CINTA ABADI DIHUJAN MALAM

CINTA ABADI DIHUJAN MALAM
Episode 17 dengarkan aku


__ADS_3

"Baiklah. Mulai sekarang mari buat rencana membatalkan pertunangan dan mendapatkan restu utnuk Razzi!" ujar Dion dengan senyum nakalnya.


"APAAAA....??!!!" teriak Liandari sangat sangat terkejut dengan apa yang Dion ucapkan.


"Ya... kita akan..." kata Dion yang terpotong karena handphone-Nya bergetar diatas meja, Dan ternyata itu adalah telepon dari kantor.


Maka Dion pun permisi angkat telepon dan ia meninggal kan Liandari yang masih duduk terpaku dengan wajah yang tidak percaya akan apa yang barusan Dion katakan.


**********


 


Senin Pagi.


Tok... tok... tok... Suara ketukan pintu kamar Liandari.


Terdengar suara yang cukup keras memanggil Liandari dari balik pintu kamarnya. "Lian bangun, sudah siang nih!" ucap Dion membangunkan Liandari.


"Hmm..." gumam Liandari dengan suara malasnya. Karena Liandari hanya bergumam dan membuat Dion tidak mendengar sahutan apapun akhirnya Dion berteriak lebih keras lagi.


"Lian bangunlah... sekarang sudah pukul 11.00 siang, kamu enggak sekolah memangnya?!" teriak Dion dari luar pintu kamar Liandari.


 


Perkataan Dion barusan tidak begitu terdengar oleh Liandari karena ia masih setengah tertidur. Namun ada beberapa kata dari Dion yang terdegar jelas ditelinga kecilnya, yaitu pukul 11.00 siang.


Dengan seketika pula Liandari langsung terduduk dan mengambil jam weker berwarna putih kesayangannya. Dan ternyata sekarang sudah pukul 8.50 pagi.


Huufff... hembusan nafas lega Liandari karena ternyata masih jam 08.50 pagi, dan... sekali lagi Liandari melihat jam wekernya.


 


Jreng... jreng... jrennggg...


 


Liandari yang baru loading dengan benar. Jam 08.50 atau pun jam 11.00 tetap saja ia sekarang benar-benar terlambat. Terlebih lagi hari ini adalah hari senin, hari dimana peraturan keterlambatan disekolah begitu ketat karena adanya upacara bendera.


"Akkkhhhhhhhh..." teriak Liandari yang baru saja menyadari bahwa ia terlambat.


Dion yang masih berada diluar pintu kamar Liandari hanya bisa menggelengkan kepalanya  dan turun kebawah menunggu Lian siap.


 


Dengan dasi yang belum sempat ia pakai dan bahkan Liandari hanya bisa menenteng sepatu sekolah dan tasnya menuruni anak tangga dengan terburu-buru.


Dion yang berdiri disamping mobil sembari memainkan benda kecil yang selalu ia bawa yaitu handphone seketika ia terkejut mendengar suara yang begitu keras.


Braakk... suara pintu yang ditarik dan tertutup kuat.


"Kak ayo cepat!" ajak Liandari yang tergesa-gesa. "Pakai dulu dasi yang benar, sepatu juga itu" suruh Dion. "Ya ya... cepat jalan" ujar Liandari cepat.


Dion yang melihat Liandari terburu-buru, ia hanya bisa mengikuti keinginan Liandari saja. Dion melajukan mobilnya dengan kecepatan 80 km/jam.


 


Disekolah.


“Kak aku duluan ya” kata Liandari yang turun dari mobil dan langsung berlari menuju pagar yang telah tertutup rapat.


Sementara Dion pada saat itu hanya diam dan melihat Liandari yang lagi berbicara dengan satpam dan satu orang guru yang berada dipos.


Nampak jelas pembicaraan Liandari dengan guru tersebut tidak  berjalan dengan baik. Namanya juga seorang murid yang terlambat tentu saja ia akan dimarahi dan diberi hukuman.


 


Cukup lama mobil Dion berhenti dipinggir jalan. Dion hanya melihat Liandari dari dalam mobil dengan kaca jendela yang tertutup rapat.


Setelah pagar dibuka dan Liandari diperbolehkan untuk masuk kesekolah barulah Dion menancapkan gas dan melaju menuju kantornya.


 


Namun tidak semulus itu untuk Liandari masuk begitu saja kesekolah. Ia harus  menjalankan hukuman dahulu.


Sementara murid-murid lain lagi belajar, Liandari malah disuruh keliling lapangan bola basket sambil berlari dan berbicara dengan keras, yaitu “Saya tidak akan telat lagi”


Hukuman tersebut akan berakhir sampai pelajaran pertama selesai dan istirahat.


