
Mereka bercerita panjang lebar dengan serunya, dan sampai dimana Razzi mengatakan bahwa ia akan kerumah
liandari malam nanti. Membuat sahabatnya sangat sangat tidak percaya dibuatnya.
Setelah ayah lian berkata seperti itu, tapi Razzi tetap saja ingin kerumah lian walau hanya akan berada diteras atau lebih parahnya hanya berada didepan pagar yang ditutup rapat. Hanya bisa melihat liandari dijendela kamar atasnya dari kejauhan.
Saling menelpon tapi bisa melihat senyum yang saling merekah dengan pipi yang memerah. Dan apakah benar jika cinta membuat kita tidak mengerti arti dari kata menyerah?.
**********
“Mana teman-teman kamu, Nak?” tanya Ibuk Razzi yang lagi duduk disofa sambil meluruskan kakinya. “Mereka sudah pulang, Buk:” jawab Razzi duduk disamping Ibuknya dan meletakkan kaki Ibu dipahanya sembari memijat
pelan.
“Hari ini rasanya Ibuk berterima kasih sekali dengan nak edik yang menolong radha, dan untungnya ia bawa mobil, jadi mudah untuk radha yang lagi sakit” jelas Ibunya yang sangat bersyukur.
“Iya Buk, tadi Razzi juga sudah berterima kasih” balas Razzi seraya tersenyum. “ Nak… besok kamu enggak usah masuk sekolah dulu sehari ya?” kata Ibunya, “Kenapa, Buk?” tanya Razzi singkat.
“Besok kamu tolong jagain radha disini, Ibuk mau cari pinjaman untuk mengganti uangnya nak edik” lirih Ibunya, “Uang edik? Maksudnya?” tanya Razzi menaikkan alisnya.
“Semalam Ibu menolak tawaran nak edik untuk membawa radha berobat karena Ibu tak ada uang, tapi nak edik memaksa karena dia tak tega melihat radha yang kesakitan" ujar Ibunya, dan Ibunya melanjutkan bicaranya.
"Saat sampai dirumah sakit, pihak rumah sakit meminta untuk membayar biaya perawatan…” Ibu Razzi terdiam sejenak dengan wajah sedih. “Terus? Cerita saja Buk” ujar Razzi dengan suara yang begitu menenangkan Ibunya.
“Tadi Ibuk hanya meminta bantu kelonggaran waktu untuk membayar perawatan radha dan Ibu meminta pihak rumah sakit untuk mengecek keadaan radha terlebih dahulu. Tapi pihak rumah sakit tidak mau sebelum Ibu membayar, kata mereka walau hanya setengah tapi harus dibayar dulu” kata Ibunya memelas.
“jadi, maka dari itu…” ucap Razzi dipotong Ibunya.
“Ya, makanya nak edik yang membayarkan dulu, bahkan ia memasukkan radha dikamar VIP. Nak edik bilang masalah uang jangan dipikirkan dulu, yang penting radha sehat. Tapi kan Ibu tetap saja tidak enak, makanya Ibu mau cari pinjaman besok" jelas Ibunya memandang Razzi dengan matanya yang begitu lembut.
“Buk… masalah uang Ibu jangan risau. Biar Razzi yang cari! dan masalah edik. Biar Razzi yang urus! Ibuk cukup jaga radha dirumah sakit sama jaga kesehatan Ibuk. Razzi bakal cari kerja!” tegas Razzi.
“Nak, tugas kamu hanya belajar! Bukan kerja! Kalau kerja itu adalah urusan Ibuk” balas Ibuknya tidak setuju.
“Aku sudah besar Buk, aku sudah SMA. Selama ini Ibuk sudah cukup merawat kami tanpa hadirnya sosok seorang suami. Ayah meninggal tepat saat radha lahir, dan Ibuk berjuang untuk kami sendiri dengan waktu yang lama.
Razzi yakin! Punggung Ibuk yang kecil itu pasti telah lelah, jadi… biarkan Razzi yang mulai sekarang menjadi punggung keluarga kita” ujarnya.
“Mungkin sekarang Razzi masih sekolah. Tapi jika kerja part time, Razzi pasti bisa Buk. Mulai sekarang Ibuk tidak sendiri lagi! Ibuk bisa berbagi masalah dan kesusahan dengan Razzi, apapun dan kapanpun itu. Mari kita selesaikan sama-sama, ya?" pinta Razzi untuk berbagi masalah bersama-sama.
