
“Nunggu ya?” tanya Lian yang tersenyum ke Razzi, “Iya” jawab Razzi singkat, “Ngapain sih ditunggu, kalau aku
lama datangnya… kamu kelamaan deh berdiri disini” ucap Lian, “Karena pagiku yang indah tidak ingin kulewatkan tanpamu” terang razzi yang membuat Lian tersipu mendengarnya, dan kini Razzi pun merangkul Lian.
“Masih pagi ini, dasar bucin” ejek Mirza kepada mereka berdua yang sudah mesra saja padahal masih pagi, “Yang
jomblo diam sajalah” sindir Razzi yang menohok ke Mirza, “Dia memang jomblo, tapi ada yang suka sama dia kok” sela Jino yang tiba-tiba datang. “Eh anj*r, ini bocah datang dari mana pula lah…” ujar Razzi yang kaget dengan kedatangan Jino,
“Dasar sok tahu… mana ada yang suka, jangan sebar gosip deh” kata Mirza, “Ini fakta kali” jawab Jino, “Memang siapa orangnya Jino” tanya Caca penasaran, “Aku, aku suka sama Mirza… dan ini fakta” jawab Jino sambil mengusap samping lehernya dan ia terlihat sedikit menundukkan kepalanya, sedangkan Mirza terdiam.
Ucapan Jino membuat Mirza terdiam karena terkejut dan malu, beda halnya dengan Caca. Ini seperti sambaran petir dipagi hari baginya, rasa sesak memenuhi rongga dadanya. Mulutnya terbungkam dan matanya sedikit berkaca-kaca tetapi bibbirnya ia paksakan sebisa mungkin tersenyum.
**********
Tepatnya, entah sejak kapan hati ini merasakannya. tetapi kini... yang ku tahu adalah, ini menyakitkan. Dia menyukai sahabatku dan aku tidak tahu perasaan Mirza seperti apa. Jika Mirza menyukainya juga, maka... tidak seharusnya aku memiliki rasa ini dan tidak patut aku ada disela mereka, melihat mereka bersama mungkin lebih baik.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan, aku tidak kuat terus berada disini... aku ingin pergi, tapi apa akan kentara?" Dalam hati Caca yang pada saat itu ia tetap tersenyum seperti biasa akan tetapi kedua tangannya terus tergenggam menahan perih.
Tanpa sengaja mata Liandari tertuju kepada Caca, Lian merasa bahwa ada yang aneh dengan Caca. Dia tersenyum seperti yang lain nya tapi Lian tetap merasa ada yang janggal padanya.
Suara bel membubarkan mereka dan pembicaraan pun terputus, hingga mereka semua masuk kekelas masing-masing dan mengikuti pembelajaran. Guru didepan terus menerangkan pelajaran sedangkan pada saat itu Liandari hilang fokus dan tidak mendengarkan keterangan dari guru didepannya, ia terus saja memandangi Caca, tetapi Caca sendiri terlihat biasa-biasa saja... ia serius memerhatikan guru didepannya.
Panggilan dari Mirza membuyarkan pikiran Lian terhadap Caca, "Li, aku kewc dulu, nanti tunggu aku ya.. kita kekantin bareng" pinta Mirza yang sudah membuyarkan pikiran Lian, "Ya ya, pergilah" ucap Lian. Mirza pun meminta izin ke guru yang sedang mengajar dikelasnya, ia membuka pintu kelas dan berjalan menuju wc. pembelajaran terus berlanjut, sepuluh menit kemudian bel menandakan istirahat berbunyi. Guru yang berada dikelas keluar karena sudah berakhirnya jam pelajaran.
Caca menggeserkan kursi yang berada dibelakang Lian, ia menariknya sampai kursi itu berada di samping Lian dan Caca pun duduk. "Kantin yuk" ajak Caca, "Kenapa?" tanya Lian, "Apa" jawab Caca heran, "Kenapa?" tanya Lian sekali lagi, "Apanya?" jawab Caca yang bertambah heran dan bertanya-tanya, "Tadi pagi kamu aneh, tersenyum seperti biasa tapi aku merasa ada yang janggal!" ungkap Lian serius, "Haha... aneh?" balas Caca dengan nada sedikit menekan, "Iya!" ujar Lian singkat dengan tatapan tajamnya, "Kamu yang aneh kali, aduh aduh selama pacaran jadi senstif ya... aku biasa saja kok" ujar Caca pergi keluar kelas sambil menggelengkan kepala dan tertawa.