 


Suara Liandari yang cukup keras membuat murid-murid lainnya melirik kearah jendela. Mereka semua melihat Liandari yang lagi keliling lapangan sambil berteriak-teriak.


Banyak yang merasa kasihan dengan Liandari yang harus berlari, terutama murid laki-laki, para murid laki-laki disekolah ini menganggap Liandari adalah dewi sekolah.


Kecantikan, kebaikan, serta keramahannya membuat ia diibaratkan sebagai 'Dewi' disekolah.


 


Hampir semua anak laki-laki disekolah itu mengagumi Liandari. Ada beberapa murid yang dari kelas atas yang membuka jendela dan berteriak menyemangati Liandari yang sedang menjalani hukumannya.


“Dewi, semangatlah” teriak salah satu pengagum Liandari. Bahkan bukan hanya itu, “Dewiku jangan sampai lelah ya!”  teriak beberapa anak cowok dari atas.


 


Liandari yang mendengar teriakan tersebut membuatnya reflek melihat keatas dekat jendela mereka yang berteriak menyemangatinya.


Rasa lelah pun seketika bagaikan hilang begitu saja, dan Liandari juga membalas murid yang menyemangatinya dengan melempar senyum manis ke mereka semua.

__ADS_1


Yang padahal tadinya Liandari merasa pagi ini sangat buruk karena ia telat, dimarahi guru, bahkan diberikan hukuman. Tapi kini ia merasa lebih baik dengan adanya mereka semua.


 


 


Istirahat.


Setelah mendengar bel Liandari pun berhenti berlari dan ia langsung duduk begitu saja dilapangan sambil meluruskan kakinya sembari memijat-mijat pelan.


Huff… menghembuskan nafas. “Akhirnya selesai” gumamnya lega.


 


“Dewiiiiii….” teriak segerombolan murid laki-laki yang menghampiri Liandari sambil membawakan air minum.  Melihat para murid laiki-laki yang datang dengan ramai membuat liandari kaget.


Tetapi jujur saja Liandari senang karena setidaknya mereka semua peduli dan perhatian dengannya. Ia merasa tidak sendiri saat lelah sehabis berlari.


Kaget memang, namun Liandari tetap tersenyum dengan lembut sambil melihat mereka semua mendekatinya.


 


Kali ini Liandari menerima banyak sekali minuman. Setelah berbicara sebentar dengan murid-murid tersebut, Liandari pun menuju kekelas.


“Ah… Razzi!” panggil Liandari yang melihat Razzi dipersimpangan koridor. Namun pada saat itu Razzi hanya melirik dan pergi begitu saja tanpa kata.


“Haaa??!!” gumam Lian yang heran melihat Razzi pergi begitu saja, padahal Razzi sempat melihatnya.


 


 


Dikelas liandari.


“Lian...” panggil Caca yang lagi duduk, “Ya” sahut Liandari yang medekat serta meletakkan tasnya dimeja dan duduk.


“kasihan pasti lelah banget ya harus lari, sudah minum belum?” tanya caca perhatian.


“Haha... sudah kok Ca, malah ya aku dapat minuman dari anak-anak banyak banget, tas aku sampai berat banget nih karena minumannya aku taruh didalam tas” ujar Liandari sembari tersenyum.


 


“Enggak heran sih kalau Liandari dapat banyak minuman, dia enggak lari saja minuman ,makanan, bunga, pasti ada terus setiap hari” ucap Mirza menggoda Liandari.


“Apa sih kamu Mir, enggak segitunya kok” pungkas Liandari, “Tapi ya, pasti lah kamu dapat minuman dari orang yang special kan?” cetus Mirza.


“Pengennya sih begitu, tapi tadi pas dikoridor aku melihat Razzi jadi aku panggil deh, tapi…” ujar Liandari yang terlihat sedih.


“Tapi apa?” tanya Caca, “Tapi Razzi nya Cuma lihat dan pergi tanpa kata” ungkap Liandari yang benar-benar murung.


 


“Ya walaupun sedikit sedihlah, tapi aku harus tetap positif, mungkin… mungkin saja Razzi lagi buru-buru, ya kan?” ucap Liandari menyemangati dan membuat dirinya sendiri tidak berpikir yang tidak baik terhadap Razzi.


Caca dan Mirza saling memandang. Ada rasa kasihan dengan Lian yang dicuekin begitu saja dan juga rasa kesal terhadap razzi yang seenaknya mengabaikan Lian sahabat mereka.


 


 


Dikantor.


Tok tok…


“Ya masuk” sahut Dion yang lagi sibuk dengan laptop  dan dokemen-dokumen yang ia pegang.