“Tapi nak, kamu nanti lelah. Pulang sekolah kamu langsung kerja, pr kamu bagaimana? Tugas sekolah kamu?” ujar Ibuk ragu .
“Itu gampang Buk. Razzi akan mengaturnya, Razzi memang tak pintar tapi juga tak akan mengecewa kan Ibuk. Razzi anak tertua dan Razzi juga adalah seorang anak laki-laki. Sudah saatnya Razzi membantu Ibuk! Boleh ya Buk?” terang Razzi mayakinkan agar dibolehkan bekerja dan membantu Ibuknya.
“Kamu sudah besar sekarang yang nak, kamu semakin mirip dengan ayahmu. Dari wajahmu, bahkan sifatnya yang tidak mengenal arti menyerah. Ibuk mengizinkanmu” ujar Ibuknya sambil tersenyum dengan mata yang berkaca kaca bahagia melihat anaknya yang sudah tumbuh dewasa dengan sangat baik.
“Terima kasih Buk” ucap Razzi seraya memeluk Ibunya.
Kehangatan terasa diruang yang dingin. Kehangatan yang bukan hanya berasal dari sebuah pelukan, tapi... kehangatan terasa juga dari kata yang membuat hati tenang tak terhingga.
**********
Rumah Baru Edik Sardidik.
Tibalah saatnya semua orang membaca doa bersama-sama. Seorang ustadz yang memimpin doa atas selamatan rumah baru Edik. Kekusyukan sangat terasa, suara-suara doa yang memenuhi ruangan yang baru dihuni. saling menampung tangan dan mengucapkan amin diakhir doa bersama-sama.
Setelah berdoa. Kasak kusuk memenuhi ruangan, decap-decip suara mulut orang-orang yang mengunyah makanan mereka. Diselingi canda tawa, dan diakhir acara semua orang menyalami Edik serta mengucapkan selamat atas rumah barunya.
Semua orang telah pulang. Kini tinggallah 3 orang sahabat Edik dirumah itu. Mereka membantu Edik meletakkan piring-piring kotor kedapur dan menyapu sampah-sampah yang berserakan.
__ADS_1
Saling bekerja sama dan tolong menolong itulah bentuk yang mempererat persahabatan ini. Ada disaat senang mau pun susah, itulah arti dari persahabatan mereka.
"Akhirnya selesai juga" ucap Jeki sambil menyeretkan kursi dan duduk, "Iya alhamdulillah semuanya berjalan lancar, terima kasih ya, kalian semua sudah bantuin gua" ujar Edik kepada sahabatnya.
"Kayak sama siapa sajalah, enggak usah berterima kasih, santai saja" Sembari tersenyum Jino menepuk pundak Edik beberapa kali.
"Oya, masalah uang perobatan adik gua, aku minta tenggat waktu ya... menjelang aku dapat kerja, aku janji bakal aku bayar secepat mungkin kok" kata Razzi meminta waktu sebelum ia mendapatkan perkerjaan.
"Wah kau bicara seperti itu, aku merasa menjadi rentenir" ujar Edik.
"Eh... bukan bukan, maksud gua bukan seperti itu... maksud a..." Saat Razzi bicara Edikpun memotongnya, "Aku ngerti kok, maksud kamu... aku cuma mau kamu santai saja seperti kata Jino barusan, kayak sama siapa saja" tegas Edik agar Razzi santai saja kepadanya.
"Sudah-sudah. Nanti aku bantuin kamu deh Zi cari kerja" kata Jino menawarkan untuk membantu. Dan Razzi hanya menjawab dengan "Hmm..." dan ia pun tersenyum.
"Iya nanti aku bantu-bantu juga, karena hari dah malam mending kita pulang yuk, Edik juga pasti sudah lelah banget hari ini" ajak Jeki kepada temannya.
Mereka pun bersiap-siap untuk pulang kerumah. Jino dan Jeki pulang bersama dan Edik sibuk membereskan rumahnya yang agak berantakan. Sedangkan Razzi tentunya menancapkan motornya kerumah Liandari.
Entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Dicaci maki bahkan dihina tapi tidak membuatnya untuk meyerah.
Ia terus saja melangkah maju dan mengenggam apa yang telah berada ditangannya. Tak pernah melepas walau tangannya terluka saat mengenggam.
Baginya...!!
Lukaku tak masuk dalam hitungan... yang kuperhitungkan adalah, dia yang kugenggam tetap berada disisiku. Cukup ! itu sudah membuatku bahagia, walau beribu luka menghampiriku dan terus menyayatku.
