsung keintinya sajalah, sebenarnya ada yang aku pikirkan dan itu sangat menganjal dihati, jadi aku mau


bertanya sama kamu, aku harap kamu bisa jujur” seru Razzi yang begitu serius menatap Liandari.


“Oh oke, apa?” tanya Lian yang benar-benar bingung.


 


“Apa ada sesuatu yang kamu tutup-tutupin dari aku?” Dengan matanya yang tajam menatap Lian tanpa ada


senyum sedikitpun.


“Apa-apa-an ini Zi? Memang apa yang aku tutup-tutupin?” ujarnya. Liandari sama sekali tidak berpikir bahwa maksud Razzi adalah tentang ia yang berbohong dan malah jalan dengan dion.


 


“Mengapa kamu malah bertanya padaku? Bukankah kamu yang seharusnya sangat tahu” Razzi yang mulai ketus

__ADS_1


karena ia merasa sampai sekarang pun Lian tetap saja tidak ingin memberi tahunya, atau setidaknya buatlah alasan walau itu suatu kebohongan, yang Razzi  ingin adalah penjelasan dan kejelasan.


“Aku sangat senang ketika kamu mengajak ketemu, aku berlari dengan jarak satu kilo meter. Tapi saat sampai bukannya kau bertanya mengapa aku lambat? Mengapa aku terengah-engah? Mangapa aku berkeringat? Apa aku baik-baik saja? Atau setidaknya mari selesaikan masalah kita disekolah dan berdamai!” ucapnya mulai kesal.


 


Lanjut Liandari, “Namun apa sekarang? Introgasi? Memang aku ada salah apa? Jika ada KATAKAN!” teriak Liandari diujung kalimat.


Karena  awalnya ia benar-benar senang tetapi kenapa malah seperti ini. Hal ini membuatnya sangat kesal dan terus berbicara. "Awalnya aku kesini ingin berdamai, aku ingin kita baik-baik saja, dan juga ada yang ingin ku beritahu, tapi ternyata kita masih seperti ini”  lirih Liandari diakhir kalimat.


 


“Li… kamu mau kemana?” panggil Razzi yang melihat Liandari pergi meninggalkannya begitu saja setelah berbicara dan meneriakinya.


“Pulang” Entah mengapa satu kata ‘pulang’ yang terucap dibibir mungilnya Liandari terdengar sangat dingin ditelinga Razzi, dan membuatnya mematung dibelakang Liandari.


“Ayo kita bicara baik-baik dulu, jangan seperti ini, yuk duduk lagi Li” ucap Razzi. “Sudahlah! Jika ingin berbicara baik-baik kenapa tidak dari awal!” seru Liandari berbalik melihat Razzi dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


 


Nyutt… sakit.


 


“sakit sekali harus melihatnya menangis lagi” Dalam hati Razzi yang tak menyangka bahwa ia akan membuat Lian


menangis lagi.


“Aku antar pulang ya” ajak Razzi sambil memegang tangan Liandari. Dengan cepat Liandari menghempas tangan Razzi yang memegangnya.


“JANGAN DEKATI AKU” seru Liandari yang lagi-lagi terdengar sangat dingin. Liandari pun pergi setelah berkata seperti itu.


 


Sedangkan Razzi terdiam ditempatnya, ia merasa telah membuat kesalahan yang besar sekarang. Karena selama ini Liandari bukanlah tipe perempuan yang pemarah. Tetapi kali ini ia berteriak dan berbicara dengan sangat dingin kepadanya.


Inilah pertama kalinya Liandari marah besar kepadanya, dulu jika pun Liandari marah, tidak sampai beberapa menit paling sudah tersenyum kembali. Kini berbeda! Razzi benar-benar telah membuat kesalahan dan melewati batasnya Liandari.


 


Ditengah jalan ia berjalan dengan sangat cepat dengan air mata yang tak kunjung berhenti. Dan tiba-tiba.


Jgeeer... jgeeer... suara geluduk.


Dan tidak tidak lama tetesan hujan pun mulai turun. Tes... tes...  hujan pun turun berlahan dan akhirnya turun dengan lebat.