“Permisi pak” ucap sekretaris Dion, “Oh Sintia, ada apa” ujar Dion yang hanya memandang sekilas dan kembali melihat data-data dilaptop nya.


“Itu… sebenarnya ada yang mau saya bicarakan pak” kata Sekretaris Dion dengan nada yang sedikit tidak enak.


 


“Emm…” Pandangan Dion yang tajam melihat sekretarisnya, “Ada apa, bicara sajalah seperti biasanya”  tegas Dion yang mulai tidak senang karena merasa terganggu saat bekerja.


“Sa sa saya mau mengundurkan diri pak” cetus sekretarisnya terbata-bata. “Alasannya? Kalau karena gaji, saya bakal tambah dua kali lipat” ujar Dion menggampangkan.


“Bukan karena gaji pak, ini hanya masalah pribadi” jelas Sintia sekrtarisnya. “Hufff…” helaan nafas Dion.


 


“Sintia” panggil Dion, “Ya pak” jawabnya cepat. “Sudah berapa lama kamu bekerja dengan saya?” tanya Dion, “10 tahun pak” Jawab sekretarisnya. “Ya benar 10. Dan 10 tahun itu bukan waktu yang sebentar” ujar Dion.


”Jujur saja saya merasa cocok bekerja dengan kamu. Kalau kamu berhenti tiba-tiba seperti ini, sangat disayangkan bukan? Kamu itu pintar, tangkas, juga tahu  apa yang harus kamu kerjaan tanpa saya kasih perintah, dan sekarang saya harus mencari dimana sekretaris yang memiliki kemampuan seperti kamu, itu tidak gampang” ungkap Dion.


 


“Sebelumnya terima kasih pujiannya. Kalau masalah pengganti saya punya calonnya pak, saya yakin tidak akan mengecewakan” ucap sekrtarisnya sembari tersenyum ramah.


“Hmm… siapa? Yakin kamu?” kata Dion sedikit tidak yakin. “Yakin pak, dia adalah sepupu saya, saya pun pernah melihat cara kerjanya” terang sekretaris.


“Oke, dan kamu… benar-benar yakin ingin berhenti, enggak mau dipikir-pikir dulu?” tanya Dion tidak rela, “Ya pak, saya yakin” tegas sekretarisnya.


 


“Aduh… yakin sekali kamu ya. Sangat disayangkan, namun baiklah saya terima pengunduran diri kamu” kata Dion yang menerima surat pengunduran diri Sintia.


“Tapi besok kamu bawa penggantinya dan kamu ajarkan dulu dia selama seminggu, bagaimana?” tanya Dion, “Ya baiklah pak” jawab sekretarisnya.

__ADS_1


“Baik keluarlah” suruh Dion. Dan sekretaris tersebut pun membungkukkan sedikit badannya memberi hormat dan keluar.


 


 


Koridor sekolah.


Hari yang buruk bagi Liandari, resah dihatinya karena hampir satu hari ini ia tidak melihat Razzi. “Aku kangen, huff…” gumam Liandari sembari menghela nafas.


Dengan terus –terusan Liandari menghela nafas sambil berjalan dikoridor, Liandari mendengar suara teriakan-teriakan histeris dari murid perempuan yang lagi menonton anak cowok latihan bola basket.


Liandari melihat kearah teriakan tersebut, dan matanya tertancap ke Razzi yang sedang bermain disana. “Eh… itu Razzi” ujar Liandari tersenyum dengan senangnya, seperti anak kecil yang baru ketemu sama ibunya.


 


Tentunya tanpa pikir panjang Liandari menghampiri Razzi dan memanggilnya, “Razzi” panggil Liandari.


Razzi pun menoleh kearah suara yang begitu akrab untuknya. Dan… “Lian” gumam Razzi yang berhenti melemparkan bola.


“Pacar lo itu, samperin sana, hahaaha…” gurauan teman-teman Razzi, “Oke, gue kesana dulu bro” balas Razzi sambil tersenyum dengan temannya. Sedangkan temannya pun melanjutkan permainan mereka.


 


“Razzi” ujar Liandari yang kesenangan dan merangkul  lengan pacarnya. “Kenapa” kata Razzi sambil melepaskan tangan Liandari dari lengannya.


Liandari yang merasa cara bicara Razzi begitu ketus dan ia juga melepaskan tangan Lian yang memegangnya,  hal itu membuat Liandari heran dan tanpa sadar bergumam, “Eh..” dengan wajah yang seperti bingung melihat Razzi


sambil sedikit mendongak karena Razzi yang lebih tinggi darinya.


“Kamu kenapa” lirih Liandari, “Apanya yang kenapa? Ngapain kamu kesini?” ketus Razzi.