**********
Depan Pagar Rumah Liandari.
Baru saja aku ingin tidur, tapi benda mungil yang selalu aku pakai setiap hari menghebohkan penjuru kamar ku dengan getarannya. Aku melihat ada chat masuk dihandphoneku. Hanya beberapa kata... tapi, bisa membuncah hatiku. Aku bahagia.
Chat.
Aku didepan pagar. Jangan keluar jika tak bisa, buka kaca jendela saja... jangan lupa tebar senyummu, itu sudah cukup.
by: Razzi.
"Dia kemari? padahal sudah lumayan malam. Tapi yang membuatku kaget. Apakah ia akan terus datang dan tak menyerah denganku? jika benar begitu adanya, maka... aku sangat bahagia. Razzi, aku tak akan pernah melepaskanmu, tak akan pernah, kamu adalah anugrah terbesar yang pernah aku terima selama ini" Dalam hati Liandari.
Setelah mendapat chat darinya, Lianpun membuka jendela kamarnya. Dari kejauhan terlihat sosok laki-laki yang selalu ia puja. Mereka saling melempar senyuman. Razzi melambai tangannya, dan tidak lupa pula lambaian itu dibalas oleh Liandari.
Saat ini ayah lian sedang ada dirumah. Kemungkinan ayahnya berada diruang kerja atau diruang tamu. Kedua tempat itu adalah tempat favorite ayah lian biasa duduk dan bersantai.
Jika Lian keluar sekarang mungkin saja ia akan ketahuan dan itu akan memperburuk keadaan yang memang sudah runyam.
Jadi Lian hanya menelpon pos jaga depan rumahnya. Pak Jaja yang selalu menjaga rumah dan membukakan pagarnya. Liandari menyuruh Pak Jaja buka pagar dan mempersilahkan Razzi masuk.
Seperti biasa. tidak lupa Razzi untuk menelpon sambil melihat Lian dari atas.
Perbincangan dimalam hari, entah mengapa begitu romantis rasanya. Ia hanya sekedar datang dan menelponku, saling memandang dan tersenyum. Tidak ada satu hal apapun yang penting untuk kami bicarakan. Tapi ini begitu menyenangkan.
Semuanya lepas kendali. Tawa dan senyum yang begitu lepas tanpa ada yang ditahan. Semua hal konyol juga kami bicarakan, rasa lelah sama sekali tidak terasa, padahal ia berdiri dan terkadang sampai lupa untuk duduk dimotornya. Nyamuk yang mengerumuninya pun seperti hilang tak pernah ada.
Angin malam yang dingin juga hilang entah kemana, yang ada hanyalah angin yang begitu nyaman. Seakan membelaiku. Setelah ini... aku yakin, bahwa aku benar-benar tidak akan bisa tidur. Dirinya akan mengekangku dalam hal indah yang terjadi dimalam ini.
__ADS_1
Tetapi, apa benar, aku tidak bisa tidur karena hal indah? Sekarang aku merasa tidak yakin. Aku melihat ayahku yang keluar dari pintu dan berjalan pelan dengan pasti menghampiri Razzi.
Apa kebahagian malam ini akan hancur begitu saja? Aku terdiam dan mataku terus memandang ayah yang berjalan mendekat Razzi. Jantungku berdetak dengan cepat. Aku cemas. Kali ini, kata-kata menyakitkan apa lagi yang akan ayahku katakan kepada Razzi? Aku terus bertanya-tanya dalam hati.
Wajah gembiraku hilang dengan cepat. Razzi yang tadinya masih tersenyum, kini menyadari bahwa ayahku mendekat kearahnya. Tanpa kata ia matikan handphone-Nya, dan berbalik memandang ayah yang telah berada dibelakangnya.
"Tidak tahukah kamu ini jam berapa?" ujar Ayah lian dengan nafas yang naik turun dengan cepat karena amarah yang ditahan. "Maaf karena saya tidak tahu waktu Om, saya tidak akan mengulanginya lagi, saya pamit" ucap Razzi sopan.
"Hehh..." Dengusan mencemooh. "Apa kamu pikir masih ada lain kali, kamu kerumah saya? jangan harap! saya peringatkan kamu jangan pernah datang kerumah saya lagi!!" seru Ayah lian.
"Hati ini terasa sangat hina. Betapa aku tidak pantasnya untukmu Liandari" Dalam hati Razzi.