 


Sambil berjalan Liandari terus saja mengoceh-ngoceh tidak jelas, “Ku kutuk kau hujan, semoga kau rasakan rasa yang kurasa” teriaknya dijalanan yang sepi dan ia hanya mendengar suara hujan yang terus saja berjatuhan.


“Kenapa harus hujan sih, mobilnya kan rusak, dan jalanan sepi banget hiks hiks hiks” lirih Liandari sambil menangis. Mau tidak mau Liandari tetap berjalan didalam hujan.


Sedangkan Razzi yang masih berada ditaman, masih merasa bersalah dan menyesal. “Aku bodoh ya, apa yang telah aku lakukan sih, akh” Dengan hujan yang menemaninya ia duduk dibangku taman sambil mengajak-ngajak rambut.


**********


 


 


Tin... tin...  suara klakson motor Jino.


Caca membuka pintunya, “Hai” sapa Caca. “sudah siap? Yuk jalan” ajak Jino sambil menepuk-nepuk tempat duduk dibelakang motornya.


Disepanjang jalanan mereka berdua hening sekali. Tidak ada percakapan diantaranya dan, sesampainya ditempat tujuan. “Toko perhiasan?” ucap Caca bertanya-tanya, “Iya” jawab Jino singkat sambil menarik tangan Caca masuk kedalam toko.


 


“Ca… coba pilih deh” suruh Jino, “Aku? Kenapa?” ujarnya bingung.


Tanpa mempedulikan pertanyaan Caca, Jino tetap menyuruh Caca memilih. Akhirnya mata Caca tertuju pada kalung yang sangat indah dengan motif bulat dan bintang.


 


 


 



 


“Ini” kata Caca menunjukkan kalung yang ia pilih ke Jino. “Bulan dan bintang?” tanya Jino. “Iya bulan dan bintang" jawab Caca.


“Kenapa bulan dan bintang?” tanya Jino penasaran, namun kalung tersebut sebenarnya juga telah menarik perhatian Jino dari tadi disaat Caca masih memilih.


“Karena bulan dan bintang  itu adalah salah satu ciptaan sang maha kuasa yang terindah” Dengan raut wajah yang terlihat lembut.


 


“Coba dipakai, cantik enggak” ujar Jino yang memasangkan kalung tersebut dileher Caca tanpa bertanya. Sedangkan Caca hanya terdiam, Jino melihat Caca dengan teliti dan ia pun tersenyum dan membuka kembali kalungnya.


“Cantik, Mirza pasti senang banget dengan kalung ini” ucapnya Jino membuat Caca kaget. “Mirza?” tanyanya.


 


“Oh iya aku belum kasih tahu kamu ya! Aku sebenarnya pengen kamu bantu aku pilihkan hadiah untuk Mirza, karena kan aku enggak tahu tentang perhiasan, lagian kamu juga sahabatnya, pilihan kamu pasti enggak salah” ungkap Jino yang membuat dunia bahagianya Caca hari ini hancur.


“Bentar lagi dia ulang tahun dan aku akan beri kalung ini, dihari itu juga aku akan nembak dia” ujar Jino membuat Caca terbelalak.


 


“Kamu pilihlah Ca, yang kamu suka” katanya, “Enggak perlu, aku tidak terlalu suka perhiasan” Dalih Caca yang saat itu benar-benar terluka.


“Makasi ya Ca, dan untuk sementara ini rahasiakan dulu ya soal aku yang mau nembak Mirza dan hadiahnya” pinta Jino, “Ya, yuk pulang” ucap Caca dengan suara yang rendah.


“Ternyata masih seperti ini!!” Dalam hati Caca.


Bersambung...


 


 


apakah dua sejoli akan putus? dan apakah persahabatan caca dan mirza retak?


GAES JANGAN LUPA LIKE AND KOMEN YAH...DI LIKE DAN KOMEN BIAR CERITANYA LANJUT TERUS, BIAR SEMANGAT NIH YANG NULIS KALAU ADA DUKUNGANNYA... DAN TERIMA KASIH YANG SUDAH BACA LIKE N KOMEN.

__ADS_1


uppppsss....dan jangan lupa tip nya juga ya guys, hehe... :)


__ADS_2