Liandari melihat Caca pergi keluar kelas dengan berfikir, "Apa iya aku yang sensitif, tapi tadi memang terlihat aneh... tanpa sengaja aku melihat matanya berkaca-kaca dan ia menggepalkan tangannya..." Pikir Lian, "Sayangku lagi mikirin apa sih?" Suara Razzi menghamburkan pikiran Lian, Lian menolehkan kepalanya seraya tersenyum kepada Razzi, "Kantin yuk" ajak Razzi mengulurkan tangan kanannya, Lian menyambut uluran tangan Razzi dan mereka berjalan menuju kekantin sambil bergandengan tangan.
"Kenapa berhenti?" tanya Razzi heran, "Itu Mirza dengan Joni, kan?" tanya Lian, "Iya, memang kenapa?" tanya Razzi, "Tadi MIrza..." terpotong, "Bentar, kita cari tempat duduk dulu" ujar Razzi mencari tempat duduk sambil menggandeng Lian, tidak lama setelah itu akhirnya Razzi mendapat tempat duduk dan mereka pun duduk dan memesan makanan.
"Oke... kenapa dengan MIrza" tanya Razzi menyambung percakapan mereka tadi, "Enggak ada apa-apa sih, cuma kesal saja" kata Lian, "Kesal kenapa?" ucap Razzi, "Tadi Mirza keluar kelas sekitar 10 menit sebelum bel istirahat, bilangnya sih minta ditungguin biar kekantin bareng tapi sudah ditunggu malah enggak muncul-muncul, eh... tahu nya ia berduaan sama Joni, dasar" Gerutu Lian karena tadi sudah menunggu tapi rupanya malah ditinggal, "Hehe... sudahlah, kamu juga tidak rugi... walau ditinggal mirza tapi dapatnya kan cowok tampan" ujar Razzi sambil memberikan makanan yang sudah datang kedepan Lian.
Suasana di kantin dengan keramaiannya membuat Lian tidak bisa mendengar pembicaraan antara Jino dan Mirza, hingga bel berbunyi sekali lagi menandakan pembelajaran akan dimulai. Razzi mengantarkan Liandari sampai
didepan pintu kelas Lian.
__ADS_1
“Belajar yang rajin ya sayang” ucap Razzi mengusap kepala Lian, “Iya, kamu juga” ujar Lian tersenyum, “Pasti, aku kekelas dulu ya” Seraya tersenyum pergi meninggalkan Lian, “Hanya pembicaraan ringan dan biasa tetapi... mengapa deg deg-an” Dalam hati Lian sambil masuk kekelas dan duduk dibangkunya.
**********
“Eh… itukan Caca, kenapa duduk sendiri dibangku taman?” Pikir Mirza yang tadinya ingin kembali kekelas bersama Jino, “Mir, kamu kenapa?” tanya Jino heran melihat Mirza yang sembari tadi memerhatikan jendela dekat koridor, “Itu lihat deh, Caca duduk sendiri… kesana yuk” pinta Mirza kepada Jino untuk menghampiri caca bersama, “Caca” teriak Jino tersenyum sambil melambaikan tangan dari jauh, “Jino?” Dalam hati Caca bertanya-tanya.
Awalnya Caca mengira Jino sendiri tapi rupanya ada Mirza yang ternyata tidak terlihat tadi karena ia sedang mengikat tali sepatunya dan berjongkok dibelakang Jino, setelah Mirza selesai dan berdiri Jinopun dengan sigap menggenggam tangan Mirza dan menariknya untuk menghampiri Caca.
Perih… ada apa sebenarnya dengan hari ini, melihat mereka berdua mengapa begitu menyesakkan. Pernyataan pagi tadi bagaikan petir yang menyambar, sekarang berduaan… entah sejak kapan mereka bersama, ini terasa
menyesakkan, bahkan kini bergandengan tangan, satu kata… sakit.
Sudah beberapa kali Mirza memanggil Caca tetapi caca tetap diam dan hanya memandangi mereka berdua dengan tatapan kosong dan sekali Suara Jino memanggil nama Caca dengan nada yang sedikit tinggi menggembalikan nya
dari lamunan dan rasa perihnya, “Ca!” teriak Jino, “Haa…” Terbangun dari lamunannya, “Kenapa bengong sih, yuk kekelas, sudah bel tahu” ujar Mirza.
Karena bel sudah berbunyi dari tadi maka tidak ada kesempatan untuk Mirza bertanya, mengapa Caca duduk sendirian ditaman sekolah.Sekarang mereka bertiga hanya bergegas masuk kekelas masing-masing.