"Ya... tidak akan ada lain kali. Tapi jika hanya di depan pagar atau seberang jalan, saya masih bisa kan" Seraya tersenyum Razzi bicara dengan datarnya.
Gertakan gigi terdengar pada saat itu, urat leher yang menimbul juga terlihat dengan jelas. "Saya ingin kamu menjauh dari anak saya, pergilah sejauh mungkin. Bahkan jika bisa menghilanglah dari muka bumi ini" Suara dingin Ayah lian begitu terdengar sangat serius dengan mata elangnya.
Liandari yang mendengar pembicaraan mereka dari jendela kamarnya sangat terkejut ketika Ayahnya berkata, "Bahkan jika bisa menghilanglah dari muka bumi ini"
Spontan Liandari berteriak dari atas, "AYAHH!!!" teriaknya dengan wajah yang tak percaya bahwa ayahnya bisa berkata seperti itu.
Ayah Lian tak bergeming walau telah diteriaki putrinya. Mata itu tak lepas terus memandang Razzi dengan segala peringatan yang dapat terbaca jelas walau kini ia tidak bersuara.
"Liandari" teriak Razzi dari bawah sambil memandang lian. Razzi kini tak mempedulikan pandangan Ayah lian yang tak lepas darinya.
Sedangkan Ayah lian membulatkan matanya mendengar teriakan Razzi memanggil putrinya.
"Kasta dunia. Pertentangan orang tua. Yang membuat kita harus melewati pijar neraka" Dalam hati Razzi.
"Dengarkan aku Liandari!!" teriaknya dengan senyum smirknya. "Aku tidak akan berhenti berjuang!! Aku bisa meyakinkanmu. Bahwa kita akan baik-baik saja selagi bersama" tegas Razzi dengan teriakannya yang membuat Ayah lian tercengang.
Senyum yang merekah terpapar jelas diwajah Liandari. "Aku senang ia tidak menyerah terhadapku" Pikir Liandari. "Ya... kita akan selalu bersama" balas Lian berteriak dari jendela atas kamarrnya,tanpa mempedulikan Ayahnya.
"Berani-beraninya kalian saling menunjukkan cinta monyet itu didepanku" sergah Ayah lian. Kini mereka berdua hanya terdiam. "Jika seperti ini Ayah akan percepat saja pertunangan kamu dan dion" Ancam Ayah lian kepada anaknya.
"Ayah" Liandari memelas dengan suara yang rendah. "Kamu sebaiknya pulang sebelum saya panggilkan orang untuk melemparkan kamu keluar" seru Ayah lian memberi peringatan.
Tanpa basa-basi Razzi hanya melemparkan senyum ke Lian dan ia pun menancapkan motornya keluar.
"Kelakuan anakku sangat hebat hari ini, iya bisa membuatku marah sampai tak tahu harus bicara apa lagi" Pikir Ayah lian sambil melihat putrinya dengan tatapan yang dingin. Tidak lupa pula dengan dengusan kesal Ayahnya, "Hehh"
"Ayah marah sekali. Apa aku masih bisa selamat ya. Semoga nyawaku panjang unuk menghadapai Ayah besok, sudahlah lebih baik aku tidur saja" gumam Liandari sambil menutup jendela kamarnya dan melemparkan tubuhnya dikasur kesayangannya.
"Aku bahagia. Walau sempat ketemu ayah liandari dan hati ini merasa sakit dengan perkataannya. Tapi tetap saja... rasa sakit itu tidak sebanding dengan rasa bahagiaku bertemu dengan lian" Senyum yang terukir disepanjang jalan dengan pikiran yang entah kemana.
"Ah... hujan" gumam Razzi yang lagi mengendarai motornya.
Hujan yang menyelimuti hati yang lagi bahagia bagiku adalah suatu hal yang langka. Biasanya hujan akan datang pada hati yang lagi bersedih atau terluka. Tapi kini... aku menemukan kelangkaan itu, aku merasakan hujan malam ini menjadi begitu indah.
Bersambung...
kemurkaan apa bisa membutakan kasih sayang??
GAES JANGAN LUPA LIKE AND KOMEN YAH...DI LIKE DAN KOMEN BIAR CERITANYA LANJUT TERUS, BIAR SEMANGAT NIH YANG NULIS KALAU ADA DUKUNGANNYA... DAN TERIMA KASIH YANG SUDAH BACA LIKE N KOMEN.
__ADS_1
uppppsss....dan jangan lupa tip nya juga ya guys, hehe... :)