 


“Serius deh, anak ini tidak ada niatan mau jujur ya, kok sikapnya kayak enggak ada apa-apa sih, enggak merasa tidak enak hati atau merasa bersalah ya sudah bohong” pikir Razzi yang masih dengan rasa kecewanya


sambil menatap tajam Liandari.


 


“Hah… Kamu kok begitu sih” tanya Liandari dengan suaranya yang rendah, “Kamu yang kenapa!! Kalau kamu kesini hanya untuk mengatakan ‘Eh dan hah’ lebih baik pergi saja deh, aku mau lanjut main” cetus Razzi yang


benar-benar kesal.


 


“Aku padahal kangen banget sama Razzi, dan aku juga mau bilang bahwa aku lagi berusaha memperjuangkannya bareng kak dion, tapi kok dia begini, kok rasanya sakit ya” Dalam hati Liandari.


 


Setelah Razzi bicara dengan begitu ketusnya membuat Liandari tertunduk dan tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca.


“Kenapa kok malah diam" pikir Razzi. "Kamu kenapa sih malah tertunduk kayak begitu, bicara dong!” seru Razzi.


“A…aku…” terpotong, “Apa sih, coba sini lihat aku” ujar Razzi yang mengangkat kepala Liandari dengan kedua belah tangannya.


“Kamu nangis!?” ucap Razzi yang terbelalak melihat genangan dimata Liandari dan hidungnya yang telah memerah, “Enggak kok” lirihnya.


 


Razzi merasa bersalah dan menjadi marah dengan dirinya karena telah membuat Liandari sedih bahkan sampai menangis, ia benar-benar menyesal. “Maaf… maaf maaf sayang” ujar Razzi sambil memeluk erat Liandari.


“Razzi lepas, enggak enak ini diskolah” ucap Liandari, “Ah hmm… iya maaf” ujar Razzi yang melepas pelan pelukannya. “Aku pergi” cetus Liandari yang sebenarnya masih begitu sedih, “Lian” teriak Razzi.


Namun, Liandari tidak berhenti, ia terus saja berjalan menuju kekelasnya. Sesal yang dirasakan oleh Razzi, ia mengacak-ngacak rambutnya.


 


“Sebelumnya Razzi tidak pernah seperti itu denganku, ia selalu lembut, tapi kini mengapa?" gumam Lian yang berjalan dengan cepat dan terus mengusap pipinya yang basah.


"Apa hanya aku yang terlalu sibuk sendiri memperjuangkannya? Apa yang akan aku lakukan jika apa yang dikatakan kak dion benar, razzi suatu saat menyakitiku, mempermainkanku, dan meninggalkaku, lalu untuk siapa sebenarnya aku berjuang mati-matian” pikir liandari yang mulai takut razzi akan meninggalkannya, menyakitinya, dan mungkin saja razzi hanya mempermainkannya saat ini.


 


Rasa takut melanda Liandari, resah, gelisah bercampur bagai menyelimutinya. Namun tidak akan pernah pudar rasa ingin memperjuangkan seseorang yang sangat ia cintai. Walau ia sendiri pun tahu resiko yang akan ia tanggung dan jalan seperti apa yang akan ia lalui ketika keputusan untuk berjuang ia tetapkan.


Namun, Liandari tetap pada hatinya bahwa...


Aku tidak ingin kehilanganmu. Rasa takut cenderung membuatku sangat lelah. karena tatkala jiwaku rapuh, namun itu tidak akan berlangsung lama. Aku akan bangkit kembali dengan membayang kan bagaimana jika perjuanganku berhasil dan kita bisa bersama.


Indah bukan...?


 


Itulah bayangan yang bisa membuat aku kembali bangkit walau terjatuh berulang kali. Aku tidak peduli rasa sakit apa yang akan datang menghampiriku. Dan aku juga tidak peduli jika suatu saat kau akan meninggalkanku bahkan mengecewakanku.


Karena yang kutahu adalah... aku akan berjuang selagi kau masih disisiku, tapi jika suatu saat nanti kau ingin pergi. Maka, akan aku lepaskan dengan senyum. Ya pastinya pada saat itu aku hancur, namun tidak apa-apa... karena untuk sekarang biarlah aku percaya padamu tanpa 'tapi'.


Bersambung...


 


 


berbicara dengan baik atau melupakan?


GAES JANGAN LUPA LIKE AND KOMEN YAH...DI LIKE DAN KOMEN BIAR CERITANYA LANJUT TERUS, BIAR SEMANGAT NIH YANG NULIS KALAU ADA DUKUNGANNYA... DAN TERIMA KASIH YANG SUDAH BACA LIKE N KOMEN.

__ADS_1


uppppsss....dan jangan lupa tip nya juga ya guys, hehe... :)


__ADS_2