**********
Bel berbunyi sekali lagi yang sekarang adalah waktunya pulang, seperti biasa Razzi akan datang kekelas Lian untuk pulang bersama. Razzi, Liandari beserta sahabatnya pergi menuju keluar ke gerbang sekolah. Ternyata Jino,
“Kak” panggil Lian menghampiri Dion, “Yuk, pulang” ajak Dion tanpa basa-basi, “Aku pulang dengan Razzi kak, tidak apa-apa kan… lagian kenapa enggak bilang dulu kalau mau jemput” kata Lian tidak enak hati, “Kak Dion enggak usah repot-repot, Lian biasanya aku yang antarin” ujar Razzi dengan mata yang tajam bagaikan mata elang, “Cih, sudahlah kalau begitu… oh iya Caca sama Mirza sama kak Dion sajalah pulangnya” ajak Dion.
“Eh… aku sudah janji sama Jeki untuk pulang bareng kak” ucap Mirza menolak tawaran Dion, “Kak Dion tenang saja Mirza bakal pulang dengan selamat tanpa lecet sedikitpun kok” kata Jino sambil menaruh satu tangannya
dipundak Mirza, “Ya sudalah, suka-suka kalian saja… awas kamu kalau sampai kenapa-kenapa” Aura seorang kakak yang ingin melindungi adiknya keluar dan membuat ancaman untuk Jino, dan Jino hanya menganggukkan kepala serta tersenyum dengan sedikit ngeri.
“Sudah jauh… tidak ada waktu dan tempat untukku, sekarang Jino mengantarkan pulang Mirza tapi mengapa aku harus rasakan sakitnya?” Pikir Caca yang pada saat itu sangat terlihat murung.
Dion menyadari bahwa dari tadi Caca terus diam dan terlihat murung, melihat Caca yang seperti itu Dionpun memegang kening Caca dan berkata, “Enggak panas kok” ucap Dion, melihat Dion memegangi kening Caca yang lainpun pada kaget dengan sikap Dion, dan tidak terkecuali dengan Caca sendiri.
Karena Dion lebih tinggi jadi Caca terpaksa menengadahkan kepalanya melihat Dion, “Eh…” ucap Caca antara kaget dan heran, “Eh apanya yang eh, kayaknya kamu lagi enggak enak badan, yuk pulang biar bisa istirahat” ujar
Dion sambil membukakan pintu mobil dan memegang dari belakang pundak Caca serta mendorong pelan agar ia masuk kemobil.
Setelah Caca masuk dionpun mengitari mobil dari depan dan masuk serta menutup pintu mobilnya. Dion membuka setengah kaca jendela mobil dan berkata, “Hei kamu… bocah tidak direstui, antar Lian tepat waktu kerumahnya
dan jangan belok-belok, langsung pulang… kamu juga awas satu garis lecetan saja ada diMirza, kelar hidup kamu” tegas Dion dengan jiwa kekakaan serta ancamannya, setelah selesai bicara ia pun menutup kaca jendelanya kembali dan melesat kan mobilnya menuju kerumah.
__ADS_1
**********
Kini akhirnya Dion dan Caca sampai dirumah, Bibi Sumi membukakan pintu untuk mereka, setelah masuk Cacapun melemparkan tasnya ke sofa dan ia duduk sambil menghembuskan nafas panjang. “Kenapa?” tanya Dion, “Apa?”
jawab Caca singkat, “Kamu kenapa kok hari ini telihat murung kayak orang lagi patah hati saja, tapi mana mungkinlah kamu patah hati, jadi kamu kenapa?” tanya Dion sekali lagi karena penasaran dan khawatir.
Jleb… “patah hati ya, kok kata-katanya ngenak banget sih dan kayak déjà vu deh dengan pertanyaannya” Pikir Caca, “Malah bengong, dasar”, “Haa… enggak ada apa-apa kok kak” ucap Caca, “Hei Ca… kakak bukan baru sebulan dua bulan mengenal kamu, kamu ngertikan maksud kakak apa… kakak sudah anggap kamu, Mirza bahkan Lian sebagai adik kakak sendiri, so… apa yang mau kamu sembunyiin memangnya dari kakak” terang Dion yang ikutan duduk disamping Caca.
Rasanya Caca ingin sekali menceritakan masalahnya, dan kini Caca membuka suara, "Kakak pernah suka sama seseorang tidak?" tanya Caca berhati-hati, "Ditanya malah nanya balik" jawab Dion tidak puas, "Kalau mau tahu jawab saja" balas Caca, "Enggak pernah, so... ini beneran patah hati ya" ujar Dion kaget, "Iya" jawab Caca malu, "Wah... kok bisa patah hati, memang siapa sih cowok yang bikin adikku seprti ini!?" ucap Dion kesal.
"Apa ini termasuk patah hati ya" ujar Caca ragu, "Ya termasuklah, kamunya sudah seperti mau mati begini, sudah cerita sajalah!" jelas Dion kesal dengan cowok yang membuat Caca sedih, "Ceritanya...aku suka sama dia, tapi dianya tidak tahu kalau aku suka sama dia, dan selama ini aku mengira masih ada kesempatan untukku tetapi... hari ini aku tahu bahwa tidak ada kesempatan lagi" ucap Caca dengan wajahnya yang murung dan mata yang berkaca-kaca.
Melihat Caca yang hampir mau nangis\, Dion merasa sangat kesal dan marah sehingga dia ingin tahu sipa sebenarnya cowok b*r***s*k itu\, Dionpun bertanya lagi sama Caca\, "Kenapa tidak ada kesempatan?" tanya Dion menahan amarah\, "Ka... kare...karena di...dia menyukai orang lain" Terbata-bata karena rasa sesak dihatinya\, "Dasar bodoh!" seru Dion kesal sekali dan menggertakan giginya\, "Haa...?" ujar Caca\, "Rebutlah jika kau memang suka\, jika kamu tidak bisa merebutnya maka biar kakak singkirkan saja perempuan itu" tegas Dion dengan nada yang tinggi\, "Enggak boleh kak\, aku enggak boleh kayak begitu" teriak Caca yang langsung berdiri dan sudah tidak tahan lagi akhirnya ia meneteskan air matanya.
Mata Dion terbelalak melihat Caca yang selama ini bahkan tidak pernah berkat kasar padanya tapi kini Caca malah berteriak didepannya dan menangis sesedih itu. Awalnya Dion heran dan kesal karena Caca bilang ia menyukai cowok itu tapi ia malah berteriak dan melarang untuk menyingkirkan perempuan itu ataupun merebut.
Rasa heran dan kesal hilang ketika melihat air mata yang tidak kunjung berhenti mengalir dipipinya. Kini Dion merasakan sakit melihat air mata itu terus mengalir, bagi Dion Caca, mirza, dan lian adalah adiknya walaupun tidak sedarah tetapi Dion paling benci ketika seseorang menyakiti adikny walau hanya satu goresan yang panjangnya cuma 1 cm.
Kini Caca terluka dan bukan hanya 1 cm, tapi satu hati Caca hancur dan kini tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali memeluk Caca dengan erat. Disela itu Dion menuntun Caca untuk duduk kembali dan menghapus air mata Caca dengan tangannya serta Dion melanjutkan pertanyaannya.
Dion bertanya siapa laki-laki dan perempuan itu sehingga Caca berteriak dan berkata enggak boleh. Dengan tersedu-sedu Caca berkata, "Cowoknya adalah jinodan perempuan itu adalah mirza, dan aku tidak boleh merebutnya, bagaimana pun rasa ini harus kutekan sebisa mungkin" lirih Caca tersedu-sedan.
Dion kaget sekali ketika mendengar bahwa perempuan itu adalah mirza, seketika Dion terdiam memikirkan bahwa perempuan yang ingin ia singkirkan tadi adalah mirza. Kini Dion bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang, disatu sisi ada mirza dan disisi lain juga ada Caca, dua-duanya adalah adiknya walau tidak kandung.
Caca tahu bahwa Dion tidak tahu harus berbuat apa sekarang dan ia pasti sedikit syok karena perempuan yang ia ingin singkirkan tadinya adalah mirza, melihat Dion seperti itu Caca pun berkata, "Tidak perlu disingkirkan dan akupun tidak akan pernah merebutnya, aku cukup menekan rasaku maka semua akan baik-baik saja, dan kak Dion jangan bingung karena kak Dion tidak perlu lakukan apa pun untukku... aku hanya mohon jangan cerita kan tentang ini ke siapapun" Seraya tersenyum dan menghusap sisa air matanya serta pergi naik kekamar.
Kini Dion terpaku sambil menghusap-usap muka dengan kedua telapak tangannya, disela kebingungan Dion bel rumah lianpun berbunyi.
Bersambung...
apa yang akan dilakukan dion setelah mengetahui kebenarannya, dan siapakah yang datang?
GAES JANGAN LUPA LIKE AND KOMEN YAH...DI LIKE DAN KOMEN BIAR CERITANYA LANJUT TERUS, BIAR SEMANGAT NIH YANG NULIS KALAU ADA DUKUNGANNYA... DAN TERIMA KASIH YANG SUDAH BACA LIKE N KOMEN.
__ADS_1